Di tinggalkan di hari pernikahannya. Menanti sebelas tahun lamanya. Apa ini sebuah kutukan? Kenapa hanya terjadi kepada dia? Kenapa hidupnya di terpa kesialan? Nadia Nazilla Bramantyo. Duduk terdiam, masih menggunakan gaun putih pernikahannya yang sudah kotor. Hatinya hancur, remuk berkeping. Bagaimana bisa pria yang akan dia pilih menjadi pendamping, yang dia percayai, kini menghancurkan hatinya terlalu dalam. Sakit? Tentu. Bahkan, kini air mata sudah berhenti keluar karena terlalu banyak menangis. Mata sembab tercetak jelas di kedua mata wanita itu. Tatapan iba semua tertuju kepadanya, sama seperti halnya Edgar dan yang lain yang menatap wanita itu dari jauh. “Bang, Nadia Bang…” “Alea, aku tau. Nadia pasti shock, sedih, malu.” Alea menarik tangan Edgar, menjauh, “Aku nggak mau tau

