Bab 8

1487 Kata
Langkah-langkah mereka menuju Selatan tidak ringan. Velmora memang telah menjadi pusat cahaya dan pengetahuan kembali, namun bayangan lama tak pernah benar-benar pergi. Setiap kali seseorang menyebut nama Ayzen dengan hormat, ada yang mengucapkannya dengan amarah. Dunia telah berubah, tapi luka lama belum sembuh. Belum sempat. Selena berdiri di pelataran gerbang barat. Jubahnya mengepul tertiup angin, dan simbol E-N-S di lehernya berkilau lembut. Nihil datang membawa tiga gulungan tua dari ruang catatan. Elara menyusul sambil memanggul ransel berisi fragmen sihir dan batu pelindung. "Kita menuju arah bekas reruntuhan Glaeyra," ucap Selena, tenang. "Glaeyra sudah ditinggalkan sejak perang Ayzen dulu," sahut Nihil. "Justru di sanalah nama-nama yang hilang berakar." Mereka bertiga tidak berangkat sebagai pahlawan. Mereka bukan penyelamat. Mereka hanya sekelompok murid sejarah yang menolak membiarkan satu kalimat pun hilang dari dunia. Di sepanjang perjalanan, mereka melewati reruntuhan desa yang tak lagi memiliki identitas. Rumah-rumah tak bernama. Sungai tanpa sebutan. Bahkan binatang yang melintas pun terasa seperti makhluk tanpa asal. Seolah dunia mulai kehilangan kemampuan untuk mengingat. "Aku mulai takut," bisik Elara. "Apa jadinya kalau semua ini berhasil? Kalau dunia benar-benar lupa?" Selena menatapnya, dalam. "Kita tetap ingat. Dan itu sudah cukup untuk menyalakan kembali yang padam." Sementara itu, Kael semakin kuat. Ia duduk di ruang bawah tanah besar yang dulu adalah ruang sidang kerajaan lama. Dindingnya penuh ukiran sejarah. Tapi kini, sebagian besar ukiran telah mengelupas, terkikis oleh ritual-ritual penghapusan nama. Di tangannya ada fragmen pedang Ayzen. Tak utuh, hanya seukuran jari telunjuk. Tapi cukup untuk menyimpan bekas dendam turun-temurun. "Dia menghapus nama ayahku," ucap Kael perlahan. "Sekarang, aku akan menghapus semua nama yang pernah disebut dalam kemenangan mereka." Ia memanggil satu demi satu nama lama, lalu menyiramkannya ke dalam api darah. Elien. Mora. Rami. Yash. Setiap nama lenyap, terasa ada yang bergetar di seluruh benua. Bukan hanya catatan yang hilang. Tapi juga ingatan. Anak-anak lupa siapa yang menciptakan sungai di belakang rumah mereka. Orang tua lupa siapa yang menyembuhkan wabah lima tahun lalu. Bahkan langit kehilangan warna yang dulu disebut "Biru Mora". Ayzen berdiri di sisi jurang kristal. Matanya tertuju pada cahaya dunia yang mulai meredup. Arna berdiri di sampingnya, membawa gulungan tua yang ia temukan di bawah reruntuhan Kuil Hening. "Kau yakin tidak akan turun tangan?" tanya Arna. "Aku pernah melawan dunia. Aku menang, tapi meninggalkan kehancuran. Jika aku melawan lagi, dunia akan kalah... dan tidak bisa bangkit." Arna menunduk. "Lalu siapa yang akan melawan?" Ayzen menatap ke arah Selatan. Tatapannya bukan kemarahan. Tapi keteguhan yang lembut. "Mereka yang memilih untuk mengingat. Karena mereka tidak didorong oleh dendam. Tapi oleh cinta terhadap kebenaran." Di Glaeyra, Selena dan timnya sampai di sebuah gua hitam yang tak pernah dicatat di peta manapun. Di dalamnya, dinding penuh ukiran nama. Tangan-tangan kecil, nama-nama pelindung, bahkan cerita rakyat yang pernah nyaris punah. Elara menempelkan telapak tangannya ke batu dan berbisik, "Tolong... tunjukkan pada kami, dari mana luka ini dimulai." Cahaya biru muncul. Dinding batu menampakkan gambar seorang anak yang memegang buku, menangis di tengah api. Buku itu bertuliskan "Sejarah Duka", dan di belakangnya, siluet seorang lelaki dengan lambang ☼ di dadanya. "Itu Kael," ucap Nihil. "Tapi dia masih kecil." Selena mengepalkan tangan. "Dia dibesarkan dalam cerita yang hanya punya satu sisi." "Kalau begitu," lanjut Elara, "kita akan menulis sisi lainnya." Malam itu, di tengah api unggun kecil, mereka menulis ulang nama Mora. Bukan untuk mencetak ulang sejarah. Tapi untuk menyebutnya, agar dunia mengingat. Nama Mora mulai bersinar kembali di udara. Lambat, pelan, lalu mengendap ke dalam batu, rumput, dan air. Dan dari kejauhan, di langit Selatan, satu bintang kembali bersinar. Ayzen membuka matanya. "Mereka melakukannya." Di tempat lain, Kael merasakan sesuatu. Ia terhuyung. Fragmen pedang di tangannya bergetar. "Apa... mereka mencoba menulis ulang?" Seorang pengikutnya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?" Kael bangkit. "Kita buat sejarah baru. Tapi bukan dengan tinta... melainkan dengan darah." Ia memerintahkan seluruh pasukan Umbra Vitae menuju Glaeyra. Kali ini, bukan untuk membakar nama. Tapi untuk membakar orang-orang yang berani mengingatnya. Langkah kaki dari ratusan pasukan Umbra Vitae mengguncang lembah Glaeyra. Tanah yang dulu sunyi kini bergemuruh. Di atas langit, kabut pekat menjulur seperti tangan gelap, perlahan menutupi sinar bintang yang baru saja kembali. Di tengah lingkaran api unggun yang mulai padam, Selena berdiri tegak. Di belakangnya, Elara memegang gulungan catatan sejarah yang mereka tulis ulang semalaman. Nihil sudah bersiap di garis pelindung sihir yang ia ukir sendiri dengan darah dari jari telunjuknya. “Berapa waktu lagi?” tanya Selena. “Satu jam sebelum mereka tiba,” jawab Elara pelan. “Mungkin kurang.” Nihil menambahkan, “Mereka tidak membawa sihir biasa. Aura di langit sudah mulai mengubah warna tanah. Ini sihir yang memakan memori.” Selena menarik napas dalam-dalam. “Kita tidak akan lari. Ini bukan tentang siapa yang menang. Ini tentang siapa yang berani bertahan.” Di tengah lembah, mereka mendirikan Tiang Ingatan. Sebuah tonggak besar dari kristal putih yang tertanam fragmen sihir sejarah. Setiap kali nama disebut ulang dengan benar, kristal itu menyala. Dan jika cukup banyak nama dinyalakan, maka dunia akan mengingat kembali... meski tubuh mereka hancur. Kael berdiri di ujung lembah. Di belakangnya, ratusan pengikut berbaju hitam membawa bendera tanpa lambang. Hanya satu simbol terpampang di udara: lingkaran putih kosong, tanda dunia tanpa narasi. "Tiang itu harus dihancurkan," ucap Kael dingin. "Karena selama itu berdiri, nama-nama mereka akan kembali. Dan penderitaan kita tak akan pernah diakui." Salah satu pengikutnya bertanya, "Kenapa tidak kita gantikan dengan nama-nama kita?" Kael menjawab, "Karena selama mereka diingat, nama kita akan selalu dianggap ancaman. Kita tidak ingin ditulis ulang. Kita ingin mereka dilupakan." Benturan pertama terjadi saat langit berubah merah. Serangan sihir darah dari Umbra Vitae menyentuh pelindung yang dibuat Nihil, menciptakan letupan seperti denting lonceng besi. Selena memimpin barisan depan. Ia tidak menggunakan pedang. Hanya kata-kata. Di tangannya ada buku. Setiap kali ia menyebut nama dan kisah seseorang yang telah dilupakan, cahaya muncul dari kristal Tiang Ingatan. “Rami, pengukir batu sejarah.” Satu cahaya menyala. “Elien, pencipta hujan musim keempat.” Cahaya kedua menyala. Kael murka. “Serang dia!” Tiga penyihir menyerang Selena. Tapi Elara melangkah maju, menangkis dengan sihir pelindung berbentuk pelat-pelat kata. Mereka bukan perisai besi, melainkan huruf-huruf bercahaya. Setiap kalimat yang terucap menjadi perlindungan. “Mereka bukan legenda. Mereka pernah hidup,” gumam Elara. Di sisi lain lembah, Nihil memimpin anak-anak magis yang tersisa. Mereka tidak kuat secara sihir. Tapi mereka menghafal. Setiap anak membaca ulang satu paragraf sejarah. Setiap kalimat menyalakan satu bintang di langit. Bumi bergetar. Tapi bukan karena sihir. Melainkan karena dunia mulai sadar: ada nama-nama yang ingin kembali dikenang. Kael merasakan tubuhnya melemah. “Terlalu banyak nama diaktifkan,” bisiknya. “Kalau ini terus terjadi, semua memori yang kita hapus akan bangkit lagi.” Seorang pengikutnya berkata, “Kael, kau bisa pakai itu…” Kael menatap gulungan terakhir miliknya. Gulungan terlarang. Di dalamnya tertulis: Sihir Penghapus Akar Nama — sihir tingkat ketujuh. Bukan hanya menghapus catatan dan ingatan, tapi juga akar dari keberadaan. Siapa pun yang namanya terkena sihir ini, akan seolah tak pernah ada. Kael membuka gulungan. Tatapannya tak gentar. “Satu nama harus hilang selamanya.” Dan ia menyebut: “Selena Elvareth.” Cahaya merah menghantam langit, turun seperti tombak dari surga yang disulap menjadi penjara. Sihir itu bukan hanya mengarah ke tubuh Selena, tapi juga ke semua catatan, kenangan, dan tempat yang pernah menyebut namanya. Di perpustakaan Velmora, halaman yang memuat nama Selena mulai menghitam. Di benak anak-anak, wajah Selena mulai buram. Elara memekik, “Dia akan lenyap!” Nihil segera mengangkat tangan, menggambar rune penyambung akar nama. Tapi tidak cukup cepat. Cahaya merah hampir menyentuh Selena. Dan saat itu, dari langit… terdengar sebuah suara. > “Aku ingat dia.” Suara itu tenang, dalam, dan menggema dari setiap dinding dunia. Ayzen muncul. Tidak dalam bentuk ilahi. Tidak sebagai kaisar. Tapi sebagai saksi. Ia berdiri di antara dua pasukan. “Namanya Selena Elvareth,” ucapnya. “Ia yang menyebut namaku saat seluruh dunia membungkamnya. Ia yang menulis ulang sejarah bukan karena ingin menang, tapi karena tidak ingin ada yang hilang tanpa sebab.” Sihir penghapus yang diarahkan ke Selena berhenti di udara. Ragu. Terpecah. Karena satu suara, jika cukup kuat, bisa menahan kehampaan. Kael berteriak, “Kenapa kau ikut campur lagi?!” Ayzen menatapnya. “Karena sejarah tidak bisa ditulis hanya oleh satu sisi. Kau ingin dunia mengingat luka. Aku setuju. Tapi bukan dengan menghapus yang lain.” Tiang Ingatan menyala penuh. Semua nama yang sempat dipadamkan kini bersinar di langit. Kael berlutut, tubuhnya retak karena sihirnya sendiri terpantul balik. Ayzen menghampirinya. “Namamu akan ditulis, Kael. Tapi sebagai pengingat, bukan sebagai penghapus.” Kael menangis. Tapi bukan karena kalah. Melainkan karena untuk pertama kalinya... namanya disebut, bukan dengan benci. Hari itu, perang tidak dimenangkan dengan pedang atau darah. Tapi dengan kalimat. Dengan ingatan. Dengan keberanian menyebut nama yang pernah ingin dilupakan. Dan Selena berdiri, tubuhnya utuh, namanya tetap hidup. Ia menatap Ayzen. “Aku kira kau tidak akan datang.” Ayzen tersenyum. “Aku tidak datang untuk bertarung. Tapi untuk mengingat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN