Ruang Pantulan pertama kali diaktifkan di reruntuhan Katedral Nivellen, tempat para penjaga suara pernah dikubur hidup-hidup dalam perang ketiga. Sisa-sisa dinding katedral yang hangus kini berdiri kembali, tidak dengan batu, tapi dengan lapisan sihir gema: susunan rune dan mantra gema yang hanya bereaksi pada suara yang diucapkan dengan hati.
Selena berdiri di tengah lingkaran gema, menatap ke arah lima anak muda yang datang dari utara—relawan baru, pengucap pertama untuk menguji sistem Scroll Chain sepenuhnya.
“Ucapkan,” bisik Selena. “Satu nama, dan alasan kalian ingin ia diingat.”
Anak pertama melangkah maju. Ia menggenggam batu kecil.
> “Nama kakakku, Reil. Dia mati saat menyelamatkanku dari runtuhan gua. Tak ada makam untuknya, jadi… biarkan suaraku jadi makamnya.”
Ia mengucapkan nama Reil perlahan. Gema muncul. Cahaya emas bergetar di udara. Lalu menetap, tenang. Nama diterima.
Anak kedua gagal. Suaranya gemetar. Katanya ingin menyimpan nama seorang pahlawan, tapi pikirannya penuh keraguan. Gema menghilang, tak ada cahaya. Suara tertolak.
“Ini bukan sekadar kata,” ucap Selena pelan. “Ini nyawa kedua.”
Sementara itu, di balik pegunungan hitam tempat Ordo Simbiotik membangun Arsip Kosong, distorsi terus dilakukan. Cerita-cerita mulai muncul dengan versi yang memuakkan: kisah Ayzen ditulis ulang sebagai pengkhianat yang mencuri kenangan rakyat untuk kuasa. Nama Kael disebut sebagai pembakar kitab suci.
Di pasar-pasar sihir, gulungan palsu dijual seperti jimat.
Ordo menciptakan perangkat baru: Pemutar Emosi, alat sihir yang dapat memutar ulang nama dengan versi editan. Orang-orang mulai mempercayai versi itu karena lebih nyaman, lebih sederhana, dan—yang paling berbahaya—lebih menyenangkan.
“Cerita sejati itu berat,” kata Tharell suatu malam. “Makanya mereka lebih suka yang palsu.”
Ayzen menatap ke kejauhan. “Kalau begitu… kita harus membuat kejujuran terasa seindah ilusi.”
Maka mereka menciptakan Festival Suara Kedua.
Satu per satu kota yang tersisa ikut serta. Di alun-alun, dibangun panggung suara. Siapa pun bisa naik, mengucapkan satu nama dan kisahnya. Jika gema terpantul dan cahaya muncul, mereka mendapat Pita Resonansi, tanda bahwa kisah mereka asli.
Namun jika tidak, pita itu akan lenyap dalam udara dingin. Tidak ada cemooh. Tidak ada ejekan. Hanya keheningan. Dan dari keheningan itu, beberapa memilih diam. Tapi lebih banyak lagi… memilih belajar jujur.
Di antara yang datang, ada seorang wanita tua membawa boneka kain usang.
“Namanya Dori,” katanya. “Bukan manusia. Tapi dia yang membuatku bertahan saat semua keluargaku dibunuh. Setiap malam aku cerita padanya, supaya aku tidak gila. Bolehkah aku sebut namanya?”
Selena menatap Ayzen. Lalu mengangguk.
Suara itu mengisi udara.
“Dori.”
Gema muncul. Tapi warnanya bukan emas. Melainkan ungu lembut, seperti warna pelukan.
Resonansi diterima.
Dan malam itu, Scroll Chain memperluas cakupannya: bukan hanya nama manusia, tapi segala yang pernah menjaga jiwa seseorang… layak diingat.
Namun, semakin terang Scroll Chain bersinar, semakin gelap balikannya.
Ordo Simbiotik mulai menyusup. Mereka menanam suara palsu di pinggiran kota. Mulai mengubah cerita sebelum sempat diucapkan. Menggunakan sihir suara palsu, mereka mencoba membajak panggung Festival Resonansi.
