Pagi ini Hanin berangkat ke sekolah diantaroleh Adam. Ya, setelah kemarin memberi kejutan untuk cowok itu, Hanin memang menginap. Sejujurnya Adam menyuruh Hanin tidur dikamarnya saja, bersama Adam. Tapi kemudian Hanin teringat bahwa Bunda sudah membersihkan kamar tamu agar bisa ditempati Hanin kemarin. Jadilah Hanin dan Adam tidur di kamar masing-masing. Walaupun Adam berujung mengomel.
Namun, coowk itu tidak masuk sekolah. Katanya beberapa mata pelajaran hari ini tidak ada guru yang masuk.
"Nanti sore aku ke rumah kamu, deh." bujuk Hanin karena memaksa Adam tetap masuk sekolah.
"Aduh. Bukan itu masalahnya. Kamu tuh jangan sering-sering bolos kenapa, sih?"
"Ini baru bolos pertama kali di bulan ini, Yang."
Hanin melotot. Entahlah, laki-laki didepannya ini memang sedikit ajaib.
Namun, sore ini Adam menepati perkataannya. Terdengar suara bel yang dipencet dengan tidak sabaran, Hanin bergegas membukakan pintu untuk Adam yang barusan mengiriminya pesan bahwa ia sudah didepan.
Adam mengecup kilat bibir Hanin lalu menyerahkan salad buah yang Hanin pesan.
"Kamu beli yang dibiasanya, kan?" Hanin membuka salad buahnya dengan tatapan berbinar.
"Iya," jawab Adam seadanya.
Adam duduk disebelah Hanin lalu menyenderkan punggungnya ke sofa. Ia mengamati Hanin yang sedang mencicipi salad buah kesukaannya.
Hanin menoleh ke belakang, "Mau gak?" tawarnya pada Adam.
Adam membuka mulutnya membuat Hanin bergerak menyuapi Adam.
"Kenapa sih suka banget sama salad buah? Padahal mayonaise nya bikin enek," komentar Adam setelah berhasil menelan anggur yang disuapkan Hanin padanya.
"Gak tau. Enak aja gitu."
Hanin melipat kakinya diatas sofa dan menyenderkan punggungnya ke d**a bidang Adam.
Adam menciumi puncak kepala Hanin dan berakhir menaruh dagunya disana. Ia lalu mengambil hpnya dari saku celana dan jarinya bergerak membuka aplikasi chatting.
"Yang," panggil Adam sambil mengecup kepala Hanin lagi.
"Apa?"
"Mau ikut ke Bali gak?"
Hanin langsung menegakkan punggungnya, "Hah? Kamu mau ke Bali?"
Adam mengangguk.
"Kapan? Sama siapa?"
Melihat mayonaise di sudut bibir Hanin, Adam langsung mengusapnya dengan telunjuk.
"Desember kali. Sama anak-anak."
Hanin diam, terlihat berpikir.
"Ikut deh."
"Iyalah. Harus. Kalau kamu gak ikut, aku jadi nyamuk anak-anak disana."
Hanin tertawa. Lalu tawanya mereda melihat sesuatu yang berbeda di kening Adam.
"Kamu lagi jerawatan ya?"
Adam mengangguk, "Rese banget makin hari makin keliatan."
Hanin menaruh cup-nya diatas meja lalu bergerak duduk diatas pangkuan Adam, membuat Adam dengan sigap memeluk pinggang ramping milik Hanin.
Hanin mendekatkan wajahnya pada Adam, "Udah mateng tuh jerawatnya. Aku pites, ya?"
Adam terkekeh geli, "Pites apa sih, Yang?"
"ditekeeen!"
Adam mencekal pergelangan tangan Hanin yang hendak menyentuh jerawatnya.
"Sakit banget, gak?"
"Sakit dikit, kok. Daripada keliatan gede banget gini malah gak ilang-ilang?"
Adam menghela napas pasrah.
"Kalau gak mau, ya, gak papa, sih." ujar Hanin.
"Cium dulu biar gak kerasa sakitnya." ujar Adam mengerling nakal pada Hanin.
Hanin mengerjap bingung, "Jerawatnya dicium?"
"Ngapain kamu nyium jerawat. Nyium akulah, Yang."
Hanin memutar bola matanya.
Jari-jari lentik Hanin menyentuh kedua pipi Adam agar mendongak menatapnya, mengingat posisi Hanin lebih tinggi dari Adam karena Hanin duduk dipangkuan pemuda itu.
Hanin mendekatkan wajahnya pada Adam. Satu senti sebelum benar-benar menyentuh bibir kekasihnya, Hanin berhenti.
"Kilat aja apa gimana?"
Adam yang sudah memejamkan mata jadi membuka mata lagi, "Yang paling enak aja gimana. Duh, Yang, pake tanya segala kapan ciumnya."
Hanin menyengir, membuat Adam tidak sabaran hingga tangan Adam bergerak menarik tengkuk Hanin mendekat sambil berucap, "Keluarin lidahnya."
Lalu Hanin menjulurkan lidahnya sesuai titah Adam. Adam menyecap lidah kesukaannya lalu bermain-main disana. Mereka saling bertukar saliva dan menimbulkan bunyi kecipak-kecipak, membuat tangan Adam jadi ikut merayap masuk ke kaos kebesaran yang dipakai kekasihnya. Tangannya bergerak mengusap punggung mulus Hanin keatas dan kebawah menimbulkan lenguhan keluar dari bibir kekasihnya. Namun karena ia tersadar bahwa Hanin mulai kehabisan nafas, ia menjauhkan wajahnya dan mengakhiri ciumannya.
Hanin terengah beberapa detik, kemudian memukul lengan kiri Adam, "Sekarang tangannya nakal, ya!"
Adam menyengir, kemudian segera mengalihkan pembicaraan.
"Katanya mau mencetin jerawat aku?"