Perlahan kedua mata Chiara mulai terbuka, menandakan dia terbangun. Valdin melihat ini pelan mengusap lembut wajah sang gadis.
“Ara! Hei, Ara!” dipanggil nama Chiara, agar kedua manik si nona melihat ke dia.
Chiara memang mengalihkan pandangan karena hidung dia mencium harum parfum dari badan sang presdir.
“Kamu kenapa bangun, Sayang?” itu pertanyaan pertama Valdin ke Chiara, kedua mata dia mencaritahu penyebab si nona terbangun. Padahal baru sebentar tidur. “Apa Kamu ingin ke toilet? Atau haus? Mungkin lapar?”
Chiara menggelengkan kepala, berarti tidak ingin semua yang ditanyakan Valdin tersebut. Perlahan dia menegakan setengah badannya dibantu sang presdir, lantas langsung punggung dia disandarkan ke dinding bed yang sudah sedikit tegak. Setelah itu diamati Valdin.
“Kamu kenapa?” dia melihat wajah Valdin resah, “Aku kan baik aja.” Dikira sang presdir masih mencemaskan dia.
Valdin meraih tangan Chiara, dicium sejenak lantas digenggam lembut, disebulkan senyum ke wajah agar menghapus resah hati karena mendengar berita terbakarnya gudang VEs Company.
“Aku tidak apa-apa, Sayang.” Ujarnya, “Sudah-“ dia tidak mau Chiara mencaritahu apa yang terjadi sama dia, “Kamu coba makan ya.” Dialihkan pembicaraan, “Marcel bilang Kamu boleh makan, sebab lambungmu sudah aman.”
“Aman maksudmu apa?”
“Ara-“ Valdin menghela napas, “Selama ini, Kamu asal makan saja, padahal Paman Bram masak makanan enak dan bergizi untuk Kamu.”
Chiara terkesiap, “Aku jaga badan, Valdin.” Dia memberi jawaban, “Aku atlet kickboxing dan guru kungfu, kalau tubuhku gemoy, tidak bisa bergerak lincah kan?”
“Bukan alasan yang tepat itu.” Valdin membelai saying wajah Chiara dengan satu tangan, “Kamu terlalu focus sekolah dan kerja.”
Sang nona terkejut, lantas, “Kamu menyelidiki Aku lagi.”
“Mengapa memangnya?” Valdin tersenyum sebab wajah gadisnya sedikit merenggut, “Aku dokter dan mencintaimu. Tentu Aku cari tahu mengapa Marcel mengatakan lambungmu bermasalah selain kena pukulan dan tendangan semua lawanmu di liga judi kickboxing.”
Mendengar kata cinta, Chiara menghela napas..
“Jangan katakana cinta, Valdin.” Desahnya, “Kita baru kenal dan Aku tidak percaya Kamu bisa cinta Aku semudah itu.”
“Aku percaya itu, sebab Aku bisa kesal kenapa Kamu pergi meninggalkanku setelah kita panas-panas di ranjang cinta.”
Chiara terkesiap, lantas menghela napas saja, tidak mau menanggapi, karena Valdin sudah tahu jawabannya. Kedua mata dialihkan dari sang presdir, menyisir ke sekitar dan menemukan meja kerja pria itu yang berisi perlengkapan kerja. Keningnya berkerut melihat ini, lantas menoleh ke tuan muda.
“Valdin, mengapa tetap menjagaku?” tanyanya heran, “Kamu kan seharusnya berangkat kerja.”
“Apa bisa Aku tenang kerja di kantorku sedangkan kondisimu masih seperti ini?” Valdin menghela napas, “Maka kubawa pekerjaanku kemari, agar sambil menjagamu, bisa kerja.”
Chiara menghela napas, mengapa Valdin sekarang tidak mau lepas dari dia sedikit pun. Diamati wajah tampan sang presdir. Wajah yang dari pertama membuat dia tidak berdaya dibawa seks. Wajah yang bisa melekat dalam ingatan dia.
“Valdin-“ Chiara bersuara, “Aku baik saja, jadi Kamu bisa kerja di kantormu dan juga ke poli untuk praktek.”
Valdin menghela napas, “Sayang, Aku tadi bilang kan, bagaimana bisa tenang jauh darimu yang masih sakit ini. Luka dibadanmu boleh dikatakan lumayan parah. Lantas juga Kamu hanya ditemani Paman Bram, tidak ada keluarga lain.” Ujarnya menjelaskan kembali bahwa tidak tenang jauh dari Chiara, “Lalu, semua yang kamu alami karena kesalahanku memaksamu membiayai perbaikan mobilku itu.”
Chiara menyimak semuanya, kemudian, “Masalah mobil kan sudah selesai, jadi Aku dan Kamu tidak lagi berhubungan kan? Maka tidak perlu Kamu menjagaku di sini.”
Mendengar ini hati Valdin terasa terhempas, Chiara sama sekali tidak perduli rasa khawatir dia. Tentu saja karena dari kemarin, Valdin memaksa sang nona tetap bersamanya dengan menuntut nona membiayai perbaikan mobilnya. Hati Chiara tentu kesal. Lantas kini saat Chiara sudah mendapatkan uang dari berlaga di liga judi kickboxing, dianggap sudah selesai berurusan sama Valdin.
“Ara!” Valdin menekan rasa kecewanya, “Tidak kah Kamu paham, Aku mencemaskanmu? Aku juga dipenuhi penyesalan. Jadi biarkan Aku bersamamu, merawatmu sampai pulih. Setelah pulih, Aku tetap bersamamu, karena Kamu milikku.”
“Itu lagi yang dibahas?” Chiara menghela napas, “Valdin, yang kita lakukan itu sudah tutup buku dan aku bukan milikmu.”
“Bagaimana dengan benihku yang membuahi rahimmu karena seks kita, hmm?”
Chiara terhenyak, kedua mata spontan melihat ke perut dia, teringat saat mereka panas-panas di Ranjang, Valdin sama sekali tidak memakai pengaman dan melepas bebas semen kental dalam oasenya. Berarti semen itu sekarang membelah-belah dan menempel di rahim. Di antaranya akan dibuahi rahim.
Kedua tangan dia gemetaran, terlupa kalau bisa saja dia hamil akibat hubungan semalam itu. Jika itu terjadi, bagaimana dia mempertanggungjawabkan ke Doel dan Brylee?
Kedua maniknya mulai menghangat, bibirnya bergerak-gerak dan air mata pun meluncur ke wajah. Dia menyesali diri mengapa terjebak hasrat Valdin malam itu? Mengapa menganggap jika dia membiayai perbaikan mobil Valdin, maka semua yang terjadi di antara mereka selesai. Lantas pantas Valdin mengatakan dia milik sang presdir, karena pria itu menyadari sudah menanam benih dalam tubuh dia.
Pelan Valdin menyandarkan kepala Chiara ke d***, bibirnya mengecup saying kepala itu, lantas.
“Aku pasti bertanggungjawab, Ara, karena kusadar jatuh cinta sama Kamu.”
Chiara tidak bisa menanggapi, hatinya berkecamuk. Seumur hidup ini, baru sekarang melakukan kesalahan fatal, bercinta sebelum menikah dan dengan pria yang hanya dikenal karena ditolong dia dari begal.
“Tuan muda-!”
Dari arah kanan terdengar suara Marko.
Valdin mengalihkan sejenak pandangan ke asisten.
“Nanti saja laporanmu, Marko.” Diminta sang asisten menunda memberi laporan terbaru, “Saya masih bersama Ara.”
Marko menghela napas. Dia terbirit kemari karena gudang yang terbakar masih belum bisa dipadamkan. Setiap dipadamkan, api kembali tersulut. Pemadam kebakaran belum menemukan penyebab api bisa muncul lagi padahal sudah dipadamkan. Jika keadaan ini terus dibiarkan bisa merembet ke gudang kiri kanan yang disewa pengusaha lain.
Chiara mengangkat wajah, mengarahkan pandangan ke Marko, tampak asisten ini resah, langsung feeling terjadi sesuatu yang darurat musti diberitakan ke Valdin. Kemudian dia memandang sang presdir, bicara dengan suara lembut.
“Valdin, temui dulu Marko.” Diminta tuan muda menemui sang asisten, “Dia ada laporan penting yang harus Kamu tahu.”
Valdin menghela napas, sudah tahu apa yang ingin dilaporkan yaitu mengenai gudang VEs Company yang terbakar.
Pelan satu tangan Chiara mengusap lembut wajah sang presdir yang kembali menjadi resah, tapi dibaur kesal.
“Ayo, Valdin.”
Sang presdir kembali menghela napas, lantas meletakan kepala Chiara disandaran bed, turun dari tepi ranjang dan membawa Marko menjauh.
“Laporkan, Marko.”
Marko menjadi merasa bersalah karena membuat Chiara meminta Valdin mau mendengar laporan dia. Yang berarti akan membuat pikiran sang presdir bertambah mumet. Chiara masih terbaring sakit, lantas ada peristiwa gudang VEs Company terbakar. Mana yang harus diutamakan oleh si bos?
“Marko!”
Sang asisten pun mulai bicara, menjelaskan apa yang dilihat dari tempat kejadian. Setelah itu dia melihat si bos mengusap kasar kepala.
“Dams!” terdengar pula rutukan tuan muda, “Kenapa di saat gadisku sakit, ada masalah lain?” dia menyesali keadaan, “Dams!” sekali lagi dia mengusap kasar kepala, lantas mengurut-urut kening, “Biarkan Saya berpikir sejenak!” ujarnya berusaha menenangkan diri.
Chiara melihat ini merasa iba, pelan memanggil sang presdir.
“Valdin! Valdin!”
Valdin terkesiap mendengar suara gadisnya, gegas, menghampiri. Duduk di tepi bed.
“Iya, Sayang?” wajahnya cemas, “Kamu merasa tidak enak kah badannya?” dikira Chiara memanggil sebab tidak enak badan, “Marko, panggil Mar!” serunya terhenti karena jari telunjuk tangan Chiara menempel dipermukaan bibir dia. Ditatap gadis ini dengan heran.
Chiara tersenyum, pelan menyandarkan kepala ke d*** sang presdir, lantas mengusap-usap lembut d*** itu dengan satu tangan. Ditenangkan diri tuan muda ini.
Valdin tercenung, teringat kembali malam saat pertama kali dia menyentuh Chiara dan mengatakan gundahnya. Sang gadis memeluk dia sambil mengelus lembut punggungnya, membuat pikiran menjadi tenang.
Marko yang hendak beranjak keluar melihat apa yang dilakukan Chiara. Dia diam di tempat, menunggu kelanjutan aksi si nona menenangkan Valdin.
Sang presdir menyentuh pucuk dagu Chiara sambil diangkat ke atas wajah nona cantik ini agar melihat ke dia. Tampak olehnya, sang gadis tersenyum dan mencium satu pipi dia. Membuat dia tercenung, sebab baru kali ini si nona menciumnya. Ciuman yang lembut dan terasa menenangkan sukma dalam raga dia.
Kembali Chiara tersenyum sambil kembali menyandarkan kepala ke d*** Valdin. Tangan dia pun mengusap-usap kembut d*** bidang sang presdir. Rasa iba melihat tuan muda resah membuat dia tergerak mendekap pria ini agar tenang.
Valdin menghela napas, mulai menyadari Chiara melihat dia panic setelah mendengar laporan Marko. Didekap erat tubuh sintal ini, bibir dia perlahan mengecup sejenak kepala Chiara, lantas bicara lembut.
“Aku ngga pa pa, Sayang.”
Chiara hanya tersenyum, diangkat wajah agar memandang sang presdir.
“Aku lapar, Val.”
Tuing, Valdin tercenung, mengapa Chiara berkata itu?
“Valdin-!” entah kenapa nona merengek, “Kamu tadi menawarkan Aku untuk makan kan?”
“Lantas?”
“Kupikir-pikir, kuterima itu karena perutku mulai kukuruyuk.”
Kembali sang presdir tercenung, diamati serius banget wajah Chiara.
“Valdin!” Chiara kembali merengek, “Aku serius lapar!”
Mau tidak mau satu senyum menyebul di wajah Valdin. Dia mulai menyadari kalau Chiara tidak mau menanggapi kalimat, “Aku ngga pa pa, Sayang.” Yang bisa membuat suasana hatinya malah melo.
Chiara tersenyum, bibir dia kembali mencium satu pipi Valdin, lantas satu tangan menarik leher sang presdir dan disurukan wajah di sisi leher tersebut. Dia juga sedikit mengayun badan pria ini. Wajah Valdin tersenyum geli, kepanikan dia memudar, didekap saying Chiara.
Marko yang masih mengawasi tersenyum, ‘Tuan membutuhkan Nona ini menjadi istri.’ Dinilai Chiara pandai menenangkan Valdin.
“Sayang-!” Valdin menegur Chiara, “Apa perutmu masih kukuruyuk?”
Chiara tersenyum geli, paham kalau sang presdir menyindir dia, diangkat wajah dan menatap pria ini. Tidak lama menganggukan kepala.
“Oke-“ Valdin mengusap lembut wajah Chiara, “Marcel bilang sementara Kamu makan yang lembut-lembut dulu, seperti bubur ayam.”
Kedua mata Chiara membesar, lantas menggelengkan kepala.
“Oatmeal.” Valdin melanjutkan sebab gerakan itu diartikan si nona tidak mau makan bubur ayam.
Kembali kedua mata sang gadis membesar dan kepala menggeleng.
“Sup cream pakai roti garlic.” Sang presdir menawarkan menu lain, karena Chiara tidak mau makan bubur oatmeal.
Manik si nona berbinar, lantas kepala mengangguk-anggukan.
“Hehehe!” mau tidak mau Valdin terkekeh geli sebab semua gerakan sang nona dirasa menggemaskan, dikecup sejenak bibir nona, lantas menempelkan kening mereka, “Jadi, Kamu pengen mamam sup creame pakai roti garlic?”
Chiara tersenyum sambil kedua tangan mengoyangkan sisi-sisi wajah Valdin, lantas memeluk pria ini. Kembali dibikin suasana hati dan pikiran sang presdir tenang.
Valdin menyambut pelukan ini, didekap erat tubuh gadis tercintanya ini. Seumur hidup hanya Chiara yang melakukan aksi menenangkan dia.
Marko yang masih mengawasi pasangan ini sedikit menghembuskan napas, lantas keluar dari kamar. Begitu sampai di luar, langsung dihadang dokter Marcel.
“Gimana, Marko?” langsung diberi pertanyaan, “Din mau ke lokasi kejadian itu?”
Marko menghela napas, “Kita tunggu sejam lagi, Tuan dokter.”
“Lha? Lama aja?”
“Nona sedang membujuk Tuan Muda.”
“Nona Ara tahu mengenai kejadian itu, Pak Marko?” Bram cepat menimbrung.
Marko menggelengkan kepala, “Nona Ara hanya melihat Tuan Muda panic, lantas sekarang sedang menenangkan Tuan Muda.”
“Ditenangkan dengan apa?” dokter Marcel memandang Marko dengan tatapan menyelidik, “Valdin tidak minta ninaninu kan?”
“Ngga, Tuan dokter.” Marko tersenyum geli sebab dokter Marcel menaruh curiga ke Valdin yang bisa ditenangkan dengan seks. “Dengan pelukan dan belaian saying biasa kok.”
dokter Marcel penasaran, hendak mengintip dari pintu kamar, tapi Marko cepat meraih lengan sang dokter.
"Haiyah, Tuan dokter!" si asisten memandang gemas sahabat Valdin ini, "Jangan ngintip. Nona Ara kan belum lama bersama Tuan Muda, belum pernah pacaran pula, jadi kalau ketahuan pelukan pasti grogi."