Rehan menata pakaiannya, membereskan kamar yang telah dia pakai. Sungguh Rehan tidak mengerti harus bagaimana saat ini, satu hal yang membuat dia bingung, bagimana dia menjelaskan ini kepada orang tuanya. Bagaimana Rehan mengatakan bahwa ini semua hanyalah salah paham, lalu bagaimana jika ayah Diarra meminta dia menikahi putrinya? Sungguh ini diluar rencana. Memang Rehan mencintai Diarra, tetapi tidak begini. Bagaimana jika dia dimarahi orang tuanya nanti? Pikiran Rehan saat ini berkecamuk dan penuh dengan konflik batin. Dia sungguh bingung.
Rehan berjalan lemas sembari membawa koper kecilnya. Sungguh ini adalah hal yang paling konyol yang dia hadapi. Rehan mengambil kunci mobil dari tangan pak Sugiono lalu masuk ke dalam mobil Pajero. Ya, kali ini dia yang menyetir. Rehan sebenarnya gundah, bingung harus mengatakan apa kepada keluarganya.
"Pekerjaan kamu sama dengan Diarra?" tanya pak Sugiono saat di tengah perjalanan.
"Iya Om, saya juga freelancer graphic designer."
Rehan berusaha menjawab dengan santai dan senormal mungkin. Dia benar-benar takut jika ada yang salah lagi. Rehan hanya berusaha fokus untuk menyetir.
"Dir, kamu sudah lapar?" tanya pak Sugiono.
Diarra yang duduk di bangku belakang tidak menjawab, Diarra sudah tertidur. Rehan melirik dari kaca mobil tengah, dia hanya tersenyum tipis melihat gadis itu dengan santainya bisa tidur.
"Walah kok sudah tidur to nduk-nduk," ucap ayahnya.
"Om lapar?" tanya Rehan.
"Belum sih, nanti saja kalau ada restoran bebek goreng, mampir ya Han. Diarra itu paling suka bebek goreng, dia soalnya ada alergi sama ayam."
Rehan mengangguk dan hanya menjawab 'iya'.
Lama kelamaan karena sikap pak Sugiono yang ramah, Rehan tidak lagi merasa takut, dia malah merasa nyaman ada di dekat ayah Diarra.
"Han, saya minta sama kamu untuk menjaga Diarra dengab baik. Apa kamu cinta sama Diarra?"
Rehan meneguk salivanya, jantungnya berdegup dengan kencang. Bohong jika dia tidak menyukai wanita secantik Diarra. Dia menyukainya, sangat menyukainya. Sejak dulu, perasaannya tak pernah berubah.
"Sejujurnya ... iya Om saya cinta dari dulu SMA. Tapi waktu itu sepertinya ada salah paham sampai akhirnya Diarra meminta kita putus."
"Kalau kamu cinta sama Diarra ... berarti harusnya kamu enggak keberatan kan kalau saya meminta kamu menikahi Diarra?"
"Maaf Om, bukannya saya keberatan, saya sangat senang jika bisa menikah dengan Diarra, masalahnya Om, Diarra mungkin tidak menyukai saya, kemarin dia menangis dan saya tenangkan di kamar karena baru putus dengan pacarnya."
Pak Sugiono hanya tersenyum mendengar jawaban Rehan. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, menurutmya Rehan lelaki yang sangat baik dan mungkin pantas untuk Diarra.
Rehan juga mencintai Diarra dan bisa menjaga Diarra.
Mereka lalu berhenti di depan restoran bebek goreng. Rehan merenggangkan badanny, menyetir sendiri dari Jakarta ke Surabaya rasanya pegal.
"Dir, nak bangun, kita makan dulu, ayo."
Diarra melenguh, dia lalu terbangun. Lehernya terasa sakit.
"Adduh," lirih Diarra.
Rehan langsung menoleh ke belakang. Dia menatap Diarra kasihan.
"Kenapa Dir?" tanya Rehan.
"Sakit leher aku, pegal semua Han," jawab Diarra.
Rehan lalu keluar dari mobil dia ke pintu belakang, membukakan pintu untuk Diarra. Pak Sugiono hanya tersenyum kecil saat melihat Rehan yang begitu sigap membantu Diarra. Sejak awal bertemu dengan Rehan, Pak Sugiono sebenarnya yakin jika Rehan bisa menjaga Diarra dengan baik, seperti saat ini, Rehan dengan sigap membantu Diarra. Ada senyum terukir di wajah pak Sugiono. Entah kenapa rasanya dia harus segera menemukan lelaki yang tepat untuk anaknya. Rehan, lelaki tampan dan juga memiliki hobi yang sama, hanya saja dia masih pegawai belum tetap, sama seperti Diarra dan Leon. Pak Sugiono sebenarnya ingin anak-anaknya mengikuti jejak Pak Sugiono, tetapi rupanya anak-anaknya lebih berbakat di bidang seni seperti ibu Diarra.
“Om, saya pamit belikan Diarra salonpas dulu ya Om, itu leher Diarra sakit,” ucap Rehan.
“Oh iya, memangnya supermarket dekat di sini?” tanya pak Sugiono. Rehan lalu mengecek smartphonenya.
“Oh iya deket kok Om, hanya tiga ratus meter, Om sama Diarra makan duluan saja, nanti saya biar belikan salonpas dulu,” ucap Rehan.
Pak Sugiono tersenyum mengangguk dan berterima kasih.
“Sekalian belikan camilan, ini uangnya.”
Pak Sugiono memberikan lima lembar ratusan ribu untuk Rehan.
“Siap, Om.”
Rehan lalu membantu Diarra turun, namun karena gemas Diarra berjalan sambil pincang-pincang, Rehan segera menggendong Diarra dan membawanya duduk di rumah makan. Beberapa orang sempat melihat mereka. Diarra terkejut dengan sikap Rehan lagi. Sedangkan pak Sugiono semakin gemas dengan sikap Rehan.
“Heh! Kamu kira anak saya apa, gendong sana sini,” ucap pak Sugiono mendelik.
“Maaf Om, tapi saya kasian lihat Diarra jalannya kesusahan, mana kaki dia kesemutan lagi om,” balas Rehan.
“Ya yasudah, lain kali kalau belum sah, ya sabar. Kalian saya nikahkan sampai di Surabaya nanti,” ucap pak Sugiono dengan tegas. Diarra seketika membulatkan matanya mendengarkan ucapan ayahnya. Bagaimana lagi? Ini sudah keputusan bulat ayahnya.
“Saya ke supermarket dulu Om,” ucap Rehan.
Saat Rehan sudah pergi, hanya ada Diarra dengan ayahnya. Diarra masih cemberut, dia juga tak berani membantah, takut dosa.
“Pa, aku sama Rehan itu cuma teman.”
“Teman tapi mesra?” balas ayah Diarra santai sambil membaca menu makanan. Diarra mendengkus kesal, tapi mau bagaimana lagi? Ayahnya memang sangat senang menggodanya. Diarra menopang dagunya, menunggu pesanananya datang.
“Papa enggak telfon Mama?” tanya Diarra.
“Nanti aja, kalau di Surabaya, biar surprise,” ucap Papanya.
“Dulu Papa sama Mama ketemunya gimana sih?” tanya Diarra penasaran. Dia penasaran, tapi ayahnya masih belum menjawabnya.
“Simpel, dijodohin.”
Seketika Diarra melongo, pantas saja Papanya suka sekali menggoda Diarra, ternyata itu alasannya, karena ayahnya pun dijodohkan dengan ibunya. Sebenarnya Diarra masih keberatan kalau dinikahkan dengan Rehan, masalahnya pun dia tidak berbuat apa-apa dengan Rehan.
“Pa, aku sama Rehan kalau menikah bukannya itu berlebihan ya Pa? Lagipula Rehan kan juga belum punya pekerjaan tetap kaya Papa yang PNS gini, masa Papa mau sih aku menderita? Biaya nikah itu kan banyak Pa,” ucap Diarra.
Tanpa Diarra sadari, Rehan mendengarnya dari belakang. Rasanya sakit ketika Diarra menolak dia dengan alasan karena Rehan belum bekerja dan mapan. Rehan berpenghasilan, tetapi ya tidak mungkin sebesar gaji ayahnya yang bekerja di kementrian pajak.
“Dir, uang bisa dicari, asalkan kamu bisa mencari orang yang tepat.”
“Masalahnya, Rehan itu ga tepat buat Diarra. Diarra gasuka sama Rehan! Diarra udah putus Pa sama Rehan beberapa tahun yang lalu, dan Diarra gamau kalau Papa maksa nikahin Diarra. Kalau Papa maksa, Diarra ga akan mau pulang,” ucap Diarra.