Gadis itu menyeringai licik, diam diam manik coklat itu semakin menunjukkan sisi kelamnya. Baginya sebuah goresan kecil akan menimbulkan sebuah luka yang tidak seberapa, namun tetap meninggalkan bekas yang jelas. Siapapun yang menggangunya berhak mati. Itulah yang selalu di ucapkannya, tidak peduli seberapa kuat mereka yang mengusiknya. Senyuman pertanda bahaya itu kembali di layangkan ketika ia menatap ponselnya, ia segera menginjak pedal gasnya menuju tempat yang akan menjadi saksi kebaikannya. Pintu baja itu terkbuka, sayup sayup dapat didengar racauan seseorang yang sudah renta. "Terkutuklah kalian yang sudah berani membawaku kemari~ "Akan kubuat kalian menyesal~ "Lepaskan aku b******k~ Gadis bernetra coklat itu terkekeh geli, ia mencoba mengingat ulang apa saja kata yang

