Bab 10

1632 Kata
Langit pagi di atas Velmora menggurat kabut tipis, seolah dunia belum selesai menggali ingatan-ingatan yang terkubur dalam. Selena berdiri di depan gerbang Akademi, tatapannya menembus hutan jauh di seberang. Ia menggenggam surat Ayzen erat-erat, sementara nama "Yuel Kaelson" terus menggaung di benaknya. Di dalam ruang kelas sunyi, Tharell memandangi gulungan nama-nama tua. Ia belum sepenuhnya mengerti arti perang yang mendekat, tapi dadanya mulai menyimpan gelombang yang sulit dijelaskan—campuran takut, ingin tahu, dan tekad untuk tidak diam. Sementara itu, jauh dari sana, Ayzen berjalan menyusuri tepi jurang tua di barat Glaeyra. Bekas-bekas luka perang dulu masih menghitam di tanah, tapi tunas-tunas kecil mulai tumbuh dari celah bebatuan. Ia berhenti di depan pohon tua yang setengah terbakar dan menempelkan telapak tangannya ke batangnya. "Aku masih di sini," ucapnya lirih. Dan bumi merespons—bergetar sedikit, lalu tenang kembali. Dari balik bayangan semak, sosok kecil muncul. Seorang gadis berpakaian kotor, rambut kusut, tapi matanya tajam seperti pisau malam. "Namamu Ayzen?" tanyanya tanpa basa-basi. Ayzen mengangguk. "Aku disuruh membawamu ke Yuel." "Namamu siapa?" tanya Ayzen balik. Gadis itu ragu sejenak. "Aku tidak punya nama. Setiap bulan kami ganti." Ayzen menghela napas pelan. "Maka biarkan aku memanggilmu... Ira. Nama itu berarti api yang pernah marah tapi belajar menjadi cahaya." Ira tampak bingung. Lalu akhirnya bertanya, "Kau tidak takut padaku?" "Takut pada anak yang belum sempat tumbuh bukan keberanian," jawab Ayzen. "Tapi pengabaian." Di Velmora, malam yang sama Selena memanggil Nihil melalui kristal komunikasi terakhir yang mereka simpan sejak perang. Suaranya lirih tapi tegas. "Nihil. Aku butuh kau datang. Sekarang. Dunia sudah mulai lupa." Beberapa jam kemudian, Nihil datang dengan jubah lusuh dan kantong penuh gulungan. Ia terlihat lebih tua, tapi matanya masih penuh cahaya. "Aku tidak pernah berhenti mencatat," katanya sambil tersenyum. "Tapi kertas sudah mulai lelah." Selena menunjuk tumpukan tulisan Tharell. "Kalau benar Yuel adalah anak Kael, maka dia bukan hanya ingin menghapus masa lalu. Dia ingin memastikan tidak ada satu pun yang bisa menulis ulang sejarah." Nihil mengangguk perlahan. "Kita butuh tempat menyimpan ingatan yang tak bisa disentuh api." Di perkemahan rahasia Putra Sunyi Yuel duduk sendiri di dalam ruang meditasi abu, memandangi sebuah kristal besar yang mengambang di udara. Di dalam kristal itu, ada bayangan samar: siluet Ayzen. "Aku tahu kau mendekat," bisiknya. "Aku tahu kau masih terikat oleh nama yang kau tolak... tapi juga kau jaga." Tiba-tiba, lantai bergetar pelan. Di sekelilingnya, pengikut muda berdatangan, membawa naskah-naskah lama, simbol-simbol suku cadang ingatan yang hendak dimusnahkan. "Api sunyi sudah siap," ucap salah satu dari mereka. "Jangan bakar semuanya," kata Yuel. "Sisakan satu... yang akan kuperlihatkan pada Ayzen." Ia mengambil satu dokumen tua. Di sudutnya tertulis: > "Perjanjian Ingatan: Penanda bahwa dunia tak akan mengulang kehancuran dengan melupakan apa yang pernah menyelamatkannya." Yuel memegangnya dengan tangan gemetar. Matanya menyimpan luka yang tidak dibahas, hanya dikubur. "Karena terkadang, yang paling ingin kita lupakan... adalah sesuatu yang pernah menyelamatkan kita dari hancur." Di tengah pertemuan rahasia Ayzen, Nihil, Selena, dan Tharell duduk melingkar. Di tengah-tengah mereka, ada peta dunia tua yang kini berisi banyak tanda: tempat-tempat di mana Putra Sunyi mulai muncul. "Kita tidak bisa melawan mereka dengan perang," kata Nihil. "Kita juga tidak bisa melawan mereka dengan cerita biasa," tambah Selena. "Karena mereka tidak membaca. Mereka menghindar dari kata." Ayzen menatap Tharell. "Kau menulis dengan suara. Kau punya sihir ingatan." "Apa maksudnya?" "Setiap kali kau menyebut nama seseorang yang sudah tiada... dunia sedikit demi sedikit menjadi utuh kembali." Tharell menelan ludah. "Jadi... aku harus menyebut mereka satu per satu?" "Ya," jawab Ayzen. "Dan kami akan menjadikan itu sebuah sistem." Permulaan Proyek Terbesar: The Immutable Scroll Dari puing perpustakaan kuno, Selena dan Ayzen membangun Gulungan Abadi. Sebuah jaringan sihir yang tidak ditulis dengan tinta atau di atas kertas, melainkan ditanamkan langsung ke dalam benak dunia: menggunakan sihir suara, sihir kenangan, dan sihir hati. Setiap kali satu nama disebut dengan jujur, nama itu akan masuk ke dalam Gulungan Abadi—dan tidak akan pernah bisa dihapus lagi, bahkan oleh Yuel. Mereka menamai sistem itu: AERIS (Arsip Etikal Realita Ingatan dan Suara). Dengan bantuan para Pengingat baru, termasuk Tharell dan beberapa penyintas kecil dari desa-desa sunyi, nama-nama lama mulai kembali disuarakan. > “Lira, penenun langit.” “Kael, si pemuja kebenaran yang keliru.” “Seraphim, yang mati demi menjaga satu buku.” “Elara, penulis bayangan.” Dan setiap kali nama disebut, cahaya kecil muncul di udara. Tidak terang. Tapi cukup untuk melawan kegelapan yang diam. Bab Penutup (sementara): Kesempatan yang Tak Bisa Ditolak Yuel akhirnya berdiri di depan Ayzen. Tak ada prajurit. Tak ada ledakan sihir. Hanya dua orang—yang satu pernah jadi Kaisar Kegelapan, yang lain pewaris luka yang tak diobati. “Aku tahu kau ingin menyelamatkan dunia, Ayzen,” kata Yuel. “Aku hanya ingin dunia tidak membunuh dirinya sendiri dengan lupa,” jawab Ayzen. “Kalau begitu, hapuslah namamu. Maka aku akan berhenti.” Ayzen terdiam. “Bayangkan dunia tanpa Ayzen. Tanpa bayanganmu, tanpa ancaman masa lalumu. Damai. Bersih,” lanjut Yuel. Ayzen mendekat satu langkah. “Tidak. Karena bukan aku yang penting. Tapi mereka yang menuliskan namaku meski tahu siapa aku.” “Jadi kau tolak kesempatanku?” “Aku tolak kehampaan yang kau tawarkan. Karena dunia bukan tentang menghindari luka. Tapi hidup meski kita tahu luka itu masih ada.” Dan untuk pertama kalinya, Yuel tampak seperti anak-anak. Bingung. Lelah. Dan takut. “Aku hanya ingin... tidak ada lagi yang merasa seperti aku.” Ayzen menatapnya pelan. “Kalau begitu, biarkan aku menyebutkan namamu dengan cinta... bukan kebencian.” Dan di saat itu, Yuel Kaelson untuk pertama kalinya... menangis. Tiga bulan setelah pertemuan antara Ayzen dan Yuel, dunia terlihat tenang di permukaan—tapi seperti air danau yang menyimpan pusaran di dasarnya, ketenangan itu menyembunyikan gerakan yang tak terlihat. Di Akademi Velmora, Proyek AERIS berkembang pesat. Nama-nama lama kini tak hanya disebut dalam bisikan atau doa, tapi dikunci secara permanen dalam jaringan suara dan cahaya, yang tak bisa dipalsukan atau dihapus. Namun teknologi sihir yang mereka bangun diam-diam menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan. Di Menara Teknolog Magis, Marea Tengah. Sekelompok peneliti dan politisi dari Ordo Simbiotik berkumpul di dalam ruangan kristal biru. Mereka menatap layar proyeksi sihir yang menampilkan aktivitas jaringan AERIS. Suara-suara nama yang terkunci muncul dalam bentuk cahaya: lembut, melingkar, dan penuh energi mentah. “Bayangkan jika kita bisa memanfaatkan struktur ini,” kata seorang bangsawan tua. “Jadikan nama dan kenangan sebagai sumber daya.” Seorang wanita dengan jubah kulit bintang menimpali, “Kita tidak perlu menambang logam langka. Cukup buat rakyat menuliskan kenangan mereka... lalu kita tukar dengan akses. Air. Makanan. Perlindungan.” Yang lain menyeringai. “Jadi... sejarah jadi alat bayar. Kita bisa menciptakan kelas sosial baru, bukan berdasarkan uang... tapi seberapa berharganya masa lalu mereka.” Sementara itu, di sisi selatan dunia: Selena menerima kabar aneh dari salah satu penghubung rahasia AERIS. Desa-desa yang dulu berpartisipasi kini mulai sepi. Bukan karena mereka tak ingin menyebut nama—melainkan karena nama mereka sudah dibeli. “Orang-orang ditawari makanan dan perlindungan, asal mereka menjual cerita mereka,” kata si pembawa kabar. Mereka tak menyadari: ketika satu nama hilang dari jaringan, cahaya sihirnya padam. Ketika terlalu banyak yang padam, Tiang Ingatan akan lumpuh. Dan dunia akan perlahan melupakan lagi. Selena mengirim pesan pada Ayzen. > “Ayzen, mereka sedang mengubah proyek kita menjadi pasar. Kita harus bertindak sebelum ingatan jadi komoditas.” Di balik gunung beku, tempat Ayzen mengasingkan diri: Ayzen menatap langit malam yang semakin jarang berbintang. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Ia tahu, setiap sistem yang dibangun dengan idealisme akan dipelintir oleh kekuasaan. Tapi kini ia tidak bisa hanya menjadi penjaga. Ia harus kembali jadi pelindung. Malam itu, ia berjalan menuju altar batu tua, membawa satu fragmen dari pedang lamanya. Ia menanamkan fragmen itu ke dalam tanah, dan membisikkan satu mantra: > “Dari suara yang pernah menghancurkan, biarlah lahir kembali sistem yang tidak bisa dibisukan.” Dari situ, muncul sinar ungu keemasan—kode suara kuno yang beresonansi dengan AERIS. Ayzen menamai sistem baru itu: The Scroll Chain. Apa itu Scroll Chain? Berbeda dari AERIS yang berbasis kenangan personal, Scroll Chain bekerja dengan sumpah kolektif. Ia hanya bisa mencatat nama atau kisah yang diakui secara bersama-sama, melalui upacara “Pengucapan Sejiwa.” Setiap kali sekelompok orang menyebut satu nama yang bermakna bagi mereka, jaringan Scroll Chain menyimpannya sebagai Core Scroll—gulungan inti yang tak bisa dibeli, dijual, atau diakses oleh siapa pun yang tidak ikut dalam pengucapan itu. Scroll Chain mengikat bukan hanya sihir dan suara, tapi juga niat. Tanpa niat yang benar, sistem tidak akan aktif. Dan dengan itu, Ayzen mengunci ulang nama-nama yang mulai diperdagangkan. Mereka yang sudah menjual ingatan mereka pun mendapat satu kesempatan untuk menariknya kembali—dengan menyebutnya ulang bersama-sama, dalam upacara penyembuhan. Namun, ancaman baru muncul. Pihak Ordo Simbiotik, yang kini kehilangan kendali atas AERIS dan gagal menembus Scroll Chain, membentuk cabang baru: “Arsip Kosong.” Mereka menciptakan token palsu, versi tiruan dari cerita-cerita lama yang mereka edit dan sesuaikan untuk mengontrol emosi publik. Mereka sebar lewat sihir penyiaran. Kini bukan hanya penghapusan yang jadi bahaya—tapi distorsi. Di perbatasan barat, dalam ruangan kecil penuh simbol suara, Selena, Tharell, Nihil, dan Ayzen berkumpul kembali. “Dulu kita melawan kehampaan,” kata Selena. “Sekarang kita melawan ilusi,” jawab Nihil. Ayzen menggenggam gulungan pertamanya. “Kalau begitu, kita akan jadikan Scroll Chain bukan hanya tempat menyimpan… tapi tempat menyaring.” Tharell mengangkat kepala. “Kita jadikan ia tempat verifikasi suara yang jujur?” Ayzen mengangguk. “Mulai malam ini, setiap nama yang ingin disimpan, harus melewati Ruang Pantulan. Ia akan diucapkan, dilihat, dan dirasakan. Jika ia jujur, ia akan bercahaya. Jika palsu, ia akan lenyap.” Dan begitu bab baru dimulai. Bukan tentang perang pedang. Bukan tentang tahta. Tapi tentang mempertahankan apa arti sebuah nama… di dunia yang mencoba menjual semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN