Chap 9

1107 Kata
Selesai makan malam mereka menonton TV. Reynald terus memencet-mencet tombol remot. Reynald membaringkan kepalanya di pangkuan Adriana. "Rey, bagai mana kau tahu aku seorang half demon? " "Aku tahu semua tentangmu. Kau takut dengan ular, sangat suka belanja, berenang, kau juga suka cokelat. Ini masih cukup siang. Apa tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan." Reynald merasa bosan karena tidak ada yang bisa dia lakukan. "Kita ke pasar malam." Adriana menunduk menatap Reynald. "Pasar malam? " Reynald membeo. "Sudah sebaiknya kita pergi. Tempatnya di dekat sini." Adriana pergi ke kamar mengganti baju. Sedangkan Reynald sedang duduk santai. Adriana memakai baju berwarna putih di padukan dengan celana jins hitam. Pita merah untuk mengisi kepalanya. Dia membawa sebuah tas kecil berwarna hitam dan terakhir Adriana menggunakan sepatu hitam.  Sedangkan Reynald masih duduk di sofa hanya saja dengan baju yang berbeda dari sebelumnya. pemuda itu menggunakan kaus hitam lalu memakai jaket putih celana jins hitam dan sepatu hitam. Pakaian itu membuat Reynald seperti remaja normal pada umumnya. Dia tidak seperti pangeran dari sebuah kerajan iblis yang sangat besar. Mereka keluar dari apartemen dan naik mobil lamborghini aventador hitam milik Reynald. Mobil pergi meninggalkan apartemen membelah jalanan kota. ❁❁❁❁❁ "Ayah ibu kenapa tidak hari ini saja kita ke sana? Aku ingin bertemu pangeran Reynald." Valerie merengk seperti anak kecil. Dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah tampan milik Reynlad. "Sabar sayang kita harus menyiapkan rencana." Queen Anggela menenangkan putrinya. "Baiklah, rencana ini harus berhasil karena aku hanya ingin menikah dengan pangeran Rey." Setelah itu Valerie pergi. Membuat kedua orang tuanya heran. "Anak itu." Lord Alvian menggumam pelan. ***** Queen Calrissa sampai di taman dan menemukan gadis cantik yang sedang duduk di bangku taman. "Halo." Queen Clarissa menyapa. Gadis itu berbalik dan berdiri saat melihat Queen Clarissa. "Apa kau mate Damarion? " "Ya, anda siapa?" Gadis itu menatap Queen Clarissa dengan mata bulatnya yang cantik. "Aku Queen Clarissa ibu dari Damarion salam kenal. Lalu siapa nama mu sayang?" mereka duduk saling berhadapan di bangku taman. "Nama saya Bella Viona Avram, Putri pertama dari kerajaan anggel." Bella tersenyum manis. Mendengar hal itu alis sebelah kiri Queen Clarissa terangkat tinggi. Sangat langka sekali pasangan dari seorang demon berasal dari bangsa malaikat. Tapi Queen Clarissa tidak mengatakan apapun. "Ah, kakakmu Jason sahabat Reynald, putra pertamaku. Sekarang anak itu pergi membawa putriku. "Queen Clarissa mencibir kesal. "Putri? Bukankah Lucifer tidak memiliki Putri? " Bella jelas terlihat heran. Setahunya semua keturunan dari Lucifer itu laki-laki. "Ya, Rey memiliki seorang mate dan aku sudah menganggapnya sebagai Putriku. Kau juga sudah ku anggap sebagai putriku Bella." Bella yang mendengar itu tersenyum manis dan Queen Clarissa juga balas tersenyum. Mereka berbincang-bincang ringan. Sesekali keduanya tertawa ringan membuat percakapan itu sangat menyenangkan. ❁❁❁❁❁ Mereka sampai di pasar malam. Adriana langsung turun dan senyumnya melebar. "Ayo ayo ayo. " Adiana menarik Reynald ke salah satu permainan. "Aku ingin itu. " Adriana menunjuk boneka teddy bear yang seukuran dengan badan nya. Reynald membayarnya lalu mengambil busur dan anak panah. Uang itu sebenarnya dibuat oleh dirinya karena didunia immortal mereka menggunakan emas dan perak sebagai uang. "Akan aku berikan semua untukmu sayang." Muka Reynald menghadap Adriana sedangkan tangannya menarik tali busur dan melepasnya. Panah Reynald mengenai sasaran, Adriana sengat senang dan mengambil bonekanya. "Aku akan memberi nama RENA itu singkatan dari Reynald dan Adriana. Apa kau suka? " "Tentu, kenapa tidak hmm? " Tangan Reynald melingkar di pinggang Adriana . Orang-orang yang melihat mereka merasa iri sekaligus kagum. "Ayo kita pergi ke rumah