Bagian 9 – Kebencian
❀✿•♥•✿❀
Pov’s Raka...
"Anita maafkan aku..." Kataku dengan suara parau. "Maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, aku akan berusaha Anita menjadi suami yang terbaik untukmu." bisikku pelan, kurasakan tangan halusnya menghusap punggung besarku dan memelukku. "maafkan atas kesalahanku Anita..." kataku lagi, aku semakin menyembunyikan wajahku di tengkuk leher Anita.
Anita, dia hanya terdiam, aku semakin mengeratkan pelukanku ketika jemarinya menghusap rambutku. Baru kali ini aku merasakan pelukan hangatnya, sejak aku menikah dengannya kembali.
Malam tadi aku tidak pulang, aku tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan Anita. Ingin rasanya aku menghindari Anita, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku sangat mencintainya apapun cobaan itu aku akan selalu bersamanya, walaupun aku tahu dia tidak akan pernah mencintaiku.
Benny, adikku itu sudah meninggal, aku tidak pernah merebut Anita darinya. Tuhanlah yang membuatku kembali kepada Anita, aku tegaskan kepada diriku sendiri jika aku tidak pernah merebut Anita dari siapapun. Jika Benny masih hidup aku tidak akan pernah kembali menikahi Anita. Selama bertahun-tahun ini aku menghilang dari kehidupan Benny dan juga Anita karena aku tidak ingin merusak kebahagian mereka, jika aku ingin merebut Anita sudah ku lakukan waktu itu.
Aku menghela napas sesaat dan memandangi wajah Anita yang sedang memejamkan kedua matanya. Aku langsung mendekatkan dahiku di keningnya dengan mata terpejam, lalu aku mencium keningnya sangat lama, seakan aku tidak ingin melepasaknnya. Ciumanku semakin turun ke hidungnya, ketika bibirku hampir dekat dengan bibirnya aku membuka mataku, disana aku melihat Anita sedang menatapku dengan senyuman samar.
Entah siapa yang memulai kami berciuman, ciuman kali ini begitu hangat dan untuk pertama kalinya Anita membalas ciumanku. Jantungku berdebar kencang merasakan sentuhan jemarinya di wajahku. Aku semakin mendekap tubuhnya, apapun yang terjadi ke depannya aku tidak akan pernah melepaskannya kembali.
Tidak lama aku melepaskan ciumanku dan membawa Anita kedalam pelukanku, kemudian Anita merebahkan kepalanya di dadaku dan tangan kirinya melingkari pinggangku. Setelah itu tidak ada pembicaraan di antara kami, hanya suara helaan napas kami yang terdengar. Bibirku tiada henti mengecup kening Anita.
"Anita aku sangat mencintaimu..." bisikku serak, Anita hanya menatapku kilas dan dia kembali dalam lamunannya. Aku hanya tersenyum miris ketika dia tidak membalas perasaanku.
❀✿•♥•✿❀❦❦❦
Satu jam kemudian…
Sekarang aku berada di meja makan bersama Anita yang duduk disampingku dengan kursi rodanya. Lima belas menit yang lalu Khansa memanggil Anita untuk makan siang, lalu Anita mengajakku untuk makan bersama. Sebenarnya aku tidak ingin makan bersama mereka karena ada ibunya Anita, aku sangat malas bertemu dengannya. Namun, Anita memaksaku dan aku tidak bisa menolaknya.
Aku masih belum terima dengan perlakuan ibu Anita kepada anakku, aku baru mengetahui selama ini anakku Khansa kerap diperlakukan kasar oleh keluarga besar dariku dan juga Anita. Ingin rasanya aku meluapkan kemarahan ku kepada mereka semua, tapi aku urungkan niatku itu, aku tidak ingin semakin memperkeruh suasana yang sedang memanas. Aku semakin bersalah kepada Khansa, gara-gara kesalahanku dia harus menderita.
Khansa, sikap dia sangat dingin kepadaku, bahkan dia tidak mau menatapku. Aku sangat tahu dia sangat membenciku, aku pantas di benci olehnya. Ingin rasanya aku memeluk Khansa, aku sangat merindukan anakku. Sedangkan Ibu Anita terus memandangiku dengan tatapan penuh kebencian, aku tidak nyaman di buatnya.
"Mas, mau nambah lagi?" tanya Anita, aku langsung menggeleng. "baiklah, aku pindahkan yah piringnya..." ucap Anita, aku hanya mengangguk.
"Ma, sudah biar aku saja..." cegah Khansa ketika Anita ingin membawa piring ke wastafel. Anita hanya tersenyum ketika Khansa mengambil piring dari tangannya. Lalu Khansa berjalan menuju wastafel.
Melihat Khansa berjalan menuju wastafel, aku langsung menggeser kursi dan mengikutinya.
Kemudian aku mencuci tanganku ketika Khansa ingin mencuci piring, tatapan kami berdua bertemu. Aku tersenyum melihatnya, Khansa langsung memalingkan wajahnya ketika aku menatapnya, "Ayah senang kamu datang..." kataku pelan.
"Aku datang bukan untukmu! Tapi untuk Mama ku!" balasnya menatapku tajam sambil meletakan gelas ke dalam wastafel dengan kasar, lalu pergi dari hadapanku.
Aku hanya memandanginya lirih, hatiku sangat terluka mendengar perkataannya. Khansa benar-benar membenciku sekarang.
"Saya ingin bicara denganmu..." bisik ibu Anita tiba-tiba yang entah kapan sudah berada tepat dibelakangku, "saya tunggu di taman belakang..." lanjutnya dan pergi dari hadapanku.
Aku langsung mematikan kran air dan mengelap tanganku dengan tissue. Kemudian aku berjalan ke taman belakang dan menghampiri Ibu Anita yang sedang berdiri memandangi langit.
"Ada apa bu?" tanyaku serak.
Ibu Anita menatapku, "Apa yang kamu lakukan dengan anakku di kamar tadi?" tanyanya membuatku bingung dengan arah pertanyaanya.
"Apa maksud ibu?” Tanyaku tidak mengerti.
Ibu Anita tertawa pelan, "Jangan pura-pura lugu Raka! Apa kamu telah melakukan hubungan suami istri dengan anakku?" tanyanya dengan suara keras.
Aku tersenyum kecut ketika Ibu Anita bertanya seperti itu, "Kami sudah suami istri jadi yah kami melakukannya, itu hal yang wajar kan bu?" kataku membuat Ibu Anita menatapku tajam.
"Kamu tidak berhak atas anakku, walaupun kamu suaminya sekarang!" desis Ibu Anita sambil menunjuk wajahku.
"Saya lebih berhak atas Anita karena saya suaminya!" balasku tajam.
Ibu Anita menatapku dengan penuh kebencian. "Kalau anakku sampai hamil karena ulahmu, saya tidak segan-segan menyuruh Anita untuk mengugurkan kehamilannya!" ancamnya membuat napasku sesak.
"Ibu tidak bisa mengancamku seperti itu!" bentakku penuh amarah.
Ibu Anita tersenyum, "Dengar Raka, saya tidak ingin anak saya hamil anakmu. Jika anakku hamil, kamu pasti akan meninggalkan mereka dan saya tidak pernah mau cucu darimu!" hardiknya.
"Saya sangat mencintai Anita, jika nantinya Anita hamil saya tidak akan pernah meninggalkannya." Ucapku lantang, Ibu Anita mencibir ucapanku seakan perkataan yang keluar dari mulutku adalah kebohongan.
"Kita lihat saja nanti, sekarang Anita sedang melupakan ingatannya. Jika ingatannya kembali apa dia masih mau bersamamu dan menerima itu semua?! Belum tentu Raka!" katanya tersenyum sambil menepuk bahuku, “asal kau tahu, anakku sangat mencintai Benny.” Ujarnya kemudian.
Hatiku sangat sakit mendengar semua perkataannya. Lalu dia pergi begitu saja dari hadapanku, aku hanya memandanginya dengan tangan mengepal keras. Jika dia bukan Ibu dari Anita sudah kuberi pelajaran dia.
❀✿•♥•✿❀
Dua minggu kemudian…
Sejak tadi Raka memandangi Anita yang tengah sibuk memotret apapun di sekitarnya. Raka baru mengetahui jika istrinya itu sangat ahli dalam bidang fotografi, bahkan karya-karya istrinya itu sudah terkenal. Namun, semenjak Anita melupakan ingatannya dan kecelakaan membuat wanita itu lupa akan kariernya. Jika suatu hari nanti Anita ingin kembali berkarier, Raka akan mendukung penuh istrinya itu.
Senyum Raka tidak pernah sirna memandangi wajah istrinya itu. Hubungannya dengan Anita semakin membaik, Raka berusaha membahagiakan Anita semampu yang dia bisa. Kadang hatinya terasa sesak jika memikirkan perasaan istrinya itu, tidak ada cinta di hati istrinya untuk dirinya.
Selain itu hubungan Raka dengan Khansa belum membaik, anak kandungnya itu sangat membencinya dan tidak menggangapnya ayah. Saat ini Khansa tinggal bersama ibu Anita, anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya daripada tinggal dengannya. Raka telah kehilangan anaknya karena kesalahannya di masa lalu.
Tiba-tiba sepasang mata elangnya bertemu dengan Anita. Raka menggeleng pelan ketika salah satu alis Anita mengangkat, seakan dia bertanya ada apa?
Kemudian Raka bangkit dari duduknya dan menghampiri Anita. Lalu dia berlutut di hadapan Anita dan mengambil kamera miliknya dari tangan Anita, kemudian dia melihat hasil foto jepretan Anita. Raka berdecak kagum melihat hasil jepretan foto istrinya itu.
“Tidak bagus yah mas?” tanya Anita dengan kening berkerut.
Raka tersenyum, “bagus, sangat bagus…” pujinya.
“Mas tidak bohong kan?” tanya Anita kembali.
Raka menggeleng, lalu ia mengambil tangan kanan Anita dan mengecup pucuk tangan istrinya itu. Anita hanya tersenyum samar ketika Raka memperlakukannya seperti itu, seringkali suaminya itu memperlakukannya dengan cara manis dan romantis. Namun, Anita tidak merasakan getaran apapun saat suaminya memperlakukan hal itu kepadanya.
“Mas kenapa kamu mencintaiku?” tanya Anita tiba-tiba membuat Raka terperangah.
Raka menghela napasnya, “karena kamu adalah belahan jiwaku...” jawabnya.
Anita hanya tersenyum miris mendengarnya, “jangan terlalu mencintaiku mas, aku tidak ingin membuat hatimu semakin sakit.” Ucapnya membuat Raka tertegun.
Sedetik kemudian senyuman Raka mengembang tipis, “aku akan selalu mencintaimu, walaupun aku tahu itu sakit. Rasa sakit yang ku rasakan saat ini belum sebanding apa yang telah aku lakukan kepadamu dan orang-orang yang ku sayang.” Ujarnya.
Anita hanya menatap Raka dengan pandangan tidak mengerti, kemudian Raka bangkit dan pergi dari hadapan Anita setelah mengecup kening Anita. Napas Anita berhembus kencang memandangi punggung suaminya itu.
❀✿•♥•✿❀
Sebulan kemudian...
Pov’s Raka…
Saat ini aku sedang menemani Anita ke rumah sakit, hari ini dia ada jadwal terapi khusus untuk menyembuhkan kakinya supaya bisa berjalan kembali. Untungnya kecelakaan waktu itu tidak membuat kedua kakinya cidera terlalu parah, sudah dua minggu ini Anita melakukan terapi. Ada peningkatan semakin hari padanya, Anita sudah bisa berjalan pelan dengan menggunakan alat bantu jalan.
"Aduh Mas, susah..." seru Anita tersenyum memandangiku.
"Kamu pasti bisa..." kataku terus menggenggam tangannya.
Aku terus menyemangati Anita, dia ingin sekali cepat sembuh agar tidak merepotkanku kembali. Jujur saja aku sangat senang direpotkan olehnya.
Tiba-tiba Anita terjatuh dan tangannya terlepas dari genggamanku, aku langsung memeluknya agar tubuhnya tidak semakin merosot. Lalu tatapan kami bertemu dan dia tersenyum kepadaku, jemariku menghusap lembut rambutnya.
"Anita bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" tanyaku kepadanya, Anita hanya mengangguk dengan senyuman. Dulu ketika dia ingin memelukku, dia selalu meminta izin kepadaku tetapi sekarang dia boleh memelukku sesuka hatinya.
Sepasang mata kami saling bertemu, wajah Anita sangat dekat dengan wajahku sehingga aku bisa merasakan napas hangat yang menerpa wajahku. Senyum milik wanita itu sangat indah dan aku sangat menyukai semua yang ada pada diri Anita. Aku semakin menarik pinggang rampingnya ke dalam dekapanku membuatnya memekik pelan.
"Permisi..." seru suster tiba-tiba membuat kami terkejut.
Anita berusaha melepaskan pelukanku, tetapi aku tidak melepaskannya, aku tidak ingin membuatnya terjatuh jika aku melepaskan pelukanku kepadanya.
"Wah.. maaf menggangu.." ucap Suster itu dengan wajah memerah ketika melihat kami sedang berpelukan, "Dokter memanggil Nyonya dan Tuan keruangannya..." lanjutnya tersenyum.
"Baik, saya akan kesana..." kataku, suster itu pergi dari hadapan kami. Aku tersenyum memandangi wajah Anita yang memerah, wajahnya terlihat lucu ketika sedang malu seperti itu.
"Kamu sih Mas,," ucapnya menyalahkanku.
"Loh kok aku sih? Kamu kan yang mengizinkan aku untuk memelukmu,” kataku membuat Anita tertawa. Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu.
Aku langsung mengendongnya dan mendudukanya di kursi roda. Lalu kami pergi ke ruangan Dokter dengan tawa diwajah kami.
❀✿•♥•✿❀
❦❦❦
Tanpa disadari Raka dan Anita, ada yang sedang memandangi mereka berdua dengan tatapan penuh kebencian terutama kepada Anita. Senyuman liciknya tersungging di wajahnya yang penuh dengan dendam.
❀✿•♥•✿❀