Bab 8 Sang Presdir Melimpahkan Cinta

1704 Kata
Valdin melempar segenggam pelet ke permukaan kolam ikan di depannya. Dia dan Marko berada di private saung kenanga, Dadapan Restoran di Bogor, menanti Chiara datang. Sang nona tidak mau mereka bertemu di hotel semalam, maka Valdin cepat minta Marko reservasi private saung tersebut, agar nanti sang gadis nyaman mengobrol sama dia. Sang pangeran pun sempat make over penampilan sebelum kemari dengan membilas badan dalam kamar mandi ruang kerjanya dan memakai kemeja berwarna kuning gading dipadu celana panjang hitam. Dia pun memakai deodorant dan parfum, agar Chiara betah dalam pelukannya. Marko hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa yakin seratus ribu persen, si bos fallin in love saat ini. Sesuatu yang baru dialami sang pangeran, sebab selama ini, meski living together sama Karla selama dua tahun, bos tidak pernah secentil sekarang. Sementara di parkiran motor sebelah kanan halaman luar restoran, Chiara melepas helm dari kepalanya, dikunci kait sabuk helm dan mencantelkan sabuk ke salah satu stang motor D****i miliknya yang dibelikan Brylee saat dia berusia 17 tahun. Dia kemari sengaja dengan motor biar cepat sampai, lantas karena kakinya yang keseleo sudah diurut Bram dengan teknik urut tradisional Cina. Setelah helm aman, dia menurunkan tas ransel dari punggungnya, dikeluarkan beauty case dari dalam sana sambil meletakan tas ke atas aspal parkiran. Tidak lama dia sedikit make over make up di wajahnya, sebab dirasa wajah itu sudah kucel akibat kena udara di sepanjang jalan Jakarta Bogor ini. Meski dia tomboy, tapi sedari kecil, Brylee dan Doel mengajarinya untuk berdandan, agar tetap segar dan enak dilihat. Setelah selesai mengoles lip balm berwarna nude cherry di bibir seksinya, segera dikemas kembali perlengkapan make up ke dalam beauty case dan dimasukan ke tas, baru memanggul tas di punggung. Terakhir dilepas karet pengikat ekor kuda rambutnya dan menyisir rambut tersebut yang ikal berwarna coklat tua dengan jemari dia. Kemudian bergegas masuk ke dalam restoran dan menghampiri desk resepsionis. “Siang, Mbak.” Disapa perempuan yang bertugas di sana dengan sopan. “Siang, Nona.” Si petugas menyahut, “Selamat datang di Dadapan Restoran,” langsung mengucapkan pula salam selamat datang, “Anda mau reservasi tempat untuk berapa orang?” tanyanya dengan ramah, sebab aura dalam diri Chiara menunjukan sang gadis dari kalangan atas, meski berbusana casual. “Saya tidak pesan tempat, Mbak.” Chiara menyahut dengan sopan, “Saya mau tanya, di mana letak private saung kenanga yang direservasi atas nama Valdin Estefan?” ditanya letak private saung yang dibuking Valdin. Si petugas menyimak pertanyaan sang gadis, lantas, “Maaf,” dipandang sang gadis, “Apa Anda, Nona Chiara Samsuar?” “Betul, Mbak.” Chiara membenarkan. “Baik, Nona Chiara,” sang petugas tersenyum, “Silahkan Anda duduk dulu di sana,” lantas menunjuk sofa tamu yang berada di seberang desk ini, “Saya hubungi Pak Marko, asisten Tuan Valdin Estefan, agar beliau menjemput Anda kemari.” Dijelaskan mengapa minta si nona duduk di sofa tersebut, “Karena tadi Tuan Valdin berpesan, saat Anda datang, Kami menghubungi Pak Marko asisten beliau.” “Oke,” Chiara paham prosuder para pengusaha dan billionaire yang menyewa ruang makan private, maka akan mengkonfirmasikan siapa saja tamu yang ditunggu mereka dan saat datang meminta resepsionis menghubungi asisten agar menjemput tamu tersebut. “Makasih, mbak.” Diucapkan terima kasih, lantas melangkah menuju sofa tersebut. Diturunkan ransel dari punggung, diletakan di lantai dan duduk di sofa. Tidak lama, Valdin sendiri yang datang dan mendekati sang gadis. “Chiara.” Ditegur si gadis dengan suara baritonnya yang seksi tersebut. Chiara mengalihkan pandangan ke suara tersebut, lantas berdiri menghadap Valdin. Tidak menyadari kalau sekali lagi dia membuat kedua mata Valdin terpesona dan entah kenapa, satu tangan pria itu menarik tekuk dia dan meraup bibir seksinya. Dia terhenyak, cepat tersadar mereka berada di tempat umum, hendak melepas ciuman sang presdir, tapi malah pinggangnya dikunci tangan lain tuan muda. Jantungnya berdebar, ingatan pun kembali ke saat mereka bermesraan di hotel, dan kedua matanya menatap Valdin manakala ciuman itu dilepas sang presdir dan kening mereka bertempelan. Tampak sinar mata pria itu merindukan dia. “Kamu-“ terdengar suara Valdin, “Berhutang penjelasan ke Aku, mengapa meninggalkanku sendiri di hotel.” Tuing, dikira sang presdir akan mengatakan, “Kamu cantik banget saat ini.”, ternyata mengomelinnya yang meninggalkan tuan itu sendirian di hotel. Chiara menghela napas merasa sikap arogan tuan ini kumat lagi. Valdin pun terhenyak, sedikit mengernyitkan mata, mengapa dia mengatakan itu? Padahal dia ingin bilang, “Chiara, Aku kangen banget sama Kamu, sejak Kamu pergi dariku.” “Valdin, bisa kita bicara mengenai peristiwa kemarin?” dia segera mengatakan mengapa mereka di sini. “Oke-“ Valdin menganggukan kepala, lantas menunjuk ransel di lantai, “Ini ranselmu?” tanyanya memandang Chiara. “Iya.” Chiara menyahut dan hendak meraih ransel tersebut, tapi Valdin cepat mengambil dan dipanggul ke punggung kokoh pria itu, “Valdin!” rengeknya resah karena ransel diambil sang pangeran. Valdin tidak menghiraukan, mengulurkan kedua tangan, dan cepat menggendong tubuh Chiara. “Valdin-!” terdengar pekik kecil si nona di mana spontan kedua tangan memeluk leher Valdon, “Kamu apaan sih? Kok menggendong Aku?” ditatap heran wajah pria itu. “Kakimu masih sakit.” Valdin melirik kaki kanan Chiara, “Apa Kamu lupa kaki itu kemarin malam tertimpa body motormu?” lantas bertanya sambil menatap sang nona. Tuing, Chiara terhenyak, lantas menghela napas. “Iya, lupa-“ sahutnya judes, “Karena kakiku sudah tidak sakit sebab diurut Paman Bram.” Dijelaskan pula mengapa lupa kakinya keseleo, lantas hendak meluncur turun, tapi Valdin segera melangkah, “Valdin!” dikeplak kesal d*** pria itu. Valdin tidak mengindahkan, terus membawa mereka menuju saung Kenanga yang berada di halaman belakang restoran ini. Di sana ada tiga tipe saung, yaitu Private Saung-pendopo ekslusif untuk miting pribadi, satu keluarga, atau berdua pasangan saja; Middle Saung, tempat makan untuk dua sampai tiga keluarga; dan terakhir Regular Saung, tempat makan untuk jumlah orang yang lebih banyak. Marko yang berdiri depan private saung kenanga melongo melihat Valdin menggendong Chiara sambil memanggul ransel di punggung. Gegas, dia mendekati tuannya ini, tampak cemas. “Tuan muda-“ ditegur si bos yang tetap melangkah tenang sambil menggendong Chiara, “Nona Chiara kenapa? Apa beliau sakit?” lantas bertanya sambil mengikuti langkah majikannya ini. Valdin tetap tidak menjawab, sedangkan Chiara menghela napas. Si nona tidak bisa protes lagi, sebab Valdin tidak perduli, tetap membawanya dengan digendong. Tidak lama mereka sampai di saung Kenanga, Valdin mendudukkan Chiara dengan hati-hati dilantai kayu saung, lalu menurunkan ransel dari punggung dan disandarkan ke dinding, baru duduk menghadap sang gadis. Marko menggaruk sedikit kepala, merasa tidak perlu bertanya lagi apa yang terjadi sama Chiara. “Marko-“ sekonyong-konyong Valdin memanggil Marko. “Saya, Tuan.” Marko menyahut sambil sedikit merundukan badan ke depan, “Apa Anda dan Nona mau memesan sekarang lunch kalian?” lantas menawarkan si bos untuk memesan lunch di sini. “Bentar, Marko-“ Valdin menunda menjawab pertanyaan asisten ini, “Coba kamu ke mobil saya-“ dia memberi perintah, “Ambil tas kain berlogo Biomedika Hospital dari bangku kabin belakang, dan bawa kemari,” dia menjelaskan mengapa memberi perintah, “Saya mau cek kaki Chiara yang kemarin memar keseleo kena timpa body motor.” “Baik, Tuan-“ Marko paham, “Tuan, gimana sama makanan untuk lunch?” “Siapkan saja semua hidangan terbaik di resto ini, Marko.” Valdin memberi jawaban, “Biar Chiara memilih sendiri apa yang diinginkan untuk lunchnya.” “Marko!” Chiara berseru sebelum Marko menyahutin Valdin, “Tolong pesankan dulu segelas es jeruk manis.” Dia minta dipesankan minuman, “Saya lupa minum sebelum kemari.” “Baik, Nona.” Marko paham, “Tuan,” dipanggil Valdin, “Anda mau dipesankan minuman yang sama untuk melepas haus? Anda kan dari kantor juga lupa minum.” “Boleh.” Valdin setuju, lantas satu tangan terulur ke arah kepala retsleting jaket kulit di badan Chiara, hendak menarik turun retsleting tersebut agar si nona lebih nyaman. “Kamu mau apa?” Chiara cepat mengeplak tangan itu, kedua matanya dibelalakan dengan galak. “Kamu masih pakai jaket, Nona.” Valdin menghela napas, menunjuk jaket tersebut “Hari ini cuaca panas, baiknya Kamu lepas jaketmu.” “Ngga mau!” “Kenapa? Takut kusergap Kamu seperti semalam?” Chiara mendengar ini menjadi kesal, kembali dikeplak tangan sang presdir. “Gara-gara Kamu-“ dimarahin pula tuan ini, “Beberapa bagian leherku ada stempel merah darimu!” ditunjuk lehernya yang tertutup kerah jaket. Marko mendengar ini segera pergi, tidak mau terlibat pembicaraan horror itu. “Aku tidak lihat itu.” Valdin memancing Chiara agar melepas jaket, sebab melihat kening sang gadis mulai terhias bilur keringat. Si nona merentakan bahu, lantas menarik turun retsleting jaket hingga tampak lah tubuh bagian atasnya terbalut kaos stretch tali spaghetti. Lantas kedua melon bulat indah miliknya menceplak ke kaos tersebut. Dia tidak sadar membuat Valdin terpesona. “Ini!” ditunjuk satu cupang di lehernya, “Stempel darimu kan?” Valdin tergelegap dari rasa terpesona, melihat ke cupang itu dan tersenyum. Jari telunjuknya mengusap pelan bulatan mesra bikinan dia. Kedua matanya pun menyisir ke permukaan lain leher mulus sang nona dan kembali tersenyum mendapati lingkaran yang sama di sana. Chiara menyingkirkan jari Valdin, dipelototin sang presdir. “Udah tahu kan kenapa aku tetap pakai jaket?” Valdin menggelengkan kepala. “Nutupin ini selain menjaga badanku dari serbuan udara saat mengemudikan motorku kemari!” Valdin terperanjat, “Kamu kemari pakai ojek online kah?” “Motor kakekku.” “Hah?!” kembali pria ini terperanjat, “Kamu kemari dengan motor kakekmu? Motor matic seperti motor container pengantar paket itu?” Chiara menggelengkan kepala, “Kapan nyampenya kalau pake motor itu kemari?” dia menghela napas hendak menarik kembali retsleting jaket tapi Valdin cepat menurunkan jaket itu dari badannya, “Valdin!” “Tidak mengapa keliatan olehku stempel itu.” Valdin menyahut, “Daripada Kamu kegerahan dan berkeringat.” Imbuhnya berhasil melepas jaket dari badan si nona, lantas mengeluarkan handuk tipis dari salah satu saku celananya dan menyeka lembut keringat dari kening sang gadis. Chiara tertegun, sikap sang pria meski suka judes tapi sebenarnya sangat lembut ke dia. Valdin pun kemarin mengoles lotion pereda nyeri dipermukaan s**********n dia. Mendadak dia terkesiap sebab merasa bibir pria itu mengecup dalam-dalam sisi lehernya, membuat dia bergidik, mengapa setiap di dekat sang presdir, dia tidak berdaya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN