"Baik, siap" Ucap Zanna sembari tersenyum menghadap cermin dan berlalu meninggalkan kamar hotel nya tidak lupa ia mengunci kamar hotel tersebut.
Zanna mulai berjalan di sepanjang koridor hotel tersebut lalu ia mendapati ruangan besar layak nya aula yang tampat seperti aula untuk berdansa, tempat itu indah dengan nuansa Classic namun mewah dengan gambaran dewi dan juga dewa kuno tidak lupa dengan keramik- keramik mewah dan juga bunga yang berada di setiap ruangan dengan satu teras balkon yang menghadap pemandangan indah di balik hotel itu yang di mana terdapat suguhan pantai dan juga air dan angin yang menyepoi- sepoi menghiasi keindahan.
"woah, ini sangat indah" Ucap Zanna kagum dengan apa yang di lihat nya, tanpa sadar Zanna mulai berjalan pelan pada ruangan tersebut dan berlalu menari layak nya seorang putri yang tengah sendirian di aula tersebut.
Zanna menari memutarkan badan nya hingga akhirnya ia mendapati balkon teras tersebut.
"Huhh, tenang rasa nya" Ucap Zanna sembari menghirup udara segar pada teras balkon tersebut, Zanna berlalu terdiam saat ia melihat sebuah keluarga tengah bermain bersama di bawah pemandangan yang ia lihat, keluarga itu tampak sangat bahagia bermain bersama tidak lupa dengan anggota keluarga yang lengkap.
Zanna yang melihat pemandangan seperti itu pun merasa seperti hati nya terpuruk, ia jadi teringat akan ayah dan ibu nya pada saat Zanna masih kecil.
mereka bermain bersama di belakang halaman rumah Zanna, Ayah dan ibu nya tertawa bersama layak nya mereka tidak memiliki beban sama sekali.
Tanpa sadar air mata Zanna menetes karena mengingat momentum yang tidak bisa ia utar kembali semua itu hanya akan menjadi kenangan bagi nya.
"Ibu .. Ayah, Zanna merindukan kalian" Batin Zanna sedih dengan air mata nya yang menetes sembari menatap keluarga tersebut, sontak Zanna menghapus air mata nya dengan cepat ia teringat akan kata ibu nya yang selalu mengatakan kepada untuk tidak mengingat hal yang hanya membuat hati dan pikiran kita menjadi tidak tenang , kita harus selalu menatap ke depan.
"Hah, tidak apa aku akan menghasilkan keluarga yang bahagia bagi anak ku kelak" Ucap Zanna tulus dan tanpa sadar, sontak ia terkejut dengan ucapan nya.
"Tunggu, apa yang ku katakan barusan? haha astaga ... aku tidak bermaksud untuk mendoakan hal buruk yang akan terjadi pada ku di masa depan tapi .. keluarga bahagia? dari siapa?" Ucap Zanna dan tiba- tiba terlintas di pikiran nya tampang Alvaro.
"Mas Alvaro?! apa maksud nya , aku menikahi Mas Alvaro hanya dengan pro kontra tidak mungkin itu akan terjadi" Ucap Zanna dengan pipi nya yang merona.
ia menikmati pemandangan indah tepat di depan mata nya itu dengan cukup lama karena mengagumi setiap inci pemandangan tersebut, karena terlalu lama akhirnya Zanna pun memutuskan untuk ke lantai bawah ia harap ia akan mendapatkan beberapa camilan.
Zanna mulai memberanjakan kaki nya dari aula dansa tersebut dan berlalu menuju lift untuk pergi ke lantai utama yang di mana terdapat restoran dan juga teman cemilan khusus bagi orang yang menginap di hotel tersebut.
Zanna tertarik akan toko bernuansa Simple dan Classic yang menjual roti bagèl dengan polesan mentega rempah- rempah.
"Permisi, Tolong roti bagèl selai mentega rempah untuk ku dan juga segelas s**u hangat .. terimakasih" Ucap Zanna memesan camilan nya dan berlalu ke tempat duduk yang terdekat pada tempat ia berdiri sebelum nya.
Sembari menunggu Zanna memainkan Handphone nya agar tidak bosan, namum Zanna merasa janggal karena ia merasa seperti tengah di awasi oleh seseorang dari kejauhan, karena penasaran Zanna pun melihat ke arah sekitar nya namun tidak mendapati siapa pun yang terasa seperti tengah mengintai nya.
"Terasa aneh, tadi aku merasa seperti ada orang yang mengintai ku" Batin Zanna sembari melihat ke sekitar aula tersebut, Saat pesanan nya telah datang Zanna pun menikmati cemilan nya itu tanpa memerdulikan apa pun dan ternyata benar dari kejauhan terdapat seorang bawahan Mafia yang tengah mengintai nya tanpa di curigai seorang pun.
BAB 6
Alvaro tengah melaksanakan meeting nya bersama dengan bawahan nya, mereka tengah merencanakan pembuatan iklan perusahaan marketing mereka.
"Terimakasih telah hadir tepat waktu semua nya, maka demikian alangkah baik nya kita akan segera memulai perencanaan pembuatan iklan marketing buah- buahan yang tersedia pada perusahaan ini untuk menciptakan laba lebih besar" Jelas Alvaro kepada bawahan nya tengah menghadiri pertemuan itu, mereka berbincang satu sama lain untuk memunculkan ide gagasan yang unggul untuk membuat iklan marketing mereka mulai dari pemilihan buah hingga pemilihan model untuk iklan mereka, Seling lama selama 3 jam mereka melaksanakan kegiatan meeting itu akhir nya meeting pun usai.
"Baik, keputusan dan pembahasam ini sudah bulat saya ingin kalian untuk melakukan yang terbaik dan saya sangat berharap sekali agar.. pembuatan iklan ini tidak semene- mena dan hasil nya sesuai ekspetasi jadi mohon kerja sama nya" Ucap Alvaro sembari tersenyum ramah kepada bawahan nya dan di balas peniramaan ramah oleh bawahan nya.
"Baik Pak" Ucap pegawai bawahan yang mengikuti meeting tersebut.
"Baik kalau begitu saya akan balik sebentar ke kantor saya jika ada kesusahan tolong hubungi saya ya, terimakasih dan permisi" Ucap Alvaro ramah, seluruh bawahan pegawai yang terdapat pada ruangan itu pun terpesona dan kagum karena keramahan Alvaro kepada semua orang, tidak heran ia sangat di sukai oleh banyak orang.
"Woah, bos kita sangat ramah" Ucap salah satu bawahan pegawai mengagumi Alvaro.
"Ya, kau benar ia sangat baik kepada kita" Balas salah satu bawahan pegawai tersebut.
"Baik semuanya!,tolong perhatian nya sebentar .. kita akan memulai pembuatan iklan nya jadi ..-" Ucap Steven sembari berbahas bersama para bawahan pegawai tentang perencanaan iklan mereka yang tengah berlangsung.
Alvaro tengah mengistirahatkan badan nya pada kursi yang berada di depan layar komputer.
"Hum, coba kita lihat" Ucap Alvaro sembari membuka salah satu berkas file yang terdapat pada Laci meja ayah nya untuk mengecek data- data penjualan pada perusahaan mereka.
Alvaro terpaku akan suatu kotak berwarna merah dan bermotif corak- corak indah, Alvaro yakin kotak itu pasti milik ayah nya dan sudah pasti harga nya sangat mahal.
"Kotak apa ini?" Ucap Alvaro penasaran sembari memerhatikan kotak tersebut secara terperinci , Alvaro mencoba untuk membuka kotak tersebut namun kotak itu tidak dapat terbuka.
"Terkunci, aku harus mencari kunci nya" Ucap Alvaro sembari meletakan kotak tersebut di atas meja dan berlalu mencari kunci dari kotak tersebut mulai dari setiap inci laci maupun atas meja, Karena rasa penasaran yang besar Alvaro tidak segan segan memeriksa setiap inci dari ruangan itu mulai dari dalam pot bunga , berangkas uang di balik gambar , bahkan sampai di bawah sofa pada ruangan tersebut namun nihil Alvaro tidak menemukan apa- apa.
"Huh-Huh, di mana kunci nya?" Ucap Alvaro sembari menarik dan menghembuskan nafas nya karena merasa lelah mengobrak abrik seluruh isi ruangan tersebut.
Alvaro berlalu berjalan ke arah kotak tersebut dan berlalu menggoyangkan kotak merah tersebut.
"Ada isi di dalam nya, namun apa isi nya?" Ucap Alvaro penasaran dengan kotak merah milik ayah nya itu.
"Permisi,bos" Panggil Steven dari luar ruangan sontak dengan cepat Alvaro menyembunyikan kotak tersebut ke dalam saku jas nya.
"Silahkan masuk" Jawab Alvaro dari dalam ruangan, dan berlalu masuk lah Steven dengan File berkas yang Alvaro sendiri tidak tau apa isi nya.
"Aku membawakan mu File data penjualan pada perusahaan marketing ini, Aku yakin kau membutuhkan nya" Ucap Alvaro sembari meletakan file berkas tersebut di atas meja dengan ramah.
"Ah ya, aku membutuhkan ini .. terimakasih banyak Steven" Ucap Alvaro berterimakasih kepada Steven dan di balas anggukan senyuman ramah dan sedikit bungkuk kepada Alvaro , Steven berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Hah, hampir saja" Ucap Alvaro lega, tiba tiba handphone Alvaro berdering dan ternyata yang menelepon Alvaro adalah Clara sontak Alvaro tersenyum senang karena adik nya itu menelepon nya.
"Halo Clara" Sapa Alvaro dengan ramah.
"Halo bang!, bang abang kenapa tidak menelepon ku?! aku sangat menunggu kabar dari abang!" Ucap Clara kesal karena tidak mendapat telepon dari Alvaro.
"Haha! maafkan abang ya Clara, abang tidak sempat untuk menelpon kamu .. abang sangat sibuk" Jelas Alvaro kepada Clara dan di balas hembusan nafas dengan kasar dari Clara, Alvaro yang mendengar adik nya kesal pun tertawa gemas karena Clara.
"Ya ya, aku mengerti dengan keadaan abang .. abang jangan terlalu lelah ya!, dan ingat jangan meneguk alkohol!" mendengar ucapan Clara sontak Alvaro tertawa karena menurut nya Clara yang masih terlihat seperti anak kecil memarahi nya untuk tidak mabuk- mabukan.
"Tentu tidak Clara, abang tidak mungkin melakukan itu" Jawab Alvaro gemas.
"Tentu mungkin! huft, abang jangan lupa jagain Zanna ya" Ucap Clara, sontak Alvaro teringat akan Zanna yang menunggu nya di hotel Alvaro berpikir mana bisa Zanna tidak merasa bosan di hotel sendirian sampai rela menunggu Alvaro untuk pulang.
"Iya Clar, abang akan selalu menjaga Zanna , tenang saja" Ucap Alvaro meyakinkan Clara.
"Hum! sebaik nya begitu, kalau begitu aku akan mematikan telefon nya ya bang sampai jumpa!" Ucap Clara dan berlalu mematikan telefon nya.
Alvaro termenung menatap monitor komputer di depan nya, ia berpikir apakah ia akan kembali ke hotel untuk mengajak Zanna ataukah ia hanya akan menatap monitor komputer di perusahaan nya untuk melaksanakan apa yang harus ia lakukan.
"Heum, aku akan kembali ke hotel dan membawa Zanna kemari agar ia tidak bosan" Ucap Alvaro sembari mematikan komputer nya, Alvaro berlalu meninggalkan ruangan kantor ayah nya tersebut untuk menuju ke parkiran mobil dan berlalu menuju hotel untuk menemui Zanna.
"Baik, selesai!" Ucap Zanna senang, karena ia telah menyelesaikan makanan nya, Setelah makan Zanna meninggalkan tempat tersebut dan berlalu melihat ke arah sekitar aula tempat ia berada.
"Aku telah menyelesaikan makanan ku, sekarang aku harus kemana?" Ucap Zanna bepikir tentang kemana ia akan pergi apakah kembali ke kamar hotel atau pergi keluar hotel untuk berjalan sendirian.
jika balik ke kamar hotel, ia akan merasa bosan karena waktu yang masih sangat lama untuk menuju malam hari, maka Zanna memutuskan untuk berjalan- jalan di sekitar luar hotel yang di mana banyak sekali orang- orang melintasi jalan, trotoar hingga penjual barang-barang di lupa di samping trotoar tersebut terdapat banyak sekali Cafe dan juga Boutique.
