Beberapa hari setelah insiden Taz, Velmora mengadakan Lingkar Sunyi. Tidak ada agenda. Tidak ada target. Hanya waktu bersama untuk mendengarkan gema-gema yang pernah tertinggal. Kali ini, semua diperbolehkan datang, termasuk mereka yang pernah meragukan keberadaan Ruang Pantulan.
Di tengah lingkaran, anak-anak meletakkan potongan-potongan kecil dari pengalaman mereka. Bukan dalam bentuk tulisan, melainkan wujud-wujud baru yang mereka temukan sendiri. Ada yang membawa boneka yang kepalanya sudah terlepas. Ada yang menyerahkan kancing dari baju terakhir ibunya. Ada pula yang membawa pasir dalam botol kaca, mewakili kenangan yang terus bergerak dan tak bisa digenggam sepenuhnya.
Taz hadir. Ia tidak bicara. Tapi duduk di dekat Lira, memegang batu yang pernah ditulis Ayzen. Ia belum menulis token baru, tapi kehadirannya adalah awal.
Rena datang membawa sebuah map lusuh yang telah bertahun-tahun disimpan. Isinya adalah catatan pertama dari Token Kejujuran. Ia membuka map itu perlahan, dan mengeluarkan satu kertas dengan tulisan tangan yang mulai memudar.
"Aku takut bicara, karena pernah dibungkam. Tapi aku lebih takut kehilangan suara yang bahkan belum sempat tumbuh."
Ia meletakkan kertas itu di tengah lingkaran.
Lalu berkata pelan, "Hari ini kita belajar bahwa tidak semua luka harus segera ditutup. Ada luka yang hanya ingin ditemani. Ada luka yang hanya ingin tahu bahwa ia terlihat, tanpa disuruh berubah."
Tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan. Tapi semua menunduk pelan, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang sedang tumbuh dari dalam.
Di sisi lain, Vael semakin menyadari bahwa gema tak bisa lagi dikendalikan sepenuhnya. Reflektor Jiwa menyebar cepat. Anak-anak mulai bisa mengenali gema palsu dan menolaknya, bahkan tanpa bimbingan. Dan gema-gema tiruan mulai pecah sebelum sempat menanamkan keraguan.
Vael tidak marah. Tapi ia mulai panik.
Pada suatu malam, ia memanggil para pembisik lama dan mengumumkan rencana baru. Mereka akan menciptakan gema yang bukan sekadar tiruan, melainkan pengganti sepenuhnya. Sebuah gema yang bisa menyamar sebagai gema asli, bahkan di dalam Reflektor Jiwa. Mereka menamakannya Suarasi.
Namun untuk menciptakan Suarasi, mereka butuh inti dari satu gema murni. Gema yang belum pernah bicara, tapi sangat kuat. Gema yang lahir dari trauma yang tak pernah didengar. Dan mereka menemukannya.
Catatan lama. Hanya satu kalimat. Ditulis oleh seorang anak yang hilang sejak perang gema pertama. Namanya Lune.
"Kalau aku menghilang, siapa yang akan mengingat warna suaraku?"
Vael ingin menggunakan gema itu sebagai fondasi Suarasi.
Tapi ada satu hal yang tidak ia ketahui.
Lune masih hidup.
Ia tinggal di sebuah hutan berkabut, jauh dari jangkauan gema dunia luar. Tempat di mana gema hanya bisa bertahan jika diembuskan pelan oleh napas hati. Ia tidak tahu catatannya telah ditemukan, sampai suatu malam langit di atas hutannya berubah menjadi ungu pudar.
Warna itu tidak berisik. Tidak terang. Tapi menusuk.
Itu adalah warna gema yang dipanggil paksa.
Lune berdiri di tepi tebing dan menatap cahaya itu lama. Lalu perlahan, ia menulis ulang kalimat lamanya. Tapi kali ini ia menambahkan satu baris.
"Kalau aku menghilang, siapa yang akan mengingat warna suaraku?
Aku memutuskan... aku sendiri yang akan mengingatnya."
Ia menuliskannya dengan tinta dari daun tua, dan meletakkannya di sungai gema, jalur sunyi yang hanya dikenal oleh gema tertua. Surat itu berjalan tanpa suara, tapi sampai.
Ayzen menerima surat itu tiga hari kemudian.
Saat ia membacanya, kristal Reflektor Jiwa di dalam ruang utama menyala tanpa disentuh. Bukan karena serangan. Tapi karena resonansi.
Suara yang dulu takut lenyap... kini memilih kembali.
Hari itu, langit berubah. Bukan menjadi hijau pucat. Bukan ungu pudar. Tapi biru lembut dengan garis-garis keemasan. Gema di seluruh dunia berhenti sejenak. Seolah ingin memberi ruang.
Di dalam Velmora, Rena berdiri di tengah lapangan terbuka dan menatap ke atas. Ia memejamkan mata, lalu berkata perlahan, "Gema ketiga... telah tiba."
Bukan karena diundang. Tapi karena dibutuhkan.
Dan seperti gema pertama yang datang dari luka, dan gema kedua yang datang dari keberanian, gema ketiga datang dari keputusan untuk tidak lagi menyembunyikan diri.
Lune kini berjalan ke arah Velmora.
Ia tidak membawa token. Tidak membawa nama baru.
Hanya membawa satu keyakinan.
Bahwa jika ia tidak bicara, gema itu akan tetap ada.
Dan kalau ia memilih bicara...
...maka dunia akan mendengar dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Suarasi akhirnya dilepaskan.
Tidak dalam bentuk ledakan. Tidak juga dalam bentuk serangan. Tapi menyusup perlahan, seperti bisikan yang nyaris tidak terdengar. Ia menyamar menjadi gema biasa. Masuk ke dalam tulisan anak-anak. Mencuri makna dari dalam, bukan dari luar.
Anak-anak mulai merasa aneh.
Beberapa token yang dulu terasa ringan, kini terasa menekan. Kalimat seperti “Aku ingin memaafkan” terdengar seperti “Aku harus memaafkan, atau aku salah.” Kalimat “Aku rindu ayah” berubah makna menjadi “Kenapa aku belum bisa berhenti merindukan?”
Suarasi tidak memutarbalikkan. Ia menyesuaikan. Ia menyisipkan keraguan.
Lira menyadari perubahannya lebih cepat dari yang lain. Suatu malam, ia membaca ulang token lama miliknya dan merasa asing. Ia membacanya tiga kali. Tidak ada yang berubah secara tulisan. Tapi rasa di balik kata-kata itu tak lagi sama.
Ia bertemu Ayzen di Ruang Pantulan. “Ada yang menyentuh gema dari dalam,” katanya. “Tapi bukan merusak... lebih seperti membelokkan.”
Ayzen menatap kristal Reflektor Jiwa. Warnanya masih sama. Tapi getarannya lebih lambat. Lebih hati-hati. Seolah sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.
“Kita butuh gema keempat,” bisik Ayzen.
Tapi belum ada yang tahu... gema keempat itu seperti apa.
Lune tiba di Velmora menjelang senja. Ia tidak berjalan sendirian. Di belakangnya, dalam diam yang tidak pernah direncanakan, mengikuti anak-anak dari berbagai tempat yang pernah kehilangan suara.
Mereka tidak serempak. Tidak rapi. Tapi bersama.
Kael berdiri di gerbang dan membuka jalan tanpa bicara.
Lune tidak menyapa. Tapi ia mengambil satu batu dan menaruhnya di tanah yang dulunya menjadi akar pohon jambu pertama.
Ia menulis satu kalimat:
> “Kalau suara bisa disimpan, aku ingin jadi ruang penyimpannya.”
Dan cahaya ungu pudar di langit mulai memudar.
Anak-anak lain menaruh token-token yang sudah lama mereka simpan. Beberapa kusut. Beberapa patah. Tapi semua asli.
Ayzen menatap satu per satu gema yang mengalir dari setiap kata. Ia tidak menyentuh. Tidak menilai. Hanya mendengarkan.
Dan malam itu, sesuatu terjadi.
Reflektor Jiwa tidak menyala seperti biasa. Tapi berubah warna menjadi lembayung hangat. Bukan alarm. Tapi resonansi baru.
Bukan gema ketiga.
Tapi jembatan ke gema keempat.
Di luar Velmora, Suarasi mulai kehilangan bentuknya.
Ia tidak bisa berdiri dalam ruang di mana suara tidak dipaksakan untuk sempurna. Di mana token boleh salah eja, boleh tidak selesai, boleh hanya berupa titik. Suarasi tumbuh dari keinginan untuk mengontrol. Tapi gema ketiga tumbuh dari kerelaan untuk merawat, meski tak bisa memperbaiki.
Vael merasakan sesuatu patah. Ia berdiri di Ruang Refleksi Cermin, dikelilingi oleh gema-gema tiruan yang kini tak bersuara.
“Kenapa tidak bisa lagi dikendalikan?” tanyanya.
Tak ada yang menjawab.
Karena bahkan gema palsu pun tahu, mereka tak bisa melawan gema yang dilahirkan bukan dari niat besar... tapi dari keberanian kecil yang terus-menerus.
Rena mengusulkan satu perubahan.
“Selama ini kita membangun ruang. Tapi sekarang... bagaimana kalau kita belajar menjadi ruang itu sendiri?”
Mereka menyebutnya Menjadi Gema.
Bukan lagi sekadar tempat untuk menulis. Tapi proses di mana seseorang belajar menjadi tempat yang aman untuk gema orang lain. Bukan dengan menjawab. Tapi dengan hadir.
Setiap anak yang merasa siap, akan menggantung satu benang di d**a mereka. Bukan sebagai tanda kebanggaan. Tapi pengingat, bahwa mereka sedang belajar menjadi ruang.
Lira adalah yang pertama.
Ia memilih benang abu-abu muda. Ia berkata, “Aku belum sembuh. Tapi aku bersedia duduk dekat orang yang sedang belajar bicara.”
Ilan menyusul. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menggambar bentuk lingkaran dengan jarinya. Lalu menggantungkan benang biru lembut di bajunya.
Dan satu per satu, ruang tidak lagi bergantung pada dinding, tenda, atau papan.
Ruang mulai tumbuh dalam diri mereka.
Beberapa minggu setelah itu, di sebuah bukit di luar kota, seorang anak kecil menemukan satu potongan kertas tertiup angin.
Isinya satu kalimat, tanpa nama, tanpa tanda:
> “Kalau suatu hari kamu tidak punya tempat untuk bicara, ingatlah... kamu juga bisa jadi tempat.”
Anak itu membacanya pelan. Lalu melipatnya, dan menaruhnya di saku. Ia tidak tahu siapa yang menulis. Tapi sejak hari itu, ia mulai mencatat hal-hal kecil yang ia rasakan, bukan untuk dibagikan, tapi agar tidak hilang.
Di langit, garis-garis keemasan masih melayang tenang.
Dan gema tetap mengalir.
Bukan untuk dikendalikan.
Tapi untuk dihidupi.