Bagian 10 – Luka Masa Lalu
❀✿•♥•✿❀
Pov’s Anita...
Aku tersenyum ketika mengingat kejadian tadi, jantungku berdetak kencang saat suster mempergoki aku sedang berpelukan dengan Mas Raka. Hubunganku dengan Mas Raka semakin membaik, dia sama sekali tidak membahas tentang kejadian waktu itu. Dia juga tidak bertanya lebih tentang perasaanku kepadannya dan juga kepada Benny, jika dia pun dia bertanya aku tidak mau menjawabnya karena aku tidak ingin membuat dia semakin sakit hati. Hingga detik ini aku masih mencintai Benny dan tidak ada Mas Raka di hatiku.
Aku tidak tahu perasaan apa yang aku miliki untuk Mas Raka. Semua rasa untuknya sudah hilang, mungkin saat ini aku hanya ingin menjaga perasaanya saja karena dia adalah suamiku. Maafkan aku Tuhan jika aku terlalu mencintai pria lain selain suamiku.
Sejak itu Mas Raka tidak pernah menyentuhku kembali, aku tahu dia sangat ingin menyentuhku, dia sangat gelisah dan sering mundar-mandir di kamar kami, yang aku bisa lakukan saat itu hanya berpura-pura tidur dan tidak mencoba mengusiknya. Sejujurnya aku kasihan melihatnya tersiksa seperti itu, tapi aku tidak bisa melakukan itu dengannya karena wajahnya mengingatkanku dengan sosok Benny dan itu hanya membuat hatiku sakit.
Mataku terus memandangi lorong rumah sakit ini, aku menunggu Mas Raka yang sedang ke toilet di ujung sana. Sedetik kemudian sepasang mataku melebar ketika melihat seorang pria yang sedang berjalan mendekatiku dengan senyuman penuh kebencian. Aku langsung mendorong kursi rodaku dengan kedua tanganku. Pria itu berlari mengejarku, aku semakin mendorong kursi rodaku dengan cepat dengan wajah penuh ketakutan.
"Aaaa!" seruku ketika pria itu menarik kursi rodaku kasar dan mendorong kursi rodaku dengan cepat.
Saat aku ingin berteriak, dia membekap mulutku dengan kencang dan tangan kirinya terus mendorong kursi rodaku. Pria ini membawaku ke belakang gedung rumah sakit ini. Aku terus berdoa agar ada yang menolongku, tapi entah kenapa rumah sakit ini menjadi begitu sepi.
Ketika sudah berada di belakang gedung rumah sakit, pria ini langsung mendorong kursi rodaku, sehingga kursi rodaku menabrak tembok. Aku langsung meringgis kesakitan ketika kakiku tergores kayu yang ujungnya sangat tajam.
"Apa kabar cantik?" sapanya dengan senyuman menyeringai, "masih ingat denganku?!" tanyanya, aku hanya memandanginya dengan wajah penuh ketakutan. Dia langsung mencengkram pipiku kasar, "Aku pikir kau sudah mati bersama suamimu tercinta..." ucapnya membuatku tidak mengerti dengan arah pembicaraannya.
Aku sudah mulai menangis ketika jarinya melesak ke dalam mulutku. Pria dihadapanku ini adalah orang yang telah menghinaku di pesta yang aku hadari bersama Benny waktu itu. Karena pria itu membuat Mas Raka mencaciku dan terus menyalahkan aku.
"Lepaskan aku," pintaku di sela tangisku.
Pria ini hanya tertawa, lalu mencengkaram kedua bahuku kasar dan mendekatkan wajahnya kepadaku, "Gara-gara w************n sepertimu hidupku hancur berantakan! Suamimu yang b******k itu telah menghancurkan hidupku!" umpatnya membuatku tidak mengerti. Pria itu tiba-tiba mencium bibirku dengan kasar, lalu dia mengigit bibirku membuatku meringgis kesakitan.
Aku terus berontak dan memukulnya, "Mas Raka tolong aku..." lirihku pelan di sela ciuman pria b******k itu.
Sedetik kemudian pria itu melepaskan ciuamnnya, dia menatapku tajam. Aku hanya menatapnya terisak.
"Raka?!" pekiknya, kemudian tawanya terdengar. "Jadi pria yang bersamamu tadi Raka?! Raka tidak akan pernah menolongmu! Karena dia sangat membencimu, bahkan dia tidak pernah menggangapmu istrinya!" katanya membuatku menangis.
Pria itu langsung mengeluarkan pisau dari kantong celananya, aku hanya menatap ngeri dan takut ketika dia memperlihatkan pisau itu dihadapanku, tubuhku bergetar hebat, "Kau harus segera pergi menyusul suami tercintamu itu!" serunya membuatku semakin takut. Lalu dia mendekatkan pisau ke wajahku, "Kau tahu akulah yang telah menabrak mobilmu sehingga suamimu si b******k itu mati!" katanya membuatku semakin menangis, aku hanya memejamkan mataku ketika pisau itu semakin turun ke leherku.
"Hei sedang apa kamu?!" teriak seseorang tiba-tiba membuatku dan pria itu menoleh.
Sedetik kemudian pria itu melarikan diri ketika orang itu menghampiri kami. Aku hanya bisa menangis dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
❀✿•♥•✿❀
Tiga jam kemudian...
Pov’s Raka...
Aku terus menggengam tangan Anita yang terbaring di rumah sakit, sudah hampir tiga jam istriku belum sadar. Aku sangat cemas dengan kondisinya, aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menyakiti Anita, apalagi dia sudah berani-beraninya menyentuh istriku dan membuatnya terluka. Aku akan segera mencari tahu siapa orang yang ingin menyakiti istriku.
"Mas Raka..." suara lirih Anita terdengar, aku langsung menatapnya cemas dan menghusap lembut rambutnya, "Aku takut..." ucapnya dengan tubuh bergetar.
"Tidak usah takut Anita, ada aku... maafkan aku, gara-gara aku meninggalkanmu kamu jadi seperti ini..." kataku penuh penyesalan.
Anita menggeleng pelan, "tidak mas, ini bukan salahmu mas..."
"Anita, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyaku penuh tanda tanya.
Anita menangis tertahan, "Mas masih ingat dengan orang yang menghinaku di pesta waktu itu?" tanyanya membuatku berpikir sebentar, "Pesta yang tidak sengaja aku datangi bersama Benny dan bertemu denganmu disana..." ucapnya kembali.
Yah, aku ingat pesta beberapa tahun yang lalu. Nama pria itu adalah Max, dia adalah teman kuliah dulu. Dia yang telah menghina Anita sebagai w************n dan membuat gossip di kantorku bahwa Anita adalah istri penggoda. Jika mengingat itu aku sangat kesal dengannya. Lalu untuk apa dia datang kembali? dan melukai istriku?
"Mas, dia bilang dia telah membunuh suamiku. Apa maksud dia Mas? Sungguh aku tidak mengerti, dia bilang dia yang telah menabrak mobil aku sehingga dia membuat suamiku meningal. Dia juga mengancamku ingin membunuhku mas..." kata Anita ketakutan
Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Anita, kurasakan darahku berdesir kencang dan kedua tanganku mengepal keras.
"Mas mau kemana?" tanya Anita ketika aku meninggalkannya begitu saja.
"Aku akan segera kembali." Ucapku tanpa menoleh dan pergi dari hadapan Anita.
❀✿•♥•✿❀
Laju mobilku semakin kencang, kedua tanganku mencengkram dasbor mobil. Max b******k dia yang telah membuat semuanya seperti ini, dia yang telah membunuh adikku dan menghancurkan kehidupan mereka. Ada dendam apa dia kepada adikku, hingga dia mencoba membunuh keluarga adikku?!
Max sialan, dia harus kuhabisi saat ini juga!
Tidak lama aku tiba di depan kediamannya, aku langsung memberhentikan mobilku disembarang tempat dan berjalan cepat menuju teras rumahnya. Lalu aku menekan pintu bel rumahnya berkali-kali. Tidak lama pintu rumahnya terbuka, disana aku meliha Max sangat terkejut melihat kedatanganku. Aku langsung menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke tembok, lenganku menahan dadanya dan menatapnya dengan sorotan tajam.
"Raka, santai Bro... kita baru saja bertemu..." serunya tertawa, aku langsung meninju wajahnya sehingga dia tersungkur ke lantai.
Kemudian aku memukul wajahnya kembali dengan bertubi-tubi, "kau sudah membunuh Benny adikku dan sekarang kau malah mau menyakiti hati istriku! b******k kau Max!" Makiku berteriak, napasku mulai tidak beraturan. Aku ingin membunuh pria ini.
Max tertawa sambil menyerka darah yang keluar dari bibirnya, "Istri kau? maksud kau Anita?!" tanyanya dengan mata menyipit, "Anita sih w************n itu?! Bukannya semua orang juga tahu dia w************n?!" Hinanya membuat telingaku panas mendengarnya.
Hatiku sangat sakit saat Max menghina Anita. Istriku bukanlah w************n!
Aku kembali mencengkram kerah bajunya dan menatapnya tajam, "dia bukan w************n, sialan!" desisku.
Max tertawa kecut, "Raka Pratama, bukankah kau dulu sangat membenci w************n itu kan?! Bahkan disaat aku menghinanya, kau tidak membelanya sama sekali. Malah Benny adikmu yang bodoh itu membela w************n itu!" hinanya kembali membuatku memukul wajahnnya.
Rahangku bergemertak, "Sekali lagi aku mendengar kau menghina istriku, aku tidak akan segan-segan membunuhmu Max!!" ancamku.
Max kembali tertawa, seakan tidak takut dengan ancamanku, "Sejak kapan kau menikah lagi dengannya?!" tanyanya
"Itu bukan urusanmu!" sahutku kesal, "kenapa kau membunuh adikku Max?!" tanyaku penuh amarah.
“Aku sangat membenci Benny, sangat membencinya! Gara-gara adikmu itu hidupku hancur berantakan! Aku dipecat dari tempat ku bekerja dan hingga detik ini aku tidak diterima diperusahaan manapun! Bukan hanya itu gara-gara perbuatan adikmu itu, calon tunanganku membatalkan rencana pernikahan kami!” maki Max penuh amarah dengan sorotan kebencian, “akhirnya aku memutuskan untuk membunuh adikmu yang sialan itu ketika dia bersama Anita dan anaknya! Tetapi ternyata Anita masih hidup! Anita w************n itu juga harus mati!” teriaknya membuat emosiku semakin memucak.
Aku kembali menyerangnya, tangan kananku terus meninju wajahnya. Max langsung membalas pukulanku, sial pukulannya sangat sakit sekali sehingga aku sekarang berada dibawahnya. Max mencengkram kerah kemejaku dan menahan dadaku dengan lengannya.
"Kau lelaki b******k dan licik Max!" makiku membuatnya tertawa.
"Apa bedannya denganmu?! kau juga b******k dan licik Raka. Kau seharusnya berterima kasih denganku, setelah Benny aku bunuh kau bisa kembali menikahi w************n itu!" balasnya tersenyum menyeringai, "Ohya Benny adikmu itu, sepertinya sangat mencintai wanita itu. Kau tahu waktu aku menghina wanita itu, dia yang pasang badan membela harga diri wanita itu. Ku akui adikmu sangat jantan, tidak sepertimu Raka pecundang!" hinanya tertawa kecut.
Ingin sekali rasanya aku memukul wajahnya, tapi kedua tangan ku di tahan olehnya, aku hanya menatapnya dengan penuh amarah.
“Setelah itu dengan gagahnya dia datang kerumahku dan memukuli aku sehingga aku koma selama seminggu, aku sangat salut dengan keberanian adikmu itu!" serunya berdecak kagum.
Aku langsung menendang alat vitalnya ketika dia lengah, sedetik kemudian dia meringgis kesakitan.
"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan kau ini Max!" Maki ku penuh amarah.
Kemudian aku mengeluarkan ponselku dari saku celana, lalu menelpon polisi. Setelah menelpon polisi, aku menepuk pipi Max, “sebentar lagi polisi akan datang untuk menangkapmu…” kataku membuat Max tertawa.
"Aku sangat miris denganmu Raka...” ucapnya lirih, aku hanya menatapnya dengan rahang bergemertak, “kau tahu sebelum aku menabrak mobil adikmu dengan truk yang aku kendarai, aku melihat kebahagian dari Benny, Anita dan juga anaknya. Dan kau tahu kau tidak ada sedikitpun disana, diantara mereka. Aku sangat kasihan dengan kau Raka dan aku yakin Anita sangat mencintai Benny. Dan aku juga sangat yakin dia akan meninggalkanmu!" ucapnya tertawa.
Aku yang mendengar perkataannya langsung menendang perutnya, sehingga dia kembali meringgis kesakitan. Kemudian aku pergi dari hadapannya dan berjalan menuju mobilku. Setelah berada di dalam mobilku, aku memukul dasbor mobil dengan kencang.
Ini semua karena kesalahku, yah ini semua salahku. Seandainya saja aku membela harga diri Anita di pesta waktu itu ini semua tidak akan terjadi. Dulu disaat aku masih sebagai suami Anita, aku hanya terdiam melihat istriku dihina oleh orang lain, bahkan Tania yang sering menghinanya aku juga diam dan tidak membelanya. Dan yang lebih parah aku juga menghina Anita.
Sekarang Benny dia yang menjadi korban atas kebodohanku di masa lalu, seandainya saja aku menjadi suami yang baik waktu itu, ini semua tidak akan pernah terjadi. Kami tidak akan pernah kehilangan Benny dan juga anaknya.
Disaat aku menjadi suami Anita kembali, aku hanya ingin dia melihatku dan mencintaiku, bahkan aku tidak rela jika dia masih mencintai Benny. Lalu apa aku masih pantas dicintai oleh Anita sedangkan pengorbanan yang aku berikan kepadanya tidak sebesar yang diberikan oleh Benny.
Benny adikku, cintanya begitu besar kepada Anita. Aku merasa tidak pantas untuk menikahi Anita kembali. Hanya Benny yang pantas untuk Anita, bukan aku.
Ben... Maafkan semua kesalahanku...
❀✿•♥•✿❀