“Valdin-!”
Chiara menegur Valdin yang sedang meniup pelan permukaan sup cream dalam mangkuk ditangan sang presdir. Tuan muda berhenti sejenak, menoleh ke sang putri.
“Iya, Sayang?” memasang senyum di wajah, “Supnya sudah hangat-hangat kukuh ini, jadi Kamu bisa mamam.” Diberitahu bahwa sup cream sudah tidak panas lagi, lantas menyauh satu sendok dan disuapkan ke mulut Chiara.
Chiara tersenyum, dia menegur bukan ingin segera makan, tapi karena Valdin melakukan dengan tulus, dia melahap sup tersebut. Dia pun merasa-rasakan sup tersebut.
“Ada apa, Sayang?” Valdin menyemplungkan sepotong kecil roti garlic ke dalam sup, lantas disauh bersama sup dengan sendok, “Apa rasanya tidak enak? Sabar ya, kamu masih sakit, jadi alat pengecap lidahmu pun kena dampaknya.”
Chiara tersenyum geli mendengar ini, “Iya, Pak Dokter.” Karena Valdin menjelaskan dalam bahasa medis, “Val, rasa sup itu seperti sup yang selalu Paman Bram bikin untukku saat Aku sakit.” Ujarnya menunjuk mangkuk sup ditangan Valdin.
“Memang beliau yang masak ini di kitchen rumah sakit.” Valdin menyahut, “Loh, memang ini masakan beliau.” Ujarnya sebab kedua mata Chiara memandangnya heran. “Paman pengasuhmu tadi minta izin ke Marcel untuk memasak hidangan yang lembut-lembut di kitchen rumah sakit, karena beliau tahu Kamu tidak akan memakan hidangan dari rumah sakit.”
Mendengar ini, wajah Chiara terlihat penuh haru. Bram selalu melakukan itu sekiranya dia sakit, karena dia memang tidak mau makan yang dihidangkan rumah sakit. Sang paman pengasuh pandai masak enak sesuai dengan lidahnya.
“Makasih, Paman.” Pelan dia mengucapkan terima kasih, “Ara saying Paman.” Diungkapkan pula perasaan sayangnya ke Bram.
Valdin terharu mendengar ini, diusap saying kepala Chiara, merasa bersyukur bahwa sang nona diasuh pria yang baik. Bahkan demi tetap mengasuh tuan putri, pria itu memutuskan melajang seumur hidup. Lantas kembali disuapkan sendok demi sendok sup yang dicampur potongan roti Garlic ke dalam mulut Chiara.
Dokter Marcel ternyata tidak bisa dicegah Marko, mengintip dari tepi kusen pintu kamar. Dia takjub melihat Valdin yang berubah tiga ratus delapan puluh derajat, sebab dari hari pertama Chiara dirawat, sahabatnya mau mengurus tuan putri, termasuk memandikan putri cantik ini.
Marko mencolek pundak si dokter dari belakang.
“Tuan dokter-!”
“Sts!” dokter Marcel malah menyuruh asisten ini diam, “Nanti suaramu didengar Ara, dia bisa grogi tahu saya ngintip dia ama Din.”
Bram tersenyum geli mendengar celoteh sang dokter yang copas perkataan Marko.
“Ish, Tuan, bukan itu!” Marko tampak resah.
“Lantas apa?”
“Tuan muda harus segera ke lokasi kebakaran, Tuan dokter.”
Tuing, dokter Marcel terhenyak, lantas tampak kecut, dialihkan pandangan ke asisten itu.
“Tapi, gimana kita menyuruh Din ke sana, sedangkan dia ngga mau meninggalkan Ara?”
Marko menghela napas, betul juga ini, sebab Valdin memang lengket banget ke Chiara.
Kembali ke dalam kamar, Chiara pelan menyentuh lengan Valdin.
“Valdin-“
“Eng?”
“Apa ada masalah di kantormu?” Chiara bertanya hati-hati sebab hatinya mendorong dia untuk meminta Valdin menyelesaikan masalah yang dilaporkan Marko, “Kamu bisa berbagi ke Aku,” ujarnya lembut, “Aku memang tidak sehebat Kamu, tapi paling tidak mendengarkan. Dengan begitu, keresahanmu berkurang dan dapat jalan keluar.”
Valdin menyimak semua ini, lantas menghela napas, “Salah satu gudang yang disewa perusahaanku dibakar, Ara.” Entah kenapa dia menceritakan apa yang terjadi.
“Dibakar gimana?”
“Masih belum jelas penyebabnya, hanya Aku feeling gudang itu dibakar, bukan terbakar karena korsleting listrik.”
“I see.” Chiara paham, “Lantas?”
“Berita terakhir api belum bisa dipadamkan. Entah mengapa api masih menyala meski sudah diguyur air blankwir pemadam kebakaran.”
Chiara menyimak jawaban sang presdir sambil menganalisa mengapa api tidak padam.
“Sudah, sudah-!” Valdin kembali bicara, merasa pembicaraan ini membuat Chiara berpikir, “Kamu tidak perlu memikirkan itu.”
Chiara tidak menanggapi, “Boleh kutahu barang yang disimpan dalam gudang itu?”
Valdin menganggukan kepala, “Spare part produksi pabrikku untuk grand prix Formula One di Mandalika.”
“Bukannya sudah lewat itu, karena Kamu bilang akan uji coba mobilmu di sirkuit Mandalika?”
“Grand Prix belum tiba, Sayangku.” Valdin menjawil hidung mancung Chiara, “Sudah-!” dia menghela napas, “Kita tidak usah membahas itu akan membuatmu kepikiran.”
Chiara tidak menanggapi, otak cerdas dia memikirkan jenis APAR apa yang bisa memadamkan api di gudang tersebut. Dia tahu jenis-jenis Alat Pemadam Api karena Doel mengenalkannya dalam teori kungfu. Dalam kungfu tidak hanya mempelajari gerakan jurus, tapi juga hal lain, seperti jenis-jenis bahan yang menimbulkan kebakaran dan Alat Pemadam Api atau azim disebut APAR. Tujuannya agar ketika terjebak dalam kebakaran, atau melihat kebakaran, bisa mengabari ke Pemadam Kebakaran untuk membawa APAR jenis apa.
“Sayang-“ Valdin menegur Chiara sambil mengusap wajah gadis ini, “Kamu tidak usah memikirkan itu.” Ditatap sang nona yang melihat ke dia.
“Val-!” sekali lagi Chiara tidak menanggapi, “Isi gudangmu spare part kan?”
“Iya.”
“Coba Kamu kordinasi dengan pihak Pemadam Kebakaran untuk mendatangkan Alat Pemadam Api jenis Dry Chemical Powder.” Ujarnya mengutarakan hasil pemikiran dia baru saja, “Setahuku, jenis itu memang untuk bahan logam seperti spare part. Lantas juga bisa untuk memadamkan api yang membesar karena mengenai aliran listrik.”
Valdin tercenung tapi memikirkan penjelasan Chiara. Dia juga pernah mempelajari jenis bahan-bahan yang mudah terbakar dan harus dipadamkan dengan Alat Pemadam Apia pa.
“Tuhanku!” seru dia, “Kenapa tidak terpikirkan itu olehku dari tadi?” merasa melupakan pengetahuan dia mengenai penanganan kebakaran, “Tapi-“ lantas memandang Chiara, “Gimana sama Kamu?”
“Aku tetap di sini, kan masih sakit.”
“Bener begitu? Nanti Aku berangkat ke lokasi, Kamu pergi.”
Chiara tersenyum geli, “Memang kenapa kalau Aku pergi?”
“Tuh kan!” Valdin berseru dengan wajah mewek, “Udah deh Aku suruh Marko saja ke lokasi untuk kordinasi sama pihak Pemadam Kebakaran untuk memadamkan api dengan Dry Chemical Powder.”
Pelan tangan kanan Chiara mengusap lembut wajah Valdin, “Val, Kamu pimpinan perusahaan, maka tangani masalah kebakaran itu.”
“Ara, Aku nelangsa ngga ada Kamu.” Valdin meraih tangan itu digenggam lembut sambil ditempelkan ke d***, “Lantas, Kamu sakit karena Aku, jika Kamu pergi, Aku pasti penuh penyesalan tidak mengobatimu sampai sembuh.”
“Sudah, sudah,” Chiara melepas tangannya, kembali mengusap wajah Valdin yang tampak ketakutan kehilangan dia, “Aku tetap di sini menunggumu kembali.”
“Benar?”
“Bener.”
“Janji ya.”
Chiara menganggukan kepala, lantas mengambil mangkuk dari tangan Valdin.
“Biar Aku makan sendiri.” kekehnya, “Kamu lekas berangkat ke lokasi gudangmu itu.”
Valdin tidak menanggapi, ditarik keluar dua untai kalung emas putih dengan masing-masing berliontin inisial V dan C dan melepas kalung berinisial V, dipasang ke leher Chiara.
“Valdin?!” Chiara terheran, “Maksud Kamu apa?”
“Aku beli dua kalung emas dengan inisial depan nama kita,” Valdin menjelaskan, “Rencanaku akan kukasih kalung dengan liontin huruf V ke Kamu saat kita dinner di Dadapan Restoran,” tuturnya, “Sayang tidak jadi karena kita salah paham.”
Chiara hanya menyimak sambil sesekali mengamati liontin huruf V tersebut yang polos tanpa batu permata tapi sangat indah.
“Sekarang,” Valdin melanjutkan, “Aku kasih kalung itu ke kamu sebagai symbol itu diriku.” Diusap wajah sang gadis, “Kalung yang berliontin huruf C tetap kupakai, karena kalung itu dirimu dalam jiwa ragaku.”
***
Chiara menghela napas setelah Valdin berangkat ditemani Marko menuju Pelabuhan Ratu. Pria itu sangat berat meninggalkan dia, sampai berkali memeluk dia. Bikin dokter Marce gregetan.
“Dindin!” sang dokter gemas sebab Valdin yang sudah sampai pintu kamar, kembali ke dekat Chiara dan memeluk lagi gadis itu. “Ya olo, dewaku, kenapa Dindin kek gini yak sekarang. Peluk mulu yayang sebelum berangkat kerja!”
Valdin tidak memperdulikan itu, sebab dia memang berat meninggalkan Chiara. Selain berkali memeluk sang gadis, bibirnya mencium bibir gadisnya. Lantas selalu mengatakan hal yang sama.
“Kamu bener ya tunggu Aku kembali. Tetap pakai ya kalungku itu.”
Mengingat kelakuan sang presdir yang sedikit kekanak-kanakan membuat Chiara serba salah. Bram sudah memberitahu dia bahwa Brylee meminta dokter Marcel memindahkan dia ke Biomedika Hospital Singapura dengan ambulans helicopter. Demi misi itu, Brylee terpaksa membakar satu gudang yang disewa VEs Company, agar Valdin meninggalkan Chiara.
Lantas masuk Bram, dokter Marcel dan beberapa perawat.
“Nona-!” sang pengasuh segera mendekati Chiara, “Sudah waktunya Anda naik ke ambulan helicopter dan berangkat ke Singapura.”
Chiara tidak menjawab, ditarik keluar liontin kalung dari Valdin, diusap permukaan huruf V itu. Hatinya berkecamuk, menunggu Valdin atau tidak? Benarkah sang presdir jatuh cinta ke dia? Apa yang dilihat pria itu dari dia? Pendidikan dia tidak setinggi tuan muda. Wajahnya biasa saja. Tubuh dia pun tidak tinggi semampai. Dia pun slengean dan pekerja kasar.
Bram dan dokter Marcel saling memandang, merasa hati Chiara sudah tersentuh cinta Valdin, apalagi tadi mereka melihat sang presdir memasangkan kalung cinta ke leher tuan putri.
“Paman-!”
Sayup terdengar suara Chiara memanggil Bram.
Bram terkesiap, gegas, mendekati nonanya.
“Iya, Nona?”
“Tolong ambilkan bloknote, pulpen dan amplop dari tas Ara.”
“Anda mau menulis surat untuk Tuan Valdin?”
Chiara menganggukan kepala, “Tangan saya bisa digerakan menulis, Paman.” Diangkat tangan kiri dia ke hadapan sang pengasuh. Dia menulis dengan tangan kiri, sebab sedari kecil tangan kanan kaku jika dipakai menulis.
“Nona sudah yakin akan menulis surat untuk Tuan Valdin?”