PART 9

2245 Kata
Alana POV   "Hai!" Sebuah suara membuyarkan lamunanku sejak tadi, ntah sejak kapan. Suara yang cukup familiar. "Oh hai, duduk," Ryan segera mengambil duduk tepat dihadapanku. Saat ini kami sedang ada di kantin, seperti biasa jam istirahat. "Sendirian aja? Biasanya berdua," tanyanya, sendirian sekarang tanpa Dea, dan udah beberapa hari ini aku juga ngga kumpul dengan kak Alan dan teman-temannya, yah lagi senang aja berdua dengan Dea. "Halo, jangan melamun," Ryan melambaikan tangan ke hadapan wajahku yang memang sedang tidak fokus. "Ah maaf, iya sendirian, temanku lagi ada urusan sama guru," jawabku jujur. "Oh, ngga makan?" Tanyanya lagi sambil menatapku, agak risih sih dilihat gitu. "Emm ngga laper," ucapku lesu, ya aku lagi ngga nafsu makan hari ini, ngga tahu kenapa. Pikiranku ngga fokus, nafsu makan juga kurang, mungkin lagi kurang sehat aja nih badan. "Makan dulu ntar sakit kalau telat," terdengar nada perhatian dari Ryan, ntah kenapa. Aku hanya menggeleng, ia menyerah tidak memaksaku. Pulang sekolah kak Alan ngga terlihat dimana-mana, 'kak Alan kok ngga ngabarin sih kalo ada urusan?' decakku sebal dalam hati. "Mana kembaranmu?" Tiba-tiba Ryan udah berdiri tegap disampingku. "Ngga tau," aku menggidikan bahuku. "Mau diantarin?" Tawarnya. 'Boleh juga' pikirku, badanku juga lagi kurang sehat sepertinya untuk dibawa pulang sendiri, ngga lucu kalau sampai pingsan dijalan. "Wajahmu pucat," ucapnya saat kami sedang menuju ruang parkir sekolah. "Hmm…" aku hanya bergumam malas. Saat tengah berjalan ke ruang parkir tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menggenggam tanganku. "Maaf dia ikut gue pulang," kemudian tangan itu menarikku ke sisi lain ruang parkir tempat mobilnya diparkir, Ryan hanya menatap kami yng mulai menjauh dengan wajah bingung lalu beranjak ketempat mobilnya diparkir. "Geo.." ucapku pelan pada cowo yang masih menggenggam tanganku menuju mobilnya. "Masuklah," ia membukakan pintu mobil mempersilahkan aku masuk, badanku terasa lemas buat menolak, akhirnya aku nurut masuk ke mobilnya. Mobil dijalankan meninggalkan sekolah membelah jalanan ibukota yang tidak terlalu macet siang ini. "Kita mau kemana?" Tanyaku pelan saat aku tahu arah yang ia tuju bukan rumahku. "Alan lagi ada urusan sama Mom kalian, jadi gue yang gantiin dia nganter lo balik, tapi sekarang kita cari makan siang dulu, gue yakin lo belum makan, wajah lo pucat gitu," ucapnya panjang, kata terpanjang yang pernah diucapkan dari si om irit ini. Tak lama kami tiba disebuah restoran sederhana, Geo membantuku turun dari mobilnya, cukup membantu karena badanku cukup lemas, aku bingung dengan badanku hari ini yang tiba-tiba drop gini, mungkin karena semalam. "Thanks" ucapku singkat yang dibalas dengan senyuman tipisnya.   "Lo mau pesen apa?" Tanyanya saat kami sudah duduk di salah satu meja, kepalaku sedikit pusing, aku menggeleng lemah, "Ngga laper," jawabku jujur karena nafsu makanku benar-benar hilang ntah kemana, aku rasa aku memang sakit, huff. "No, lo harus makan, muka lo pucat gitu, pesan bubur aja." Nada bicaranya terdengar khawatir, senang sih tapi mungkin karena aku ini adik sahabatnya, ahh lagi-lagi karena itu. Aku mengangguk lemah, Geo memesankan bubur dan teh hangat untukku dan memesan makan siangnya. Ku telan dengan malas makananku, lidahku pahit, ini mengapa aku malas makan hari ini, rasanya ngga enak. Bahkan menu-menu restoran ini yang biasanya membuatku semangat makan tidak mempan menggodaku. "Lo sakit?" Tanyanya yang melihatku semakin lemas, dipegang keningku kemudian ku lihat raut wajahnya berubah. "Astaga lo demam!" raut wajah kaget yang belum pernah aku liat dari wajah datarnya. Aku hanya tersenyum tipis, "Gue ngga apa," ucapku berusaha meyakinkannya walau aku tahu percuma, Geo membayar bill makanan kami lalu membantuku berdiri untuk mengantarku pulang. "Gue pikir lo pucat karena belom makan, ternyata demam, sorry tau gini gue antar lo balik langsung," sesalnya yang terlihat dari raut wajahnya, aku hanya bisa tersenyum seolah mengatakan 'ngga apa kok, thanks ya' namun aku ngga bisa ngomong, kepalaku semakin pusing, aku berusaha menahan pusing ini sampai tiba dimobil Geo agar bisa berbaring dikursi mobilnya. Namun pertahananku ngga kuat, kepalaku semakin pusing, pandanganku juga mulai ngga fokus, Geo masih menggandeng tanganku, mobilnya terlihat samar dalam jarak sekitar 2 meter lagi, belum sampai dimobilnya, pandanganku menggelap.   Geo POV Panik. Ya itu yang sekarang aku rasain. Bodoh, kenapa aku ngga peka kalau Ana lagi sakit? Justru malah mengiranya telat makan. Tahu gitu Ana pasti udah istirahat dirumahnya. Tapi ngga mungkin juga kerumahnya, Daddynya pasti masih dikantornya, sedangkan Momnya sedang diluar kota bersama Alan semenjak pulang sekolah tadi, itu mengapa Alan menitip adiknya padaku siang ini sampai mereka pulang nanti malam. Ana semakin pucat, demamnya cukup tinggi, padahal kemarin dia baik-baik aja, harus kutanya kakaknya nanti. Ku ajak Ana pulang, mungkin ke rumahku dulu, Mama pasti tahu harus apa kalau lagi kondisi begini. Belum sampai ke mobil aku merasa genggaman Ana di tanganku melemah, saat ku lihat dia seperti menahan pusing kepalanya, "Ana.." panggilku namun ngga digubrisnya, ngga lama ia menghentikan langkahnya, aku semakin panik ketika Ana 'pingsan!' Ana tiba-tiba pingsan, dengan sigap aku menangkap tubuhnya sebelum jatuh, kepalanya tersandar di dadaku, segera ku gendong dia ala bridal style dan membawanya ke mobilku. Segera kubawa dia ke rumahku. "Ana kenapa Geo?" Tanya Mama saat melihat aku menggendong Ana yang masih pingsan ke arah kamarku. "Pingsan Mam, demam tinggi dia." Mama hanya ber-oh-ria lalu menyusulku ke kamar, "Kok kalian kompak sih? Beberapa hari lalu kamu yang demam hari ini Ana yang demam," Mama terkekeh di belakangku. "Ma Ana lagi sakit, Mama malah godain Geo," ucapku sebal dengan kata-kata Mama barusan. "Hehe iya maaf, yaudah kamu ambil air hangat sama handuk, bi Mia lagi Mama suruh ke supermarket, kalau belum pulang kamu yang buat bubur ya, bisa kan? Nanti Mama siapin obat pereda demam, Mama ada urusan dulu jadi ngga bisa nemenin Geo, kalau Ana belum sadar juga coba kasih minyak kayu putih," ceramah Mama panjang kali lebar dan hanya ku jawab dengan "iya Ma." Setelah Mama pamit pergi segera kulakukan apa yang Mama minta, menyiapkan kompresan, beruntung bi Mia sudah pulang, segera ku minta buatkan bubur selagi aku mengompres Ana yang belum sadar. ***   Author POV Sudah satu jam Ana belum sadar juga, demamnya juga belum turun akhirnya Geo mencoba membangunkannya dengan minyak kayu putih seperti kata Mamanya. Geo duduk di tepi tempat tidurnya disamping Ana berbaring dan mencoba memberikan minyak kayu putih untuk dianginkan ke hidung Ana. Alhasil tidak lama Ana pun sadar, Ana nampak masih pusing, 'mungkin efek demamnya' pikir Geo. "Gu-gue dimana?" Ana berusaha duduk ditempatnya sambil mengumpulkan kesadarannya karena kepalanya masih pusing. "Lo dirumah gue," jawab Geo singkat, "udah lo tiduran aja, masih demam badan lo." Ana pun menuruti apa kata Geo, sambil sesekali memejamkan matanya menahan pusing di kepalanya.   "Lo kenapa bisa demam gini? Begadang?"  Ana menggeleng, "Lalu?" Tanya geo lagi. "Kehujanan," jawab Ana, "Kok bisa?" "Semalam gue ke toko buku sendirian pulangnya kehujanan." 'Sendirian? Kehujanan? Ke mana Alan? Kenapa ngga bawa mobil aja?' Batin Geo mengingat Ana memang bisa mengendarai mobil seperti saat mengantarnya pulang karena sakit beberapa hari lalu. "Kak Alan lagi keluar semalam, mobil ngga ada yang nganggur jadi gue pergi sendiri," lanjut Ana seolah membaca pikiran Geo. "Den Geo ini buburnya non Ana," bi Mia mengantarkan bubur pesanan Geo. "Oh iya bi," Geo segera mengambil nampan berisi semangkuk bubur dan air putih serta obat dari Mama Geo lalu mempersilahkan bi Mia kembali ke dapur. "Nih makan dulu baru minum obat," Geo menaruh nampan di nakas samping tempat tidurnya. "Kan tadi udah makan sebelum ke sini?" Ana mencoba kembali duduk di tempatnya. "lo ngga inget tadi makanan lo ngga banyak habis?" Geo mencoba mengingatkan dan mendapat anggukan lemah dari Ana. Wajah Ana masih pucat, badannya masih lemah, demamnya juga belum turun, Geo mencoba membantu Ana makan dengan menyuapinya. Selesai makan, Geo memberikan obat dari Mamanya kemudian membiarkan Ana kembali istirahat sambil tetap mengompres kening Ana. Malamnya setelah mendapat kabar Ana sakit, Alan segera menuju ke rumah Geo setelah sebelumnya mengantar Momnya pulang. "Sorry sob ngerepotin," Alan menepuk pundak Geo saat berjalan menuju kamar Geo. "Yo santai aja," ucap Geo datar seperti biasa, "tapi Ana belum bangun," lanjut Geo. "Ngga apa gue gendong aja ke mobil, dia juga masih butuh istirahat, salah gue juga sih kemarin malam ngga nganterin dia." Sesampainya di kamar Geo, Ana masih terlihat nyenyak tidur, dengan hati-hati Alan menggendong adiknya agar tidak terbangun lalu membawanya ke mobil. Alan pun berpamitan pada Heo dan melajukan mobilnya menuju rumahnya. *** Pagi itu belum ada tanda-tanda Ana sudah bangun, Alan mencoba mengecek ke kamar Ana setelah sarapan. "Sweety?" panggil Alan sambil membuka perlahan pintu kamar Ana. Terlihat adik kembarnya masih di kasurnya dengan selimut yang masih menutupi hingga lehernya. Alan mengecek kening Ana, 'masih sedikit demam, lebih baik Ana ngga usah sekolah' pikir Alan. Alanpun beranjak dari kamar Ana dan bersiap berangkat sekolah. Satu jam kemudian Ana bangun, dibangunkan momnya karena ana harus sarapan dan minum obatnya. "Sekarang jam berapa mom?" Tanya Ana dengan suara parau. "Jam 8 sayang, Ana mandi ya air hangat tapi jangan keramas soalnya masih demam badannya," Ana mengangguk lemah kemudian beranjak ke kamar mandi dengan kepala sedikit pusing. "Mom udah siapin air hangat di bathup, Ana mandi dulu Mom bawain sarapan." "Iya Mom," Ana pun menghilang di balik pintu kamar mandi. Selesai mandi Ana sarapan di kamarnya, duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil disuapi sang Mommy. Ana memang sedikit manja kalau sakit. "Gimana kemarin dirumah Geo?" goda mom Ana dengan senyuman jahil. "Ih apa sih mom, anaknya sakit malah dogodain," Ana memasang wajah cemberut. "Gapapa dong kan sama calon tunangan hehe.." Mom semakin menggoda anaknya yang mulai memerah wajahnya. "Iiih Mommy, lagian Ana juga ngga mau kalo sampai ngelangkahin kak Alan ya," Ana menyilangkan tangannya didepan d**a dan pipi yang dikembungkan. "Haha iya sayang tenang aja kalau itu udah Mom pikirin kok," Mom Ana mengerling jahil ke arah Ana lalu beranjak dari kamar Ana agar anak bungsunya bisa istirahat. Siangnya sepulang sekolah Dea main ke rumah Ana untuk menjenguk sahabat baiknya. "Udh sehat lo?" Tanya Dea memastikan sohibnya ini udah sehat. "Lumayan lah mendingan dari tadi pagi," jawab Ana. "Oh iya ada yang nyariin lo di sekolah anak kelas 11, gebetan lo ya?" Tanya Ana lagi dengan ekspresi seperti mengintrograsi maling. "Gebetan ndasmu, itu anak baru kebetulan kenal sama gue," Dea hanya ber-oh-ria karena dia lihat sohibnya memang berkata jujur. "Tuh orangnya lagi di bawah, maksa minta ikut," mulut Ana membulat, ngga percaya kalo Ryan memaksa ikut ke rumahnya. "Hai Ana," belum di suruh masuk, Ryan udah muncul didepan pintu kamar Ana. "Duduk Yan," Ana menunjukan sofa yng ngga jauh dari tempat tidurnya, sedangkab Dea sudah dari tadi duduk manis ditepi tempat tidur disamping Ana. "Oke," Ryan langsung duduk di sofa yang ditunjuk Ana, "udah sehat?" Tanya Ryan setelah merasa duduknya nyaman. "Ah iya ud-" "SWEEEETYYYYY....." ucapan Ana terputus saat mendengar suara kakak kembarnya membahana dari lantai bawah.   "Eh ada tamu ya.." ucap Alan saat sudah berdiri didepan pintu kamar Ana.  Alan ngga sendiri, ketiga sohibnya juga ikutan, Dio, Jacob dan tentunya Geo. "Ada Dea, dan lo-?" Wajah Alan berubah jadi bingung saat melihat Ryan yang memang belum dikenalnya.   Ryan berdiri dari sofa dan berhadapan dengan Alan, "Kembaran Ana ya? Gue Ryan temen barunya Ana," Ryan memperkenalkan dirinya sambil menawarkan jabatan tangannya ke Alan.   "Alan," jawab Alan singkat.   "Dia anak baru kak di sekolah, kelas 11 tapi seumuran kita," jelas Ana memperkenalkan teman barunya. "Haha pantesan belum pernah liat, kenalin gue Jacob," Ryan menjabat tangan Jacob. "Ryan," begitupun dengan Dio dan Geo. "Sweety udah makan?" Tanya Alan setelah acara saling berkenalan. "Belum kak," Ana menggelengkan kepalanya pelan. "Oke kakak ambilin dulu makan siangnya sama obat, bentar ya semua," pamit Alan pada yang lainnya lalu beranjak ke dapur. "Kalian ngga makan?" Tanya Ana pada semua orang yang dikamarnya. "Kami udah makan kok Ana sebelum kesini," jawab Dio mewakili kedua temannya. "Gue juga udah kok tadi sebelum pulang," ucap Dea, begitupun Ryan. Alan kembali ke kamar Ana membawa makan siang Ana dan obatnya, selagi Ana makan mereka kembali mengobrol banyak hal, ada saja yang menjadi bahan obrolan saat mereka kumpul seperti ini. "An gue balik duluan ya udah sore" pamit Dea "Ahh iya De, balik sama siapa?" "Sama Ryan, tadi gue kesini naik mobil dia," Ryan yang merasa dirinya disebut mengangguk mengiyakan perkataan Dea. "Oke hati-hati ya, gue pikir sama Dio," goda Ana sambil menahan tawanya, semburat merah muncul di wajah putih Dea, "ih apaan sih lo!" Dea menoyor lengan Ana. "Haha ciee yang malu," goda Ana lagi, beruntung ketiga teman Alan lagi dikamar Alan jadi Dea ngga terlalu malu, Ryan yang melihat Dea dan Ana hanya tersenyum geli. "Yaudah pamit dulu ya An, cepet sembuh," pamit Ryan yang sudah berdiri disisi Dea. "Oke hati-hati ya." Ryan dan Dea pun beranjak dari kamar Ana kemudian pulang. "Lho Dea mana sweety?" Alan muncul di depan kamar Ana bersama tiga sohibnya beberapa menit setelah Dea dan Ryan pulang. "Udah pulang kak tadi sama Ryan," jawab Ana jujur. "Yah telat lo Dio, hahaha.." goda Alan pada Dio yang berdiri di sampingnya. "Hahaha rese lo!" Dio menoyor lengan Alan. "Yaudah kita pamit juga ya Lan," pamit Jacob dan Geo hampir bersamaan. "Oke sob hati-hati." "Cepet sehat yah Ana sayang," goda Jacob pada Ana yang sukses dapat toyoran dikepalanya dari Alan. "Ah rese lo Lan!" protes Jacob sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi korban toyoran Alan, Ana yang melihatnya hanya tertawa geli.   Setelah ketiganya pulang, tinggalah Alan dan adik kembarnya, "Udah turun nih demamnya, mau kakak buatin s**u?" Ana mengangguk semangat, "Ya udah kakak buatin dulu yah," Setelah mencium kening Ana, Alan pergi ke dapur. Umur Ana dan Alan memang sama, mereka hanya lahir beda lima menit, namun Ana udah biasa memanggil Alan dengan sebutan kakak, sejak kecil udah menjadi kebiasaan tersendiri bagi mereka seperti panggilan sayang Alan pada Alana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN