Di ring tinju dalam ruangan yang luas dan dipenuhi penonton, tampak Chiara berhasil melumpuhkan Sarita Dungga dalam dua babak. Kemenangan ini disambut riuh para pendukung sang gadis di masa lalu.
Jadi begini, saat Bian menghubungi Luis Ardan pimpinan penyelenggara liga judi, mendaftarkan Chiara untuk bertarung malam ini, sang pimpinan setuju, segera mempromosikan online. Chiara adalah atlet kickboxing kesayangan dia di masa lalu, hanya saja ditumbangkan Atila Swarez dengan cara licik.
Asisten Atila membubuhkan racun pelemah stamina ke dalam minuman untuk Chiara. Karena racun itu, bukan hanya stamina si nona melemah, konsentrasi pun terpecah.
Hal tersebut diketahui, sebab Doel menyelidiki penyebab Chiara bisa dilumpuhkan sampai koma. Si Kakek sangat tahu lika-liku liga judi yang seringkali mencurangi lawan demi mendapat hadiah besar. Sang kakek menjebloskan perempuan itu dan semua timnya ke penjara.
Saat ini Chiara menang, maka dilanjutkan bertarung dengan lawan baru, yaitu Prita Dhapoor. Jika sang putri menang, akan diadu sama Bonita Adira. Kalau menang lagi maka bertarung sama Atila musuh bebuyutan tuan putri. Para pendukung yakin kali ini Chiara mampu menumbangkan Atila, sehingga memasang taruhan tinggi untuk sang nona.
Valdin dan Marko berdiri di tribun strategi yang melihat sangat jelas Chiara bertarung kickboxing di ring judi. Kedua tangan tuan muda mengepal erat, wajahnya sangat cemas. Meski dia tahu Chiara punya nyali tinggi dan kemampuan kungfu sangat bagus, tapi bertarung kickboxing di liga judi bertaruh nyawa.
Kedua atlet berusaha saling membunuh demi meraih tujuh puluh persen uang taruhan.
“Marko.” Valdin menegur asistennya yang juga terlihat cemas karena saat ini wajah Chiara terkena pukulan kuat lawannya. “Siapa lawan utama Ara yang direncanakan penyelenggara?”
“Atila Swarez, Tuan.”
“Apa?!” Valdin terkejut, “Bukannya predator itu di penjara karena memecahkan kepala lawannya dan keluarga lawan mengusut hingga ketahuan dia meracuni minuman lawannya, lantas dijebloskan ke penjara?”
Berita mengenai kejahatan Atila sempat merebak di media massa, sebab Doel mengamuk. Lantas, di masa lalu, Valdin dan dokter Marcel suka menonton dan bertaruh di liga judi kickboxing female ini, dan saat kejadian itu menonton dengan jelas.
“Tapi saya dengar perempuan itu menjadi lawan Nona Chiara.” Marko menjelaskan, “Lantas saya juga mendengar ada fighting spektakuler sebab Nona Chiara akan balas dendam sebab dikalahkan telak Atila tiga tahun silam.”
Valdin menyimak semua penuturan asistennya sambil dipikirkan, lantas dipelupuk kedua mata terlintas perempuan yang kepalanya dipecahkan Atila.
“Tuhanku!” spontan saja dia menjerit. “Tuhanku!” dia melihat Chiara lah yang dikalahkan Atila dengan keji. “Marko-“ dipegang kedua lengan Marko, “Ara, Ara yang dipecahkan kepalanya sama Atila, tiga tahun lalu! Ya, betul, itu Ara, sebab saya dan Marcel melihat pertarungan itu. Kami juga memasang taruhan untuk Ara, lantas ketika kemenangan Atila raih dengan kecurangan, kami pun minta pihak penyelanggara memberikan hadiah Atila ke Ara, sebagai tambahan hukuman untuk Atila.” Dia menuturkan apa yang teringat dalam benaknya mengenai pertandingan Chiara dan Atila pada tiga tahun silam.
Marko terhenyak, lantas memutar pandangan ke arena fighting. Wajah dia seketika menjadi cemas luar biasa, tapi tidak bisa menghentikan pertarungan, agar si nona tidak jadi bertarung sama Atila.
Valdin melepas tangan Marko, meremas-remas jemari tangannya sambil terus menonton pertarungan Chiara ke babak berikut setelah mengalahkan Prita Dhapoor dalam satu babak saja. Dia tahu mengapa gadis idaman hatinya dengan mudah mengalahkan lawan, sebab si nona memiliki tenaga dalam kungfu.
Tenaga dalam itu membuat jurus-jurus Chiara dalam kickboxing menjadi dua kali lipat powernya. Ini yang membuat sang gadis berbeda dari petarung lain yang sebagian besar hanya mengandalkan power biasa dalam melakukan gerakan menyerang dan bertahan dalam kickboxing.
Luis Ardan mengetahui hal tersebut sebab mempelajari setiap gerakan para petarung yang berlaga di liga judinya. Dia tidak permasalahkan Chiara punya tenaga dalam kungfu, justru mendukung sang gadis menjadi petarung, sebab bisa mendatangkan banyak Dollar Amerika untuk dia.
Apa Atila mengetahui mengenai hal tersebut? Tidak, hanya ingin menumbangkan Chiara, agar menempati posisi sebagai petarung nomor satu yang kelak dikirim Luis Ardan ke liga judi di negara lain.
Mengapa Chiara tidak menjadi atlet kickboxing yang berlaga di kejuaraan olahraga biasa saja? Sebab saat sang gadis dalam tahap penyeleksian, pimpinan kontigen melihat setiap gerakan si nona mengandung tenaga dalam kungfu. Itu berbahaya, bisa menewaskan atlet yang menjadi lawan, sedangkan dalam kejuaraan olahraga semacam Sea Games, tidak diperkenankan menghabisi nyawa lawan. Hanya cukup sampai lawan jatuh ke lantai dan tidak mampu lagi meneruskan pertandingan.
Valdin merogoh saku kanan celana panjangnya, segera menghubungi dokter Marcel.
“Yes, Din?” sayup terdengar suara sahabatnya itu yang sedang mempelajari rekam medis pasien IGD, “Loe di mana ini? Bising banget?” dia mengoceh karena mendengar suara disekitar Valdin begitu bising. “Jangan bilang, loe lagi nonton liga judi kickboxing female.” Dia mulai mengenali kebisingan karena apa.
“Loe jangan ngoceh dulu, Cel!” Valdin menjadi gemas sebab sedari tadi sahabatnya yang bicara, “Sekarang, tolong loe segera siapkan perlengkapan medis dan obat-obatan, lantas bawa kemari dengan ambulans.”
“Siapa yang terluka, Din?” dokter Marcel cepat menyambar buku resep dari desk para medis IGD, lantas menuliskan item-item alat medis dan obat-obatan.
“Bini gue!” Valdin menjawab seasalnya sebab hati dia semakin tidak karuan melihat wasit menyatakan Chiara menang mutlak dalam pertarungan dengan Bonita, berarti sang gadis segera bertarung sama Atila. “Udah loe ngga usah banyak tanya dulu, lekas ke gedung Super Boxing di ruang liga A Utama.”
“Oke, oke!” dokter Marcel paham, segera mengakhiri panggilan telpon dari Valdin, lantas sambil mengantongin ponsel ke saku kanan jas dokter dan kedua mata membaca setiap item yang ditulisnya, berseru lantang, “Dessy!” memanggil suster Dessy, asisten merangkap sekretarisnya di Biomedika Hospital, “Dessy!”
Suara lantangnya membuat semua tim medis bergerak mendekatinya.
“Cel-!” dokter Arif, dokter spesialis bedah umum, rekan sejawat Valdin, menegur, “Ada apa?”
“Emergensy, bro!” sahut dokter Marcel, “Dessy!” menjerit lantang lagi memanggil suster Dessy.
“dokter Marcel!” dokter Diana berseru ke dokter Marcel, “Dessy lagi di toilet, kena diare gegara makan salad mangga super pedes!” dijelaskan di mana suster Dessy.
“Ya salam!” dokter Marcel menjadi senewen mendengar ini, “Ini anak pake diare lagi!” digerutui asistennya itu, “Arif!” serunya ke dokter Arif yang masih berdiri depan meja tim medis IGD, “Diana!” lantas berseru pula ke dokter Diana, “Loe berdua ikut gue bantu Valdin!”
“dokter Valdin kenapa?” kedua dokter itu berbarengan bertanya.
“Nanti penjelasannya!” dokter Marcel mengoprok lima lembar resep bertuliskan item-item peralatan medis dan obat-obatan ke perawat Dino yang di dekat dia, “Kamu lekas ambil semua ini dan apa pun yang dibutuhkan untuk menangani pasien gawat darurat korban pertandingan kickboxing!”
Perawat Dino melongo, “Pasien gawat darurat korban pertandingan kickboxing, dokter?”
“Ngga usah nanya dulu, Dino!” dokter Marcel segera mendorong si perawat agar melaksanakan tugas dari dia, “Sekalian Kamu hubungi Ranto, bawa ambulans ke teras depan IGD ini!”
“Baik, dok!” perawat Dino paham, “Apa perlu Saya mintakan mobil jenasah juga, dok?”
Dokter Marcel terkesiap, lantas memandang heran si perawat.
“Takutnya,” perawat Dino bicara, “Itu pasien ngga selamat, dok, gegara tarung kickboxing.”
Tuing, dokter Marcel menjadi gemas, dikeplak sedikit kepala sang perawat.
“Kita harus menyelamatkan nyawa bininya Valdin, Dino! Bukan ngarep tu bini meninggal! Itu kejadian, Valdin ngulitin kita semua!”
***
Suasana di ruang pertarungan kickboxing kian riuh, karena Chiara bertarung sama Atila. Valdin yang masih menonton bertambah senewen, kemampuan kedua wanita itu dalam kickboxing seimbang, sehingga satu sama lain saling memberi luka memar dan luka basah di wajah.
“Tuhanku!” sang dokter menjerit sebab pipi kanan Chiara terkena tendangan kuat kaki Atila, “Ara, istriku!” jeritnya panic, ingin melesat menolong gadisnya, tapi kedua tangan Marko cepat mencengkram lengan-lengan dia, “Lepas, Marko!” dia berontak, “Saya ngga mau nyawa istri Saya melayang!”
Namun, Chiara tidak lemah setelah terkena tendangan tersebut, meski tubuhnya mental ke samping dan akan landing ke lantai, satu tangan si gadis cepat menempel kuat di lantai, lantas memutar badan berguling ke arah lain menghindar dari Atila yang akan menerjang dengan tubuh petarung itu.
Atila yang kecolongan, cepat memutar badan, kedua mata mencari Chiara, dan saat itu pula, perut dia kena tendangan bertubi dari sang putri.
“Akh!”
Atila terpekik sebab tendangan Chiara saat ini berisi tenaga dalam kungfu. Sebenarnya dari tadi juga semua jurus yang digunakan si gadis ada tenaga dalam kungfu, hanya kali ini meningkat dua kali lipat sebab telinga dia yang super tajam menangkap jerit panic Valdin.
Jeritan ini membuat dia tidak boleh kalah, harus menang dihadapan Valdin dan memberi pria itu uang yang dijanjikannya.
Sang gadis menjejakan kedua kaki di lantai setelah membuat Atila terpelanting, lantas kedua mata mengawasi Atila. Dia tahu Atila memiliki daya tubuh sangat bagus, tidak akan mudah rubuh hanya kena tendangannya tadi.
Atila yang tersuruk di lantai cepat berdiri dan berlari kencang ke Chiara sambil sling ke udara, hendak memberikan tendangan balasan ke gadis itu yang berdiri tegak mengepal dua tangan ke depan.
Kedua mata Valdin membesar melihat sang gadis menanti penyerangan Atila datang, bibirnya komat-kamit berdoa.
“Tuhanku! Tuhanku! Lindungi istriku ini! Lindungi istriku ini!”
Marko tersenyum geli, sebab sedari mereka menonton pertarungan demi pertarungan Chiara, si bos selalu menyebut Chiara adalah istri.
Saat kaki Atila segera mengenai sang gadis, tampak oleh Valdin, gadisnya merebahkan tubuh ke belakang sambil meluncurkan diri ke depan, sehingga tendangan Atila mengenai angin. Setelah itu, dia cepat memutar badan sambil menggerakan tubuh ke Atila yang terjatuh karena menendang angin, diulurkan kedua tangan mencengkram kuat kaos bagian belakang di tubuh Atila kemudian menarik tubuh itu ke atas sambil diputar agar menghadap dia, di mana kedua tangan memegang pundak Atila, dan langsung dihadiahkan tendangan lututnya beberapa kali ke dagu Atila
“Great!!”
Gerakan ini disambut riuh para supporter si nona
“Habisi dia, Chiara! Habisi dia! Balas kekalahanmu dulu!”
Mereka pun menyemangati Chiara untuk menghabisi Atila yang pernah membuat kepala si nona pecah dan mengalami koma selama dua bulan. Sang gadis beruntung, saat siuman tidak kehilangan ingatan.
Chiara memang ingin membalas kekalahannya itu, setelah puas meremukan dagu Atila dengan tendangan lututnya, dilepas pundak Atila, lalu satu kaki menendang kuat kening perempuan itu, hendak memberi akhir pahit untuk lawan, tapi cepat wasit ke hadapan dia.
Bian dan Bram pun tergesa masuk ke arena membantu wasit yang menenangkan Chiara, sebab si gadis sedang emosi tingkat tinggi ingin mengirim Atila ke alam abadi. Bahkan Valdin dan Marko pun melesat ke dalam arena dan langsung sang dokter memeluk wanita tercintanya.
Tubuh Atila landing kuat di lantai arena pertarungan. Sisi kepala dia mulai meleleh red liquid, dagu sudah remuk berhias cairan merah, napas megap-megap pula. Dia mengakui dalam hati kalau Chiara memang hebat dan luar biasa.
Wasit mendekati Atila yang sudah tidak bertenaga dan babak belur, segera mengecek denyut nadi dipergelangan tangan kanan perempuan itu, lantas berseru lantang.
“Tim media! Tim medis!” memanggil tim medis rekanan Luis Ardan.
Suara supporter terus bergema heboh.
“Habisi dia, Chiara! Habisi Atila!”
Mereka tetap ingin Chiara mengirim Atila ke alam baka.
Tim medis datang membawa brankar, cepat mengangkat Atila dari lantai dan dibaringkan ke brankar.
Luis Ardan tersenyum, turun ke arena, lantas meraih lengan Chiara, dibawa ke tengah arena dan diangkat tangan si nona ke atas.
“The winner is back!” serunya mengatakan bahwa Chiara sang juara sudah kembali, memenangkan pertarungan di liga judi, setelah tiga tahun vakum, “Chiara Samsuar!” mengatakan bahwa pertarung ini dimenangkan sang gadis. “The winner is back! Chiara Samsuar!”
“Yeay!” langsung disambut sorak gembira para supporter Chiara, “The winner is back! Chiara Samsuar! Chiara Samsuar!”