Naura merasa tidak nyaman dengan Tatapan aneh Kakak kandung mertuanya. Kedatangannya juga tidak disambut baik— justru dianggap sebagai pengganggu. Padahal posisinya saat ini sebagai menantu si empunya rumah. Semua yang dilakukannya selalu salah. Bahkan masakan yang dimasaknya dibuang begitu saja oleh Kakak mertuanya itu. Tanpa menyebutkan alasannya. “Sayang— tangannya kenapa?” Bukannya menjawab Naura justru menangis. Menutup wajahnya menggunakan hijab yang dipakai olehnya. Dimas bergegas mengajak istrinya ke kamarnya. Mengabaikan panggilan Bude Davina, Kakak kandung Bu Tania. Sesampainya di kamar, Dimas langsung memeluk sang istri, membiarkannya menangis agar rasa sesak di dadanya cepat menghilang. “Maaf, Sayang— aku malah sibuk di ruang kerja. Membiarkanmu memasak bersama Bude Davi.

