Diarra nekat, dia tidak tau dimana tempat tinggal Rey, bermodal dari aplikasi pelacak nomor ponsel, dia berusaha mengikutinya. Rehan sedari tadi pun mengikuti Diarra. Dari Surabaya sampai Jakarta, Rehan selalu ada di belakang Diarra tetapi gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Rehan. Diarra sebegitu tidak pekanya terhadap keadaan, dia seolah tidak memperhatikan sama sekali di belakangnya ada lelaki yang menjaga dia. Dia menaiki taksi, mengatakan kepada supir taksi untuk mengikuti alamat yang dilacak Diarra itu. Diarra sama sekali tak tau menahu tentang Jakarta, buta arah. Maklum saja Diarra juga jarang ke Jakarta, pernah sekali atau dua kali, itupun masih kecil. Sekarang Jakarta berbeda, kotanya sangat bagus dan menawan begitu menakjubkan. Ibu kota memang pusat dari segalanya. Diarra sangat suka di sini, apalagi tatanan kotanya jauh lebih bagus. Yah walaupun agak panas dan berpolusi, tetapi Diarra suka berada di sini, rasanya dekat dengan ayahnya.
Dia belum mengabari ayahnya kalau dia telah sampai, niatnya dia hendak mendatangi ayahnya setelah dia menemui Rey. Diarra menyerngitkan dahinya saat mobil taksi memasuki wilayah rumah sakit, jujur Diarra tidak tau kenapa Rey di rumah sakit. Diarra mengkitu jejak Rey dan masuk ke dalam rumah sakit, dia terkejut saat melihat Rey memeluk seorang gadis yang juga berseragam sama dengannya. Gadis itu rupanya seumuran dengan Rey, rambutnya panjang digerai ke bawah. Ada selang infus di tangan gadis itu. Sepertinya Rey menolong gadis itu karena sakit, entah kenapa gadis itu memeluk erat Rey. Jujur Diarra terluka melihatnya. Diarra hendak menyapa Rey, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat. Dia berbalik, melangkahkan kakinya keluar rumah sakit. Tanpa dia sadari, air matanya menetes, bahkan pandangannya kabur, dia tidak bisa melihat apapun, sampai akhirnya dia menabrak sesuatu, dia merasa menabrak seorang lelaki.
“Maaf,” ucap Diarra begitu saja. Dia lalu mencoba menghindari lelaki itu, masih menunduk tak melihat wajahnya. Namun lelaki itu menarik Diarra, memeluknya erat.
“Kenapa sih pake nangis? ENggak malu apa dilihatin sama orang-orang? Dasar cengeng!” ucapnya. Suara itu, suara yang sangat Diarra kenal. Dia mendongak dan mendapati Rehan kini tengah memeluknya.
“Re-Rehan?” ucap Diarra. Dia lalu melepas pelukan Rehan. Diarra memalingkan wajahnya, mengusap cepat air matanya.
“Kamu ngapain di sini? Astaga kok bisa sih di sini? Kamu enggak kerja? Loh?” ucap Diarra panik.
Rehan hanya tersenyum miring menanggapi Diarra yang panik, dia lalu menggandeng Diarra dan membawa gadis itu ke tempat yang lebih sunyi, Rehan membawa Diarra ke cafe dekat rumah sakit. Dia memesankan minum dan makanan untuk Diarra. Rehan diam-diam mengamati Diarra dari kejauhan. Kini dia tau kenapa Diarra ke Jakarta. Menemui pacar ‘virtualnya’ secara diam-diam. Diarra saling bertatapan dengan Rehan, masih ada rasa yang mengganjal di hati Diarra, bagaimana Rehan bisa tau dia ada di sini, lalu kenapa Rehan mengikutinya?
“Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu bisa ada di sini Rehan?” tanya Diarra gemas. Rehan hanya tersenyum kecil menjawabnya.
“Ya tentu saja karena aku menjagamu. Perempuan gadis sendirian ke Jakarta naik pesawat, well bagi sebagian orang mungkin akan fine-fine aja. Tapi aku khawatir kamu ada apa-apa di jalan, jadi ya diam-diam aku ngikutin kamu.”
Rehan mengucapkan sembari menyeruput kopi panas di hadapannya. Dia tau jika Diarra juga lapar, sejak sampai di Jakarta, Diarra sama sekali belum makan. Sama halnya dengan Rehan. Tetapi jika sudah sore begini Diarra pasti hanya mau memakan dessert saja, dia pasti enggan memakan makanan berat.
“Nih, waffle. Udah ayo makan. Gausah ngelamun gitu,” ucap Rehan. Jelas Rehan tau jika Diarra terluka. Diarra pasti sakit hati karena melihat pacarnya berpelukan dengan perempuan lain. Satu hal yang Diarra benci, Rehan tau segala sisinya yang buruk. Bukan sisi yang buruk sebenarnya, tetapi saat Diarra terluka dan sakit hati sedang jatuh, Rehan mengetaui semuanya. Itu adalah hal yang membuat Diarra menjadi malas melihat Rehan, tidak ada rahasia yang bisa dia jaga dari Rehan.
“Iya, thanks.”
Diarra perlahan memakan waffle dari Rehan, dia juga meminum red velvetnya. Saat ini Diarra sedang tidak memikirkan kalori tinggi. Yang dia pikirkan hanya satu, bagaimana hubungan dia dengan Rey setelah ini. Seperti rasanya berat sebelah, seolah Rey tidak lagi mencintai Diarra dan hanya Diarra yang cinta dengan Rey. Diarra merasa bodoh juga, bagaimana bisa dia mencari jodoh dari akun game?
“Kamu engga makan?” tanya Diarra yang melihat Rehan memperhatikannya terus menerus.
“Enggak, kenyang. Kamu aja makan duluan, habisin ini semua.”
Diarra tersenyum lalu tertawa.
“Apaan sih, makan ya makan aja Rehan, gausah gitu sama aku, biasa aja lah, ya aku selalu ngehindari kamu emang, aku tau sikapku kadang berlebihan, tapi ya gimana lagi? Kenyataannya kita jadi rekan kerja kan?” ucap Diarra tertawa kecil.
“Iyasih, jadi kamu masih mau kan terima aku jadi temen aku?”
“Iyalah pasti. By the way, tolong jangan laporin Papa kalau aku udah di sini,” pinta Diarra. Rehan hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Entah karena gemas atau bagaimana, Rehan mengacak rambut Diarra dengan tawa di bibirnya. Diarra hanya memberengut menatap Rehan.
‘Aku masih sayang sama kamu Diarra, perasaan aku enggak berubah. Tolong cintai aku lagi.’ Batin Rehan.
Diarra menatap layar ponsel dan mengetuknya berulang kali, pesannya kepada Rey saja belum dibalas sampai Diarra pun spam kepadanya.
‘Rey, kamu dimana?’
‘Rey, kok enggak balas sih?’
‘Rey, please Rey, aku di Jakarta lo Rey’
‘Rey, balas dong Rey.”
Diarra menggerutu kesal karena Rey tak membalas pesannya, dia kesal sekaligus gemas.
“Kenapa sekarang cemberut lagi?” tanya Rehan. Wajah Diarra seolah gelisah menatap ponselnya.
“Pacar aku ga bales chat aku.”
Rehan hanya terdiam mendengar pernyataan Diarra, sebenarnya dia agak kesal juga mendengar Diarra mengatakan ‘pacar’ di hadapannya. Rehan sangat menyayangi Diarra sepenuh hatinya, tapi kenapa Diarra tidak bisa kembali melihatnya ada di di sini untuk Diarra.
Diarra, apa enggak ada satu persen aja aku di hati kamu? Kenapa kamu bersikap begini?
Rehan menghela napasnya, dia memilih ke kasir dan memesan lagi satu nasi goreng untuknya. Setidaknya kalau dia patah hati harus tetap makan untuk bertahan hidup kan?
Rehan lalu menatap jam tangannya, sudah hampir larut malam. Dia harus segera check in, pasti Diarra juga lelah.
“Kamu tinggal dimana?” tanya Rehan.
“Rumah Papa, sebenarnya aku bohong si sama Papa kalau pesawat aku delay,” ucap Diarra.
“Demi ketemu cowok kamu?” tanya Rehan.
Diarra hanya menjawabnya dengan cengiran, iya demi Rey. Demi Rey Diarra menabung untuk ke Jakarta, demi Rey Diarra berbohong.