hantu." Adriana memberikan bonekanya pada Renald lalu menyeret pemuda itu pergi ke rumah hantu. "Apa kau tidak takut? Bukankah kau takut hantu? " Reynald hanya menurut saja saat tubuh mungil Adriana menyeretnya. Boneka yang dipeggangnya menghilang secara ajaib. "Tidak, karena ada kau " Gadis itu dengan percaya diri mengatakan hal tersebut. Beberapa menit setelah masuk Adriana merengek-rengek ingin keluar dan ia juga menangis. Jantungnya serasa turun kekaki. Prang.... Suara tersebut membuat Adriana lari terbirit-b***t meninggalkan Reynald yang masih berdiiri di tempatnya. "Kubilang apa! Kau itu takut hantu. " Setelah keluar Reynald memeluk Adriana dan menenangkannya agar tidak menangis lagi. Adriana tidak mau berhenti menangis dan Reynald bingung harus menenangkannya bagai mana. Sesaat kemudian Reynald tiba-tiba tersenyum karena sebuah ide melintas di otaknya "kita beli lollipop." Setelah mendengar kata ajaib itu Adriana berhenti menangis dan mengganguk semangat. Reynald hanya mengulum senyumnya karena Adriana tingkahnya yang seperti anak-anak. "Ini sudah malam. Kita pulang kau harus tidur sayang. "Reynald melihat Adriana sudah menguap beberapa kali. Reynald menjentikan jarinya dan boneka bernama Rena itu muncul kembali. Reynald memberikannya kepada Adriana. "Aku ngantuk." Mereka kembali ke tempat parkir. Reynald melirik ke sampingnya dan melihat Adriana sudah tertidur pulas sambil memeluk boneknya. Reynald mengangkat Adriana yang sedang tidur dan masuk ke dalam apartemen. Ia membaringkan Adriana di kasur lalu dia memeluk gadis dari belakang dengan. ❁❁❁❁❁ "Engh... " Seorang pemuda melenguh dan mencoba bangun dari posisi tidurnya. "Akh..." Pemuda tersebut urung melakukan niatnya karena merasakan sakit di bagian perut. "Kau sudah bangun? Aku sudah bilang kepadamu jika kekuatanmu itu tidak sebanding dengannya." Pria lain yang sedari tadi diam angkat bicara. "Tetap saja aku akan membunuhnya." Pemuda tersebut tetap bersikukuh. Matanya penuh dengan kebencian yang murni. "Dia pangeran yang sangat di kagumi dan di takuti oleh banyak kerajaan karena kekuatannya yang dahsyat. Sekarang dia sedang ada di dunia manusia.” Pria kedua menggelengkan kepalnya pelan dengan jawaban anaknya tersebut. "Apa yang di lakukanya di sana?" "Ayah belum mencari tahunya Dean. Sebaiknya kau istirahat dan sembuhkan lukamu itu." Pria itu adalah Raja dari kaum pemberontak, Lord Georgie Arthur Mamon. Lord Georgie berjalan menuju pintu kamar Dean. "Satu hal lagi, dia telah mempunyai mate seorang manusia. Kau bisa memanfaatkan matenya dan mengalahkannya, aku sangat yakin dia akan melakukan apapun demi matenya." Setelah mengatakan itu Lord Georgie keluar dari kamar putranya. "Mate ya?" Dean menyeringai seperti orang gila. "Aku akan melenyapkanmu dan mate mu. Tunggu saja nanti. AAA... HAHAHA. " Dean tertawa bak maiak di dalam kamar yang sepi dan sunyi. "Atau aku bisa menjadikan matenya milikku dan mungkin bersenang-senang sebentar sampai menemukan mateku." Dean menggumam sendiri. Dia terlihat sangat puas dengan ide tersebut. "Kau harus membayar luka yang kau sebabkan perang saat itu dan aku akan merebut tahta kerajaan Lucifer dan memerintah seluruh alam immortal. AAAA..... HAHAHAHA." Tawa Dean terdengar hingga keluar kamar dan membuat beberapa pelayan serta pengawal brigidig ngeri. Sementara itu di kamar Lord Georgie. "Anak itu tidak bisakah dia memelankan tawanya ini membuat kupingku sakit dan aku sangat mengantuk." Lord Georgie merutuki anaknya yang tertawa kelewat batas. Seluruh mahluk di dunia immortal memiliki pendengaran yang tajam, jaraknya bisa mencapai lebih dari 1 km. Apa lagi saat malam hari suara apapun dapat terdengar karena semuanya sudah beristirahat. Lord Georgie terus menyumpah serapah. Putranya yang kurang ajar itu selalu membuatnya naik darah tapi sangat ia sayangi karena Dean adalah Anak satu-satunya. Sedangkan istrinya sudah meninggal beberapa ratus tahun yang lalu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN