,Adriana membuka kelopak matanya, ia mencoba mendudukan tubuhnya yang terasa lemas. Kepalanya terasa sangat pening. Dia memegang kepalanya dan memijat pelan kepalanya.
Pintu terbuka, sosok Reynald berjalan ke arah Adriana. Dia duduk disisi ranjang dan mengelus kepala Adriana pelan. "Apa kau baik-baik saja? "
"Hanya pusing dan lemas. " Adriana menjawab dengan lemah bibirnya maju beberapa cm karena lehernya masih sakit. Reynald mengecup kening Adriana dan seketika pening di kepalanya hilang.
Gadis itu memegagi kepalanya yang sudah sembuh. Dirinya sangat penasaran bagaimana Reynald melakukannya. "Apa yang kau lakukan Rey? "
"Aku hanya menghilangkan pusing di kepalamu. "
"Kau bisa mengobatinya? " Adriana berkedip dua kali.
"Aku bisa mengobati luka atau sakit ringan saja." Jelsanya dengan singkat. Tentu saja itu bohong. Reynald bisa mengobati apapun.
"Rey, aku bosan. kita pergi ke dunia manusi." Adriana mendorong d**a Reynlad dan melepaskan dekapannya.
"Baiklah. " Mata Adriana berbinar mendengar jawaban tersebut. Tubuhnya tiba-tiba dipenuhi dengan energi.
"Kalau begitu ayo." Adriana melompat dari kasur lalu menarik Reynald hingga berdiri.
“Sebentar, kau harus bersiap-siap dulu.” Reynald menarik tangannya yang dipegang oleh Adriana.
Adriana mengangguk singkat lalu berlari kekamar mandi. Riri datang bersama pelayan lain beberapa saaat kemudian.
Setelah selesai bersiap Reynald menarik Adriana ke salah satu dinding lalu tangannya membentuk simbol bintang dan tembok terbuka menunjukan sebuah jalan.
"Kita mau ke mana?” Walaupun bertanya gadis itu tetep mengikuti pemuda diepannya.
”Kita akan menuju tempat aku menyimpan cermin yang akan membuka portal ke dunia manusia. Karena portal biasa hanya akan muncul 10 tahun sekali. " Adriana mengangguk mendengar penjelasan itu.
Sampai di ruangan yang cukup luas ada sebuah cermin dengan ukiran dan bahasa yang sangat kuno. Reynald memeluk pinggang Adriana agar lebih dekat lalu Reynald membacakan sesuatu.
"Είμαι Reynald willian Lucifer ο πρίγκιπας του βασιλείου του Lucifer άνοιξε μια πύλη στον ανθρώπινο κόσμο. "Tiba-tiba cermin menjadi bergambar galaksi yang sangat Indah.
Adriana tidak mengerti apa yang dikatakan Reynlad tapi sepertinya dia mendengar Reynald mengucapkan nama lengkap miliknya. Tanpa aba-aba Reynald melompat membuat Adriana terkejut. Adriana merasa dunia jungkir balik dan itu membuatnya pusing dan sedikit mual.
❁❁❁❁❁
Queen Clarissa berjaalan di lorong istana dengan anggun. Sesekali mengangguk saat para penjaga atau pelayan memberi hormat.
Dua prajurit yang berjaga di depan pintu kamar Reynald membukakan pintu saat Queen Clarissa ingin masuk. Setelah masuk ia tidak menemukan siapapun di dalam kamar. "Prajurit, dimara putra mahkota dan Adriana? "
Salah satu prajurit maju sambil menundukan kepalanya. "Yang saya tahu tadi pangeran Reynald dan Nona Adriana ada di kamar."
Queen Clarissa sangat tidak puas dengan jawaban tersebut. Putra sulungnya pasti memantrai kamarnya agar tidak ada siapapun yang bisa mendengar suara dari dalam. "Kau boleh kembali."
‘kemana anak nakal itu membawa putriku padahal aku membawakan sesuatu untuk Adriana.’ Queen Clarissa pergi meninggalkan kamar Reynald dengan dongkol dan mengirim mindlink kepada Reynald
"Rey kau dimana?”
"Aku sedang pergi ke dunia manusia."
"Untuk?"
"Ana ingin mengunjunginya."
"Dasar kau anak nakal, kenapa kau tidak memberi tahu ibu? Ibu mencari Adriana kemana-mana kau tahu!" Queen Clarissa menghardik Reynald. Semua anaknya tidak ada yang normal.
"Itu bukan masalahku."
Setelah itu mindlink di putuskan oleh Reynald secara sepihak yang membuat Queen Clarissa menggeram kesal. ‘Ngidam apa aku saat mengandung Rey? Kenapa dia bisa menjadi anak yang sangat menyebalkan.’
Queen Clarissa pergi dengan suasana hati yang kurang baik akibat ulah putra pertamanya yang bersikap tidak perduli dan kurang ajar tapi tepap ia sayangi.
❁❁❁❁❁
Rey sampai di sebuah hutan yang sepi di dekat kota yang sering di gunakan untuk camping. Ia memakai setelan tuxedo hitam dan Adriana masih menggunakan gaun merah marunnya. "Rey ini cukup jauh dari kota tapi kita tidak mempunyai kendaraan. "
"Itu mudah sayang. " Rey menjentikkan jarinya dan mobil lamborghini berwarna putih sudah ada di depan mereka.
Saking seringnya melihat kejadian aneh Adriana menjadi terbiasa dengan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Rey, aku ingin berbelanja dulu di mal. Apa kau punya uang? " Reynald menatap Adriana aneh, tentu saja ia punya uang karena ia seorang pangeran yang tinggal di istana dengan segala kemewahan yang ada.
"Aku bisa melakukan apapun, jadi kita pergi sekarang. " Reynald membukakan pintu untuk Adriana lalu ia masuk dan menjalankan mobilnya ke pusat kota untuk berbelanja.
*****
Reynald memasang raut yang sangat datar karena ia sudah menghabiskan tiga jam mengelilingi mall karena Adriana. Baju mereka sudah diganti sebelum turun dari mobil.
‘Untung Cinta.’ Batin Reynald dengan sedikit kesal. Iblis dari kerajaan mana yang sabar seperti dirinya? Reynald mengikuti Adriana memasuki supermarket.
Kedua tangan Reynald penuh dengan kantung belanja dan semuanya berasal dari merek terkenal. Orang-orang yang melihat keduanya merasa iri.
Adriana terus saja tersenyum karena Reynald memberikan apa yang di inginkan olehnya. Reynald tidak pernah menolak apa pun yang di inginkan Adriana karena Reynald ingin gadis itu bahagia.
"Rey, terimakasih kau sudah membelikan apa yang aku mau. Dulu aku harus mengumpulkan uang untuk membeli apa yang aku inginkan. Tapi sekarang kau memberikan apa yang aku mau." Adriana tersenyum manis ke arah Reynald.
Reynald mengusap kepala Adriana dan tersenyum tipis "Apa pun untuk mu sayang. " mereka pergi menuju parkiran dan meninggalkan mall.
*****
Mereka sampai di apartemen Adriana yang sederhana. Adriana membuka pintu Apartemennya dan mereka masuk ke dalam. Reynald melihat ke sekeliling apartemen Adriana.
Dia merasa apartemen itu seperti gubuk reot yang kapan saja akan runtuh jika tertiup aingin kencang.
"Rey, apa kita sebaiknya menginap di hotel? " Adriana yang melihat Reynlad melihat keseliling apartemen merasa tidak enak. Reynald adalah seorang putra mahkota dan dia tumbuh diistana. Adriana fikir Reynald tidak nyaman dengan apartemennya.
"Tidak perlu kita di sini saja. " Tatapan mata Reynald yang sedang melihat-lihat apartemen berhenti.
"Um, sebaiknya kau mandi dulu, aku akan siapkan makanan untuk kita. Kamar mandinya ada di dalam kamarku di sebelah sana.” Adriana sedikit canggung.
Reynald pergi meninggalkan Adriana yang sedang pergi ke dapur untuk menyiapkan makan. Adriana memotong daging, sayur dan bahan-bahan lain. Ia memasak dengan telaten, Ia juga memotong buah untuk membuat salad.
Reynald sudah selesai mandi dia berjalan mendekati Adriana lalu memeluknya dari belakang. Adriana tersentak kaget dan tidak sengaja mengores tanganya."Akhhh."
Reynald mengambil jari telunjuk Adriana dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Manis. " Setelah itu ia mengecup bibir Adriana yang membuat ia diam mematung. Reynald melenggang pergi meninggalkan Adriana yang diam tidak berkutik.
Teringat sesuatu Adriana melanjutkan memotong buah dan menatanya. Setelah itu ia membawa ke meja makan dan makan bersama Reynald.
Sebenarnya Reynald ingin sekali memuntahkan makanan itu karena rasanya tidak enak. Dia lebih menyukai memakan daging mentah yang penuh dengan darah. Tapi karena Adriana sudah memasaknya tentu saja Reynald harus memakannya.
❁❁❁❁❁
"Kapan mereka akan kembali? Aku merindukan calon menantuku." Queen Clarissa terus menggerutu. Ia sangat kesal dengan putra esnya yang membawa calon menantunya pergi tanpa pamit terlebih dahulu.
"Sudahlah sayang, mereka akan kembali."Lord Livian menenangkan istrinya. Tapi sepertinya kata-kata tersebut percuma saja. Istrinya malah melotot kepadanya.
"Ibu kakak cantik lama aku ingin bermain bersamanya." Ernest datang lalu duduk di pangkuan Queen Clarissa.
"Jika Adriana kembali Rey tidak akan melepaskannya." Saudara esnya yang uhuk tampan (Morgan benci mengakui itu), sangat possessive sekali kepada Adriana.
"Sebaiknya kau cepat menemukan pasanganmu agar tidak menjomblo terus. " Damarion tiba-tiba muncul lewat jendela.
"Memangnya kau sudah menemukan mate mu? Kau juga sama saja denganku masih menjomblo. " Morgan menatap kakaknya sinis.
"Sudah dia ada di taman. " Damarion menjawab dengan singkat sambil mengangkat bahunya.
“Benarkah?” Queen Clarissa melambaikan tangannya dan tubuh Damarion melayang. Detik berikutnya dia sudah duduk dilantai dihadapan Queen Clarissa.
“Jangan bercanda!” Kerah baju Damarion ditarik menggunakan tangan kanan Queen Clarissa.
“Aku tidak berbohong bu.” Wajahnya sangat datar tapi matanya menatap sang ibu dengan sedikit takut.
"Ibu ingin menemuinya. “ Queen Clarissa melepaskan cengkramannya di kerah putranya lalu berdiri dan keluar dari ruang keluarga. Dengan sedikit tergesa-gesa Queen Clarissa pergi ke taman untuk melihat calon menantunya yang lain