Bab 12

1348 Kata
Pagi itu, udara di Velmora terasa berat. Bukan karena suhu, tapi karena bekas gema yang belum sepenuhnya pulih. Ruang Pantulan masih berdiri, tapi gemanya retak di beberapa sisi. Beberapa nama yang tertulis di dinding cahaya mulai memudar, bukan karena lupa, tapi karena terluka. Ayzen berdiri diam di ujung menara, memandangi kehampaan yang merayap perlahan. Di bawah sana, anak-anak mulai ragu menulis lagi. Sejak serangan malam itu, bahkan mereka yang biasanya paling berani mulai takut bicara. Takut salah. Takut suaranya disalahartikan. Takut... dirinya sendiri dianggap palsu. Selena duduk di tangga, menggenggam satu gulungan yang belum sempat diproses. Isinya sederhana. Hanya satu kalimat: > Aku ingin bilang maaf, tapi aku takut tidak dimaafkan. Gulungan itu belum diterima. Belum ditolak. Hanya menggantung. Tharell datang membawa secangkir teh yang sudah dingin. “Aku jadi mikir,” katanya sambil duduk di samping Selena. “Dulu kita bangun Scroll Chain karena percaya suara bisa menyembuhkan. Tapi sekarang, justru suara yang bikin mereka luka.” Selena tak menjawab. Ia tahu, luka itu bukan karena kata-kata. Tapi karena suara-suara yang datang tanpa hati. Yang menyamar jadi kebenaran, tapi hanya membawa bayangan. Mereka diam cukup lama, sampai Ayzen akhirnya turun. Matanya merah, tapi bukan karena lelah. Ada sesuatu yang dipendam terlalu dalam. “Aku harus bicara,” katanya pelan. Mereka menatapnya. “Tapi bukan di sini. Aku harus ke Tanah Keheningan.” Selena langsung menegang. Tharell mendekat. “Tempat itu sudah ditutup sejak perang kedua. Apa kamu yakin?” tanya Tharell. Ayzen mengangguk. “Di sana, gema tidak bisa bohong. Tak ada sihir, tak ada pantulan. Hanya suara dan maknanya.” Ia berjalan sendiri. Melewati lapisan kabut yang menggantung di pintu barat. Tak membawa pedang. Hanya satu gulungan kosong dan pecahan kristal pertama dari Scroll Chain. ** Tanah Keheningan bukan tempat indah. Dataran luas, tanpa warna. Angin pun seperti segan lewat. Tapi di tengahnya, berdiri satu pilar batu. Dingin. Kasar. Dan sunyi. Ayzen berdiri di depannya, lalu membuka gulungan. Ia menulis pelan. > Aku Ayzen. Pernah memimpin, pernah menghancurkan. Pernah memerintah, pernah membakar. Tapi hari ini, aku hanya ingin jadi suara yang tak ingin menyakiti siapa pun lagi. Ia lalu menggulungnya kembali, dan meletakkannya di bawah batu. Tak ada cahaya. Tak ada gema. Tapi dari kejauhan, seekor burung kecil mendarat di bahu Ayzen. Diam. Tenang. Dan ia tahu. Itu cukup. ** Di Velmora, Selena menatap ke arah barat, seolah bisa melihat apa yang Ayzen lakukan. “Aku rasa dia... baru saja menulis token pertamanya yang bukan untuk diingat,” gumamnya. “Lalu untuk apa?” tanya Tharell. “Untuk memaafkan.” ** Malam itu, anak-anak kembali ke Ruang Pantulan. Mira membawa benang baru. Bayu menempelkan satu potongan kayu bertuliskan “Tidak Harus Kuat”. Rasti, yang biasanya diam, berdiri paling depan. Ia menatap mereka semua. “Aku masih takut. Masih sering nulis lalu hapus. Tapi hari ini... aku cuma pengen bilang satu hal.” Ia menatap langit-langit. “Terima kasih udah denger aku, bahkan waktu aku belum bisa bicara.” Dan dari langit, gema turun perlahan. Tidak terang. Tidak keras. Tapi cukup untuk menghangatkan hati mereka yang lupa cara merasa aman. ** Keesokan harinya, Scroll Chain menerima suara-suara baru. Tidak sempurna. Tidak semua jujur. Tapi semua... berani dicoba. Dan di setiap suara itu, lahirlah satu warna baru yang belum pernah ada sebelumnya. Bukan dari sihir. Tapi dari luka yang tidak disembunyikan. ** Ayzen kembali setelah tiga hari. Ia tak membawa gulungan. Hanya satu senyum tipis dan satu kalimat. “Suara kita... bukan untuk memenangkan perang. Tapi untuk mengingat kenapa kita tidak ingin ada perang lagi.” Dan mereka mengerti. Bahwa mungkin dunia tidak akan pernah sepenuhnya tenang. Tapi selama masih ada satu orang yang memilih bicara dari hati... gema tidak akan pernah benar-benar mati. Tiga hari setelah Ayzen kembali dari Tanah Keheningan, ia berdiri di tengah lingkaran gema yang dulu digunakan untuk Festival Suara Kedua. Lingkaran itu kini dikelilingi oleh pilar-pilar cahaya yang tak lagi sempurna. Beberapa retak, beberapa pudar. Tapi satu hal tetap ada: keinginan untuk menyembuhkan. Ia memanggil semua pengucap, semua penjaga gema, dan mereka yang masih percaya pada Scroll Chain. Rena, Tharell, bahkan anak-anak dari desa selatan yang berjalan berhari-hari hanya untuk mendengar langsung dari Ayzen. Selena berdiri di sisi Ayzen, membawa kristal baru yang belum pernah dipakai—kristal kelahiran. “Apa ini akan jadi sistem baru?” tanya Tharell dengan nada khawatir. “Bukan sistem,” jawab Ayzen tenang. “Ini pilihan. Bagi mereka yang ingin membentuk ulang dirinya, bukan berdasarkan trauma… tapi harapan.” Selena mengangkat kristal itu tinggi. “Resonansi Kelahiran,” ucapnya. “Adalah tempat bagi mereka yang tak ingin hidup dalam nama lama, dalam cerita yang dibuatkan oleh luka. Ini bukan pelarian. Tapi penyembuhan.” Beberapa berbisik. Beberapa menangis diam-diam. Mira maju pertama kali. Ia memegang token lamanya—yang dulu ia tulis saat masih berpikir ia adalah beban keluarga. Di token itu tertulis: > “Mira, yang ingin Ibu bahagia, meski aku tak tahu caranya.” Ia meletakkan token itu di depan kristal. Lalu berbisik: > “Aku ingin jadi Lira. Yang bukan karena lari dari Mira. Tapi karena aku ingin belajar mencintai diriku yang baru.” Kristal bergetar. Cahaya ungu dan biru berpilin di udara. Tak menolak. Tak menghakimi. Hanya mendengarkan. Dan nama Lira diterima. Semua terdiam. Beberapa menunduk, menahan isak. Bayu menatap ke arah langit yang mulai bersih. “Aku juga ingin,” gumamnya. “Tapi belum hari ini.” Ayzen memegang bahu Bayu. “Tidak harus cepat. Kita tidak sedang berlomba.” ** Hari-hari berikutnya, banyak yang datang ke Resonansi Kelahiran. Tak semuanya memilih nama baru. Tapi mereka datang untuk satu hal: memberi makna baru pada dirinya. Seorang pria tua dari timur datang membawa potret istrinya yang telah tiada. Ia berdiri lama di depan kristal. “Aku pernah disebut pengecut. Karena lari dari pertempuran. Tapi aku lari... untuk menjaga anak-anakku tetap punya ayah. Hari ini aku ingin dikenal bukan sebagai prajurit, tapi sebagai Penjaga Pulang.” Ia tidak menyebut nama. Tapi kristal menerima gelarnya. Penjaga Pulang. Dan itu cukup. ** Tapi saat satu ruang penyembuhan terbuka, pintu bayangan ikut mengintip. Vael, pemimpin baru Ordo Simbiotik, mengamati dari kejauhan. Di ruangnya yang penuh layar sihir, ia melihat lonjakan energi setiap kali seseorang memilih nama baru. “Mereka sedang membentuk kekuatan yang lebih berbahaya dari senjata,” gumamnya. “Apakah kita serang sekarang?” tanya salah satu pasukannya. Vael menggeleng. “Belum. Tapi kita tanam keraguan. Biar mereka hancur dari dalam.” Ia mengirim gema palsu ke dalam jaringan. Gema itu berbisik halus, nyaris tidak terdengar. Tapi mengalir ke hati mereka yang ragu. > “Apa kau pantas berubah?” “Apa nama barumu tidak cuma topeng?” “Apa kau benar-benar sembuh, atau hanya pura-pura kuat?” Beberapa mulai goyah. Satu anak mengurung diri. Seorang pengucap muda berhenti menulis. Dan satu malam, Lira—yang dulu Mira—berdiri di bawah hujan. Memegang token barunya yang mulai retak. “Apa aku hanya mengganti luka dengan ilusi?” bisiknya. Ayzen menemukannya. Ia tidak berkata banyak. Hanya duduk di sampingnya, lalu berkata pelan: “Luka tidak hilang dengan nama baru. Tapi setidaknya... kau memberi dirimu izin untuk tumbuh.” Lira menangis. Tapi kali ini, bukan karena takut. ** Maka lahirlah Protokol Ketiga: Jaringan Pemeluk —sebuah jaringan jiwa yang saling menjaga resonansi orang lain, bukan untuk mengawasi, tapi untuk mengingatkan. Setiap nama baru, setiap kelahiran ulang, akan dipeluk oleh tiga jiwa yang telah melalui proses serupa. Mereka bukan pengawas. Mereka bukan guru. Mereka hanya pendengar. Dan sistem itu bekerja. Karena tidak ada yang lebih kuat dari luka yang dijaga bersama. ** Di akhir musim, Ayzen berdiri lagi di tengah lingkaran gema. Ia membaca ulang namanya di udara. Bukan untuk memastikan. Tapi untuk mengingat. > Ayzen. Yang pernah menghancurkan. Ayzen. Yang belajar menjaga. Ayzen. Yang masih memilih diam saat dunia ingin membakar segalanya. Ayzen. Yang percaya, bahwa perubahan... adalah keberanian paling sunyi. Cahaya keperakan muncul. Tak ada sorak. Tak ada sihir besar. Hanya satu embusan angin. Lembut. Tapi penuh makna. Dan di antara semua nama yang tergantung di langit, muncul satu warna baru: hijau pucat bercahaya. Warna yang hanya muncul ketika seseorang memaafkan dirinya sendiri... sepenuhnya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN