Hanin membuka pintu kamar Adam sepelan mungkin agar kekasihnya tidak bangun sebelum Hanin selesai mempersiapkan kejutannya. Hanin mendekor kamar Adam mulai dari dinding dan lampu-lampu. Ia juga memasang figura besar fotonya bersama Adam di Bali tahun lalu.
Setelah menaruh kue cokelat bertuliskan "happy birthday, honey" di nakas meja, kemudian membuka fitur kamera pada hp-nya dan memulai vlog ala-ala.
Hanin melompat ke kasur dan langsung mencium pipi Adam.
"Happy birthday to you, happy birthday to you!" suara Hanin yang tidak ada merdu-merdunya sama sekali itu membuat Adam terbangun. Malah langsung membuka mata lebar.
Seburuk itukah suara Hanin?
"Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you." lanjut Hanin menyanyi yang diakhiri dengan satu kecupan lagi pada pipi Adam.
Adam tersenyum sambil memejamkan mata, "Thank you, sayang."
"Bangun dulu, kek. Aku bawa kue buat kamu."
Adam mengangkat alisnya melihat tak ada lilin di atas kue yang dibawa Hanin, "Lilinnya mana? Aku gak tiup lilin?"
Hanin meringis, "Lupa."
Adam mencubit hidung Hanin sambil tertawa.
"Sayang, selamat ulang tahun ya. Semoga semua keinginan kamu segera tercapai. Tetep jadi Adam yang sayang aku, yang ngertiin aku, yang pemaaf, dan gak egois. Tapi tetep harus jadi Adam yang lebih baik lagi."
Hanin sedikit berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Ia lalu bergerak memeluk leher Adam erat.
"Aku sayang kamu. Sayang banget pokoknya."
Adam menahan tawa melihat Hanin yang terlihat lebay malam itu. Selama ini, Adam yang sellau terlihat bucin, bukan sebaliknya begini. Jadi saat melihat Hanin mengucapkan kalimat seperti tadi, Adm sedikit keingungan harus merespon apa. Nmaun tak urung tangannya bergerak meingakr id belakang leher Hanin, membalas pelukan cewek itu.
Di usianya yang baru, Hanin adalah orang pertama yang memberinya ucapan selamat ulang tahun.
Banyak yang ingin Adam katakan untuk Hanin. Seberapa banyak cinta yang ia miliki untuk gadis itu, seberapa sering ia mengucap syukur karena ia memiliki Hanin di hidupnya, seberapa bahagia ia karena Hanin masih bersamanya hingga kini.
Adam melepaskan pelukan mereka, jari-jarinya bergerak mengusap air mata yang mengalir di pipi Hanin.
"Kok nangis sih?" tanyanya sambil terkekeh pelan.
Hanin menunduk sambil menutupi wajahnya, "Gak tau. Tiba-tiba pingin nangis."
Adam menarik tangan Hanin untuk digenggamnya. Kemudian Adam merapikan rambut Hanin yang sedikit berantakan.
"Aku juga sayang kamu. Sayang banget."
Adam menarik tubuh Hanin untuk memberi kecupan pada keningnya.
"Ngapain sih pake ngasih surprise segala? Tahun kemarin-kemarin gak pernah kamu begini."
"Karena aku gak pernah kasih kejutan, makanya tahun ini mau ngasih."
Adam memeluk leher Hanin menggunakan kedua lengannya, "Udah, tidur dulu. Masih tengah malem banget ini."
Hanin bergerak mendorong Adam namun Adam tidak terdorong sama sekali, "Kue nya gimana?"
"Ya gapapa, sayang. Nanti pagi dimakan bareng."
Adam mengecup pipi Hanin, "Sleep well."
Hanin tersenyum, lalu bergerak menarik tengkuk Adam agar merunduk, kemudian mencium bibir Adam lamat-lamat kemudian berbisik disana, "I love you. Happy birthday."