Bagian 8 – Kejujuran
❀✿•♥•✿❀
Dua minggu kemudian…
Pov’s Raka…
"Terima kasih Anita..." kataku tersenyum ketika dia meletakan semangkuk bubur jagung di atas meja makan. Anita hanya mengangguk pelan tanpa senyuman di wajahnya.
Sudah beberapa hari ini Anita bersikap dingin kepadaku, entah apa yang terjadi dengannya. Aku menarik kursi rodanya dan menggengam tangannya lembut, lalu aku memandangi wajahnya.
"Kamu ada masalah? Cerita ke aku..." tanyaku khawatir.
Anita menggeleng, "aku tidak punya masalah apapun…" balasnya dan berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku.
Aku menahan tangannya dan terus memandangi wajahnya. Tanganku terulur menyentuh rambutnya dan menyelipkan rambutnya dibelakang telinganya, sungguh dia sangat cantik jika wajahnya sedang memerah karena menahan amarah seperti ini. Aku mendekatkan wajahku, ketika bibirku ingin menyentuh bibirnya, Anita langsung menjauhkan wajahnya dengan mata mengembang menahan air matanya . Aku hanya menatapnya bingung.
"Cukup Mas!" katanya menangis.
"Kamu kenapa Anita?" tanyaku tidak mengerti, Anita langsung menepis kasar tanganku ketika aku ingin membelai wajahnya.
"Mas, tolong hentikan semua ini. Tolong jangan memperlakukan aku seperti ini..." ucapnya membuatku semakin tidak mengerti.
"Memperlakukanmu seperti apa Anita?" tanyaku kembali dengan pandangan heran.
Anita menyeka airmatanya, "Mas, aku memang istrimu tapi jangan memperlakukan aku disaat kamu butuh aku saja!" ucapnya, "Mas, kenapa kamu selalu membuatku bingung dengan sikapmu dan selalu membuatku menderita." Makinya kepadaku.
"Anita aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan..."
Anita menghela napas sesaat, helaan napasnya begitu berat seakan banyak beban disana, "Mas, aku tahu aku istrimu, aku memang harus melayanimu. Tapi mas malah melakukan itu semua ke aku tanpa meminta persetujuanku, seakan itu memang sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi kebutuhan biologis mas. Mas selalu melakukan itu kepadaku selama dua minggu ini, tapi mas tidak pernah tahu bagaimana tersiksanya aku ketika mas melakukan itu kepadaku?!" ucapnya membuatku terdiam, "Mas, dulu kamu tidak pernah mau menyentuhku, saat aku ingin memelukmu saja aku harus meminta izin dulu kepadamu. Aku sangat menghormatimu sebagai suamiku, tapi apa yang kamu lakukan kepadaku---" ucapnya terputus dan menangis.
Aku menatapnya dan menyeka airmatanya, "Anita maafkan aku atas semua yang aku lakukan kepadamu, maaf Anita jika aku tidak bisa menahannya. Aku sudah tidak tahu harus melakukan apa agar kamu bisa menjadi milikku sepenuhnya Anita..." kataku mengambil tangannya lalu mencium pucuk tangannya.
Anita menatapku, "Mas, kamu melakukan itu semua kepadaku karena kamu merindukan Tania kan?" tanyanya membuatku menggeleng cepat.
"Yang aku lakukan ke kamu tidak ada hubungan apapun dengan Tania, yang aku lakukan ke kamu karena aku mencintai kamu Anita." Kataku bersungguh-sungguh, Anita menatapku tidak percaya.
"Mas, tolong buang rasa cintamu itu untukku..." ucapnya memandangiku.
"Kenapa Anita...?" tanyaku lirih.
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi Mas, tolong mas jangan paksa aku melakukan hubungan suami istri lagi, karena aku tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis kamu. Karena aku---" ucapnya terputus dengan wajah tertunduk, "Karena aku sangat mencintai Benny..." ucapnya dengan suara parau tanpa menatapku.
Aku terperangah mendengar pengakuannya, hatiku hancur seketika ketika istriku mengatakan bahwa dia mencintai Benny. Walaupun Anita melupakan ingatannya, perasaan wanita itu tidak pernah berubah kepada Benny. Sejauh apapun aku memperjuangkan Anita, hatinya bukan untukku. Hanya nama Benny di hati istri ku, rasanya sangat sakit, sakit sekali. Aku mengepalkan kedua tanganku keras, napasku tidak beraturan, rahangku bergemertak menahan emosi di hatiku.
"Mas maafkan aku... aku tidak bisa membohongi perasaanku..." ucap Anita menangis. Aku berusaha tidak memperdulikan tangisannya, aku tidak ingin mendengarnya menangis karena itu hanya membuat perasaanku semakin sakit. Aku langsung pergi dari hadapan Anita, "Mas Raka...." Panggilnya, aku terus berjalan keluar rumah tanpa memperdulikan panggilannya.
Aku langsung menstrater mobilku dan melesat dengan kecepatan tinggi. Mataku terus memandangi jalan dihadapanku, suara klakson berbunyi nyaring dari mobilku dan membuat semua pengemudi menyingkirkan kendaraanya. Suara sumpah serapah untukku tidak aku pedulikan, aku terus mengendari mobilku dengan kecepatan penuh.
Anita, wanita itu sungguh berarti untukku. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya kembali. Selama bertahun-tahun aku selalu menantinya dan selalu mengharapkannya kembali padaku, tetapi disaat dia kembali padaku dan Tuhan mengabulkan semua doa-doa ku selama ini, kenapa harus seperti ini?! Kenapa Tuhan harus menghukumku seperti ini? Anakku sangat membenciku dan sekarang Anita mengatakan bahwa dia mencintai Benny. Benny, adikku sudah bersama Tuhan, tetapi cinta Anita kepadanya tidak pernah sirna.
Tidak bisakah Anita melihat rasa cintaku kepadanya?
Aku langsung memberhentikan mobilku di tepi jalan yang sepi, mataku terus menatap kosong jalan dihadapanku. Wajah Anita terbayang disetiap lamunanku, kedua tanganku meninju dasbor mobil berkali-kali ketika mengingat kenangan pahit disaat aku menyakiti hatinya dulu. Aku sangat menyesal telah menyakiti hati Anita, jika aku diberi kesempatan kedua oleh Tuhan aku ingin kembali ke masa itu dan tidak akan pernah menyakiti hati Anita. Akan selalu ku jaga perasaan wanita itu.
Disaat aku mulai mencintai Anita, dia pergi dari hidupku dan sekarang disaat dia bersamaku hatinya bukan milikku. Walaupun aku dan Anita sudah bersama, aku merasa sendiri. Semua yang terjadi saat ini sangat menyiksaku, tidak ada satupun hati yang ku miliki, aku telah kehilangan segalanya walaupun aku telah kembali.
Aku merebahkan kepalaku di dasbor mobil dan menangis untukkesekian kalinya untuk Anita. Anita sekarang dia membenciku karena aku telah memaksanya memenuhi keinginanku untuk berhubungan suami-istri. Ketika aku melakukan itu kepadanya, dia hanya menangis dan memejamkan kedua matanya seakan tidak ingin menatap wajahku. Aku pikir dia menyukainya saat aku melakukan itu kepadanya, tapi ternyata dia tidak menyukainya. Aku pikir setelah melakukan itu kepadanya, bisa membuatnya berpaling dari Benny dan mencintaiku, tetapi ternyata tidak.
Untuk kesekian kalinya aku menyakiti hatinya kembali, maafkan aku Anita... Jika hatimu sakit, hatiku jauh lebih sakit ketika kamu mengatakan bahwa kamu mencintai Benny.
❀✿•♥•✿❀
Keesokan harinya...
Anita memandangi taman dibelakang rumahnya dengan pandangan kosong, wajahnya terlihat pucat. Raka, suaminya itu tidak pulang kerumah sejak kejadian kemarin. Anita sangat bersalah telah mengatakan itu semua kepada Raka, tetapi jika tidak dia katakan, dia akan semakin bersalah kepada Raka karena telah membohongi pria itu. Anita tidak ingin ada kebohongan dipernikahannya dengan Raka, lebih baik jujur menyakitkan daripada dia harus berbohong dengan perasaannya sendiri. Hati Anita bukan lagi untuk Raka, hatinya kini sudah di penuhi oleh Benny dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi pria itu dihatinya sampai kapanpun.
Airmata Anita jatuh dipipinya ketika terbayang wajah Benny, dia sangat merindukan Benny. Pria itu selalu ada untuknya. Namun, kini pria itu menghilang begitu saja tanpa ada kabar satupun. Anita merasa hampa tanpa kehadiran Benny disisinya. Kenangan indah bersama Benny membuat senyum Anita mengembang tipis, pria itu selalu membuatnya tersenyum.
Ben, aku sangat merindukanmu… batin Anita memandangi langit cerah dengan hati sesak. Napasnya berhembus kencang, dia ingin sekali bertemu dengan pria itu.
"Tante..." panggil seorang tiba-tiba.
Anita kontan menoleh, bibirnya tersenyum lebar ketika melihat Khansa berdiri di ambang pintu. Sedetik kemudian sepasang mata Anita melebar saat melihat ibunya.
"Khansa? Mama?" pekik Anita, lalu dia mendorong kursi rodanya mendekati Khansa dan ibunya yang sedang berjalan mendekatinya.
Khansa langsung memeluk Anita erat, dia sangat merindukan Anita ibunya. Khansa terus menciumi pundak Anita, wangi tubuh Anita sangat dirindukannya. Khansa melepaskan pelukanya dan memandangi Anita, lalu dia memberi salam kepada ibunya dengan cari menciumnya.
Anita hanya tersenyum, lalu mencium kening Khansa, "Ma..." ucap Anita ketika ibunya menghusap lembut wajahnya, Ibunya langsung mencium Anita lembut. "kalian kok tidak beritahu mau kesini...?"
"Aku mau kasih kejutan ke tante..." ucap Khansa berseri.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Anita khawatir, Khansa langsung berdiri dan memerkan lengan ototnya yang mungil.
"Lihat aku sudah sehat..." jawab Khansa dengan wajah berseri, Anita hanya tertawa melihatnya.
Khansa sudah pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Setelah peristiwa di rumah sakit itu hubungan Khansa dan neneknya mulai membaik. Khansa sangat senang neneknya mau merawatnya hingga dia sembuh.
"Sayang, wajah kamu pucat sekali, kamu sakit?" tanya ibunya cemas, Anita langsung menggeleng, "kamu sudah makan?" tanya ibunya kembali, Anita menggeleng lagi.
Sejak kemarin Anita belum makan apapun, pikirannya sedang kacau memikirkan Raka yang belum pulang sejak kemarin. Dia merasa bersalah kepada suaminya itu, kejujurannya membuat suaminya pergi dari rumah.
"Kita buat sesuatu yuk, kebetulan mama dan Khansa tadi habis berbelanja sebelum kesini..." seru ibunya dengan senyuman lebar.
Khansa mengangguk dengan wajah berseri, "Ayo nek, aku ingin buat cupcakes kesukaan ma---" gadis itu mengantungkan kalimatnya dan memandangi Anita lirih.
Anita hanya menatap bingung Khansa, lalu Anita menggengam tangan Khansa dan menghusapnya lembut, "Khansa kamu boleh memangil tante dengan sebutan mama, jika kamu merindukan mama kamu.." ucapnya membuat Khansa tersenyum bahagia
Lalu Khansa memandangi neneknya, neneknya tersenyum lebar menyetujui perkataan Anita. Khansa langsung memeluk Anita dengan perasaan bahagia, akhirnya dia bisa kembali memanggil ibunya dengan sebutan ‘mama’.
"Terima kasih mama..." bisik Khansa menahan airmatanya. Anita hanya tersenyum dan mengusap bahu Khansa.
Kemudian mereka bertiga masuk kedalam rumah, Khansa mendorong kursi roda yang digunakan Anita. Lalu mereka menuju dapur untuk membuat kue dan makanan untuk makan siang. Wajah mereka terlihat bahagia, seakan tidak ada permasalahan diantara mereka.
Sejak kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu membuat ibu Anita tersadar, dia berpikir bahwa ini semua bukan kesalahan Khansa, ini semua sudah takdir Tuhan. Khansa, anak itu hanya korban atas keegoisan Raka dan Tania, tidak seharusnya dia kasar kepada anak itu. Dia sangat menyesal telah bersikap kasar kepada Khansa dan kini dia mulai menyayangi anak itu. Walaupun Ibu Anita harus kehilangan cucu kesayangannya dan menantunya, tapi dia masih memiliki cucu yang hebat seperti Khansa. Dia berharap hubungannya dengan Khansa akan baik-baik saja, semoga saja.
❦❦❦❀✿•♥•✿❀
Sementara itu,
Raka baru saja tiba dirumahnya. Ketika dia membuka pintu rumahnya, harum kue menusuk hidungnya, dia langsung berjalan menuju dapur dengan kening berkerut. Raka menghentikan langkahnya ketika melihat Khansa dan Ibu Anita berada di dapur rumahnya. Senyuman raka mengembang ketika melihat Khansa yang sedang tertawa bahagia bersama Anita di sana.
"Mas Raka?" seru Anita dengan wajah belepotan coklat.
Khansa yang menyadari kehadiran Raka diantara mereka hanya menatapnya kilas, kemudian dia mengalihkan wajahnya ketika pandangannya bertemu dengan ayahnya. Khansa sangat membenci ayahnya dan belum bisa memaafkannya. Apa yang telah ayahnya lakukan di masa lalu membuat hatinya sangat sakit.
Raka langsung berjalan ke kamarnya ketika tatapnya bertemu dengan Ibu Anita, wajah ibu Anita sangat tidak bersahabat dan dari tatapannya Raka sangat tahu dia masih sangat membencinya. Raka tidak ingin berlama-lama bertemu dengan ibu mertuanya itu.
Anita yang melihat kepergian Raka langsung mendorong kursi rodanya dan berjalan menuju kamarnya untuk menemui suaminya. Lalu Anita membuka pelan pintu kamarnya dan mendekati mas Raka yang sedang memandangi taman dari jendela kamarnya, wajah suaminya terlihat frustasi di sana. Dia mencoba menghampiri suaminya itu dengan perasaan ragu.
"Mas Raka, kemarin kenapa tidak pulang?" tanya Anita sedikit hati-hati.
"Maaf, aku ingin sendiri dulu..." jawab Raka dingin tanpa menatap Anita.
Anita mengangguk mengerti, "Mas sudah makan?" tanyanya berusaha mencairkan suasana, "Khansa membuat Cupcakes, kamu pasti suka..." lanjutnya tersenyum.
Raka kontan berbalik dan memandangi Anita yang sedang menatapnya. Kemudian Raka berjalan menghampiri Anita dan langsung menggondong tubuh Anita. Wanita itu memekik ketika Raka menggendongnya. Lalu Raka menghempaskan tubuh Anita diatas ranjang mereka, Wajah Anita ketakutan ketika Raka membuka kemeja hitamnya.
Kemudian Raka membuang kemejanya kesembarang tempat dan menghempaskan tubuhnya di atas tubuh Anita. Raka mencekal kedua tangan Anita ketika istrinya itu berontak saat dia ingin mendekapnya. Napas Raka berhembus kencang dan sepasang mata elangnya terus menatap wajah Anita yang sedang memejamkan kedua matanya. Raka hanya memandangi wajah Anita tanpa melakukan apapun, sedetik kemudian Raka menyembunyikan wajahnya dileher Anita dan mendekap tubuh Anita dengan hati terluka. Tubuh Raka bergetar hebat.
Anita yang menyadari itu mencoba membuka kedua matanya, alisnya saling bertautan saat merasakan tubuh suaminya bergetar. Ya Tuhan Mas Raka menangis... batinnya ketika tahu Raka menangis.
"Anita maafkan aku..." ucapnya dengan suara parau. "Maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku akan berusaha Anita menjadi suami yang terbaik untukmu." Katanya, Anita langsung memeluk tubuh besar Raka dan menghusap lembut punggungnya itu, "Maafkan atas kesalahanku, Anita..." bisiknya terisak.
Anita hanya terdiam dengan mata menahan tangis. Raka semakin mengeratkan pelukannya ketika jemari Anita menghusap lembut rambutnya. Jika Raka akan tahu seperti ini kehidupannya di masa depan, dia tidak akan pernah ragu saat ibunya menjodohkannya dengan Anita dan dia akan memilih Anita sebagai pasangan hidupnya.
❀✿•♥•✿❀