Setelah perbincangan mereka, Rey pulang. Saatnya dia menghirup udara segar setelah sesak bertemu dengan Diarra. Sejujurnya dia senang memiliki pacar Diarra, pacar yang mengerti dengan keadaan dia, sangat menyayangi dia dan juga lebih dewasa. Rey menyukai perempuan seperti Diarra, sayangnya dia tidak bisa berjanji membuat Diarra bahagia. Rey sebenarnya menyukai Diarra apa adanya, dia sangat menyayangi Diarra. Hanya satu kendalanya, Bella. Sampai kapanpun, Rey tidak akan bisa lepas dari keluarga Bella karena dia dengan keluarga Bella sudah berhutang budi, sejak saat itu Rey harus membuka mata bagaimana dia harus mengerti keadaan dan mengalah kepada perasaannya sendiri. Dia tau jika Diarra memang tidak sepenuhnya bisa dia miliki, tapi jujur hatinya telah memilih Diarra.
Baru saja sampai kos-kos an, Rey terkejut melihat Bella yang duduk berjongkok di depan kos-kos annya. Mata gadis itu sembab.
“Yaampun Bella!” ucap Rey sembari membantu Bella berdiri.
“Kamu kenapa bisa ada di sini?” ucap Rey bingung.
“Kamu kenapa enggak angkat telepon aku? Aku jadi khawatir sama kamu,” ucap Bella.
Rey menghela napasnya, dicintai seseorang tidak selamanya menyenangkan, terkadang terasa seperti beban, seperti yang dialami Rey saat ini. Saat Bella mendekatinya, Rey tidak selalu merasa bahagia, kadang ada rasa dia terbebani. Dia tidak mencintai Bella, dia juga risih saat Bella mengejarnya seperti ini.
“Kamu dari mana saja Rey?” tanya Bella.
“Aku hanya keluar sebentar, kamu pulang ya, istirahat Bell, aku antar pulang.”
Kos-kosan Rey dengan Bella hanya berbeda enam rumah, sangat dekat. Setelah Rey mengantar Bella, Bella menarik tangan Rey.
“Aku sayang sama kamu Rey. Plis, mau ya jadi pacar aku.”
Ucapan Bella membuat Rey menghela napasnya, dia antara kesal dengan lelah. Tapi bagaimana lagi, Bella akan terus bersikap seperti ini sampai Rey benar-benar menerima Bella. Rey lelah, tapi dia juga tidak tau harus bagaimana.
“Iya Bell, aku tau, kita bicarain ini nanti ya Bell, kamu istirahat dulu, sudah jam sembilan malam ini.”
Bella menggeleng, dia terus menggelayut manja di tangan Rey, enggan melepas tangan Rey. Bella takut, sangat takut kehilangan Rey. Entah kenapa perasaannya kian menguat dengan Rey, apalagi ketika orang tuanya memaksa Bella untuk terus mendekati Rey dengan alasan ‘Rey nanti jadi PNS, biar kalian berdua sama-sama mapan dan memiliki pekerjaan tetap.’
Ucapan orang tua Bella itu tentu saja membuat Bella sedikit shock sekaligus takut, di samping kedua hal itu, sebenarnya Bella sejak kecil juga sudah menyukai Rey.
“Enggak Rey, aku mau kamu jawab aku sekarang. Gimana dengan perasaan kamu? Apa kamu suka sama aku?” tanya Bella.
Rey masih terdiam, merenung sejenak, sungguh dia tak tau harus menjawab apa saat ini. Di kepala Rey hanya ada satu hal yang teriang, dia hanya menginginkan Bella pergi dari hidupnya dan tidak mengusiknya lagi. Jujur, Bella selalu manja. Di saat sakit, dia menangis dan memeluk Rey, di saat dia mendapatkan tekanan dari orang tuanya, Rey menjadi sandaran yang pertama bagi Bella. Rey sebenarnya muak, dia selalu heran kenapa Bella tidak bisa mandiri padahal Bella sendiri yang meminta kepada orang tuanya untuk tinggal di Jakarta. Bella bukan anak kecil lagi yang harus dituntun saat berjalan ataupun jatuh.
Bella juga bukan tipe Rey, dia lebih menyukai wanita yang anggun dan mandiri, seperti Diarra.
“Bel, jujur aku enggak punya perasaan yang sama dengan kamu. Aku hanya menganggap kamu teman,” ucap Rey.
Bella menaikkan alisnya, lalu mengerutkan keningnya.
“Setelah semua yang dilakukan oleh orang tua aku, buat kamu semua, apa kamu enggak merasa sesuatu? Kamu enggak merasa bersalah karena nolak aku? Rey, orang tua aku udah banyak bantu kamu, lagi pula kan untung kalau kamu nantinya juga nikah sama aku, keluarga aku jelas lebih kaya daripada keluarga kamu.”
Rey tak menyangka Bella akan berterus terang seperti ini. Hal inilah yang Rey benci, harga diri Rey seolah terinjak-injak. Bahkan keluarganya pun begitu, sama diinjaknya. Meminta bantuan kepada orang lain, bukan berarti melepaskan harga diri bukan? Rey benar-benar kesal. Dia tidak suka dengan ucapan Bella.
“Bella, kamu seharusnya membuka mata. Perasaan itu tidak bisa dipaksa dan diukur dengan apapun. Satu lagi, aku beri tau kamu. Aku mencintai perempuan lain, dan gara-gara kamu, kita putus.”
Rey tidak sabar dan tahan lagi dengan ucapan Bella. Tak peduli apa yang akan orang tua Bella lakukan kepada Rey, biarlah. Kini yang terpenting bagi Rey, dia bisa hidup dengan bernapas lega, dia bisa hidup dengan bahagia dan orang yang dia cintai.
“Putus? Terus kenapa nyalahin aku? Aku nyuruh kamu itu balas budi dengan cara yang benar. Lagipula aku meminta kamu jadi pacar aku kok! Kenapa sih enggak mau, memangnya aku kurang apa? Aku jelek?” tanya Bella dengan wajahnya yang cemberut.
“Bukan masalah fisik. Kamu cantik, kamu pun tau kan kalau kamu cantik? Tapi Bel, aku menilai orang bukan cuma dari fisik. Tapi dari hati, apa yang kamu ucapkan, itulah bentuk hati kamu. Aku harap kamu ngerti.”
Rey lalu berbalik, tetapi Bella menarik tangan Rey kembali.
“ENggak, gabisa kaya gini. Kamu harus mau jadi pacar aku, bahkan suami aku. Kalau kamu enggak mau, aku bakal laporin Papa dan minta Papa stop kasih kamu uang saku!” bentak Bella.
Rey tersenyum miring, dia berbalik dan menatap Bella.
“Aku heran, kenapa kamu memaksa mau jadi pacar aku. Padahal banyak laki-laki lain di luar sana yang lebih baik. Why always me? Why? Kamu mau lapor ke Papa kamu? Silahkan. Semenjak aku tinggal di Jakarta aku memutuskan untuk hidup mandiri.”
Rey lalu meninggalkan Bella, membiarkan Bella menangis.
Tidak ada lelaki di dunia ini yang mau menjadi b***k cinta. Rey pun tidak mau menjadi pacar Bella, karena jelas dia tau bagaimana sikap Bella. Dia telah mengenal Bella selama ini. Rey lalu kembali ke kos-kosannya, tapi baru saja dia hendak menutup pintu pagar, tiba-tiba perutnya keroncongan. Rey merasa lapar karena sejak tadi dia sama sekali belum makan. Dari pagi. Dia sama sekali belum memakan makanan apapun. Semenjak tau Diarra ada di Jakarta, Rey sudah tidak sabar, dia tidak sabar ingin bertemu dengan Diarra dan memadu kasih. Sayangnya dia mengambil keputusan yang agak melenceng, dia langsung memutuskan Diarra. Rey tak mau Diarra terlalu berharap dengannya. Rey hanya ingin Diarra bisa bahagia tanpa harus menunggu Rey lagi. Jujur saja, Rey juga sakit hati ketika melepaskan Diarra, tapi dia hanya bisa pasrah.