Sampai akhirnya, di satu malam sunyi di kota Aelthra, panggung Festival diserang. Gema pecah. Rune rusak. Dan dua pengucap muda lenyap, diculik.
Ayzen turun langsung.
Di bawah hujan deras, ia berdiri di reruntuhan panggung, lalu berbisik satu nama:
“Reval.”
Nama adiknya yang hilang saat ia masih jadi Kaisar Iblis.
Gema muncul. Tapi tak ada cahaya.
Ayzen menunduk.
“Berarti aku… belum cukup jujur.”
Selena mendekat. “Mungkin bukan karena kamu bohong… tapi karena kamu belum mengizinkan dirimu sendiri untuk memaafkan.”
Bab Penutup Sementara: Langit Tanpa Nama
Di akhir musim dingin, Ayzen berdiri di puncak Menara Velmora. Di bawahnya, Scroll Chain telah menyebar ke 43 kota dan 12 desa. Ribuan nama kini menggantung di udara—sebagai cahaya, sebagai suara, sebagai bukti bahwa tidak semua cerita bisa dipadamkan.
Tapi langit masih abu-abu.
Karena satu nama belum pernah disebut: Ayzen sendiri.
Selena datang membawakan gulungan kosong.
“Kau tahu, kita semua telah menyebutkan nama yang paling kita sayangi.”
“Aku tahu,” jawab Ayzen.
“Tapi belum ada satu pun dari kami yang menyebutkan namamu. Karena kau selalu berdiri sebagai penjaga, bukan yang dijaga.”
Ayzen menatap langit. Lama. Lalu perlahan… ia berbisik:
> “Ayzen, yang pernah menghancurkan. Ayzen, yang belajar menjaga. Ayzen, yang tak ingin diingat karena kuasa… tapi karena pernah memilih menahan tangan ketika bisa menghancurkan dunia.”
Gema muncul.
Cahaya ungu keperakan membelah langit. Angin berhenti sejenak.
Dan semua kota yang terhubung ke Scroll Chain melihat satu tulisan muncul di udara:
> Nama Telah Diterima. Resonansi Murni.
> Selamat Datang, Kaisar Iblis… dalam ingatan yang tak bisa dibakar.
Pagi pertama di tahun baru dimulai tanpa burung, tanpa nyanyian. Udara terasa berat, bukan karena badai, tapi karena gema yang tidak berhenti—suara-suara sumbang dari langit, dari tanah, dari dalam kepala mereka.
Tharell terbangun di kamarnya di Velmora dengan telinga berdenging. Ia menyadari suara itu bukan dari luar. Itu suara yang direkam, diputar, dan dipaksa masuk ke sistem Scroll Chain. Tapi nadanya… tak sepenuhnya nyata.
Ia berlari ke ruang pusat resonansi.
“Ada suara asing dalam jaringan,” ucapnya pada Selena yang sudah lebih dulu berdiri di depan kristal pusat.
Mereka melihatnya—sebuah pola baru, seperti bayangan pada gema. Namanya tidak jelas. Kadang muncul sebagai "Elira", kadang "Kehilangan", kadang hanya suara tangis tak bernama.
“Ini… bukan suara manusia,” gumam Selena.
Ayzen masuk, wajahnya lebih pucat dari biasanya.
“Aku tahu ini,” katanya pelan. “Ini Kebisingan Terstruktur. Senjata terakhir Ordo Simbiotik.”
“Senjata?” tanya Tharell, menelan ludah.
Ayzen mengangguk.
“Mereka tidak menyerang tubuh kita. Mereka menyerang kepercayaan kita pada suara kita sendiri.”
Apa itu Kebisingan Terstruktur?
Sistem sihir akustik tingkat tinggi yang menyusup ke jaringan resonansi melalui pola suara serupa namun palsu. Ia menciptakan ilusi suara yang sangat mirip dengan suara hati, tapi dengan sedikit distorsi—cukup kecil untuk tidak disadari, tapi cukup kuat untuk merusak makna.
Gema menjadi buram.
Resonansi mulai kehilangan arah.
Beberapa token di Scroll Chain mulai berpendar aneh. Warna cahaya berubah dari keemasan jadi kelabu. Isinya tetap sama, tapi maknanya jadi kabur. Beberapa bahkan hilang tanpa sebab.
Malam itu, di bawah menara Velmora
Ayzen, Selena, dan Tharell duduk membentuk segitiga gema. Di tengahnya, sebuah kristal hitam tua yang hanya digunakan saat darurat mutlak.
“Kita harus lawan suara dengan suara,” kata Ayzen.
Selena memandang ragu. “Tapi kita tak bisa membedakan yang palsu dari yang murni lagi.”
Tharell mengepalkan tangan. “Tapi ada satu hal yang tak bisa dipalsukan… reaksi orang terhadap kebenaran.”
Mereka mulai membangun sistem baru di dalam Scroll Chain. Sebuah lapisan tambahan yang disebut:
> Reflectum: Pantulan Emosi.
Setiap suara yang masuk tidak langsung diterima. Ia akan dipantulkan ke jiwa terdekat yang masih murni—biasanya anak-anak, mereka yang belum terkontaminasi.
Jika suara itu memberi rasa hangat, tenang, dan keinginan untuk menyentuh kebaikan, maka ia asli.
Jika tidak—ia akan terpantul keluar sebagai Bayangan Suara, dan dikurung.
Di Arsip Kosong, pusat Ordo Simbiotik
Mereka menyadari sistem baru itu bekerja. Distorsi mereka mulai gagal masuk. Mereka menciptakan algoritma emosi buatan—cerita tentang kesedihan yang dikemas indah, tapi hampa makna.
Seorang pemimpin Ordo, wanita bernama Vael, mengamati layar sihir yang menampilkan kota-kota Scroll Chain.
“Masalahnya bukan pada sistem mereka,” gumamnya. “Masalahnya pada kenyataan… bahwa masih ada manusia yang benar-benar percaya.”
Ia mendesah.
“Kalau begitu, kita hancurkan pusatnya. Buat mereka meragukan diri sendiri.”
Serangan ke Ruang Pantulan
Malam pekat menyelimuti Velmora ketika Rune Penyeru dipanggil untuk pertama kalinya sejak perang kuno. Sepuluh bayangan muncul di sekitar Ruang Pantulan—tidak membawa pedang, tapi suara palsu yang dikunci dalam sihir kerasukan.
Anak-anak yang menjaga Ruang Pantulan terdiam.
Telinga mereka dipenuhi suara-suara:
> “Kamu tidak cukup baik.” “Kamu hanya bayangan Ayzen.” “Nama-nama ini tak akan menyelamatkanmu.”
Tharell datang terlambat. Ia melihat satu anak—Mira—menangis di lantai, memeluk tokennya yang memudar.
“Aku lupa kenapa aku menulis ini… apa benar aku sayang Ibu?”
Tharell menatap ke sekeliling. Tak ada waktu untuk mantra. Tak ada waktu untuk sihir rumit.
Ia maju ke tengah, dan berteriak:
> “AKU INGIN DIINGAT BUKAN KARENA AKU SEMPURNA! TAPI KARENA AKU PERNAH BERANI JUJUR!”
Dan dalam sekejap, gema suaranya menumbangkan satu bayangan. Lalu dua. Lalu lima.
Mira menatapnya, air matanya perlahan mengering.
"Aku juga... ingin jujur."
Ruang Pantulan kembali stabil malam itu.
Tapi Tharell tahu: ini baru permulaan.
Bab Penutup (sementara): Suara Terakhir di Dalam Diri
Ayzen kembali ke tempat awal: altar batu tua di balik gunung.
Ia menggenggam gulungan pertamanya.
"Aku sadar... kita tidak pernah bisa menghapus semua distorsi. Tapi selama masih ada satu orang yang mengucap dari hati... dunia tetap punya pijakan."
Dari kejauhan, cahaya pertama Scroll Chain memancar—tidak lagi sekadar emas atau ungu. Tapi warna baru: biru tembaga. Warna suara yang tidak hanya murni, tapi juga telah melalui luka.
Suara yang pernah runtuh... tapi memilih bangkit.
Dan dari dalam gema, dunia mendengar satu nama baru:
> “Tharell, Penjaga Suara yang Tak Pernah Mau Diam.”