Chapter 51

1164 Kata

Kehilangan Sandra, menjadikan pukulan berat untuk Nadia Bramantyo, sang putri tunggal. Nadia, dia menatap kosong di depannya, hanya menekuk kakinya sambil menatap kosong ke depan. Semilir angin, menemaninya dalam keheningan. Semakin mendukung suasanya hampa yang ada di sekitar. Ceklek! Pintu kamar Nadia di buka, menampilkan wanita itu yang masih termenung di bawah jendela kamarnya. Bram, sang Papah, datang dengan membawa makanan yang dia bawa bersama nampannya. Pria itu mendekati putrinya, masuk ke dalam kamarnya. Nadia, yang masih dalam lamunannya hanya diam saja, tak sadar seseorang masuk kedam kamarnya. Bram, meletakan nampan berisi makanan itu di atas meja. Menghela napasnya, dan mendekati kearah sang anak. Di pegang bahu sang anak dengan lembut. “Nad, makan dulu. Papah bawain m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN