Sudah hampir satu pekan ini Zoya kembali untuk bekerja seperti biasa. Banyak beristirahat hanya akan menunda pekerjaan. Sedangkan ia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. "Ada apa Paman memanggil aku?" tanya Zoya ketika masuk ke ruangan Mario Abdilah, Pamannya. "Duduklah Zoya." Senyum Mario sangat mengembang. "Sepertinya Paman sedang bahagia?" "Tentu saja Zoya. Itu sebabnya Paman ingin bicara dengan kamu, Nak. Sayang sekali kamu bukan putriku, kalau tidak aku akan dengan senang hati mewarisi perusahaan ini kepada kamu." "Ah Paman, anak-anak Paman lebih berhak dibandingkan aku yang hanya keponakan." "Tapi mereka lebih memilih membuka perusahaan sendiri padahal tetap saja uangku yang mereka pakai." Mario Abdilah memajukan punggungnya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada k

