Rehan mengantarkan Diarra ke rumah papanya, tak disangka papa Diarra sangat baik hati dan membiarkan Rehan untuk ikut tinggal di sini. Rehan sebenarnya sungkan, enggan menginap di sini, tetapi rasanya tidak enak juga kalau menolak kebaikan ayah Diarra.
Rehan hanya tersenyum di kamarnya sendiri, dia mendengar perbincangan Pak Sugiono—ayah Diarra dengan Diarra di kamar sebelah.
“Kamu ke Jakarta sama pacar kamu kok enggak bilang papa sih?”
“Astaga Pah, Rehan itu bukan pacar Diarra, yaampun bukan Pah, pacar Diarra bukan dia, Rehan itu mantan Diarra yang kerja di tempat kak Leon. Jadi ya kita memang akrab karena satu ruangan. Papa jangan godain Diarra deh Pa! Dia itu mantan Diarra waktu SMA!” ucap Diarra kesal. Wajahnya sampai bersungut-sungut.
“Mantan tapi menikah?” goda Papanya. Diarra makin kesal dan mencubit-cubit perut papanya. Papanya hanya tertawa dan memeluk Diarra.
“Enggak sayang enggak. Iya Papa ngerti, kamu berhak menentukan dengan siapa kamu menikah, kamu istirahat dulu ya, pasti jetlag kan?”
Diarra mengangguk dan papanya mencium kening anaknya, menyelimuti Diarra lalu keluar kamar. Diarra sangat bahagia dan senang memiliki ayah yang begitu menyayanginya. Sayangnya papanya sangat jauh, harus bekerja di sini. Sebenarnya Diarra mau-mau saja kalau pindah, tapi bagaimana dengan kak Leon? Kantor kak Leon di Surabaya, sudah sewa selama empat tahun pula.
Tangan Diarra masih meraba-raba ponselnya, dia mencari nama Rey disana. Masih belum ada balasan dari Rey. Diarra akhirnya memilih untuk menelpon Rey, dia ingin mendengar suara Rey karena rindu.
Sayangnya kali ini telfonnya tidak diangkat. Diarra semakin gelisah, dia tidak tau kenapa Rey susah dihubungi. Padahal dia sangat menyayangi Rey. Diarra login ke akun game MLBBnya, melihat akun Rey dan mengecek di bagian Squad, rupanya Rey juga tidak aktif, di sana tertulis online dua hari yang lalu. Sempat terbesit di hati Diarra, apakah Rey mencoba menjauhi Diarra? Kenapa Rey sama sekali tidak memberinya kabar.
Paginya, pak Sugiono masih harus bekerja di hari Jumat ini, Diarra hanya dipesani jika ingin jalan-jalan jangan sampai lupa share loc dan meminta Rehan menemani kemanapun Diarra pergi.
“Sayang Papa berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik di sini, kalau ada apa-apa, bilang aja sama Papa, telfon langsung. Rehan, om minta tolong Diarra dijaga ya dengan baik,” ucap pak Sugiono. Rehan tersenyum mengangguk mengiyakan permintaan ayah Diarra.
Setelah ayah Diarra pergi dari rumah, Diarra langsung hendak pergi tanpa mengajak Rehan. Niatnya Diarra langsung ingin ke kampus Rey untuk mencari Rey.
“Dir, mau kemana?” tanya Rehan menarik tangan Diarra.
“Mau ketemu sama pacar aku,” ucap Diarra. Dia sudah memanggil taksi. Rehan langsung ikut masuk ke dalamnya.
“Loh, kamu ngapain ikut?” ucap Diarra gemas. Dia mendorong tubuh Rehan untuk segera keluar, tapi Rehan malah menariknya, mereka malah jadinya pelukan sekarang. Secepat kilat Diarra mendorong Rehan lagi.
“Ah, ngapain sih?” ucap Diarra. Dia kesal kepada Rehan. Rehan tetap masuk ke dalam taksi tapi dia di depan.
Diarra memberengutkan wajahnya kesal, bagaimana lagi? Kalau sudah begini, ada baiknya dia mengalah. Percuma berdebat dengan Rehan, tidak akan ada habisnya. Diarra sangat kesal dengan Rehan.
“Pak ke kampus PKN STAN.” Diara mengucapkan kepada supir taksi yang dijawab anggukan.
Rehan menyerngitkan keningnya, rasanya aneh, untuk apa Diarra ke sana?
“Kamu mau daftar kuliah lagi apa gimana? Ngapain Dir kesana?” tanya Rehan.
“Kalau mau ikutin aku, udah diem aja deh Han.”
Seketika Rehan bungkam, antara ikut kesal dan juga enggan berdebat dengan Diarra. Rehan hanya terdiam sepanjang perjalanan, sedangkan Diarra tak hentinya memberengut meski matanya menatap jalanan yang indah. Sebelum keluar dari taksi Diarra merapikan dandannya, sampai Rehan heran dibuatnya, kenapa Diarra sampai seperti ini. Diarra sampai memiliki peralatan make up lengkap dan dia berdandan sangat cantik.
Diarra lalu turun dan Rehan ikut turun.
“Han, jangan ikutin aku, kamu kemana kek, aku mau cari pacar aku.”
Rehan menyerngitkan dahinya.
“Pacar kamu dosen?” tanya Rehan.
“Enggak, dia mahasiswa sini.”
Sungguh Rehan tercengang dengan ucapan Diarra. Dia tidak menyangka jika Diarra menyukai lelaki yang lebih muda darinya. Rehan menatap Diarra dengan tatapan tidak suka, dia menghela napasnya. Diarra sangat kesal karena Rehan masih saja mengikutinya. Diarra memilih menunggu di taman kampus, berulang kali dia tetap mengirimkan sms kepada Rey, tetapi masih belum ada balasan, bahkan kini hanya centang satu. Diarra berharap bisa melihat Rey di sini.
“Nunggu pacar kamu? Kenapa engga ditelfon aja sih Ra?” tanya Rehan sembari memberikan Diarra sepotong es krim.
“Thanks,” ucap Diarra lalu memakannya perlahan. Entah kenapa rasanya aneh dengan sikap Rehan, kenapa Rehan seolah sangat protektif dengannya. Sejujurnya Diarra risih dengan sikap Rehan yang seperti ini, tetapi bagaimana lagi, mau tak mau Diarra juga harus menganggap Rehan seperti saudara sendiri karena Rehan menempel padanya kemanapun dia pergi.
“Dia mana? Kenapa enggak tanya aja ke TU sih Ra?” tanya Rehan.
“Apa aku tanya aja ya?” tanya Diarra kembali. Dia ragu, karena ini pun masih jam sekolah, apalagi rasanya tidak enak jika harus mengganggu Rey nantinya. Diarra hendak berdiri, namun seketika tubuhnya terpaku ketika melihat Rey lewat di hadapannya, sayangnya keberadaannya tidak dilihat oleh Rey. Diarra hendak memanggil Rey, tetapi kakinya terhenti lagi saat melihat Rey menggenggam tangan seorang gadis di sampingnya. Diarra tidak tau siapa gadis itu, tetapi seketika air mata Diarra jatuh kembali. Gadis itu gadis yang sama di rumah sakit kemarin. Apa benar Rey telah mengkhianati Diarra? Sakit, sesak dan membuat Diarra tidak tau harus bagaimana. Rehan berdiri di hadapan Diarra menutupi pandangan Diarra.
“Stop, jangan nangis. Cowok yang mengkhianati kamu enggak perlu kamu tangisi.”
Diarra menatap Rehan, air mata Diarra diusap oleh Rehan.
“Udah ya, kita jalan-jalan ke tempat lain aja.”
Diarra menggeleng, mendorong Rehan dan dia berlari menuju Rey. Diarra tidak mau sama seperti dulu, dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, dia tidak mau sampai kisah dia dengan Rey berakhir sama dengan Rehan. Dia ingin menanyakan pasti kepada Rey bagaimana dengan hubungan ini, bagaimana dengan kisah mereka.
“Rey!” panggil Diarra.
Rey menoleh, dia melihat Diarra, dia masih terdiam. Diarra melirik tangan Rey yang masih menggenggam erat tangan gadis di sampingnya. Diarra melirik name tag gadis itu, ‘Bella Shakira Putri’.
Diarra tidak tau apa hubungan dia denga Rey, tapi Diarra masih ingin mengetahui kepastiannya.
“Siapa dia sayang?” ucap Bella.
Rey menatap lurus Diarra, dia masih mencerna otaknya, memikirkan siapa gadis di hadapannya. Yah meski sudah melihat foto Diarra, tetapi Rey masih belum mengenali siapa gadis di hadapannya.
“Ini aku Diarra,” ucap Diarra sembari berkaca-kaca.
“Oh, dia teman mabar aku di game. Btw, kamu ngapain Dir di sini?” tanya Rey.
Deg. Hanya itu? Diarra telah menabung uang selama berbulan-bulan dan tanggapan Rey hanya itu?
“Aku mau bicara sama kamu, berdua.”
“Bel, bisa tinggalin kita dulu?” pinta Rey. Bella tak segera pergi, dia masih asik bergelayut manja di tangan Rey. Mata Diarra sungguh memanas ketika melihat tangan Bella yang asik menempel di lengan Rey. Dia ingin marah sebenarnya. Rey hanya mengusap pipi Bella dan mengacak rambutnya dengan sayang. Sungguh Diarra benar-benar sakit hati, dia sakit hati melihat mereka yang mesra. Tapi Diarra menahannya, sebisa mungkin Diarra ingin mendengar dari bibir Rey, siapa gadis itu.
Bella lalu pergi, dia pergi setelah rey meminta dia untuk menunggu di kantin.