Terlihat lesu, Sania mendudukan diri di lantai dengan membanting kesal sapu yang dia pegang. Dia kesal, kenapa pekerjaan satu tak habis – habis dia kerjakan. Dengan kesal dia menangkup wajahnya, dan mengusap dengan kasar. “Sial, kenapa pekerjaanku belum juga usai. Padahal aku sudah melakukan yang terbaik membuang tenagaku untuk pria sialan itu.” Sania mendengus kesaln dan menatap daun – daun di sekelilingnya yang masih belum terapikan. Dia tanpa sengaja melihat bayang – bayang di kolam renang. Seorang pria nampak bersembunyi di balik tanaman dengan membawa sesuatu. Otaknya langsung paham dan berdecih kesal. “Pantas saja daun – daun ini tidak selesai. Nampaknya ada yang ingin bermain – main denganku.” Sania berdiri dan tak peduli dengan daun yang masih belum selesai dia bersihkan. Deng

