Edmund menahan napas saat Rachel memeriksa kompas dengan teliti. Matanya membulat, sarafnya menegang. “Bagaimana?” tanyanya dengan penuh kehati-hatian. “Apakah mungkin ... kau pernah melihat kompas yang sama dengan kompas ini?” Rachel menarik napas panjang. Heningnya membuat detak jantung Edmund berdetak tak karuan. “Bolehkah kubuka?” “Ya, tentu,” angguk Edmund cepat. Begitu membuka kompas, perhatian Rachel langsung tertuju pada foto Edmund yang sedang mencium pipi Alice. Edmund sengaja menempelkan foto itu untuk membangkitkan kenangan yang terkubur dalam kepala Rachel. Melihat perubahan pada ekspresi sang wanita, harapannya bertumbuh pesat. Sayangnya, Sky tiba-tiba berseru, “Oh, aku baru melihat foto itu. Apakah kau baru menempelnya?” Harapan Edmund sontak terjun bebas. Sambil m

