Tidak seperti biasanya, kali ini Hanin berangkat diantar sang Papa. Adam masih tidur ketika Hanin menelpon tadi pagi. Hanin sangat dongkol mengingat ia hampir telat karena Adam tak kunjung menjemputnya.
"Kemarin aku belum bilang kalau aku hari ini mau bangun siang?" kata cowok itu saat Hanin marah-marah karena Adam tak jadi menjemput.
"Enggak!"
Di seberang sana, terdengar Adam menguap, "Maaf, Yang. Lupa ngasih tau."
Hanin melirik Papanya yang sedang fokus menyetir, kemudian melanjutkan, "Lagian ngapain, sih, bolos lagi? Kemarin kan udah bolos."
"Aku gak bolos. Aku ke sekolah, tapi agak siang."
"Emang kamu kira itu sekolah nenek kamu?!"
Adam terkekeh.
"Jangan ketawa! Aku marah, ini."
"Iya-iya. Nanti marahin aku sampe puas, deh. Sekarang aku mau lanjut tidur." Adam menguap lagi, "Ngantuk banget. Baru tidur shubuh--"
"Bodo!"
Tut.
Hanin mematikan telponnya. Demi celana kotak Spongebob yang tidak pernah berubah bentuk, Hanin sangat sebla pagi ini. Padahal Adam tahu kalau hari Rabu adalah hari dimana Hanin harus sampai dikelasnya 15 menit sebelum bel berbunyi. Itu peraturan s****n yang ditertibkan oleh Bu Tika. Guru yang auranya seperti cikgu besar di Upin Ipin itu.
Bagaimana kalau tadi Papanya sudah beragkat ke kantor dan Hanin harus mendadak mencari transportasi yang pasti masih harus menunggu. Ia bisa telat!
"Adam kenapa, Nin?" tanya Papanya.
Hanin mengedikkan bahu, enggan menjelaskan. Seburuk apapun tingkah laku Adam, Hanin tak ingin orang tuanya tahu, takut kalau itu membuat nilai plus Adam sebagai menantu jadi diminus. Duh, bucin.
"Pa, bisa agak ngebut?"
***
Jam pelajaran ketiga, Hanin sedang berada di lapangan olahraga. Kelasnya sedang melakukan tes bola basket. Namun karena bagian Hanin sudah selesai, gadis itu duduk di dekat pagar ditemani Aca dan beberapa teman kelasnya. Perempuan itu mengipasi lehernya yang berkeringat.
"Lah?"
Hanin menoleh pada Aca, "Kenapa, Ca?"
Aca mengerjap sebentar sebelum menunjuk ke arah belakang Hanin, "Itu cowok, lo, bukan?"
Hanin mengernyit bingung melihat motor besar milik Adam melaju pelan ke arah parkiran motor sekolah. Bukan bingung karena Adam baru sampai di sekolah pukul sekian, tapi karena kekasihnya membonceng seorang perempuan.
Hnain bukan tipe pencemburu. Hanin tidak pernah mempermasalahkan Adam memboceng siapapun yang lelaki itu mau. Bahkan Aca saja pernah dibonceng Adam karena Aldo ada urusan mendadak, dan Hanin baik-baik saja dengan itu.
Tapi kali ini, hanya dari melihat punggung dan rambut perempuan yang dibonceng Adam, Hanin tahu itu siapa.
Itu Gita. Regita Navisha.
Mantan pacar Adam.
Sedetik kemudian, dari ara gerbang sekolah, Adam muncul sambil melepaskan jaket yang ia pakai, dengan dibelakangnya ada Gita yang menyisir rambut dengan jemarinya. Hanin menatap tajam keduanya, hingga entah bagaimana, Adam tiba-tiba menotice keberadaan Hanin. Cowok itu baru akan melambaikan tangannya kepada Hanin sebelum Gita menepuk bahu cowok itu, kemudian berbicara sesuatu yang tentu saja tidak Hanin dengar. Setelahnya Adam emnoleh lagi pada Hanin, sebelum cowok itu mengurungkan niat mendatangi Hanin, malah berjalan menuju koridor sekolah.
Hanin mendengus. Kemudian kembali menghadap ke lapangan, mengalihkan fokusnya dari Adam.
"Kenapa bisa berangkat sama Gita, sih?" tanya setelah melihat Adam menghilang dari pandangan mereka.
"Gue juga gak tau."
"Gak pamit sama elo emang?"
Hanin menggeleng.
Aca menghela nafas pelan, tahu kalau mood Hanin sudah benar-benar anjlok. Perempuan itupun memutuskan untuk tak ikut campur, kecuali Hanin ingin menceritakan lebih dulu kepadanya.
***
"Hai," sapa Adam setelah menghampiri meja Hanin di kantin. Ada Aca disana, bahkan ada Aldo juga. "Kamu jadi nyamuk?"
Hanin tak bergeming sama sekali, melirik pun tidak. Aca dan Aldo hanya diam walaupun tau akan pokok permasalahan sebenarnya. Tentu saja Aldo tau, Aca pasti sudah cerita. Merasa ada yang aneh dengan sikap Hanin, Adam memilih duduk di depannya langsung, membuat Adam leluasa melihat wajah sang kekasih.
"Kenapa?"
Hanin melirik ke depan, "Apa?"
Ekspresi perempuan itu datar, membuat Adam menyimpulkan Hanin memang sedang marah padanya.
"Marah kenapa, Yang?"
Merasa tak enak jika tetap duduk disana, Aldo pun mengajak Aca mencari bangku kosong lain yang diiyakan begitu saja oleh Adam. Hanin tetap diam, masih malas menanggapi lelaki yang kini mengambil tangan kiri Hanin untuk digenggamnya.
Baru Adam akan mengajukan pertanyaan yang sama, tepukan di bahunya membuat lelaki itu berhenti. Gita dengan senyum lebarnya ada dibelakangnya. Hanin tersenyum sinis.
"Apa, Git?"
Gita melirik Renata, teman dekatnya, sebelum menjawab, "Boleh duduk disini, gak? Mejanya udah penuh semua."
Hanin berdiri dari tempatnya, "Duduk aja. Kebetulan gue udah kelar makan."
Kemudian Hanin berjalan meninggalkan Adam yang sempat-sempatnya terbengong, sesaat kemudian ia sadar bahwa inilah letak permasalahannya. Ada pada Gita. Jadi yang dilakukan Adam selanjutnya adalah menarik lengan Gita agar mau ikut dengannya.
"Mau kemana, sih?"
Tapi Adam tak menggubris pertanyaan Gita. Cowok itu mengedarkan pandangan mencari keberadaan kekasihnya, lalu berhenti pada lorong terabasan ke arah perpustakaan.
"Nin!"
Hanin menoleh, menunggu Adam menghampirinya.
"Apa?"
"Dengerin aku,"
Hanin sesekali melirik pada Gita, namun sepertinya Gita tidak sadar akan hal itu.
"Ini ngapain, ya, kok ngajak-ngajak aku?" tanya Gita pada Adam.
Aku, katanya?
Aku?
"Kamu marah karena Gita, kan?" tebak Adam langsung pada Hanin.
Haha, kasian banget dikacangin pacar gue. Batin Hanin.
Hanin tak takut menatap balik mata pacarnya itu. Namun bibirnya tak menjawab sepatah kata pun.
"Kamu marah karena aku sama Gita berangkat bareng?"
"Tumben langsung peka," ujar Hanin.
"Jawab." tapi Adam tetap tak menjawab apapun. "Git, jelasin kenapa lo bisa berangkat sama gue."
Gita terlihat bingung, awalanya. Kemudian kepalanya menoleh pada Hanin, "Ban gue bocor di simpang tiga. Terus Adam nawarin--"
"Lo yang nyegat gue."
Gita memutar bola matanya malas, "Iya. Maksud gue, dia lewat terus gue setopin dia."
Hanin tak merespon, membuat Adam kehabisan akal. "Nin?"
"Terus soal kamu yang gak jadi nyamperin aku?"
"Posesif amat, lo." ujar Gita. Hanin mengangkat alisnya tinggi-tinggi, "Excuse me?"
Gita menyeringai, "Takut Adam kecantol sama gue lagi?"
"Git, please." desah Adam. "Dia bilang kalau Pak Danang udah di kelas. Jadi gak ada waktu buat nyamperin kamu dulu. Kamu percaya, kan?"
Hanin percaya kalau Adam jujur. Laki-laki itu memang tidak pernah menutupi sesuatu darinya. Tapi kali ini alasan mengapa Hanin masih jengkel adalah kalimat yang dilemparkan Gita padanya.
"Oke," jawab Hanin akhirnya. "Lo udah bisa pergi," ujar Hanin pada gIta.
"What?"
"Tugas lo selesai. Lo bisa pergi." ulang Hanin.
Dengan mengibaskan rambut coklatnya, Gita berbalik dan melangkah dengan menggetakkan kaki ke lantai. Biar saja.
"Lucu amat kalau lagi cemburu," ujar Adam tiba-tiba. Hanin menoleh pada lki-laki yang senantiasa berdiri di sampingnya. "Ngomong sana sama tembok."
Adam tertawa menggoda, tangannya mencubit hidung Hanin, "Baikan. Oke?"
"Hm."
Tidak seperti pasangan-pasangan lainnya, Adam dan Hanin memang yang paling beda. Mereka tak pernah bertengkar lama. Alasannya jelas karena mereka mempercayai satu sama lain. Walaupun Adam adalah tipe pasangan yang posesif, beruntung Adam mendapat perempuan seperti Hanin yang tidak suka membesar-besarkan masalah.
Seperti masalah hari ini, kalau saja ini bukan Hanin, sudah pasti permasalahan akan melebar kemana-mana. Melihat pacar kalian membonceng sang mantan, sudah tentu itu bukan hal kecil. Tapi Hanin tak begitu, perempuan itu cukup dewasa dalam menghadapi setiap masalah yang lewat. Asalkan Adam masih tetap menjadi Adamnya yang dapat dipercaya, yang selalu jujur, dan menyayanginya, mengapa Hanin harus curiga, kan?
"Keterlaluan gak aku ngambek ke kamu gara-gara itu?"
Adam menggeleng, "Enggaklah, Yang. Wajar."
"Serius? Takutnya kamu mikir aku kelewat posesif--"
"Kalau ada yang dibilang kelewat posesif diantara aku sama kamu, ya jelas jawabannya adalah aku."
Hanin diam, seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba merasa berlebihan atas sikapnya hari ini. Untuk apa ia marah padahal ia bisa meminta penjelasan dari kekasihnya langsung secara baik-baik?"
"Udah, gak usah dipikirin. Kan aku yang salah," ujar Adam sembari menarik tangan Hanin pergi dari sana.
"Eh, mau kemana?"
"Ke rooftop." jawabnya sambil tetap menarik lengan kekasihnya.
"Ngapain? Dikantin aja."
Adam menoleh ke belakang, ke arah Hanin, maju selangkah, kemudian berbicara dengan suara pelan, "Kalau dikantin gak bisa cium kamu. Udah gemes banget dari tadi."