Geo POV
Sebenarnya aku agak malas untuk menyanggupi undangan Papa dan Mama yang alasannya pertemuan keluarga dengan kerabat dekat mereka, tapi aku tahu Mama ngga suka dibantah jadi aku memilih nurut saja.
Ku parkirkan mobilku di parkiran restoran yang dikatakan Mama, segera aku masuk dan mencari keberadaan mereka. Setelah bertemu, Mama memintaku duduk di kursi kosong di sampingnya.
Di hadapanku ada seorang gadis yang sepertinya belum menyadari kehadiranku, ia menundukan kepalanya masih sibuk dengan ponselnya, ya aku tahu dia, Alana Josephine Pradipta, Adik dari sohibku… Alan.
"Nah sayang masih ingatkan sama Alana?" Pertanyaan Mama berhasil menyadarkannya dari dunianya.
"Ya Ma, kenal kok..." jawabku sambil terus menatapnya, ia nampak salah tingkah karena tiba-tiba namanya disebut Mama.
"Kenal lah Ma, kan mereka satu sekolah, satu angkatan." Papa mengingatkan.
Orang tua kami memang sudah saling mengenal sejak lama, mungkin Alana lupa, maklum aja kami memang tidak pernah mengobrol sebelumnya sampai saat Alan memperkenalkan kami di vilanya waktu itu, sejak itupun kami tidak pernah ngobrol lagi hanya beberapa kali seperti kebetulan ketemu.
"Bagaimana kalau mereka kita jodohin aja?" Pertanyaan Mama ini sukses membuatku kaget, karena sebelumnya Mama ngga pernah membicarakan ini dengan temannya yang lain saat bertemu mengajakku, dan aku tahu ini semacam kode, Mama ngga akan main-main dengan ucapannya, aku yakin Ana juga begitu kaget terlihat dari air wajahnya yang memperlihatkan ekspresi ngga percaya akan apa yang didengarnya. Beberapa detik kemudian dia hanya menunduk menatap piring makannya.
Topik 'perjodohan' masih terasa panas di meja makan ini, Ana tak mengalihkan pandangan dari minumannya, ekspresi kesal tersirat di wajahnya, mungkin karena orang tuanya juga ikut-ikutan setuju.
Usai makan aku berencana mau ke toilet untuk mencuci tangan sekalian menghindar pembicaraan para orang tua tentang hal yang kurang penting bagiku. Baru saja aku mau berdiri, Ana langsung berdiri dari kursinya, kuurungkan niat ke toilet ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Semua yang di meja ini menghentikan gosip mereka dan menatap Ana.
"Mom, Ana pulang duluan banyak tugas, Om, Tante, Daddy, semua pamit.." pamitnya tiba-tiba.
"Diantar Geo yah," mulai deh Mama.
"Ngga usah tante, naik taksi juga cepet, permisi." Ana langsung berlari kecil meninggalkan restoran.
"Geo..." sepertinya perasaanku ngga enak nih, "susul Ana lho, anak gadis kasian pulang sendirian," tuh kan beneran Mama.
"Tolong yah nak Geo," kali ini Momnya Ana dan mau ngga mau aku turuti. Aku beranjak keluar restoran mencari keberadaan Ana. Kulihat dia baru menghentikan taksi. Segera ku cekal tangannya yang sudah membuka pintu taksi, Ana nampak terkejut, "Maaf ya pak," ucapku singkat kemudian taksi itu pergi.
Ana sempat kesal akan apa yang aku buat, tentunya dengan alasan Mama kami serta sedikit paksaan akhirnya dia masuk ke mobilku.
Di perjalanan Ana masih marah-marah dan bawel minta turun dari mobil, sedikit kesal dibentak akhirnya aku diam saja, daripada bertambah pusing dengan kebawelannya. Ku acuhkan dia yang mengomel di sampingku, mungkin dia kesal sehingga membentakku beberapa kali.
"GEO..!!"
Oke baiklah dia mulai membuatku hilang kesabaran.
"GE..." ntah refleks dari mana aku bungkam dia agar menghentikan teriakannya namun tanpa aku sadar aku membungkamnya tidak dengan tangan namun bibirku..
Ya, Aku menciumnya.
Sesuatu yang dingin menyadarkanku dari apa yang kubuat diluar akal pikiranku, Ana menangis.
Kuhentikan perbuatanku dan lagsung memeluknya, "Maaf.." hanya itu yang dapat aku katakan atas kebodohanku. Bagaimana tidak, dengan lancang aku mencium adik dari sahabatku sendiri.
Arrgh!!
Ana tetap diam hingga ia tiba di rumahnya, perasaanku sedikit ngga enak, aku harus bicara dengannya nanti.
Ana mulai menjauhiku, sepertinya, terlihat seperti saat ini ketika di kantin, ia hanya memandangku sekilas lalu mengalihkan ke jus di hadapannya. Aku perhatikan dia saat yang lain tengah asik bercanda sendiri, dia masih tak teralihkan dari minumannya, aku tahu, dia marah. Tak lama ia langsung berdiri dari kursinya seperti yang ia lakukan semalam,
"A–Ana ke toilet dulu."
Tanpa menunggu tanggapan yang lain Ana segera meninggalkan meja kami. Aku ingin menyusulnya namun kuurungkan niatku, aku tahu belum tepat waktunya, ngga lucu kalau nanti harus berdebat dengannya di sekolah.
"Kayaknya Ana beda ya?" Tanya Dea yang mungkin mulai merasa keanehan gelagat sahabatnya tadi.
"Lagi pms kali ya Lan," terka jacob
"Bisa jadi, dia kan gitu kalo lagi masa cewek suka sensian hehe…" ucap Alan menanggapi tebakan Jacob.
"Kak kata Ana dia langsung ke kelas, aku disuruh nyusul aja ke kelas" Dea menunjukan pesan chat Ana pada Alan.
"Oh oke ngga apa, jam istirahat juga hampir selesai."
Pulang sekolah Ana sudah tidak terlihat di manapun, tidak juga bersama Alan, aneh.. biasanya mereka pulang bersama kecuali kalau Alan memang sibuk seperti kemarin.
"Sendirian aja Lan pulangnya?" tanyaku berbasa basi agar Alan ngga curiga kalau aku sedang mencari adiknya.
"Iya bro, Ana bareng Dea, mau main ke rumahnya katanya" jawab alan.
Oh.
Ya Ana mungkin akan menghindariku, mungkin aku harus cari waktu tepat untuk menemuinya.
***
Alana POV
Sudah seminggu aku ngga bertemu Geo, aku memang sengaja menghindarinya. Aku masih belum siap berhadapan dengannya sejak kejadian malam seminggu yang lalu. Kalian tahu, itu adalah hal pertama bagiku, aku sengaja menjaga first kiss ku tapi hueeeee.. baiklah lupakan.
Kak Alan ngga ada curiga sedikitpun sepertinya karena memang aku tidak terlalu dekat dengan Geo di matanya, atau juga kak Alan belum ada dengar soal jodoh-jodohan ala orang tua seminggu lalu, ya Mom memang ngga ada bahas lagi setelahnya walau perasaan masih belum tenang tapi mungkin aku ngga mau ingat dulu untuk saat ini. Bagaimana tidak, usiaku masih tujuh belasan dan harus berpikir soal itu, bisa dewasa kecepetan aku huuff..
"Sweety seperti biasa ya pulang sekolah kakak tunggu di parkiran," ucap kak Alan sebelum aku berlari menuju kelas, ku jawab dengan anggukan.
Walau masih kepikiran soal hal itu -you know lah- namun aku harus terlihat baik-baik saja apalagi jika tidak sengaja berpas-pasan sama doi, walau untuk seminggu ini aku berhasil menghindar tapi ngga tau toh nantinya?
Aku berjalan perlahan di koridor sekolahku, setengah melamun, sekolah tidak terlalu ramai saat ini padahal 20 menit lagi bel masuk, biasanya kalau sepi gini lagi pada asik dikelas, kalau ngga ngobrol yah ngerjain tugas dengan metode 'sks' (sistem kebut sejam).
Aku tersadar sepertinya aku salah belok koridor tadi, ini memutar dari arah ke kelasku, sepertinya ini akan melewati kelas.. Geo!!
Ahh jangan sampai aku bertemu dengannya sekarang, ini masih pagi aku ngga mau moodku buruk pagi pagi.
Langkahku terhenti tak jauh dari kelas Geo, ku dapati seseorang sedang berjalan ke arahku, dia yang selalu membuatku kesal dan gugup sekaligus, dia yang membuatku penasaran akan sikap dinginnya, dia yang berhasil ku hindari seminggu ini, namun dia yang tak memandangku seutuhnya.
Geo,
Tapi dia ngga sendiri, disampingnya ada seorang cewek yang super sekali dandananya, itu bedak apa tepung coba yang dipake putih banget udh kayak badut tinggal di kasih hidung merah. Heran deh masih SMA tapi dandanan tante-tante. Haha aku geli sendiri dalam hati namun aku memasang ekspresi sedatar mungkin.
Cewek itu bergelayut mesra di lengan Geo, yah Geo memang ngga seperti menggubrisnya namun cukup membuatku kesal sedikit sih. Pandanganku sempat bertabrakan dengan mata elangnya yang menatapku cukup tajam, lalu ku alihkan pandanganku ke arah ubin dan ku lanjutkan langkahku sebelum bel masuk berbunyi dan jantungku joging pagi.
Ku percepat langkahku dan langsung berlari, berusaha menjauh darinya dan segera menghampiri kelas sebelum guru masuk. Namun tiba-tiba..
BRUK!
"Aww!" pekikku saat sadar aku sudah terduduk di lantai.
"Maaf," sebuah suara bass mengintruksiku mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang membuat bokongku mendarat sukses di ubin koridor sekolah pagi-pagi gini.
Seorang cowok yang hmm 'lumayan' manis, wajah ramah tidak sedingin Geo, kulitnya putih, nampak samar lesung pipinya saat ia bicara, ku sambut tangannya dan berdiri di hadapannya.
Aku hanya sepundaknya ketika berhadapan dengannya, tapi aku belum pernah melihatnya selama ini 'apa murid baru?' Terka batinku.
"Hai aku Ryan" iya mengulurkan tangannya, ku sambut jabatan tangannya.
"Alana, panggil aja Ana," ucapku singkat, "Oh maaf aku harus ke kelas," pamitku dan ia nampak setuju, aku segera berlari ke kelasku karena bel masuk udah berbunyi.
***
Kurang seru ngga ada sohibku tercinta, Dea izin ngga masuk hari ini, katanya keluar kota beberapa hari ada acara keluarga, huff ngga ada temen deh ini kalo jam istirahat.
Berjalan lesu ke kantin, bener ngga semangat kalau ngga ada temen ngobrol deh, kak Alan juga sibuk main basket sama sohib-sohibnya. Ya kak Alan memang pecinta basket, aku suka sih sedikit, bisa sedikit juga itupun karena diajak main sama kak Alan kalau lagi libur atau weekend, aku lebih memilih ekskul beladiri dari SMP sampai kelas dua SMA semester awal kemarin.
"Hai!" sapa seseorang yang duduk di sampingku saat aku sedang menenggelamkan wajahku diantara lenganku di meja kantin, kemudian tanpa aba-aba aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arahnya,
"Hai," jawabku padanya, ya dia Ryan yang tadi pagi tidak sengaja menabrakku.
"Sendirian aja?" Tanyanya.
"Iyah, sohib lagi izin ngga masuk," jelasku singkat dan dia langsung ber-oh-ria.
"Maaf soal tadi pagi," lanjutnya dengan wajah menyesal seperti habis ketahuan melakukan kesalahan besar, oh ayolah itu ekspresi terlalu berlebihan.
"Ya oke, kamu murid baru?" Tanyaku mengalihkan pembahasan soal insiden tabrak menabrak pagi tadi.
"Iyah aku baru disini, di kelas 11," wah kupikir dia kelas 12 ternyata masih di bawahku, "tapi usia kita sama," jelasnya lagi seolah tau aku mengira ia lebih muda dariku.
"Oh oke, jadi telat mulai sekolah?" Tanyaku memastikan.
"Iya aku sempat terlambat setahun dari anak-anak seusiaku."
Kami pun mengobrol ringan setelahnya, lebih banyak perkenalan memang, ku akui Ryan menyenangkan, ramah dan cukup memiliki selera humor, beberapa kali ia berhasil membuatku terkekeh karena ceritanya, yah tidak buruk membuatku sedikit melupakan masalah dan mengembalikan semangat karena ketidakhadiran Dea di sekolah. Wajahnya manis kalau tertawa, lesung pipinya terlihat jelas membuatnya tambah manis, postur badannya persis Geo, yah jadi ingat dia lagi. By the way soal Geo sepertinya dia asik dengan kak Alan juga seperti Jacob dan Dio, karena aku ngga melihat batang hidungnya disini.
Ahh baiklah anggap aku tidak sedang mencarinya.
Bel istirahat usai berbunyi, aku berpamitan pada Ryan, ia sempat menawari pulang bareng namun ku tolak halus dengan alasan karena sudah ada saudara kembarku yang biasa pulang bersamaku, akhirnya ia hanya mengantarku sampai depan kelas dan ia pergi ke kelasnya.
Oke Ryan baik, cukup senang mendapat teman baru sepertinya hehe.
Pulang sekolah aku dapat jatah piket kelas, guruku juga sempat meminta tolong padaku untuk mengantarkan tumpukan kertas tugas siswa ke mejanya di ruang guru selesai aku melaksanakan piket dan aku menyanggupinya.
Setelah mengirim pesan pada kak Alan bahwa aku sedikit telat pulang karena piket akupun melanjutkan pekerjaanku dan kali ini bersama temanku.
"Ana gue duluan yah," pamit Sinta, teman piket kelasku, "jangan lupa pesan Bu Ganis nih hehe," ia mengerling padaku lalu beranjak keluar kelas.
"Oke hati-hati Sin!" ucapku saat ia sudah didepan kelas, tentunya masih terdengar olehnya.
Segera ku bereskan barang-barangku serta sisa meja kursi yang ku rasa sedikit belum rapi, ku pakai tasku dan ku pegang kertas yang diminta Bu Ganis untuk di antar ke mejanya. Ku tutup pintu kelas dan beranjak ke ruang guru.
Keluar ruang guru aku langkahkan kaki menuju kantin, aku yakin kak Alan menunggu di sana. Namun dari ruang guru ke kantin aku harus lewat kelas Geo. Hmm, ngga apa toh semua siswa udah pada pulang.
Ku berjalan santai melewati beberapa kelas yang memang sudah sepi, sampai depan kelas Geo aku iseng melihat ke dalam kelasnya lewat jendela dan mataku terpaku pada sosok seseorang yang sedang tertidur di mejanya, aku tak begitu melihat wajahnya karena ia menghadap arah berlawanan dariku, namun posturnya dapat aku kenali. Ku beranikan diri mendekat untuk memastikan terkaanku.
Dia sepertinya tertidur karena tak menyadari kehadiranku. Ku perhatikan wajahnya yang bersandar di mejanya dengan ditopang punggung tangannya, wajahnya sedikit pucat.
"Geo.." Panggilku berusaha membangunkan namun ia tak bergeming.
Ku sentuh keningnya ternyata dia..
Demam..
***