Bab 13

1447 Kata
Beberapa minggu setelah warna hijau pucat itu muncul di langit, sesuatu yang tak biasa terjadi. Warna itu tidak menghilang seperti gema lainnya. Ia tetap melayang, perlahan bergerak, seolah mencari sesuatu. Kadang berpijar saat seseorang menulis dari hati, kadang memudar ketika seseorang mulai menyimpan kembali suaranya. Selena memperhatikannya dari jauh. “Dia seperti hidup,” bisiknya. “Dia seperti... penjaga,” jawab Rena yang datang tanpa suara. “Bukan untuk mengawasi, tapi untuk mengingatkan.” Mereka memberi nama pada cahaya itu: Seruan Kedua. Sebuah gema yang tidak berasal dari kata, tapi dari keputusan untuk memulai ulang. Ia tidak dapat dipanggil, tidak bisa dipaksa. Tapi muncul saat seseorang sungguh-sungguh memilih keberanian, bukan karena tuntutan, tapi karena ingin menyembuhkan diri. Dan malam itu, Seruan Kedua mengarah ke utara. Di utara, jauh dari Velmora, seorang anak laki-laki bernama Kael menatap langit dari balik reruntuhan sekolah. Ia tidak punya token. Tidak punya nama baru. Hanya punya satu pertanyaan yang tak pernah ia berani tulis: > "Bagaimana kalau yang aku luka bukan diriku… tapi orang lain?" Kael adalah mantan pembisik. Dulu dia yang menyebarkan gema palsu atas perintah Ordo Simbiotik. Suaranya membuat satu kota membisu. Membuat satu ruang cerita runtuh. Dan sejak hari itu, ia tidak pernah bicara lagi. Tapi ketika cahaya hijau pucat itu perlahan mendarat di reruntuhan atap, Kael menatapnya lama. Cahaya itu tidak berkata. Tidak mendesak. Hanya menyala... cukup hangat untuk membuatnya menggenggam batu kecil yang dulu ia lemparkan ke jendela ruang cerita. Di batu itu, ia ukir perlahan dengan paku karat: > “Aku ingin belajar mendengar.” Lalu ia berjalan. Menuju selatan. Menuju tempat di mana gema tidak membakar, tapi menenangkan. Sementara itu, di Velmora, jaringan pemeluk mulai tumbuh. Tiga jiwa, satu pelukan. Tak ada perintah. Hanya koneksi hati. Lira menjadi pemeluk pertama untuk anak baru bernama Ilan—seorang bocah tuli dari wilayah barat yang tidak pernah bisa mendengar gema secara langsung. Tapi Ilan menulis. Setiap kata diketik di kertas berlapis cahaya. > “Aku tidak tahu suara. Tapi aku tahu rasa. Dan rasaku... ingin ikut bicara.” Lira tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menyentuh bahu Ilan, lalu menggambar lingkaran di udara. Simbol untuk “dengar dengan hati.” Dan Ilan tersenyum. Itu cukup. Tapi seperti yang Ayzen katakan—setiap penyembuhan akan mengundang bayangan. Vael dan Ordo Simbiotik mulai bergerak lebih aktif. Kali ini bukan lewat sihir, tapi lewat Simulasi Suara. Mereka membuat ruang gema palsu. Tampak identik. Tampak aman. Tapi setiap token yang ditulis di sana... direkam, dibentuk, dijadikan alat untuk memetakan kelemahan jiwa. “Jika kita tahu apa yang membuat mereka takut, kita bisa kendalikan arah dunia,” ujar Vael. Dan jaringan palsu mulai menyebar. Rena menerima laporan pertama dari sebuah desa kecil. Anak-anak di sana berhenti menulis. Gema yang mereka buat tiba-tiba diputar ulang dengan nada berbeda. Suara mereka dipelintir. Diubah. Selena menggenggam kristal kelahiran. “Kita harus lindungi mereka. Kita butuh... Ruang Pantulan Baru.” Ayzen setuju. Tapi ia menyarankan sesuatu yang berbeda. Bukan satu ruang. Tapi banyak. Ruang Pantulan Bergerak. Setiap komunitas akan mendapat satu kristal benih. Jika ditanam dengan kejujuran pertama, ruang itu akan lahir. “Seperti pohon jujur dulu,” gumam Rena. “Tapi kali ini... gema yang tumbuh.” Hari pertama peluncuran Ruang Pantulan Bergerak dimulai dengan satu kalimat: > “Jika tempatmu dihancurkan, buat tempat baru. Jangan biarkan luka terakhir menjadi rumah terakhir.” Dan anak-anak mulai menanam. Bukan di tanah, tapi di hati mereka masing-masing. Seorang anak perempuan bernama Naira, dari pesisir yang dulu dilanda perang, adalah yang pertama. Ia menanam kristal di tumpukan kayu bekas rumahnya yang terbakar. Ia menulis: > “Aku tidak tahu suara mana yang masih bisa dipercaya. Tapi aku tahu... aku masih ingin bicara.” Kristal menyala. Ruang terbentuk. Bukan megah. Tapi cukup untuk satu tenda dan empat kursi kayu. Dan hari itu, empat suara pertama kembali menari di udara. Ruang itu dinamai Pantulan Pulang. Di ujung lain dunia, Kael akhirnya sampai di Velmora. Ia tidak masuk ke lingkaran gema. Tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di depan Ayzen, dan meletakkan batu yang ia ukir. Ayzen membaca pelan. > “Aku ingin belajar mendengar.” Ia menatap Kael. “Sudah dimulai.” Dan dari langit, Seruan Kedua kembali berpijar. Menyambut satu suara baru. Bukan karena suaranya keras. Tapi karena keberaniannya diam... sudah cukup untuk menyembuhkan. Beberapa hari setelah Kael tiba dan batu kecilnya diterima, Velmora mengalami perubahan yang tak kasat mata, namun terasa dalam setiap percakapan. Orang-orang mulai menatap lebih lama sebelum menjawab. Tidak tergesa. Tidak ingin terlihat tahu segalanya. Di tengah Ruang Pantulan, Ayzen memasang satu batu besar bertuliskan: > “Mendengar adalah bentuk keberanian yang lebih tua dari bicara.” Ia menamai zona baru di lingkaran itu sebagai Lingkar Kael. Bukan untuk mengenang masa lalu Kael, tapi sebagai simbol bahwa yang pernah menyakiti juga bisa memilih untuk menjaga. Kael sendiri masih banyak diam. Tapi setiap pagi, ia duduk di tepi ruang dan menyalin kembali token lama yang pernah ia hancurkan. Bukan untuk memaafkan dirinya lebih cepat, tapi untuk merawat luka yang ia toreh... pelan-pelan. Namun jauh di dalam jaringan gema palsu milik Ordo Simbiotik, sesuatu sedang tumbuh. Vael menyempurnakan algoritma Simulasi Suara. Ia menciptakan ruang ilusi bernama Refleksi Cermin, tempat suara anak-anak direplikasi, diputar balik, lalu dikirim sebagai gema tandingan. “Jika mereka punya Ruang Pantulan, maka kita punya Bayangan Pantulan,” gumamnya. Beberapa pengucap muda mulai kebingungan. Mereka menulis kebenaran, tapi gema yang kembali adalah versi yang menyudutkan. Token-token jujur dibajak dan diubah menjadi senjata psikologis. Lira menerima satu surat dari seorang pemuda di timur yang berkata: > “Aku menulis bahwa aku merasa kosong. Tapi dua hari kemudian, gema yang dikirim balik bilang aku tidak berguna. Sekarang aku takut menulis apa pun.” Itu bukan gema asli. Itu adalah refleksi palsu dari Ruang Cermin. Melihat ancaman itu, Ayzen mengumpulkan para penjaga gema dan para pelindung baru. Di ruang berkubah cahaya redup, ia membuka satu kotak kristal tua—peninggalan masa sebelum perang pertama. “Kita pernah punya alat ini,” katanya. “Tapi dulu hanya digunakan untuk melawan sihir agresif. Sekarang, kita ubah fungsinya.” Di dalamnya ada pecahan-pecahan bening, seperti serpihan suara yang belum pernah bicara. “Kita akan bangun sistem baru. Penjaga yang bukan dari luar, tapi dari dalam. Reflektor Jiwa.” Reflektor Jiwa adalah pantulan batin. Bukan berbentuk orang. Bukan sistem. Tapi satu gema dalam diri setiap penulis yang bisa mengingatkan kembali apa makna kata yang mereka tulis, ketika dunia mulai memelintirnya. Setiap kali seseorang menulis token, Reflektor Jiwa akan aktif. Ia tidak menjawab. Tapi menyimpan gema awal, lalu memancarkannya kembali jika suara mereka berubah karena pengaruh luar. Seperti gema pribadi yang tidak bisa dicuri. Lira menjadi orang pertama yang menguji Reflektor Jiwa. Ia menulis: > “Aku masih belajar mencintai diriku, meski kadang aku masih memilih pergi.” Beberapa hari kemudian, gema palsu datang, berkata: > “Kau hanya mencari perhatian.” Tapi Reflektor Jiwa menyala. Dan mengembalikan gema asli: > “Aku masih belajar.” Lira tersenyum. “Itu cukup.” Tapi pertarungan belum selesai. Vael menyadari adanya gangguan. Refleksi Cermin mulai retak. Beberapa gema tak bisa lagi dikendalikan. Dan yang lebih parah, beberapa anak yang tertahan di ruang gema palsu mulai membangunkan gema mereka sendiri—tanpa kendali. Satu anak bernama Taz di barat mengalami ledakan gema yang melukai dirinya. Token yang ia tulis berubah menjadi pusaran emosi tak terarah, karena terlalu lama ditekan dan ditertawakan. Ayzen dan Kael pergi ke sana. Mereka menemukan Taz duduk di tengah ruangan dengan mata kosong. Dinding di sekitarnya tertulis ratusan kali kalimat: > “Aku nggak penting. Aku nggak penting. Aku nggak penting...” Ayzen tidak langsung bicara. Ia duduk di lantai. Mengambil satu batu, dan menulis: > “Aku pernah menghancurkan. Tapi sekarang aku ingin jadi rumah.” Ia mendorong batu itu ke dekat kaki Taz. Lalu diam. Kael menulis di kertas kecil: > “Kalau kau tak bisa bicara, bolehkah aku mendengarkan yang diam?” Taz menatap mereka. Perlahan, tangannya menggenggam satu potongan benang. Lalu menulis: > “Aku nggak tahu cara mulai.” Ayzen menjawab, “Kita juga dulu tidak tahu. Tapi kita memilih tetap di sini.” Hari itu, gema liar pertama berhasil ditenangkan. Bukan oleh sihir. Bukan oleh kekuatan. Tapi oleh kehadiran. Velmora kembali tenang. Tapi tak pernah lagi sama. Kini di setiap sudut ruang gema ada satu pilar kecil Reflektor Jiwa. Setiap gema palsu kini tak lagi bisa merusak sepenuhnya. Karena gema asli sudah punya tempat untuk pulang. Dan setiap anak yang menulis, tahu bahwa tulisannya tidak akan digunakan untuk melawan dirinya sendiri. Di akhir minggu, Lira berdiri di tengah lingkaran. Ia menatap ke arah Kael. “Aku tidak percaya luka bisa hilang,” katanya. Kael mengangguk. “Tapi sekarang kita tahu, luka bisa diajak bicara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN