Gak Sadar Tempat

705 Kata
Hanin sedang asik memakan batagor milik Aca sambil mendengar perempuan itu berceloteh ria. Mereka berdua sedang duduk bersebelahan di bangku panjang kantin yang paling belakang, kata Aca biar orang-orang gak bisa denger obrolan mereka. Padahal mah kalau Aca curhat pake suara full volume gitu gimana orang bisa gak denger? "Gue tuh pengen dikasih kepastian, Nin. Gak bisa apa lo tuh bantuin gue--" Aca berhenti berbicara melihat Adam tiba-tiba datang dan duduk disamping Hanin. Aca melotot, "Lo! Ganggu banget, sih!" telunjuknya menunjuk hidung Adam. Adam menoleh dengan tatapan tidak bersalahnya, "Apa? Gue diem." ujar Adam lalu ikut memakan batagor Aca. Aca melotot lagi, ia sudah akan bersuara tapi Hanin langsung menyela, "Udah, lanjut cerita aja. Dia gak ember kali, Ca." "Ih. Gue tau Adam gak ember. Gue kan temenan sama dia dari SMP, Nin. Masalahnya tuh kalau ada dia, lo-nya jadi gak fokus. Adam pasti--nah kan nah kan, kayak gini nih!" Aca bersungut-sungut sambil menunjuk-nunjuk Adam yang sekarang sedang merangkul leher Hanin membawanya mendekat pada Adam lalu menciumi pipi gadisnya itu. Aca makin merengek. Hanin tertawa sambil menjauh dari Adam, "Lagian kamu ngapain sih disini? Sana kek, sama temen kamu." "Loh? Kan temen kamu juga temen aku?" Hanin dan Aca mendengus sebal. Kemudian Adam yang sedang memperhatikan layar hp-nya tiba-tiba beranjak dari kursi, "Iya-iya. Ini Gilang juga nge-chat ngajakin futsal." Adam memasukkan hp-nya ke dalam saku lalu mengecup pelipis Hanin dan mengusap rambut gadis itu. "Nanti aku ke kelas kamu, ya. Pak Danang jamkos, kan?" Hanin mengangguk. "Minggat lo!" ujar Aca yang dibalas Adam dengan jitakan di kepala perempuan pendek itu. Seperti tidak puas hanya menjitak, dari jauh Adam malah berteriak pada Aca, "Kasin deh kena friendzone sama Aldo!" "Fak!" umpat Aca balik berteriak dan berdiri dari kursi panjang yang ia duduki. Setelah memastikan Adam menghilang, Aca menghela nafas sebentar lalu mulai menceritakan cerita yang sempat terpotong tadi. *** Adam menepati janjinya untuk menemani Hanin di kelas karena gadis itu sedang jam kosong. Hanin yang hari ini memilih duduk di bangku pojok paling belakang karena enggan bertatap muka dengan guru bahasa jawa itu sedang mengerjakan tugas di laptop dengan Adam yang disampingnya sedang mengobrol dengan Ega. Suara kursi berdecitan dan isi kelas mulai berlarian. Adam dan Hanin sontak menoleh memastikan apa yang terjadi. "Selamat siang. Silahkan buka buku cetak halaman 38." Sontak semuanya melongo. Ega mengacungkan tangan,  "Bapak bukannya sedang ada urusan di Pasuruan?" Pak Danang membenarkan letak kacamatanya, lalu melihat ke laki-laki tidak berdasi tersebut. "Jadwal berangkatnya masih besok." Ega mengatupkan bibirnya. Berbeda dengan Hanin yang sudah panik mengusir Adam dari kelasnya. Namun Adam tetaplah Adam. Ia malah sibuk mencecap permen yang ada di mulutnya sambil menyandarkan punggung pada kursinya. Seakan keberadaannya yang sebenarnya bukan asli anggota kelas Hanin tidak akan jadi masalah. Hanin berbisik, "Kamu sebelah sini deh duduknya." Adam mengangkat sebelah alisnya, tidak paham. Kemudian decakan kasar terdengar dari perempuan itu, "Jadi kamu yang duduknya paling pojok. Biar gak terlalu keliatan!" Adam hanya memutar bola matanya, lalu berdiri untuk bertukar kursi dengan Hanin. Kemudian menyandarkan kepalanya pada dinding disebelahnya, tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan HP untuk dimainkan. Hanin sendiri sudah sibuk mencatat segala sesuatu yang ditulis Pak Danang di papan tulis. "Dam, ambilin type-ex.." "Dimana?" "Kolong meja." "Kolong meja kamu apa aku?" Hanin mendelik pada Adam, "Cari, dong!" "Cih, galak amat."  Adam membungkuk ke kolong mejanya, "Gak ada." "Ada. Cari yang bener." Lalu kepala Adam bergeser ke kolong meja dengan tangan merogoh kolong. Tangan Hanin yang sudah akan ikut merogoh kolong terhenti di udara karena ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah di atas pahanya. Rok abu-abunya entah sejak kapan dinaikkan sedikit oleh Adam hingga laki-laki itu bisa dengan seenak jidat sibuk mencecap paha Hanin. Hanin menahan nafas saat lidah Adam bermain-main disana. Lidah kekasihnya bergerak berputar sebelum menggigit dan melumat. Tsk. Pasti bikin merah. Batin Hanin kesal. Kemudian Adam bangun dari posisi semula dan meletakkan type-ex didepan Hanin. Adam terkekeh geli melihat raut wajah Hanin yang kesal akan kelakuannya.  Kemudian tangan Adam bergerak mengusap paha yang ia basahi tadi. Menghilangkan jejak salivanya. Walaupun warna merah keunguan tetap tercetak jelas disana. "Gak sadar tempat banget?" sindir Hanin. Adam hanya mengangkat bahunya acuh sambil tertawa. "Pak Danang,  Bu Putri pingsan!" teriakan dari siswi yang tiba-tiba masuk kelas tanpa permisi itu jelas membuat Pak Danang langsung panik dan isi kelas ikut berdiri melihat apa yang terjadi. Terjadi kericuhan di kelas akibat guru cantik itu pingsan, membuat Adam tak berpikir lama untuk mengambil kesempatan. "Hanin," panggil Adam pelan. Hanin menoleh, Adam segera menyambutnya dengan kecupan dibibirnya dan melumat sebentar sebelum bergerak mundur menjauh. Adam menyeringai, sedangkan Hanin langsung mencubit paha Adam sekeras-kerasnya. Sialan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN