Bab 19

1101 Kata
“Dir, kamu mau bicara apa?” ucap Rey dengan santainya. Diarra langsung berkaca-kaca mendengarnya. Dia sungguh marah dengan sikap Rey yang begini. Diarra sangat kesal dengan Rey sikapnya santai seperti ini dan memuakkan. Kenapa Rey bersikap seolah mereka tidak ada hubungan apapun dengan Diarra. Sungguh Diarra tak tau apa yang dimaksud Rey saat ini, sikap Rey benar-benar berubah. Rey masih menatap Diarra dengan tatapan lurus, seolah tak berdosa dengan apa yang Rey lakukan. "Maksud kamu apa Rey? Siapa itu Bella? Kamu selingkuh?" ucap Diarra. "Sepertinya aku udah abaikan semua panggilan dan chat kamu Ra, kenapa kamu masih cari aku? Aku rasa hubungan kita hambar, chat, telfon, semua cuma virtual. Lagipula mungkin orang seperti aku enggak pernah pantas buat kamu, kamu mau apa sampai ke sini? Harusnya kalau aku sudah enggak respon kamu, kamu paham aku anggap kamu udah bukab pacar aku lagi." Plak. Satu tamparan melayang di pipi Rey. Diarra tidak menyangka Rey akan berbuat seperti ini. Sungguh Diarra benar-benar sakit hati. "Bahkan kamu enggak mengucapkan kata maaf sedikit pun, kamu keterlaluan Rey, aku cinta sama kamu." Diarra menahan air matanya jatuh, matanya berkaca-kaca. Meski berpacaran virtual, tetapi Diarra sangat sayang kepada Rey. Sikap Rey membuat Diarra jatuh hati kepadanya, tapi Diarra tidak menyangka jika itu semua hanyalah tipuan belaka. Rey membohonginya, padahal dia sangat mencintai dengan tulus. Tapi sayangnya Rey menipu, dia sama sekali tidak menghargai Diarra. Dia bahkan tidak ada raut wajah bahagia ketika melihat Diarra. “Untuk apa? Lagipula kenapa kamu sangat cinta sama aku? Aku tidak pernah kan memintanya?” ucap Rey. Diarra tersenyum miring menata Rey, menampar wajahnya dengan keras. “Lain kali jangan pernah melakukan hal itu sama wanita, cukup. I’m over it, kita putus.” Rey hanya bisa terdiam dan membiarkan Diarra membencinya, memakinya. Dia tidak memiliki pilihan lain. Keluarganya bergantung pada keluarga Bella, mau tidak mau Rey harus mengalah. Perasaan kepada Diarra harus dia buang. Rey pindah kuliah pun karena keluarga Bella. Karena tak sanggup membayar uang kuliah, dia disekolahkan oleh keluarga Bella. Beruntungnya Rey memiliki otak yang cerdas, dia pun tinggal dan mendapatkan uang saku juga karena keluarga Bella. Rey awalnya memang tidak mengenal Bella, yang dia kenal hanya kakaknya—Elvando. Dia sebenarnya kesal karena Bella terus menempel dan menyukainya. Kalau saja Rey membuat Bella meneteskan air mata setetes saja, Rey tau Bella pasti akan melaporkan kepada ayah dan ibunya. Kalau mereka marah, pasti mereka akan berhenti membiayai Rey. “Maaf,” ucap Rey sembari menunduk. “Kalau kamu mau tau apa alasannya, biar aku yang nanti malam ke rumah kamu.” Diarra mendongak, dia menatap Rey dengan menyerngitkan dahinya. “Kirim alamat kamu ke WA aku, aku akan datang nanti malam jam tujuh.” “Oke.” Diarra lalu pulang, Rehan awalnya mengajak Diarra untuk jalan-jalan, tapi gadis itu tak mau, dia ingin diam di rumah menyendiri. Sungguh dia tidak tahan saat ini. Rehan tidak bisa melihat Diarra yang sedih, Diarra murung dan mengurung diri di kamar. Ayahnya pun tiba-tiba mengirim pesan jika ada dinas ke Bandung malam ini. Diarra kesal, ayahnya selalu sibuk. Dia hanya menghela napasnya kasar dan mencoba untuk tidur. Rey telah bersiap hendak ke rumah Diarra, dia sudah berpakaian rapi. Baru saja Rey akan berangkat, dia mendapat telepon dari Bella. Rey menghela napas kasar, lagi-lagi dia harus terlibat dengan Bella. Rey mereject panggilan itu. Untuk pertama kalinya dia tidak menuruti Bella. Dia mengacuhkan Bella sejenak dan mementingkan Diarra, perempuan yang telah jauh-jauh ke Jakarta untuk menemuinya. Rey sangat senang bisa bertemu Diarra. Tetapi karena dia terikat dengan Bella, dia tidak bisa melepaskan Bella begitu saja. Sesampainya di rumah Diarra, Rey masih menunggu di depan. Pertama kali yang membukakan pintu adalah Rehan. Rey kira yang membuka pintu itu adalah kakak laki-laki Diarra. “Permisi kak, maaf mau mencari Diarra ada?” tanya Rey. “Masuk aja.” Rehan dengan santainya membiarkan Rey untuk masuk lalu memanggil Diarra. Rehan lalu meninggalkan mereka berdua di rumah. Rehan memilih pergi ke cafe. Mata dan hatinya bisa-bisa panas terbakar melihat dua pasangan yang mesra-mesraan. Rehan sengaja memberi Diarra waktu agar dia bisa berduaan dengan pacarnya. Rehan tidak mau terus-terusan melihat Diarra sakit hati karena Rey selalu membuat dia menangis, Rehan ingin Diarra merasakan bahagia walau sedikit saja. Rey duduk di ruang tamu, menunggu Diarra datang. “Hai,” sapa Diarra. Matanya membengkak sehabis menangis. Diarra tak bisa membohongi kesedihannya. “Hai,” jawab Rey. Diarra lalu duduk di samping Rey. Menatap lekat lelaki yang membuat dia jatuh hati selama beberapa bulan ini. Diarra hanya mengharapkan satu hal dari Rey, jika Rey tidak sungguh-sungguh dengannya, Diarra ingin Rey jujur kenapa dia berani membuat Diarra jatuh hati dan memutuskan memacarinya. “Rey ...,” lirih Diarra. Rey mengambil tangan Diarra dan mengusapnya pelan. “Aku ke sini cuma mau bilang Ra, kalau aku juga cinta sama kamu. Cinta kita kamu enggak bertepuk sebelah tangan, tapi aku gabisa sama kamu di sini, aku ... harus nemenin Bella. Perempuan yang kamu lihat tadi waktu di kampus, itu Bella. Orang tua aku berjasa sama orang tua Bella, jadi aku harus mau kalau dijodohin sama Bella, walau orang tuaya belum bilang apa-apa sih, tapi kelihatannya Bella suka sama aku, aku gabisa menghindar. Lagipula kamu kan juga perempuan cerdas, baik, kamu bisa cari laki-laki yang lebih baik dari aku Diarra, aku yakin pasti ada lelaki yang pantas buat kamu. Sementara ini, aku minta sama kamu buat lupain aku dulu.” Diarra terkejut dengan ucapan Rey, sungguh dia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sia-sia dia membuang uangnya untuk ke Jakarta demi Rey. “Jadi kita sama sekali engga bisa bersama?” tanya Diarra lagi. “Maaf, tapi untuk sekarang, mungkin belum,” ucap Rey Diarra bingung saat ini. Dia tak tau harus bagaimana, moving on bagi Diarra bukan hal yang mudah. Tidak mungkin dia bisa melupakan Rey begitu saja. Walau baru bertemu, Diarra sudah tertarik dan yakin kepada Rey. Tapi apa daya, Rey sendiri yang memutuskan hubungan ini. Kalau sudah keputusan Rey, Diarra hanya bisa bungkam dan menuruti kemauan Rey. Meski berat, tapi Diarra hanya ingin menjalani hubungan percintaan yang sehat, sama-sama saling cinta dan tidak terpaksa. Diarra mau Rey juga bebas dan bahagia. “Baiklah kalau begitu, aku tak apa Rey, kamu fokus saja mengejar cita-citamu. Mungkin aku yang terlalu mengejarmu, aku sadar, kamu pun masih muda, mulailah eksplorasi diri dan menjadi orang yang lebih baik. Kalau Bella memang jodohmu, tak apa Rey, aku berusaha untuk ikhlas.” Rey berterima kasih atas pengertian Diarra. Gadis itu langsung memeluk Rey, walau masih baru pertama bertemu, Diarra rasanya sangat dekat dengan Rey, dia begitu bahagia dengan Rey walau tak harus memiliki, dekat dengan Rey membuat Diarra senang hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN