Langit perlahan berubah, dari kelabu yang lama tertahan menjadi jingga keemasan yang lembut menyapu puncak pegunungan. Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, Velmora tidak hanya menyambut pagi—ia mengingatnya.
Di salah satu balkon menara timur, Selena berdiri sendirian. Rambutnya ditiup angin pelan, dan cahaya dari simbol E-N-S menyinari wajahnya dengan semburat hangat. Tangan kanannya memegang kristal kecil — pecahan dari ruang bawah yang dulu menyimpan sisa kenangan Ayzen.
Kini, kristal itu berdenyut pelan… seolah jantung yang tak ingin berhenti memanggil.
“Elara bilang… langit tidak lagi bisu,” ucapnya, meski tak ada siapa-siapa di sana.
Dan langit benar-benar menjawab.
Dari arah barat, awan membuka jalur. Cahaya menembus hingga ke lantai bawah Velmora, menerangi lorong-lorong sejarah yang sempat padam. Nama-nama yang dulu dibakar dari buku, kini mulai ditulis ulang. Bukan oleh tangan yang berkuasa, tapi oleh mereka yang memilih untuk mengingat.
Di lembah dataran hitam tempat Ayzen dan Arna duduk, suasana masih senyap. Tapi bukan senyap yang menakutkan—melainkan semacam ketenangan setelah dunia melewati mimpi buruk.
Ayzen menatap langit, lalu memejamkan mata.
“Aku bisa dengar mereka,” katanya.
“Siapa?” tanya Arna.
“Orang-orang yang mulai percaya bahwa nama bukan beban. Tapi warisan. Dan mereka mulai menyebutkannya lagi… tanpa takut.”
Arna menoleh. “Apa kau akan kembali ke Velmora?”
Ayzen menggeleng. “Tidak untuk saat ini. Dunia tidak butuh dewa baru. Ia butuh ruang untuk memilih ulang arah.”
Sementara itu, di ujung utara, sebuah gerbang lama terbuka. Bukan karena dihancurkan. Tapi karena seseorang mengetuknya dengan penuh hormat. Dari dalam muncul seorang lelaki tua berjubah biru gelap, membawa buku besar dengan segel emas.
“Nama Ayzen muncul kembali,” gumamnya. “Berarti waktu telah membalikkan arah.”
Orang-orang dari peradaban tua — yang selama ini tersembunyi — mulai bergerak. Karena jika Ayzen telah bangkit tanpa membawa kemarahan, maka dunia sedang membuka kembali halaman yang pernah dikunci paksa.
Di Velmora, Selena, Nihil, dan Elara duduk di meja lingkaran besar.
“Setelah ini?” tanya Nihil.
“Kita bentuk Lembaga Pemelihara Nama,” ucap Elara yakin. “Bukan sekadar mencatat sejarah, tapi menjaga cerita yang nyaris hilang.”
Selena menambahkan, “Kita bukan hanya murid. Kita adalah saksi. Dan saksi… harus menulis.”
Nihil tersenyum. “Kalau begitu, ini bukan akhir Ayzen.”
Selena menatap langit.
“Ini awal kita.”
Dan di jauh… sangat jauh di batas dimensi yang bahkan para dewa tak mau melangkah ke sana, Ashael berdiri. Bukan sebagai makhluk tanpa nama. Tapi sebagai wujud baru, dengan mata yang kali ini memantulkan harapan.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Untuk mengingatku, bahkan ketika aku lupa siapa aku.”
Ia menatap lembah dunia di bawahnya.
Lalu melangkah ke arah fajar.
Bukan untuk mengambil alih dunia.
Tapi untuk menjaganya.
> “Mereka yang diingat tidak pernah mati. Dan mereka yang memilih untuk mengingat... telah mengalahkan kehampaan.”
— Akhir dari Arc Kehampaan
Velmora kembali menjadi pusat pembelajaran sihir, sejarah, dan nama. Tapi tak semua menyambut kebangkitan Ayzen dengan damai.
Di benua selatan, sebuah organisasi rahasia yang disebut "Umbra Vitae"—Bayangan Kehidupan—bergerak dalam senyap. Mereka adalah para keturunan dari mereka yang pernah dikalahkan Ayzen saat ia masih menjadi Kaisar Iblis. Bagi mereka, Ayzen bukan pahlawan. Ia adalah penindas.
Dan kini, Ayzen hidup kembali. Dunia memujinya. Namanya dipahat ulang.
“Lalu bagaimana dengan luka yang ditinggalkannya?” tanya Kael, pemimpin generasi baru Umbra Vitae. Di balik wajah tampan dan rambut peraknya, tersembunyi kemarahan yang turun-temurun. “Jika dunia memilih untuk mengingat Ayzen… maka kita akan membuat dunia mengingat luka kami juga.”
Di Velmora, Selena membaca laporan dari tim observatorium.
“Tiga retakan dimensi kembali muncul,” ucapnya. “Tapi tidak alami. Ada yang membukanya secara paksa dari luar.”
Nihil mengernyit. “Mereka mencoba menarik bayangan dari zaman sebelum Ayzen…”
Elara berdiri cepat. “Kalau benar… kita harus peringatkan Ayzen.”
Selena menggeleng. “Tidak. Kita tidak bisa mengandalkan dia terus-menerus. Dia sudah memberi kita nama, sekarang… kita harus jadi orang yang menjaga dunia ini.”
Tapi bahkan saat Selena berkata begitu… jauh di tempat tersembunyi, Ayzen sudah merasakan getarannya. Sebuah sihir berdarah—kuno, brutal, dan ditinggalkan karena terlalu berbahaya—telah dibangkitkan.
Dan ia tahu… satu-satunya tempat di dunia ini yang masih menyimpan akses ke sihir darah tingkat kelima adalah:
> Perpustakaan Bawah Eldraeth.
Malam itu, Selena dan timnya menyusup ke reruntuhan Eldraeth. Dalam keheningan, mereka menemukan jejak sihir merah mengalir di antara batu-batu hitam.
Di salah satu altar kuno, tertulis sebuah kalimat:
> “Yang dilupakan akan kembali. Tidak untuk dikenang… tapi untuk membalas.”
Nihil berbisik, “Ini bukan hanya tentang Ayzen.”
Elara menambahkan, “Ini tentang sejarah. Mereka ingin menghancurkan semua yang membentuk dunia sekarang.”
Selena menggenggam pedangnya.
“Kalau begitu… kita tidak hanya melindungi nama Ayzen. Tapi juga semua yang pernah diberi nama oleh dunia ini.”
Dan di pegunungan paling gelap di selatan, Kael menatap langit. Ia menggenggam potongan pedang tua — milik ayahnya, salah satu panglima yang dikalahkan Ayzen berabad lalu.
“Dulu dia membakar kota kami,” katanya kepada anak buahnya.
“Sekarang, kita akan bakar kenangannya.”
Dan dari balik kabut, muncul ratusan bayangan dengan jubah hitam. Masing-masing membawa satu simbol: nama leluhur mereka… yang tidak pernah dipulihkan.
Langit di atas Velmora hari itu tampak bersih. Tidak ada retakan. Tidak ada guntur sihir. Tapi di dalam menara tertinggi, tiga nama sibuk menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sihir mana pun: arsip yang tak bisa dihapus.
“Jika mereka berniat menghapus sejarah,” ujar Selena sambil menggulung peta besar di meja, “maka kita akan menulis ulang dunia ini dengan tinta yang tidak bisa dipalsukan.”
Nihil mengangguk. Ia menulis rumus-rumus sihir pelindung di udara, membentuk pola berbentuk cincin: Rune Proteksi Waktu dan Kebenaran — sihir langka yang hanya bisa dibentuk bila dilandasi oleh niat murni, bukan ego pribadi.
Elara, yang dikenal paling sensitif terhadap sihir perasaan, duduk di tengah ruang itu dan menutup matanya. Ia menarik napas dalam. Lalu berkata,
> “Aku bisa dengar mereka. Nama-nama yang ditinggalkan. Mereka menangis, tapi juga menunggu... seseorang yang mau menyebut mereka lagi.”
Ruang itu bernama Arsip Langit. Bangunan baru yang dibentuk bukan dari batu biasa, melainkan serpihan sejarah yang berhasil mereka kumpulkan selama retakan dunia terjadi. Buku-buku terbakar. Gulungan naskah tua. Fragmen sihir kuno. Dan... nama-nama.
Mereka mulai menulis ulang — bukan hanya kisah Ayzen, tetapi juga nama-nama lain yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam sejarah resmi.
> “Ini bukan tentang siapa yang benar,” ucap Selena, “tapi siapa yang berani bicara tentang kebenaran yang tidak nyaman.”
Namun, tak semua menyukai gerakan itu.
Dua hari setelah mereka membentuk ruang arsip, seorang penyusup masuk malam-malam. Ia tidak menyerang. Tidak mengambil apa-apa. Tapi membakar satu buku yang baru selesai ditulis: “Kejatuhan Tiga Raja Selatan”.
Di dinding belakang, si penyusup meninggalkan satu simbol:
> ☼
Lambang Umbra Vitae.
Sementara itu, di perbatasan utara, Ayzen membuka mata untuk pertama kalinya setelah meditasi panjangnya di Gerbang Batu. Arna yang duduk di seberangnya langsung merasa perubahan.
“Kau merasakannya?” tanya Arna.
“Kael mulai menghapus nama,” ucap Ayzen. “Bukan hanya dari buku. Tapi dari ingatan orang.”
“Dia menggunakan sihir darah?”
Ayzen mengangguk. “Tapi bukan sembarang sihir darah. Ia sudah mencapai Tingkat Keenam.”
Arna terdiam. “Itu berarti... ia bisa memanipulasi perasaan sejarah. Membuat dunia percaya bahwa seseorang memang tak pernah ada.”
“Ya. Dan jika ia menghapus terlalu banyak, keseimbangan dunia akan runtuh.”
Di tempat lain, Kael berdiri di tengah lingkaran sihir raksasa. Di sekelilingnya, puluhan pemuda keturunan para pengikut Ayzen yang dulu dibantai—mereka semua bersiap untuk ritual.
Kael menunjuk nama-nama pada gulungan:
Elien, pencipta sihir hujan.
Mora, penyembuh perbatasan utara.
Rami, pengukir batu sejarah.
“Apa gunanya mereka diingat,” ucap Kael, “kalau yang mereka bangun berasal dari penderitaan kami?”
Ia mengangkat pisau darah. Dan satu demi satu, nama-nama itu mulai menghilang dari catatan dunia.
Di Velmora, Elara mendadak gemetar. Ia melihat dinding tempat mereka menulis ulang nama Mora—retak. Lalu menghilang begitu saja.
“Mora...” bisiknya. “Dia... hilang?”
Selena berdiri. “Tidak. Kita bisa menyelamatkan mereka. Kita harus menemukan sumber sihir Kael.”
Nihil menoleh cepat. “Itu berarti... ke Selatan.”
Selena menggenggam simbol E-N-S di lehernya.
“Kita bukan lagi penjaga,” ucapnya. “Kita adalah penantang sejarah. Dan kalau sejarah bisa dibakar... maka kita akan menulisnya lagi, di atas api yang mereka nyalakan.”