Dia melihat keruangan sekitar dan tangannya terasa berat tetindih kepala seseorang, dia melirik kearah kanan dan menyerngitkan dahi tak mengenal laki-laki yang memegang tangannya dan tidur diatasnya, dari rambutnya tak mungkin Amar, pikir Rima. Dia mencoba menggerakkan tangannya pelan, gerakan kecilnya membuat sang dokter bangun dan menatap Rima, manik mata mereka bertemu, Rima mengerjapkan matanya bingung kenapa bisa dokter Rey tidur ditangannya. Sedetik kemudian Rey menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dia gugup menatap Rima. “E.. saya dimana ya pak dokter?” Rima bertanya kepada Rey. “Di.. rumah sakit Rim, ma.. maaf saya ketiduran disini hehe,” ucap Rey menatap Rima malu. “Eh, iya dok gakpapa, kok bisa saya disini?” Rima masih bingung apa yang terjadi. “Tadi kamu pingsan di