" Ternyata tidak seburuk itu, andai Clara bersama ku di sini aku yakin ia akan sangat senang.., aku akan mencoba untuk keluar sebentar" Ucap Zanna.
BAB 7
Zanna memberanjakan kaki nya menuju ke pintu keluar hotel tidak lupa ia di sambut ramah oleh pengawas yang berada di depan pintu tersebut, dan ternyata orang yang mengintai Zanna mengikuti Zanna dari belakang.
Pengawas tersebut tidak curiga dengan orang yang tengah mengikuti Zanna sama sekali, menurut ia orang tersebut hanyalah penginap yang menginap pada hotel tersebut.
Zanna tidak merasakan apa- apa, ia hanya menikmati waktu nya tanpa memikirkan apa pun ia merasa bahagia saat melihat di sekeliling nya banyak sekali beragam orang yang melewati nya mulai dari orang kulit putih sampai dengan kulit hitam, Zanna terpaku akan kecantikan mereka menurut Zanna mereka sangat lah indah.
Zanna berjalan dengan bahagia sembari menghirup udara swiss yang berbau macam- macam mulai dari bau Makanan, Cat baru , hingga bau parfum yang beragam, Zanna mampir di tempat penyewaan sepeda karena ia ingin menikmati waktu nya dengan lama di luar hotel, ia sangat senang.
"Ternyata menikmati waktu sendiri, tidak seburuk yang ku bayangkan .. aku harus sering- sering melakukan hal ini hehem" Ucap Zanna senang, menurut nya dengan berjalan menikmati waktu sendiri dapat membuat pikiran nya menjadi lebih tenang dan aman.
Zanna membayar penyewaan sepeda sebesar $20 untuk di pakai sepuas nya, sehingga sewaktu Zanna ingin mengembalikan sepeda tersebut, Zanna mulai mengendarai sepeda itu dengan menggayungkan sepeda nya dengan tenang dan akhirnya pada saat ia tengah mengganyungkan sepeda nya ia melihat seorang pelukis yang tengah menggambar anak kecil.
Pelukis itu terlihat seperti penjual gambaran- gambaran yang ia tulis, mulai dari gambaran objek barang, bunga , tempat, abstrak hingga gambaran manusia terpajang pada tempat penjualan gambar tersebut.
Zanna menghampiri pelukis tersebut dan berlalu menyimpan sepeda nya.
"Permisi pak, bisakah kau menggambar ku?" Ucap Zanna ramah kepada pelukis tersebut.
"Tentu saja nak, duduklah" Jawab pelukis tersebut dengan ramah, ia mulai mengganti kanvas nya dengan kanvas yang baru untuk menggambar wajah Zanna, dengan paras Zanna yang cantik dan manis Zanna terlihat sangat indah saat tersenyum tenang melihat pelukis tersebut tengah menggambar wajah nya.
Pelukis itu mulai menyapukan kuas nya sembari melihat ke arah Zanna dan sesekali melihat ke arah kanvas yang tengah ia gambar untuk menggambarkan wajah Zanna, seling menunggu waktu selama hampir 30 menit gambaran Zanna pun selesai.
"Gambaran anda sudah siap" Ucap Pelukis tersebut dengan ramah sembari memperlihatkan gambaran wajah Zanna kepada nya, Sontak Zanna terkejut dan terpesona karena keindahan yang di hasilkan dari tangan pelukis tersebut menurut Zanna gambaran wajah nya sangat lah indah dan detail tidak lupa gambaran tersebut juga sangat teliti dan waktu penggambaran yang lumayan cepat untuk gambar yang sangat terdetail itu.
"Ini sangatlah indah!, bagaimana bisa kau membuat hal ini begitu indah pak pelukis" Ucap Zanna ramah sembari tersenyum kagum kepada pelukis tersebut.
"Hoho bukan apa- apa nak, gambar itu indah bukan karena hasil dari tangan ku tapi karena paras cantik dari wajah mu yang menghasilkan gambar seindah ini" Ucap pelukis tersebut sembari tersenyum ramah kepada Zanna.
"Terimakasih pak" Jawab Zanna dengan senang sembari melihat kembali gambaran wajah nya.
"Jika anda tidak keberatan, boleh kah saya mencetak foto anda dan saya pajang di sini?" Tanya pelukis untuk meminta izin kepada Zanna agar gambaran wajah Zanna ia pajang di tempat penjualan nya sebagai contoh gambaran.
"Tentu boleh pak .. terimakasih banyak atas gambaran ini!" Ucap Zanna kagum, dan di balas anggukan dan juga senyuman dari pelukis tersebut.
"Berapa harga lukisan ini?" Tanya Zanna menanyakan harga pada gambaran wajah nya.
"Tidak perlu membayar nya nak, lukisan ini gratis untuk mu" mendengar jawaban pelukis sontak Zanna terkejut bagaimana bisa gambaran indah yang tengah ia genggam menjadi gratis untuk nya.
"Benarkah??" Tanya Zanna dengan mata nya yang berbinar.
"Ya tentu saja" Jawab pelukis tersebut dengan ramah.
"Wahh, terimakasih banyak!" Ucap Zanna dengan gembira, pelukis tersebut mengambilkan kantung untuk di berikan kepada Zanna agar Zanna dapat membawa gambaran nya dengan lebih mudah, Zanna mengucapkan salam kepada pelukis tersebut dan berlalu mengendarai sepeda nya menuju ke tempat lain, Zanna mengendarai sepeda nya ke asal tempat hingga akhir nya ia terbawa ke sebuah gang sepi yang ia sendiri tidak tau di mana dia berada sekarang.
"Di mana ini?" Ucap Zanna bertanya tanya di mana kah ia sekarang, Zanna mulai takut karena ia berpikir ia telah salah jalan saat Zanna hendak keluar dari gang tersebut , Zanna di hadang oleh pria yang sedari tadi mengikuti nya dan saat waktu yang sama datanglah 4 pria yang ikut mengepungi Zanna, Zanna sangat takut ia tidak tau harus kemana ia benar benar terkepung.
"A-apa ini?" Ucap Zanna takut, jantung nya mulai berdegup kencang saat para gerombolan tersebut mulai mendekati nya.
"TOLONG!!! SIAPAPUN TOLONG!! TOL-" Teriak Zanna meminta pertolongan namun mulut nya telah di sekap dengan kain yang mengandung obat bius, Akhirnya Zanna pun tak sadarkan diri para gerombolan tersebut menopang Zanna masuk ke dalam mobil dan berlalu menuju ke berangkas mereka.
"Lapor, incaran tuan telah kami tangkap" Ucap salah satu bawahan Mafia yang tengah memencet telefon monitor pada telinga nya.
"Haha!, kerja bagus .. bawa dia kemari! dan berhati hatilah" Balas seseorang di balik telfon tersebut yang merupakan pemimpin dari Mafia yang mengintai Zanna.
Sebenarnya, Zanna hanyalah pancingan dari mafia yang mendekap nya hanya untuk mendapatkan harta Alvaro, mereka merencanakan rencana mereka dengan menjadikan Zanna sebagai umpan agar Alvaro memberikan sebagian kebun pada perusahaan Alvaro kepada mereka.
Lukisan wajah Zanna, dan sepeda yang di kendarai Zanna tertinggal pada gang tersebut, tidak ada seorang pun pada gang itu maupun orang yang tinggal pada gang tersebut, sehingga tidak ada siapa pun yang dapat menemukan Zanna karena lokasi gang tersebut yang benar benar terpencil.
Alvaro masih berada di perjalanan menuju hotel, lokasi perusahaan nya dengan hotel memanglah lumayan jauh sehingga butuh waktu yang lama untuk menempuh jarak ke hotel tempat ia menginap, Alvaro mencoba untuk menelepon Zanna untuk memastikan apakah Zanna masih berada di hotel atau tidak.
"Mengapa Zanna tidak mengangkat telefon nya?" Ucap Alvaro khawatir namun ia masih meyakinkan diri nya untuk menelpon Zanna kedua kali nya, namun tidak ada jawaban pun dari telefon Zanna.
"Sial! ada apa ini? mengapa ia tidak mengangkat telefon ku" Alvaro mulai merasakan firasat buruk ia tidak yakin Zanna tertidur untuk jam siang seperti ini.
Alvaro mulai panik dan lebih cepat menancapkan gas mobil nya menuju hotel.
BAB 8
Alvaro bergegas keluar dari mobil nya dan langsung berlari ke arah lift, dengan tergesa gesa di penuhi rasa kwatir dan juga risau.
"Zanna!" Teriak Alvaro panik sembari membuka pintu kamar hotel yang dimana terdapat Zanna sebelum nya, Alvaro mulai berjalan masuk ke dalam kamar hotel sembari menyebut nama Zanna namun tidak ada sautan sedikit pun hingga Alvaro mengecek kamar mandi ia berharap Zanna tengah berada di kamar mandi sehingga tidak mendengar panggilan Alvaro namun nihil tidak ada sautan dari Zanna.
"Ya tuhan, kemana dia?!" Ucap Alvaro khawatir dan frustasi, Alvaro bergegas mengambil handphone nya untuk menelpon Steven.
"Halo Bos selamat siang, ada apa?" Tanya Steven.
"Steven, tolong kau jalani tugas ku untuk sebagian saja aku akan kembali segera soal nya aku mempunyai urusan mendesak untuk saat ini" Jelas Alvaro dengan tergesa gesa, Steven pun mengerutkan dahi nya dengan heran namun mengiyakan perintah Alvaro.
"Baik bos" jawab Steven dengan tegas.
"Terimakasih" Alvaro pun mematikan telfon nya dan menelepon Zanna untuk sekian kali nya namun kali ini handphone zanna tidak aktif, tidak seperti sebelum nya pada saat Alvaro menelepon nya handphone milik Zanna masih aktif.
Alvaro khawatir dengan Zanna, Alvaro tidak yakin Zanna dapat menjaga diri nya sendiri untuk keluar dari hotel ini, Alvaro berpikir bukan kah Zanna akan menunggu nya untuk pulang?, namun ternyata tidak.
"Aku harus mencari nya" Alvaro memberanjakan kaki nya menuju pintu keluar kamar dan berlalu mengunci pintu tersebut dan berlari ke arah meja resepsionis dengan tergesa- gesa.
"Permisi, apa kau melihat wanita muda berambut hitam berjalan di sekitar sini?" Tanya Alvaro kepada pelayan resepsionis sembari menarik dan mengeluarkan nafas nya dengan kasar karena lelah
berlari.
"Maaf, kami tidak melihat wanita yang anda maksud" Jawab wanita resepsionis tersebut.
"Bisakah aku melihat CCTV kalian?" Tanya Alvaro dengan khawatir.
"Saya sangat meminta maaf kepada anda pak, tapi CCTV sedang di perbaiki" Jelas wanita resepsionis tersebut kepada Alvaro, sontak Alvaro menjadi lebih khawatir sembari mengusak dahi nya dengan frustasi.
Alvaro berlalu berlari ke arah mobil nya dan mulai berkendara ke sembarang arah, berharap ia menemukan Zanna di dekat jalan yang tengah is telusuri namun nihil Alvaro tidak menemukan Zanna.
"Kemana pergi nya dia? mengapa ia tidak menelepon ku?" Batin Alvaro frustasi sembari mengusak dagu nya.
Saat tengah mengendarai mobil nya Alvaro melihat CCTV keamanan yang tengah terpasang di atas lampu jalanan, dengan segera Alvaro membuka pintu mobil nya berlalu berlari ke arah post keamanan terdekat yang memiliki rekaman CCTV pada jalan tersebut , Alvaro yakin Zanna pasti melewati jalan ini.
Alvaro berlalu berlari ke arah meja petugas keamanan yang tengah menjaga sekitar lokasi tersebut dengan tergesa gesa.
"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas tersebut kepada Alvaro.
"Ah ya, bisakah aku melihat rekaman CCTV pada CCTV yang berada di sana?" Ucap Alvaro tergesa gesa sembari menunjuk ke arah CCTV yang ia maksud.
"Maaf sebelum nya ada perihal apa anda ingin melihat rekaman CCTV? untuk melihat rekaman CCTV anda harus melakukan pelaporan terlebih dahulu pada kantor polisi terdekat" Jelas petugas tersebut, Sontak Alvaro menjadi marah karena tujuan nya untuk mencari Zanna di buat rumit oleh petugas tersebut.
"AAARGGGHH KU MOHON! BANTULAH AKU! aku adalah pendatang dari negara indonesia baru kemarin aku sampai di kota ini dan aku kehilangan istri ku yang tengah keluar dari hotel dan sekarang aku tidak tau ia berada di mana .. ku mohon bantulah aku .. istri ku tidak mengenal daerah ini sama sekali .." Jelas Alvaro berupaya menjelaskan apa yang terjadi kepada petugas tersebut.
"Sesuai dengan kata ku pak, kau harus membuat lap-" Ucap petugas tersebut namun belum sempat ia menyelesaikan omongan nya , Alvaro memotong pembicaraan nya.
"KU MOHON!! .. bantulah aku" Ucap Alvaro sedih dan panik.
Petugas tersebut merasa kasihan melihat Alvaro, ia tidak tega melihat Alvaro yang memohon kepada nya hanya untuk melihat rekaman CCTV sehingga akhirnya karena merasa kasihan , petugas tersebut pun mengijinkan Alvaro untuk melihat rekaman CCTV pada jalan seberang.
"Baiklah pak, anda boleh melihat rekaman CCTV pada jalan tersebut ..ikut dengan ku" Ucap petugas tersebut pasrah dan di berikan anggukan oleh Alvaro.
Alvaro mengikuti petugas yang berjalan ke arah ruangan CCTV membelakangi nya, sesampai nya Alvaro dan juga petugas tersebut ke dalam ruangan CCTV , petugas itupun membuka rekaman CCTV yang terdapat pada jalan yang di maksud Alvaro.
"Pak, apakah jalan ini yang ada maksud?" Tanya petugas tersebut, sontak Alvaro melihat ke arah monitor yang terpampang CCTV yang ia maksud.
"Ya! CCTV inilah yang ku maksud, bisakah anda mempercepat sedikit ke arah jam 9 hingga jam 12?" Tanya Alvaro kepada petugas tersebut, petugas itupun melakukan apa yang Alvaro inginkan sehingga akhirnya Alvaro terkejut saat melihat Zanna tengah menaiki sepeda, Alvaro sangat yakin bahwa yang ia lihat itu Zanna.
"Itu dia!" Ucap Alvaro kaget, Alvaro melihat Zanna memberhentikan sepeda nya pada tempat pelukis gambar, sekarang Alvaro tau kemana ia harus pergi.
"Pak, apakah kau tidak ingin melakukan laporan kepada polisi?" Tanya petugas tersebut kepada Alvaro.
"Ya!, aku ingin membuat laporan kepada aparat kepolisian dengan laporan orang hilang ,aku harap mereka dapat membantu ku" Ucap Alvaro.
Petugas tersebut pun mengambilkan telepon kabel untuk menelepon polisi, namun nihil tidak ada jawaban dari panggilan tersebut.
"Mereka tidak mengangkat telepon nya pak" Ucap petugas tersebut kepada Alvaro, sontak wajah Alvaro menjadi sedih hingga akhirnya Alvaro teringat akan kenalan nya di swiss yang berprofesi sebagai bagian aparat intel.
"Tidak apa- apa, aku akan meminta pertolongan teman ku terimakasih atas bantuan anda saya sangat menghargai itu" Ucap Alvaro sembari menggenggam tangan petugas tersebut guna berterimakasih atas pertolongan nya.
"Tentu pak, sama- sama" Jawab petugas tersebut.
Alvaro pun berlari menuju tempat pelukis tersebut yang hendak tutup, dengan berlari sekuat tenaga dan tanpa memerdulikan orang sekitar , karena berlari dengan sangat cepat Alvaro pun terjatuh karena menabrak orang yang tengah mendorong kereta berisikan apel untuk di jual.
"Arggghh" Geram Alvaro sakit karena menabrak kereta apel tersebut.
"Hey pak!, jangan berlari - lari di tempat keramaian! , lihat apa yang kau lakukan! gerobak ku menjadi rusak!" Ucap penjual apel tersebut dengan kesal.
Dengan sekuat tenaga Alvaro mencoba untuk berdiri dan mengeluarkan dompet nya untuk mengganti rugi atas apa yang ia perbuat , Alvaro memberikan uang sebesar 200$ untuk mengganti rugi gerobak penjual apel tersebut dan berlari meninggalkan penjual apel tersebut yang kaget karena nominal yang di berikan Alvaro sangatlah banyak.