Bab 9

1544 Kata
Malam berganti pagi, namun langit di atas Glaeyra masih diselimuti semburat kelabu. Kabut belum juga bubar, seolah dunia masih belum percaya bahwa kehampaan telah dikalahkan oleh satu hal yang paling sederhana—kenangan. Tiang Ingatan berdiri tenang di tengah lembah, sinarnya melembut, bukan karena padam, tetapi karena telah menyatu dengan tanah, udara, dan setiap bisikan hati yang enggan lupa. Nama-nama yang sempat terhapus kini menjadi bagian dari nadi dunia. Mengalir tanpa suara, tapi tetap hidup. Ayzen menatap langit yang muram. Di tangannya, fragmen lama dari pedangnya akhirnya hancur menjadi debu. Ia menghembuskannya ke udara. “Aku tidak butuh senjata lagi,” gumamnya. “Dunia telah memilih ingatan sebagai pelindungnya.” Di sisinya, Selena duduk memeluk lutut, rambutnya berantakan, wajahnya pucat tapi damai. Elara tertidur bersandar pada buku sejarah yang belum rampung. Nihil mengurus sisa luka pada anak-anak magis yang masih hidup, pelan dan penuh perhatian. “Ayzen,” suara Selena nyaris seperti bisikan, “apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Ayzen memandangi lembah yang hancur. Namun di balik kehancuran, ia melihat tunas kecil tumbuh di antara retakan batu. “Dulu aku ingin dunia tunduk. Kini aku hanya ingin dunia bertahan.” Selena menatapnya dalam-dalam. “Dulu aku ingin menghapus namamu dari setiap catatan. Kini aku justru menuliskannya.” Ayzen tertawa kecil, pertama kalinya dalam ratusan tahun. “Itulah ironi sejarah. Musuh bisa menjadi penjaga. Dan penjaga bisa berubah jadi penghapus. Semuanya tergantung siapa yang bercerita.” Langkah kaki menghampiri. Seorang anak lelaki membawa secarik kertas lusuh. “Aku ingin menyumbang satu nama,” ucapnya polos. “Namanya Ibuku. Dia yang selalu bercerita tentang para pelindung yang tak dikenal.” Ayzen berlutut dan menerima kertas itu. Di sana tertulis: > “Lira — Penenun langit malam, yang tak pernah disebut dalam puisi, tapi selalu hadir di doa.” Ayzen mengangguk. “Nama ini akan hidup.” Selena berdiri. “Sudah saatnya kita pulang. Tapi bukan untuk beristirahat.” “Melainkan menulis ulang,” lanjut Nihil sambil membantu Elara bangun. Pulang kali ini bukan berarti kembali ke tempat asal. Tapi menuju tempat baru, di mana cerita akan terus berkembang, tumbuh, dan bertahan. Mereka membawa gulungan-gulungan baru. Bukan gulungan kutukan atau mantra perang, tetapi cerita-cerita kecil yang nyaris hilang. Tentang mereka yang mengisi dunia, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan pengabdian. Dan Ayzen, yang dulu disebut sebagai Kaisar Iblis, kini dikenal sebagai Penjaga Nama. Ia tak lagi duduk di atas takhta. Ia berjalan di antara mereka, menjadi saksi, mendengar, mencatat, dan menyebut. Beberapa tahun kemudian... Di sebuah desa kecil di Utara, seorang anak perempuan membuka buku cerita yang usianya sudah lusuh. Di halaman pertama, tertulis: > “Untukmu, yang mungkin merasa tidak penting. Ketahuilah, nama yang kau bawa… menyimpan sejarah yang bisa menyelamatkan dunia.” Ia tersenyum. Dan mulai membaca. Dua belas tahun setelah perang nama itu, dunia tidak lagi sama. Tiang Ingatan tetap berdiri di tengah Glaeyra, kini dilindungi oleh hutan suci yang tumbuh di sekelilingnya. Orang-orang datang bukan untuk berperang, tapi untuk berbisik pelan. Menyebut nama-nama lama yang dulu nyaris lenyap, agar tetap dikenang oleh tanah dan langit. Selena kini mengajar di Akademi Velmora, bukan sebagai penyihir perang, tapi sebagai Pengingat. Ia tidak mengajarkan sihir bertarung, tapi sihir mendengar. Sihir menulis. Sihir memahami luka yang tak kelihatan. “Namamu adalah pintu pertama yang membawamu kembali saat dunia mencoba melupakanmu,” begitu kata-kata pertamanya setiap memulai kelas. Elara menghilang setelah perang. Beberapa bilang ia berjalan keliling benua, menuliskan kisah-kisah di tembok-tembok desa yang tidak punya buku. Yang lain bilang ia tinggal di tempat di mana cahaya bertemu bayangan, menenun kenangan agar tidak runtuh. Tak ada yang tahu pasti. Nihil membangun Lingkaran Kata. Sebuah tempat perlindungan untuk siapa pun yang kehilangan identitas. Di sana, tak ada ujian. Tak ada gelar. Hanya ruang untuk menulis kembali siapa dirimu, dengan tanganmu sendiri. Dan Ayzen? Ia memilih hidup di balik topeng. Tidak ada lagi yang tahu keberadaannya, kecuali satu atau dua orang. Tapi kisahnya terus diceritakan. Kadang ia disebut sebagai arwah pelindung. Kadang sebagai lelaki tua yang membantu memperbaiki jembatan. Dan kadang... hanya sebagai suara yang menyebut satu nama, agar tidak padam. Namun, seperti semua cerita yang terlalu damai, dunia mulai gelisah lagi. Sebuah sekte muncul diam-diam. Mereka menyebut diri mereka Putra Sunyi. Tidak keras. Tidak berisik. Tapi merayap. Mereka tidak ingin dunia kembali ke masa kegelapan. Tapi mereka percaya dunia seharusnya tidak membawa beban sejarah yang terlalu berat. Bagi mereka, ingatan adalah belenggu. Dan nama adalah racun yang mencegah dunia lahir kembali dengan bebas. Pemimpinnya dikenal dengan satu nama: Yuel. Tak banyak yang tahu dari mana ia berasal. Tapi bisikannya menyebar cepat. Ia mengajarkan anak-anak untuk membuat nama baru setiap bulan, agar tak terikat oleh kenangan. Ia memimpin ritual pembakaran catatan lama, bukan dengan api sihir, tapi api sunyi—api yang tidak meninggalkan abu, hanya kehampaan. Suatu malam, seorang murid Selena yang baru, bernama Tharell, datang dengan mata merah dan langkah limbung. “Mereka… membakar nisan ayahku,” bisiknya. Selena menatapnya, jantungnya menegang. “Siapa?” “Putra Sunyi. Mereka bilang… jika orang sudah mati, kita tidak perlu lagi mengingatnya. Karena mengingat hanya membawa luka yang tak bisa sembuh.” Selena diam. Luka lama berdenyut kembali. Ia tahu... kedamaian selalu punya musuh yang tidak terlihat: keinginan untuk melupakan. Di tempat lain, di sebuah rumah kecil di bawah tebing, seorang lelaki tua tengah mengukir nama di atas batu. Tangan kanannya terluka, matanya samar. Tapi ukirannya tetap dalam dan jelas. Nama itu: Selena Elvareth. Ayzen berhenti mengukir sejenak. Ia menatap langit. Sepertinya langit mulai menggelap... bukan karena malam. Tapi karena sesuatu sedang berusaha memadamkan kembali cahaya. Ia tahu, sudah waktunya ia keluar dari bayangan. “Yuel…” ucapnya pelan. “Kau tak mencoba menguasai dunia. Kau mencoba membuat dunia lupa bahwa ia pernah hancur... dan pernah diselamatkan.” Di akhir malam, seekor burung kecil dengan bulu putih dan mata emas terbang menuju Akademi Velmora. Di paruhnya, secarik kertas: > “Untuk Selena. Aku akan kembali. Dunia butuh penjaga ingatan lagi. Ayzen.” Selena membaca surat dari Ayzen berkali-kali. Tulisan tangan itu sudah usang, seperti ditulis dengan pena yang ragu tapi tekadnya kuat. Ia duduk di perpustakaan bawah tanah Akademi Velmora, ruangan paling sunyi dan paling tua, tempat semua nama-nama lama disimpan dalam bentuk nyaris mati—huruf-huruf rapuh yang menunggu untuk disebut ulang. Di sampingnya, Tharell menatap kertas dengan mata yang belum sepenuhnya mengerti. “Dia akan kembali?” tanya bocah itu. Selena tidak menjawab langsung. Ia hanya menutup mata sejenak, mengingat suara Ayzen. Suara yang dulu keras, lalu dingin, lalu... damai. “Jika Ayzen menulis, itu artinya dunia sedang berada di ambang penghapusan lagi.” “Lalu... kita akan berperang?” tanya Tharell, pelan. “Kita akan mengingat,” jawab Selena tegas. “Perang paling mematikan bukan saat pedang terhunus. Tapi saat nama tak lagi diucapkan.” Di sisi lain benua, dalam kota abu bernama Eltora. Yuel berdiri di tengah aula besar yang dulunya kuil. Kini, tiang-tiangnya hitam dan patung-patungnya kehilangan wajah. Ia mengenakan jubah abu-abu kelam, dengan kerah tinggi menutupi leher, dan lencana bundar putih polos di d**a—simbol Putra Sunyi. Di depannya berdiri puluhan pengikut muda. Wajah mereka bersih, tapi kosong. Mata mereka jernih, tapi tidak menatap siapa pun. Yuel mengangkat tangannya. “Siapa kalian hari ini?” Serempak mereka menjawab, “Tak bernama.” “Dan siapa kalian besok?” “Juga tak bernama.” “Kenapa?” “Karena ingatan adalah rantai, dan nama adalah jangkar yang menahan jiwa.” Yuel tersenyum. Ia menoleh ke patung tanpa wajah di belakangnya. “Mereka dulu para penjaga sejarah. Kini mereka penjaga keheningan. Aku tak ingin menghancurkan dunia. Aku hanya ingin... membebaskannya dari rasa bersalah.” Lalu ia membuka sebuah gulungan. Bukan gulungan sihir. Tapi daftar nama. Daftar para pemegang memori yang masih aktif di seluruh dunia. Di antara nama-nama itu: Selena Elvareth, Nihil, Tharell, dan... Ayzen. Malamnya, di tepi hutan Ingkar, Ayzen duduk di bawah langit yang tak lagi penuh bintang. Ia memegang batu kecil yang diukir dengan nama “Kael.” “Maaf,” bisiknya. Sebab ia tahu, Kael dulu tidak sepenuhnya salah. Dunia telah membuatnya merasa tak berarti, membuatnya percaya bahwa satu-satunya cara agar suara didengar adalah dengan membungkam semua lainnya. “Yuel... apakah kau juga anak dari luka itu?” Ayzen berdiri. Tongkat kayunya menggurat tanah. Ia sudah tidak membawa pedang. Tapi langkahnya tetap seperti kaisar yang tahu ke mana harus berjalan. “Kalau dunia benar-benar ingin melupakan... maka aku akan menjadi satu-satunya alasan untuk mengingat.” Beberapa hari kemudian, di Akademi Velmora. Tharell menemukan sesuatu yang mengubah segalanya. Dalam buku tua yang hampir hancur, di balik lembaran terakhir, ia membaca sebuah nama kecil yang tercetak samar. > “Yuel Kaelson.” Tangannya gemetar. “Kael... dia anak Kael.” Selena yang mendengar itu langsung berdiri. Dunia berputar di kepalanya. Jika itu benar… maka Yuel bukan hanya pewaris dendam, tapi juga pewaris luka terdalam dari sejarah. “Dia tidak ingin membalas. Dia ingin menyempurnakan penghapusan,” gumam Selena. Di Aula Sunyi, Eltora. Yuel menatap langit-langit saat bayangan mulai menggeliat di setiap sudut aula. “Ayzen sudah kembali,” katanya tanpa emosi. Salah satu pengikutnya bertanya, “Kita akan menyerangnya?” Yuel menggeleng. “Kita akan menawarinya satu hal yang tidak bisa ia tolak.” “Apa itu?” Yuel tersenyum—dingin, tenang, dan kosong. “Kesempatan untuk menghapus namanya sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN