Adam sedang berada di rooftop sekolah dengan gitar berada dipangkuannya. Ia memainkan nada-nada lembut namun beberapa kali berhenti karena mengecek handphone nya. Ia disini sejak pagi, karena ia memang membolos di dua mata pelajaran dan sekarang ini sedang jam istirahat.
Adam menaruh gitarnya di sebelah kursi yang ia duduki lalu jempolnya bergerak lincah diatas layar smartphone miliknya.
Ia mendekatkan hapenya ke telinga, hingga baru terhitung 2 detik, Adam langsung menyerobot suara di seberang sana.
"Kamu dimana sih lama banget?"
"...."
"Kalau boong yang pinter dikit, Nin."
Entah apa yang dibicarakan yang pasti Adam kesal karena Hanin yang sedari tadi ia suruh menemuinya di rooftop tidak kunjung datang. Lalu Adam mengambil putung rokok yang masih panjang karena sempat ia gunakan sebelum bermain gitar. Ia menghidupkannya dengan pemantik lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.
Suara derap langkah kaki mendekat. Adam tau itu Hanin tanpa harus menoleh ke belakang.
"Ih kok ngerokok lagi!"
Adam menoleh ke samping. Mengamati Hanin yang berdiri menjulang karena Adam sedang duduk.
"When will you stop smoking?! Ngomong doang gak ada buktinya." protes Hanin sambil mendudukkan bokongnya di kursi kosong sebelah Adam.
"Kamu darimana?"
Hanin menoleh sebentar, sebelum menunduk untuk memainkan hapenya.
"Dari kantin. Antrinya tuh panjang banget."
"Kenapa bolos, sih?" todong Hanin setelah ingat mau tanya apa ke Adam.
"Males."
Hanin mencibir, "Males aja terus."
"Jangan bilang bunda."
"Jangan bilang yang mana?"
"Ngerokok sama bolos."
Hanin tertawa mengejek, "Males banget belain orang salah."
Adam melotot kecil lalu mengangkat kursi kayu yang ia duduki untuk mendekat pada kursi Hanin.
Hanin menyimpan hapenya di saku seragam. Lalu ia menghadapkan kursinya untuk berhadapan dengan kursi Adam.
Tangan Hanin bergerak mengancingkan kancing ketiga Adam yang tidak tertata.
"Adam," panggil Hanin.
Adam mengangkat kepalanya, "Hn?"
"Berhenti ngerokok."
Adam sebenarnya juga ingin berhenti. Namun mulutnya seakan tidak bisa untuk tidak menyedot benda terkutuk itu walau sehari.
"Gak bisa, Yang. Udah pernah nyoba."
Hanin mengangguk dua kali, " Tapi aku mau kamu berhenti. Bunda khawatir sama paru-paru kamu. Kamu kecanduan ngerokok dari SMP kelas awal!"
Dari SD sih sebenernya. Batin Adam meralat.
Adam yang tidak merespon ucapannya membuat Hanin menghela nafas kasar, "Berhenti atau gak aku bolehin cium aku?"
Adam melotot, "Enak aja."
"Makanya pilih."
Adam berpikir sejenak. Lalu tangan kanannya bergerak mencubit pipi Hanin. Pelan, hingga jempol Adam turun membelai bibir bawah Hanin.
"Aku mau ini jadi gantinya."
Hanin baru akan membuka mulutnya namun Adam memotong, "Kalau biasanya aku sehari ngerokok bisa sampai 4 batang, berarti dalam sehari aku mau bibir kamu jadi gantinya. 4 kali sehari."
Hanin menepis tangan Adam, "Kayak minum obat aja sehari 4 kali."
"Minum obat cuman 3 kali sehari, oneng!"
Hanin menyengir, " Udahlah, gak usah bikin rule gak jelas. Diminta buat jaga kesehatan aja susah amat."
"Kenapa sih? Minta cium sama cewek sendiri juga."
"Ya kali deh sehari 4 kali!"
Kedua tangan Adam menarik tengkuk Hanin mendekat lalu Adam mendaratkan kecupannya pada kening Hanin lamat-lamat. Lalu turun ke bibir gadis itu.
Dikecupnya bibir Hanin berulang kali, lalu bibirnya bergerak melumat milik Hanin, membuat Hanin tidak kuasa untuk tidak membalas.
Namun baru Hanin akan melakukan hal yang sama, Adam segera menjauhkan tubuhnya.
"Nah kan, kamu juga selalu bales kok kalau aku cium." ejek Adam sambil menyeringai.
"Ih!?"
"Apa-apa?"
Hanin merunduk sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan, "Rese banget sih kamu."
Adam tertawa. Kedua lengannya bergerak merengkuh tubuh Hanin untuk dipeluknya. Ia menghirup rambut Hanin, lalu bergerak mengecupinya. Tangannya kini mengangkat wajah Hanin yang berada didadanya agar mau mendongak menatap Adam. Laki-laki itu memiringkan kepalanya dan maju mendekat pada wajah Hanin. Mengerti apa yang diingini laki-laki itu, Hanin juga menutup matanya perlahan, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Adam. Keduanya saling menyesap, bahkan tak butuh waktu lama hingga mereka berdua perang lidah.
Decapan suara pertukaran saliva mereka terdengar begitu nyata ditelinga. Adam suka ini. Adam tau ini akan menjadi solusi yang bisa diandalkan agar ia terlepas dari rokok.
Adam mengakhiri ciumannya dengan mengecup pelan rahang Hanin, "New cigarette."