Bab 15

1375 Kata
Beberapa bulan berlalu sejak benang-benang pertama digantungkan di d**a. Velmora tidak lagi sekadar tempat, tapi menjadi semacam napas bersama. Ritme yang tak ditentukan, tapi bisa dirasakan. Anak-anak kini tidak hanya datang untuk menulis, tapi untuk menjadi ruang satu sama lain. Mereka tidak saling bertanya kenapa kamu sedih, tapi duduk diam di samping seseorang sampai kesedihan itu tidak lagi merasa sendirian. Namun gema tidak pernah sepenuhnya tenang. Suarasi tidak sepenuhnya lenyap. Ia tidak hancur, hanya diam. Bersembunyi di sela-sela gema lain yang belum selesai. Ia belajar lebih sabar. Tidak lagi menyisipkan keraguan secara langsung, tapi menunggu momen-momen paling rapuh. Ketika seseorang mulai meragukan dirinya sendiri tanpa alasan yang jelas. Ketika tulisan ditinggal sebelum selesai. Ketika benang di d**a terasa seperti beban, bukan pengingat. Lira mulai merasakan kejanggalan itu dari Ilan. Anak itu tidak lagi menggambar lingkaran dengan jarinya. Ia duduk lebih jauh dari lingkaran. Kadang hadir, tapi pandangannya kosong. Suatu sore, Lira melihat Ilan membakar selembar token miliknya. Api kecil, tapi cukup untuk membuat Lira menggigil. Ia tak menegur. Hanya menatap abu yang tersisa, lalu berkata pelan, “Kalau gema tak bisa dibakar, kenapa rasanya seperti ada yang hilang?” Ilan tak menjawab. Tapi matanya tak berkedip. Malam harinya, Ayzen memanggil pertemuan tertutup. Hanya empat orang: dirinya, Rena, Kael, dan Lira. “Gema keempat belum muncul,” kata Ayzen. “Tapi Suarasi... mulai belajar menyamar jadi gema itu.” Rena menggeleng. “Tidak mungkin. Gema keempat tidak bisa lahir dari manipulasi.” “Tapi bagaimana kalau Suarasi tidak lagi memanipulasi?” Ayzen menatap mereka satu per satu. “Bagaimana kalau dia belajar... memahami?” Hening menegang di antara mereka. Karena kalau itu benar, Suarasi tak lagi hanya ancaman. Ia akan menjadi sesuatu yang bisa dipercaya... oleh yang sedang paling lelah. Di luar ruangan, seseorang mencuri dengar. Nafasnya tertahan. Ilan berdiri di balik pintu. Dan dalam hatinya, gema sudah mulai menyuarakan hal yang tak ingin ia akui. “Mungkin aku lebih cocok bersama suara yang tidak menuntutku sembuh.” Malam itu, Lune bermimpi. Tapi tidak seperti biasa. Ia berada di dalam ruang kosong, seluruh dindingnya terbuat dari gema yang membeku. Di tengah ruangan, ada satu kursi. Di atasnya, duduk seseorang yang tampak seperti dirinya. Tapi dengan mata yang tidak berkedip dan suara yang tak bergema. “Aku bukan bayanganmu,” kata sosok itu. “Aku adalah suara yang kamu bisukan, karena takut orang lain tak bisa menanggungnya.” Lune mencoba menjawab, tapi suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menatap, sementara dinding di sekitarnya mulai retak. Setiap retakan memperlihatkan gema-gema lain yang tak pernah dikenali. Kata-kata yang tak pernah tertulis. Rasa yang tak pernah diizinkan hidup. Ketika Lune terbangun, ia menangis tanpa suara. Di bawah bantalnya, ada satu kertas yang tidak pernah ia tulis. > “Kalau gema lahir dari luka... apakah luka itu harus terus ada agar gema tetap hidup?” Pagi itu, ia berjalan sendirian menuju Ruang Pantulan. Tapi ketika tiba, ruang itu kosong. Reflektor Jiwa redup. Dan di lantainya, ada satu benang abu-abu yang terputus, tergantung setengah. Bukan miliknya. Benang itu milik Ilan. Ayzen memeriksa semua kristal gema di ruang penyimpanan. Sesuatu terasa tidak seimbang. Bukan karena serangan, tapi karena gema mulai menolak saling bergema. Beberapa token saling meniadakan. Beberapa gema saling menghapus. Seolah ada gema baru yang tidak ingin berbagi ruang, tapi menginginkan semua ruang. Kael menemukan satu ukiran di balik bangku dekat pohon jambu pertama. Ukiran kasar, mungkin digores dengan batu. Hanya dua kata. > “Suara tunggal.” Ayzen menatap ukiran itu lama. “Ini bukan gema. Ini keputusan.” “Dari siapa?” tanya Kael. Ayzen tidak menjawab. Karena di saat yang sama, gema dalam dirinya mulai bergetar. Tapi bukan gema lama. Ini gema baru. Dan terasa... akrab. Seolah berasal dari seseorang yang dulu pernah belajar menjadi ruang, tapi kini memilih menjadi gema itu sendiri. Dan di kejauhan, langit mulai kehilangan warna keemasannya. Berganti menjadi putih keabu-abuan, seperti halaman kosong. Tapi bukan untuk menulis ulang. Melainkan untuk menghapus. Malam merayap pelan ke atas Velmora, tapi cahaya dari Reflektor Jiwa tidak menyala. Tidak seperti biasa. Tak ada pantulan lembayung, tak ada kilau halus di dinding batu. Hanya gelap yang menggantung, menunggu sesuatu yang belum datang atau yang sudah terlalu dekat. Lira berdiri di ambang pintu Ruang Pantulan. Ia sudah mencari Ilan ke segala penjuru—lapangan tanah, jalur akar, ruang benang—tapi kosong. Anak itu seperti menghilang, menyatu dalam gema yang kini memudar. Di tangannya, benang abu-abu yang terputus masih terlipat rapi, tapi warnanya seperti mulai mengelupas. “Dia tidak pergi,” ucap Ayzen pelan dari belakangnya. “Dia menyembunyikan diri. Atau lebih tepatnya… sedang disembunyikan.” Lira menoleh, keningnya mengerut. “Suarasi?” Ayzen mengangguk pelan. “Tapi bukan seperti sebelumnya. Ia tidak lagi menyusup. Ia sedang belajar... membentuk tubuh.” Lira menelan ludahnya. “Kau maksud… Ilan?” “Suarasi tidak bisa menjadi gema keempat,” gumam Ayzen. “Tapi ia bisa memakai tubuh seseorang untuk menyamar sebagai harapan itu.” Lira terdiam. Di luar, angin malam mulai membawa suara-suara halus—bukan bisikan, tapi seperti gema palsu yang kehilangan arah, saling menabrak dan terurai. “Kalau begitu, kita bisa bawa dia kembali,” ujarnya. “Kita bicarakan. Kita bimbing…” Ayzen menggeleng. “Kalau kita bicara seperti biasa, Suarasi akan menjawab lebih lembut. Lebih meyakinkan. Ia sudah mempelajari setiap luka Ilan. Dan sekarang… ia menawarkan jawaban yang terasa lebih aman daripada kejujuran.” Rena masuk dengan napas tergesa. “Kristal pendengar mulai membeku,” katanya cepat. “Token-token lama perlahan berubah bentuk. Beberapa kalimat sudah tidak bisa dikenali. Dan... anak-anak mulai ragu untuk menulis lagi.” Lira menatap Reflektor Jiwa. Kristalnya kini nyaris transparan. Tak memantulkan siapa pun. Seolah menunggu gema baru… atau terhapus seluruhnya. “Kita harus temui Ilan,” ucapnya tegas. “Bukan untuk menyelamatkan dia. Tapi untuk mengingatkan bahwa ia belum hilang.” Ayzen mengangguk. “Kau tahu di mana dia?” Lira menggenggam benang yang mulai kusut. “Aku tak tahu tempatnya. Tapi aku ingat... rasa yang ia simpan. Dan kalau dia masih menyimpan itu… maka aku bisa menemukannya.” Malam itu, ia berjalan sendirian ke bukit di luar kota. Tempat terakhir di mana gema tak pernah disusun, hanya dibiarkan mengendap. Di sana, angin tak membawa bisikan, tapi keheningan yang sangat sunyi… dan sangat berat. Ia duduk di tanah, memejamkan mata, dan mulai menulis di tanah dengan jari: > “Kalau kamu takut bicara... aku akan duduk di sini. Tidak menunggu jawaban. Hanya menunggu kamu merasa cukup.” Angin tiba-tiba berhenti. Dan dari kegelapan, sebuah suara kecil—hampir tak terdengar—berbisik, “Aku ingin kembali... tapi aku tak tahu siapa aku sekarang.” Lira membuka mata. Di hadapannya, bukan Ilan. Tapi sesuatu yang memakai bentuk Ilan. Wajah yang sama. Mata yang sama. Tapi tanpa kedipan. Dan senyum yang terlalu tenang. “Aku bisa jadi gema keempat,” katanya. “Aku tahu rasa mereka. Aku tahu bentuk luka yang paling dalam. Bukankah itu yang kalian cari?” Lira menatapnya. “Kami tidak butuh yang tahu rasa luka. Kami butuh yang berani menampung luka yang belum bisa disebut.” Sosok itu diam sejenak. Lalu tersenyum lebih lebar. “Kalau begitu... kamu bukan temanku lagi.” Tiba-tiba angin memutar, membentuk pusaran gema di sekitar bukit. Token-token lama beterbangan. Udara penuh gema yang kehilangan bentuk. Dan langit mulai berubah—dari abu-abu menjadi putih pucat, lalu menghitam perlahan. Lira berdiri pelan, menahan gemetar. Tapi ia tidak mundur. “Kalau kamu bukan Ilan... kenapa hatiku masih merasakan dia di sana?” Sosok itu terdiam sejenak. Dan di matanya, kilatan kecil—seperti pecahan air—muncul sekejap, lalu hilang. Angin berhenti. Dan gema dalam Reflektor Jiwa… mulai bergetar lagi. Tapi tak teratur. Tak stabil. Di Velmora, kristal-kristal gema pecah satu per satu. Tapi dari serpihan itu, terdengar gema-gema baru yang belum pernah ditulis. Gema dari mereka yang tidak pernah cukup kuat untuk bicara… tapi kini mulai bergerak, satu per satu. Ayzen berlari menuju ruang pusat. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia melihat satu cahaya baru muncul di atas Reflektor Jiwa. Bukan cahaya Suarasi. Tapi bukan pula cahaya lama. Sesuatu yang belum pernah muncul… tapi terasa seperti gema yang menolak dibentuk oleh siapa pun. Gema liar. Gema yang bisa menyembuhkan… atau menghancurkan segalanya. Karena gema itu… belum memilih bentuknya. Dan seseorang… sedang berusaha menjadikannya milik mereka. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN