Bab 6

1529 Kata
Udara malam itu membawa sesuatu yang lain, aroma hangus dari kenangan yang terlalu lama dipendam. Di tepi tebing tempat Ayzen biasa menyendiri, langit yang tadinya retak kini perlahan merekat. Tapi ia tahu, dunia tidak sembuh hanya karena satu nama dipanggil kembali. Luka yang sempat dilupakan jauh lebih berbahaya dari luka yang masih berdarah. Arna berdiri di sampingnya, matanya menatap langit yang kini menunjukkan warna ungu lembut, seperti sisa dari senja yang tak sempat sempurna. “Ayzen...” bisiknya. “Mereka menyebut namamu.” Ayzen memejamkan mata. Ia bisa merasakannya. Suara tiga jiwa yang terhubung dalam satu keyakinan. Elara, Nihil, Selena. Bukan hanya siswa Velmora. Mereka adalah pelindung terakhir dari apa yang disebut keberadaan. “Dunia mengingatku,” ucap Ayzen, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi bukan untuk memujaku. Melainkan untuk mengadili.” Arna menatapnya tajam. “Kau tak bersalah.” “Aku tak sepenuhnya benar,” jawab Ayzen. “Ada masa di mana aku memutuskan untuk membiarkan dunia tenggelam, karena aku sendiri lelah. Aku diam saat mereka menghapus sejarah. Aku tidak menentang mereka ketika nama-nama mulai hilang.” Arna mendekat, menatap mata lelaki itu yang seperti menyimpan malam tanpa bintang. “Dan sekarang?” “Sekarang aku akan berdiri. Bukan untuk merebut kembali tahta, atau mengulang perang lama. Tapi untuk memastikan tidak ada nama lagi yang dikubur dalam senyap.” Di kejauhan, langit yang hampir sembuh kembali bergetar. Retakan baru muncul, kali ini dari arah barat, tempat Hutan Nyx berada. Tempat yang dulunya menjadi penjaga batas antara dunia nyata dan bayangan. Arna merasakan hawa asing menyelinap di balik angin. “Apa itu?” Ayzen mengerutkan kening. “Bayangan tanpa bentuk. Sisa dari dirinya yang menolak sepenuhnya musnah. Dia sekarang bergerak sendiri, terpisah dari kesadarannya. Dan itu lebih berbahaya.” “Haruskah kita menyusul ke Velmora?” Ayzen menggeleng. “Tidak. Kita harus menuju ke asal segalanya. Tempat di mana namaku pertama kali diukir... dan tempat yang pertama kali dilupakan.” Arna terdiam sesaat. “Kamu bicara tentang... Kamar Tak Bernama?” Ayzen menoleh perlahan. “Ya. Ruang tersembunyi di bawah kerajaan kuno. Tempat yang dibangun dari keheningan. Bahkan para dewa pun enggan menyebutnya.” Langkah mereka dimulai malam itu juga. Tidak ada waktu untuk menunggu. Tidak ada jeda untuk meragukan. Karena setiap detik yang lewat, lebih banyak nama menghilang dari dinding-dinding sejarah. Sementara itu, di Akademi Velmora, Selena menggenggam pecahan cermin terakhir yang mereka bawa dari ruang bawah. Cermin itu masih memancarkan cahaya hangat meski kecil. Di dalamnya terpantul satu nama: Ayzen. Nihil duduk di lantai, matanya memandangi deretan nama yang mulai kembali memenuhi dinding ruang arsip. “Elara belum kembali?” tanya Selena. Nihil menggeleng. “Dia ke ruang observatorium. Katanya melihat sinyal dari arah barat.” Selena bangkit. “Kita harus segera tahu ke mana langkah berikutnya. Jika langit retak lagi, maka semua yang sudah kita lakukan bisa runtuh.” Langkah kaki terdengar cepat. Elara muncul, napasnya tersengal. “Kita punya masalah.” Selena dan Nihil langsung mendekat. “Retakan baru muncul. Tapi ini bukan seperti yang kemarin. Ini seperti... lubang. Menelan cahaya. Bahkan nama-nama yang sudah kembali, hilang lagi saat berada dekat retakan itu.” Nihil menatap Selena. “Kita harus cari tahu di mana pusatnya.” Elara mengangguk. “Ayzen sudah bergerak. Aku bisa merasakannya. Tapi kalau kita hanya bertahan di sini, kita takkan cukup kuat menghentikan kehampaan.” Selena menggenggam batu kecil di lehernya. Ia menutup mata sejenak. “Kalau begitu, kita ke barat.” “Ke Kamar Tak Bernama?” bisik Elara. Selena menatap keduanya. “Tempat nama dilahirkan... dan dilupakan. Kalau dunia berniat menghapus segalanya, maka kita harus kembali ke titik asal.” Mereka bertiga melangkah, menembus batas Akademi Velmora yang masih dikelilingi cahaya pelindung. Tapi mereka tahu, waktu tak lagi bersahabat. Dunia sudah bangkit sebagai sesuatu yang asing. Dan mereka hanyalah tiga nama yang menolak dihapus. Di atas menara tertinggi, simbol E-N-S tetap bersinar samar, seolah menjadi penanda terakhir bahwa sesuatu masih layak dikenang. Dan jauh di kedalaman bumi, di tempat di mana bahkan cahaya enggan menetap, sebuah suara mulai menggeliat. Bukan nama. Bukan bisikan. Tapi kehampaan yang lapar. Kabut pekat menyelimuti dataran hitam yang membentang tanpa ujung. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Hanya sunyi yang menggantung seperti pisau di langit. Ayzen dan Arna berdiri di hadapan gerbang batu tua. Reruntuhan dari zaman sebelum kerajaan pertama pun dibentuk. Tak ada tulisan di dindingnya, hanya tiga cekungan melingkar yang membentuk simbol purba — lambang asal usul nama. Arna menyentuh batu itu. Hangat. Meski tak ada sihir yang terasa, tubuhnya merespons dengan detak jantung yang mempercepat. “Di sinilah semuanya dimulai?” Ayzen mengangguk. “Sebelum kata-kata, sebelum sihir, sebelum sejarah. Ini tempat pertama kali seseorang menamai dirinya sendiri agar tidak lenyap.” Ia menekankan telapak tangannya ke simbol itu. Batu bergemuruh, bukan seperti mesin terbuka, tapi seperti makhluk kuno yang terbangun dari tidur panjang. Pintu itu terbuka. Tanpa suara. Hanya kegelapan yang menganga. Mereka melangkah masuk. Lorong itu tak menyambut mereka dengan api, cahaya, atau perangkap. Hanya kesunyian dan rasa seolah dunia kehilangan batasnya. Tidak ada dinding, tapi langkah kaki mereka tetap menggema. Tidak ada arah, tapi mereka tahu ke mana harus berjalan. “Arna,” ucap Ayzen. “Kalau aku terdiam di tempat ini, kalau aku mulai melupakan... ingatkan aku siapa aku.” Arna menatapnya. “Ayzen. Orang yang menolak membiarkan dunia melupakan. Dan orang yang tak pernah menghapus siapa pun dari hatinya.” Ayzen tersenyum tipis. Lalu mereka melangkah lebih dalam. Semakin jauh, langit-langit ilusi mulai berubah. Cermin-cermin besar menggantung di udara. Tapi pantulannya bukan dari tubuh. Melainkan dari jiwa. Ayzen melihat dirinya... duduk di singgasana emas. Tapi wajahnya kosong. Di sekelilingnya, dunia terbakar. Di bawah singgasananya, ada ribuan mayat. “Ini masa lalu yang ingin kau tinggalkan,” kata Arna, lirih. “Tapi dunia menuntutnya untuk diingat,” jawab Ayzen. “Karena aku tidak hanya korban. Aku juga pelaku.” Ia berjalan melewati cermin itu tanpa ragu. Retakan muncul di permukaan pantulannya. Arna melihat cerminnya sendiri. Seorang gadis kecil dengan mata bengkak karena menangis. Terduduk di bawah pohon tua, memeluk buku yang tak bisa ia baca. “Aku tidak pernah ingin diingat,” bisiknya. “Tapi Ayzen mengajariku bahwa ada yang pantas diperjuangkan.” Ia pun melangkah maju, dan cerminnya retak perlahan. Di akhir lorong itu, mereka tiba di sebuah ruang kosong. Hening. Hampa. Tapi di tengahnya, ada satu kursi batu. Di atasnya, duduk sosok berjubah putih. Wajahnya tak terlihat. Tapi tubuhnya seperti disusun dari ribuan potongan nama. Mengambang, menetes, mengalir turun perlahan. “Aku menunggumu, Ayzen,” ucapnya, suaranya tidak berasal dari tenggorokan, melainkan dari dalam kepala mereka. “Kau makhluk yang membuang namamu sendiri,” kata Ayzen pelan. “Kau yang menolak diingat.” Sosok itu berdiri. Seketika, ruangan berubah. Mereka berdiri di tengah aula raksasa, dipenuhi ratusan bayangan orang-orang yang memanggil nama namun tak terdengar. “Aku tidak membuang namaku,” katanya. “Aku mengorbankannya. Agar tak ada yang bisa mengikatku. Tidak oleh waktu. Tidak oleh dunia.” Ayzen menggeleng. “Kau tidak bebas. Kau hanya sepi.” “Aku damai,” bantahnya. “Damai itu bukan berarti dilupakan.” Sosok itu terdiam. Arna maju. “Kau bisa bergabung kembali. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai nama. Sebagai bagian dari ingatan dunia.” Tiba-tiba, suara retak terdengar di sekitar mereka. Nama-nama mulai menghilang dari tubuh makhluk itu. “Aku... tak bisa kembali,” ucapnya pelan. “Aku tidak tahu siapa aku lagi.” Ayzen menatapnya dalam-dalam. “Kau adalah bagian dari aku. Bagian dari semua orang yang pernah kehilangan. Tapi kini... saatnya kau pulang.” Ia mengangkat tangannya, dan dari telapak tangannya, muncul sinar. Bukan sihir. Tapi kenangan. Potongan-potongan masa lalu: tawa yang hilang, pelukan terakhir, janji yang tak terpenuhi. Sosok itu mulai bergetar. Potongan nama di tubuhnya terbang satu per satu dan mulai melingkar di langit. Arna ikut mengangkat tangannya. Lalu ia mengucapkan satu nama. Nama yang tak ada dalam sejarah. Nama yang ia simpan sendiri sejak kecil. “Ashael.” Sosok itu bergetar hebat. “Ashael,” bisik Ayzen. “Itu namamu. Nama sebelum semuanya dimulai.” Sosok itu runtuh perlahan. Tidak lenyap. Tapi menyatu. Menjadi angin. Menjadi cahaya. Menjadi gema yang kini menyebut satu nama dengan lembut, tanpa rasa takut. Ashael. Langit di atas Velmora kembali utuh. Simbol E-N-S bersinar lebih terang dari sebelumnya. Di ruang arsip, nama-nama kembali memenuhi dinding. Bahkan nama-nama yang tak pernah tercatat mulai muncul. Selena tersenyum. Di sampingnya, Elara dan Nihil menangis. “Ayzen berhasil,” kata Selena. “Elara,” bisik Nihil. “Lihat ini.” Dari tengah ruang, sepotong lembaran terbang, bercahaya keemasan. Di sana tertulis sebuah kalimat: > “Nama adalah keabadian yang dipilih oleh keberanian.” Dan di bawahnya, tertulis tiga nama. Selena. Elara. Nihil. Bukan sebagai pelindung. Tapi sebagai Penulis Baru Sejarah. Di dataran hitam tempat gerbang batu berdiri, Ayzen dan Arna duduk bersama. Di antara mereka, tak ada lagi kehampaan. Hanya senyap yang tenang. “Ashael,” gumam Arna. “Apakah ia akan lahir kembali?” Ayzen mengangguk. “Mungkin bukan sebagai iblis. Bukan sebagai raja. Tapi sebagai seseorang yang akan diingat.” Arna menoleh padanya. “Dan kau?” Ayzen menatap langit yang mulai menunjukkan fajar. “Selama seseorang menyebut namaku dengan jujur, aku tidak akan pernah benar-benar hilang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN