Bab 21

1108 Kata
Rehan kembali pulang setelah dia berkelana menyusuri jalanan Jakarta yang begitu indah. Dia sangat suka dengan keadaan malam. Lampu yang kelap-kelip dan pemandangan kendaraan yang lalu lalang, yah tak jauh beda dengan kota Surabaya. Rehan lalu masuk ke dalam rumah. Dia terkejut mendengar suara tangisan. “Buset, ini rumah horor bener,” ucap Rehan pada dirinya sendiri. “Woi! Keluarlah kalian para roh jahat, aku tidak takut!” teriak Rehan. Diarra segera mengusap air matanya, meletakkan bantal yang dia peluk mengerjapkan matanya, dia lalu membuka pintu kamar dan memukul pundak Rehan dengan keras. “AW! Sakit RA!” ucap Rehan meringis kesakitan. “Roh jahat-roh jahat! Keluar beneran mampus ntar, udah sana tidur, udah makan kan?” tanya Diarra. Rehan menatap mata Diarra, mata gadis itu sembab rupanya. Diarra sepertinya habis menangis lagi. Rehan tidak tau apa masalah Diarra, tapi sepertinya masalah gadis itu sangat berat, sampai menangis tiada henti. Rehan lalu menggendong Diarra, dia lalu membawa Diarra masuk ke dalam kamar. Sontak Diarra terkejut dengan perbuatan Rehan, dia meronta-ronta, tapi Rehan jauh lebih kuat daripada Diarra. “Ra, aku cinta sama kamu, jangan sampai aku lihat kamu menangis.” Cup. Satu kecupan mendarat di kening Diarra. Mata mereka saling menatap, jantung Diarra berdebar tak karuan, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Rehan tiba-tiba membuat dia berdegup tak karuan, Diarra langsung mendorong Rehan dan membuat dia terjatuh. Rehan meringis dan mengusap pantatnya yang kesakitan. “Aduh, sakit Dir!” ucap Rehan galak. Diarra hanya meringis juga, dia sendiri juga takut Rehan berbuat aneh-aneh. “Kamu sih, ngapain coba pake gendong-gendong aku segala!” bentak Diarra. Rehan hanya memberengutkan wajahnya, dia lalu duduk di pinggir ranjang milik Diarra. Dia menghela napas lalu menatap wajah Diarra. Sebenarnya Rehan kasian dengan Diarra. Dia tidak tega melihat temannya terus menerus menangis mengeluarkan air mata. “Diarra, aku gak mau kamu sedih, enggak mau kamu nangis gara-gara cowok. Udah ya, cukup. Jangan lagi-lagi kamu nangis. Jangan pernah,” ucap Rehan. Diarra mengangguk lemah, dia memang tidak biasanya terlihat cengeng, dia selalu ceria. “Iya, enggak kok, tenang aja, udah tidur sana!” ucap Diarra sembari mengibas-kibaskan tangannya, menyuruh Rehan segera pergi dari hadapannya. Rehan berjalan gontai keluar kamar, dia menutup kamar Diarra lalu masuk kamarnya. Pukul tiga pagi, dia terbangun karena suara isakan tangis lagi, Rehan seketika terkejut mendengarkan itu semua, dia lalu bangun dan masuk ke dalam kamar Diarra, gadis itu kembali menangis. “Astaga Dir, kenapa sih pake nangis lagi? Yaampun, kamu kenapa sih Ra? Kenapa soal cowok kamu kaya gini,” ucap Rehan. Akhirnya Rehan menyibakkan selimut dan memeluk Diarra erat, akhirnya dia ikut tidur di samping Diarra. Dia memeluk gadis itu. “Udah ya Dir, jangan nangis. Cup cup cup, udah ya. Tidur.” Diarra pun entah kenapa rasanya nyaman tidur dalam pelukan Rehan. Lima menit kemudian, Diarra terlelap dalam pelukan Rehan. Perlahan Rehan merebahkan ke tempat tidur, membiarkan Diarra terlelap, dia hendak beranjak dari tempat tidur, namun Diarra melenguh, Rehan akhirnya kembali duduk. Dia lalu ikut tidur memeluk Diarra. Tanpa Diarra sadari, tangan Diarra memegang erat tangan Rehan. Jantung Rehan berdegup kencang tak karuan, dia sangat mencintai Diarra, andai saja Diarra dan Rehan masih berpacaran sejak SMA lalu, dan tidak putus, mungkin Diarra akan baik-baik saja saat ini. *** “Ya ALLAH DIARRA! REHAN!” bentak pak Sugiono. Beliau baru saja pulang dari luar kota, sudah jam lima pagi tetapi melihat Diarra dan Rehan tidur satu kasur. “Apa yang kalian lakukan?!” bentak ayahnya. Rehan seketika terkejut dan melompat turun dari tempat tidur menatap ayah Diarra. “Saya kasih kamu kepercayaan yang terbaik tapi kenapa kamu malah khianatin kepercayaan saya?!” bentak pak Sugiono Diarra terkejut papanya sangat marah, dia lalu berdiri dan menghadap papanya. “Pa, beneran Pa, ini ga seperti yang papa pikirin Pa,” ucap Diarra. Dia terus mencob membela dirinya. "Pa, serius Pa, ini ga seperti yang Papa kira, aku sama Rehan engga ngapa-ngapain!" Diarra mengucapkan dengan penuh tatapan serius, dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ayahnya, Diarra mencoba meyakinkan ayahnya bahwa dia tidak berbohong, apa yang dia lakukan semua ini adalah benar. "Terus? Kalau bukan apa-apa, kenapa kamu begini sama Rehan? Tidur berdua di kamar? Kalian sama sekali ga etis. Papa gamau tau, Rehan harus tanggung jawab!" Rehan seketika melongo, tanggung jawab? Tanggung jawab apalagi, padahal dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Rehan sama sekali tidak berbuat aneh-aneh dengan Diarra. Rehan kesal, awalnya dia berniat membantu Diarra, tapi ternyata malah dikira melakukan hal-hal zina. "Sungguh Om, saya engga ngapa-ngapain Diarra.. kemarin Diarra itu nangis dan saya mau nenangin dia, maaf Om saya malah ketiduran di sini," ucap Rehan. "Saya engga mau dengar alasan apapun dari kalian. Diarra itu anak perempuan saya satu-satunya, dia yang saya jaga sejak kecil, seharusnya kamu tau tentang etika dan batas laki-laki dengan perempuan. Malam ini kita pulang ke Surabaya, saya mau bertemu dengan orang tua kamu," ucap pak Sugiono. Rehan dan Diarra saling menatap, sungguh mereka tak percaya akan hal ini, Diarra pun tak menyangka jika dia bisa tiba-tiba begini dengan ayahnya. "Ta-tapi Om, saya ...," ucap Rehan terpotong karena ayah Diarra langsung keluar kamar. "Dir, gimana ini?" Ucap Rehan panik. Sungguh dia tak tau harus bagaimana saat ini. "Engga tau, kamu juga ngapain masuk kamar," balas Diarra. "Lah, kok aku yang salah? Kan aku nemenin kamu, aduh gimana sih ini jadinya. Terus nanti orang tua aku bilang apa coba," ucap Rehan. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi, dia sungguh lelah dan tak tau harus bagaimana. Rehan menjadi kesal dan bingung dengan situasi ini. Sungguh Rehan menyesal dengan semua ini, andai saja kemarin malam dia tidak datang ke kamar Diarra, mungkin keadaannya tidak seperti ini. “Rehan, saya minta sama kamu untuk sementara ini jaga jarak dengan Diarra.” Pak Sugiono tiba-tiba masuk ke kamar Diarra lagi dan mengatakan hal itu. Sungguh Rehan tidak bisa menjelaskan saat ini. Pilihan terbaik hanya diam, karena pak Sugiono pun telah di puncak amarah. Wajahnya memerah marah dan Rehan pun juga tak tau harus mengucapkan apa. Rehan keluar kamar dan mencoba meminta maaf kepada Papanya Diarra, tetapi rupanya sudah terlambat. Pak Sugiono benar-benar marah. “Om, saya benar-benar minta maaf Om, saya enggak menyentuh Diarra Om. Iya saya memang nyentuh tapi enggak dalam hal negatif, saya hanya coba nenangin Diarra karena Diarra nangis Om.” “Apa yang Om lihat sudah cukup jelas. Kamu lebih baik kemasi barang-barang kamu, malam ini kita ke Surabaya. Bisa nyetir kan kamu?” ucap Pak Sugiono kepada Rehan dengan tatapan tajam. “Bisa Om,” balas Rehan cepat. “Bawa mobil saya kita ke Surabaya bertemu orang tua kamu.” Tak lama kemudian, Rehan melihat pak Sugiono menelpon sekretarisnya untuk meminta cuti sebentar karena hal urgent.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN