Bab 7 Menyelidiki Siapa Chiara

1731 Kata
Barry membawa Marko masuk ke dalam ruang kerjanya yang berada di pavilion depan aula pelatihan kungfu dan mempersilahkan sang asisten untuk duduk di kursi seberang meja kerjanya, baru duduk di kursinya sendiri. Dia tahu, Marko mengamati sekitar dimulai dari pintu gerbang hingga kemari sambil direkam diam-diam. Dia membiarkan saja, merasa Marko bukan musuh. Namun yang dilihat asisten itu hanyalah taman yang desainnya mencontoh taman-taman indah dalam Istana Kerajaan Cina Kuno dipadu dengan sentuhan etnik Betawi. Lantas selain taman ada gedung besar yang adalah aula pelatihan dan pavilion tempat kerja para pengelola perguruan. Padahal di sana ada rumah utama milik Doel, tempat tinggal sang kakek, Chiara, Bram, Barry, dua art perempuan dan dua tukang kebun. Rumah itu dibangun dengan desain rumah klasik di era kerajaan Cina kuno, terbuat dari kayu-kayu ukiran khas negara bamboo tersebut dipadu dengan khas Betawi di era penjajahan Belanda. Konsep ini Doel yang bikin demi mengenang pernikahan mendiang orangtuanya yang berasal dari Cina dan Indonesia. Ayahnya militer setia dengan sederet prestasi militer di Cina dan Badan Keamanan Dunia, digaji tinggi sebab bekerja sangat bagus di Counter Terrorism Unit. Jadi boleh dikatakan keluarga mereka termasuk militer sekelas billionaire. Lantas saat Doel menggantikan sang ayah, pria ini pun bekerja sebaik ayahnya, sehingga mampu membangun perguruan dan semua bangunan yang ada di wilayah ini, tahap demi tahap. “Baik, Tuan Marko-“ Barry membuka pembicaraan, “Maaf, Anda tadi menanyakan mengenai Nona Chiara Samsuar, nona Guru kami.” Kening Marko sedikit mengernyit heran, “Nona Chiara Samsuar, nona guru? Maksudnya?” “Tuan, beliau selain cucu dari Tuan Doel Samsuar, pengelola perguruan ini, juga bertugas mengajar kungfu para murid dan kami semua memanggilnya dengan Nona Guru.” “I see.” Marko paham, lantas membatin, ‘Pantas jika Nona Chiara berani menghajar para begal itu sendirian, karena beliau seorang Nona Guru di perguruan ini.’ Baru memahami mengapa Chiara punya nyali tinggi saat menyelamatkan Valdin dari begal. ‘Dan, itu membuat Tuan Aku kesemsem sama beliau.’ Imbuhnya mulai mengerti penyebab sang pangeran kepicut sama Chiara, ‘Di mata Tuanku, Nona Chiara seorang bidadari pendekar yang Tuhan datangkan untuk menyelamatkan nyawanya, sebab selama ini tidak ada perempuan yang berani bertaruh nyawa untuk dia. Yang ada hanya ingin menikmati harta dia.’ “Maaf, Tuan Barry, anda tadi bilang, Nona Chiara cucu dari Tuan Doel. Maaf, apa beliau tidak tinggal bersama orangtuanya?” “Tuan, orangtua Nona sudah meninggal dunia dua puluh tahun silam, tepatnya saat Nona berusia enam tahun.” “Tuhanku!” Marko terhenyak, lantas teringat cerita Valdin mengenai Chiara menangis saat si bos menyinggung mengenai orangtua si nona. Pantas nona menangis sebab teringat orangtua gadis itu sudah lama meninggal dunia. “Tuan-“ Barry menegur Marko, “Maaf, ada tujuan apa mencari Nona Guru?” Marko menghela napas, “Semalam, beliau menabrak mobil Tuan Valdin atasan saya.” Barry terkesiap, “Nona Guru menabrak mobil tuan Anda?” merasa aneh, meski sebenarnya bisa saja kejadian itu terjadi. Tapi sejauh yang dia tahu, Chiara sangat berhati-hati saat mengemudikan kendaraan, baik di jalan umum atau di sirkuit balap milik Doel yang berada di Bandung. “Lantas?” “Saya diminta menemui Nona Guru untuk membicarakan mengenai hal tersebut.” “Membicarakan pertanggungjawaban Nona Guru?” “Betul, sebab semalam Nona Guru kalian hanya membuat kesepakatan sama Tuan Valdin, dalam dua hari ke depan, memberikan biaya perbaikan mobil Tuan Valdin. Lantas beliau pergi tanpa memberikan nomor ponsel ke Tuan Valdin.” “Tapi dari mana Anda tahu Nona Guru tinggal di sini?” “Beliau hanya minta Tuan Valdin memotret KTPnya dan mempersilahkan Tuan Valdin kemari untuk mengecek kebenaran bahwa di sini tempat beliau tinggal.” Marko dengan pandai mengarang cerita demi menutupi kemesraan Valdin dan Chiara di hotel. Dia tidak mau merusak image baik Chiara sebagai Nona Guru yang kemungkinan besar seorang Nona billionaire terkemuka. Selain itu dia tahu Valdin inginkan Chiara, maka harus menjaga kehormatan gadis itu saat dia menyelidiki siapa sang nona. “I see,” Barry paham, “Maaf, boleh saya tahu berapa nominal biaya perbaikan mobil Tuan Valdin?” “Maaf, Tuan, belum ada rincian, karena masih dicek mekanik di bengkel langganan beliau.” Marko memberi jawaban yang bijaksana, karena memang belum diketahui secara rinci berapa total perbaikan tersebut. Lantas juga hanya sedikit kerusakan di bagian lampu depan kanan dan tepi badan mobil. Meski begitu, mobil sang pangeran adalah mobil balap mahal berstandar internasional. Barry menghela napas, merasa mengilu mendengar ini. Dia tahu Chiara terbebani membayar hutang Doel, kini menabrak mobil orang pula. Masih bagus bisa diselesaikan dengan damai, sehingga tidak perlu polisi campur tangan. Tapi kalau pun polisi menuntut sang nona, pasti Doel menghubungi Jenderal Harley juniornya untuk menolong nona pendekar itu. Namun tentu akan membuat Valdin bertambah penasaran mengapa Chiara yang hanya pengantar paket ditolong Jenderal Harley, salah satu perwira tinggi di Counter Terrorism Unit Badan Keamanan Dunia? Sebab lencana sang Jenderal menunjukan identitas sebagai jenderal tinggi di sana. Jika sudah begitu, lambat laun Valdin akan mengetahui identitas asli Chiara yang bernama Elanor Fausta Sampras, putri tunggal dari Jenderal Nathan Sampras, billionaire terpandang di dunia yang meninggal tragis dua puluh tahun silam. Nama Chiara sebenarnya nama Cina yang diberikan Doel, yaitu Fu Chia Ra, lantas oleh sang kakek menjadi Chiara Samsuar saja. Semua itu tidak boleh terjadi, sebab akan membuat bencana bagi Chiara, Brylee, Doel, perguruan ini dan warga setempat. “Baik, Tuan Marko,” Barry paham, “Maaf, saat ini, Nona Guru sudah berangkat ke tempat kerjanya. Kemudian Tuan Guru, kakek beliau, sedang keluar pula.” “I see.” Marko paham sudah feeling Chiara sedang tidak di sini, sebab jika ada, pasti Barry saat mengetahui tujuan dia kemari, akan menghubungi sang nona, minta bertemu dia. Dia yakin Chiara tidak akan menghindar menemuinya. “Tuan, maaf, boleh saya minta nomor ponsel Nona dan alamat tempat beliau bekerja? Agar Saya bisa menemui Beliau?” “Baiknya,” Barry tersenyum, “Anda tinggalkan nomor Anda atau Tuan Valdin ke saya, biar Saya sampaikan ke Nona Guru. Nanti pasti beliau menghubungi kalian.” *** Valdin mengamati hasil video yang dibikin Marko seputar wilayah perguruan Doel secara diam-diam dengan pulpen canggih sang asisten. Di mata dia, video itu biasa saja, sebab hampir mirip dengan perguruan milik Lu Shen gurunya yang tinggal di ChinaTown, Los Angeles. Lantas mengenai Chiara seorang Nona Guru pun bagi dia sesuatu yang wajar sebab melihat kemampuan sang nona saat menghadapi begal. Yang menarik hatinya adalah laporan Marko bahwa Chiara gadis yatim piatu yang diasuh seorang kakek di perguruan itu. Kini dia tahu mengapa Chiara menangis saat disinggung mengenai orangtua sang gadis. Hatinya terasa mengilu, ternyata gadis itu yatim piatu dan tidak bisa meminta bantuan sang kakek untuk persoalan menabrak mobil dia. Kemudian dari laporan Marko, Chiara sudah dipecat dari tempat kerja sebab membuat motor container beserta isinya hilang di lokasi tabrakan tersebut. Hati dia semakin mengilu, demi menyelamatkan dia, Chiara sampai terlupa untuk mengamankan dulu motor tersebut, lantas mengapa dia membawa si nona ke hotel dan tidak membiarkan nona meninggalkannya? Bagaimana bisa Marko ke tempat kerja Chiara? Valdin yang memberi alamat itu, sebab sempat pula memotret kartu pekerja si nona. “Tuan-!” Marko menegur Valdin, “Saya sudah menghubungi Jenderal Paul untuk menemukan motor container itu, karena saya sempat menanyakan plat nomornya.” Valdin menghela napas sambil mematikan tayangan video di laptopnya. “Kalau pun motor itu ketemu,” mulai bicara, “Isi container sudah disikat para begal itu,” ujarnya, “Chiara tetap harus mengganti isi container tersebut yang adalah pesanan para kostumer Ladies Fashion and Jewerly. Isi container, saya tebak bisa mencapai lima puluh juta, mengingat bisnis yang dijalanin Ladies Fashion and Jewerly adalah menjual gaun pesta dan perhiasan untuk kalangan billionaire.” Marko menyimak ini sambil menghela napas, tuannya benar, meski motor ditemukan, Chiara tetap harus mengganti isi container. Valdin mengusap kasar wajah, merasa sangat bersalah ke Chiara, mengapa menahan gadis ini di hotel bersamanya, tanpa menghubungi Marko untuk mengamankan motor tersebut. Tapi kalau pun dia telpon, saat Marko sampai di lokasi, pasti motor sudah dibawa para begal. Namun semua sudah lajur terjadi, dia harus mengambil tindakan menolong Chiara, jika tidak kehidupan sang gadis akan lebih terpuruk. Chiara hanya cucu dari Doel yang mengelola perguruan, bisa dipastikan tidak punya uang berlimpah untuk mengatasi masalah mengganti isi container. Itu isi pikiran dia, karena dia tidak tahu siapa Chiara dan Doel sebenarnya. “Tuan-“ Marko menegur Valdin, “Saya merasa, keluarga Nona Chiara pemilik perguruan itu.” “Mengapa Kamu feeling itu?” Valdin mengambil sebatang cigarette dari kotak kayu di meja kerjanya dan lighter, dinyalakan sejenak. “Liontin kalung Nona sama persis modelnya dengan lambang perguruan itu, kepala singa jantan yang dilingkari naga.” Valdin terheran, “Liontin kalung Chiara?” “Astaga, Tuan!” Marko menghela napas, “Anda semalaman bersama beliau, apa tidak menyadari beliau memakai kalung emas dengan liontin yang saya bilang?” Valdin terhenyak, lantas menggali ingatan apa saja yang dipakai Chiara semalam dan menghela napas. Marko benar, Chiara memakai kalung emas dengan liontin ukiran khas dan dia tidak menyadari itu. “Jika,” dia bersuara sambil memandang Marko, “Dia memang keluarga pemilik perguruan, apa masalahnya, Marko?” “Tuan tetap inginkan beliau bersama Anda? Sebagai kekasih atau istri? Lantas apa bisa Nyonya Elsa menerima beliau sebagai menantu? Ibu Anda ingin yang menjadi istri Anda sekelas dengan kalian yang billionaire.” “Tidak usah Kamu bertanya semua itu, Marko.” Valdin menghela napas, “Sekarang, Kamu kembali ke tempat kerja Chiara, temui pimpinan dia dan caritahu apa saja isi container di motor yang hilang itu. Setelah itu laporkan ke saya.” Marko hendak menanggapi, tapi ponsel si bos berdering. Valdin cepat mengambil dari atas meja, lantas tersenyum melihat layar tersebut muncul foto cantik Chiara dan nomor gadis ini. Dia menduga, Barry sudah menyampaikan kedatangan Marko dan memberi nomor dia ke sang nona. Dia memuji, Chiara berani menghubungi dia, tidak ke Marko. Dia segera menjawab panggilan masuk tersebut. “Selamat siang.” Sapanya pura-pura tidak tahu kalau Chiara yang menelpon, agar si nona tidak sewot ternyata dia sudah punya nomor sang gadis. “Siang, Tuan.” Sayup terdengar suara indah sang nona, “Maaf, apa Saya bicara dengan Tuan Valdin Estefan?” “Benar.” Valdin mendengar suara gadis ini menjadi merindu. “Anda siapa, Nona?” “Saya, Chiara Samsuar, Tuan. Yang semalam tidak sengaja menabrak mobil Anda.” “I see.” Valdin kembali tersenyum, “Apa Kamu sudah ada uang untuk biaya perbaikan mobilku, Nona?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN