Valdin melepas ciumannya, lantas mengusap jari ke bekas kecupan dia. Tampak di sana bulatan merah baru. Di dekatkan bibir ke telinga kanan dia dan bisik lembut.
“Aku pasti membuat lebih banyak kecupan di badanmu.”
Chiara terkesiap, lantas memutar pandangan dan mengeplak bibir pria itu.
“Dasar m***m!”
“Biarin.” Valdin menyahut santai, “Kamu milikku, sah aja aku bikin kecupanku di badanmu.”
“Aku bukan milikmu!” Chiara sedikit menghardik Valdin, “Valdin!” ditatap pria ini yang menghela napas karena hardikannya, “Aku merasa bikin kesalahan terbesar semalam dan kuputuskan tidak mengulangnya.”
“Kesalahan itu bisa kujadikan kebahagiaan untukmu.”
“Aku tidak mengenalmu sama sekali, Tuan Valdin Estefan!”
“Aku tidak perduli karena Kamu sudah memikat hati dan pikiranku! Aku juga sudah mengambil mahkotamu! Maka Kamu milikku, Chiara!”
Chiara ternganga mendengar ini, “Anda sadar yang Anda katakan?”
“Sangat sadar, Chiara.” Valdin membelai saying wajah Chiara, “Sudahlah-“ diakhiri pembicaraan ini, “Jalan kita ke depan masih panjang dan kuyakin bisa melangkah bersama.”
Chiara melepes mendengar ini, merasa sang presdir benar-benar sudah gila.
Marko datang dengan menenteng tas kain pesanan Valdin, dan bersama seorang pelayan yang membawa baki berisi dua gelas es jeruk segar, lantas menghidangkan di atas meja pendek. Setelah pelayan pergi, Marko meletakan tas kain ke lantai depan Valdin duduk.
“Pesanan Anda, Tuan.” Ditegur si bos yang sedang mengambil satu gelas es jeruk dari meja.
“Makasih, Marko-“ si bos mengucapkan terima kasih, “Kamu boleh pergi untuk makan ya.” Dia mengistirahatkan asisten.
“Tuan, saya berjaga di depan saung ya-“ Marko tidak menuruti perintah Valdin, “Jadi Tuan atau Nona ingin sesuatu bisa langsung saya ambilkan.”
“Terserah Kamu.” Si bos menjawab singkat, lantas menyodorkan gelas es jeruk ke Chiara, “Minumlah dulu agar hausmu hilang.”
Marko mundur ke belakang, lalu memutar badan, dan melangkah menuju pintu saung, berdiri di sana.
“Makasih.” Chiara mengambil gelas tersebut, cepat menyumputkan ujung sedotan ke celah bibir dan menghirup air jeruk itu. Karena hatinya sedang kacau, air jeruk cepat habis.
Valdin tersenyum, diusap saying helaian rambut di kening si nona.
“Masih haus kah?” tanyanya saat sang gadis menyodorkan gelas kosong ke dia, “Kalau iya, minum es jeruk punyaku saja.” Diambil gelas itu, diletakan ke meja dan mengambil gelas es jeruk miliknya, disodorkan ke nona ini.
Chiara mengambil gelas itu, segera menyeruput air jeruk itu sampai habis. Dia tengah kacau dan kesal, jadi kuat menghabiskan dua gelas tinggi es jeruk. Setelah itu dioprok gelas ke tangan sang presdir, tapi kemudian terkaget.
“Tuhanku!”
“Ada apa?”
“Kamu belum minum kan?” Chiara ingat Valdin belum minum,”Kenapa aku habiskan minumanmu?”
Valdin mendengar ini tersenyum geli, diusap saying kepala sang gadis.
“Menyesal kemudian tiada guna, saying.” Kekehnya sambil meletakan gelas ke meja, “Oke-“ kembali menatap gadisnya yang manyun, “Aku cek kakimu dulu-“ ujarnya pelan menyelonjorkan kedua kaki si nona, tapi cepat cucu Doel menarik semua kaki itu, disilang ke depan, “Ara!” dia menjadi gemas, “Aku mau ngecek kakimu itu. Kemarin Kamu lepas perban bebat, dan main pergi saja. Sekarang Kamu kemari pakai motormu, karena kamu bilang kakimu sudah sembuh.”
“Ngga perlu Kamu cek kakiku.” Chiara bicara judes dengan wajah manyun.
Valdin menghela napas, “Baik-“ dia mengalah, “Oke-“ ditatap gadisnya, “Sekarang, Kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan ke Aku mengenai kerusakan mobilku itu.”
Marko mendengar ini terkesiap, mengernyitkan wajah, kenapa si bos bicara itu sih? Chiara lagi judes, mbok ya dibujuk biar tenang. Payah banget bos ganteng ini, sikap arogan tidak bisa disimpan dulu demi bersikap sabar menghadapi pasangan yang mengambek.
“Aku usahakan besok mengantar uang perbaikan mobilmu.” Chiara memberi jawaban.
“Kamu sudah tahu berapa biayanya?”
“Belum.”
“Jika belum tahu-“ Valdin menatap Chiara dengan wajah serius. “Mengapa menjanjikan membawa uangmu ke Aku, hmm?” tanyanya sambil sedikit menjawil hidung mancung si nona.
Chiara terhenyak, benar juga ya. Dia belum tahu berapa jumlah biaya perbaikan tersebut, mengapa menjanjikan membawa uang ke Valdin.
“Kamu juga-“ Valdin melanjutkan bicara, “Tidak tahu kan kerusakan dibagian mana mobilku?” ditanya sang gadis yang diketahui tidak mengetahui bagian apa yang rusak akibat ditabrak si nona.
Kembali Chiara terhenyak, karena dia tidak menanyakan itu akibat rasa panic luar biasa.
“Kalau-“ sang dokter masih bicara, “Kamu memang ingin bertanggungjawab atas kerusakan mobilku itu, Kamu tetap bersamaku di hotel, menunggu Marko datang memberi laporan dari bengkel.” Ditegur sikap Chiara yang keliru karena meninggalkan dia begitu saja, tidak menunggu Marko memberi laporan mengenai apa saja yang rusak dan berapa biaya perbaikannya. “Kamu juga akan meminta nomor ponselku saat kita dinner.”
Mendengar teguran ini yang disampaikan dengan suara tenang dan lembut, membuat hati Chiara bersalah ke Valdin. Dia yang baru pertama kali bercinta, menjadi kacau hati, sehingga memutuskan pergi.
“Aku tahu-“ pria ini terus bicara, “Kamu ingin mengambil kembali motor container ke lokasi tabrakan. Tapi kan bisa dilakukan setelah Marko memberi laporan mengenai mobilku. Aku pun bisa menemanimu ke sana dan jika ternyata motor itu hilang, Aku bisa membantumu mempertanggungjawabkan itu ke pimpinanmu, karena semua itu akibat Kamu menolongku dari begal.”
Tuan putri memandang Valdin, ternyata pria ini tidak limbung, sehingga bisa mengawasi dia.
“Ternyata-“ dia mulai bicara sambil memandang sang presdir, “Malam itu, Kamu tidak limbung.”
“Setengah limbung,” Valdin meralat, “Tapi, karena dari kecil dididik tetap peka ke sekitar, Aku mengawasimu. Sampai Aku tahu Kamu slebor.”
“Aku?!” Chiara menunjuk diri sendiri.
“Iya, Kamu.” Valdin menganggukan kepala, “Karena Kamu main membawa kita dengan mobilku dan membiarkan motor kantormu di lokasi begitu saja.”
“Jika Anda tahu mengapa saat itu membiarkanku begitu? Bahkan menahanku di hotel?”
“Kamu tahu kan situasi di sana belum aman, hmm? Kamu sudah susah payah menyelamatkan nyawa kita berdua!”
Chiara terhenyak, jawaban Valdin masuk di akal warasnya.
“Kenapa kubawa Kamu ke hotel-“ sang dokter melanjutkan, “Kakimu sakit, perlu kuobatin. Lantas, Aku melihat Kamu ada masalah berat dan aku pun masih setengah mabuk. Kita butuh tempat istirahat yang nyaman dan tenang.”
“Dari mana Anda tahu saya tengah ada masalah?” Chiara terheran mendengar yang dituturkan sang presdir.
“Ban motormu kempes,” Valdin menyahut, “Kamu tetap lajukan dengan alasan lokasi itu rawan, padahal Kamu jago kungfu.” Dijelaskan mengapa dia tahu sang gadis tidak tenang, “Lantas, dari caramu menghajar semua begal, hanya dilandasi kekesalan semata yang bukan karena begal!”
Chiara terperangah, ditatap sang presdir, tidak menduga sama sekali pria ini bisa membaca bahasa tubuh seseorang tanpa disadari orang tersebut.
“Jadi Anda memang mengawasiku?”
“Iya, kamu membuatku kagum dan tergerak ingin mengetahui apa masalah yang kamu hadapi.”
“Mengapa saat itu Kamu judes ke Aku?”
“Itu sifatku, Chiara!”
Chiara mendengus kesal.
Lantas Marko masuk ke saung bersama beberapa pelayan restoran yang membawa banyak menu makan siang. Dengan sigap dia meminta para pelayan menghidangkan ke atas meja pendek, lantas menyuruh mereka pergi dan dia kembali berdiri di teras membelakangi pintu saung.
Valdin meraih tangan Chiara, bicara dengan lembut, “Kita lunch dulu.”
Chiara menepis tangan sang presdir, “Aku kenyang.”
“Kenyang minum dua gelas es jeruk?”
“Kenyang ditegur Kamu!”
Valdin menghela napas, “Chiara-“ disentuh pucuk dagu sang gadis dengan tangannya, dihadapkan wajah nona ke dia, “Kamu tahu kenapa kutegur? Karena Kamu tidak juga sadar kalau bikin kekeliruan yang menambah masalahmu. Kamu juga mencurigaiku.”
“Karena Anda dari awal judes ke Aku!” Chiara menyemburkan kekesalan, “Bahkan Anda seenaknya membawaku ke hotel, menyuruhku dandan ala kupu-kupu dan menyentuhku! Bahkan Anda memintaku berhenti kerja karena Aku milikmu! Di mataku, Kamu memang tidak waras, membuatku curiga dan meninggalkanmu!”
“Iya, saat itu aku memang setengah mabuk karena baru menyaksikan tunanganku menikah sama pria lain!” Valdin menjadi emosi, “Tapi Aku tetap sadar, melihat motormu menabrak mobilku dan cepat banting stir ke arah lain, agar Kamu tidak meninggal! Aku juga menolongmu yang mental ke bahu jalan! Apa Kamu tidak melihat Aku pria baik, bukan pria b******n?”
“Tapi kenapa Anda menyentuhku?”
“Karena kita berdua butuh sentuhan, Chiara!”
“Valdin!” Chiara menjadi naik darah, “Anda menyergapku karena kem***man Anda!”
“Kalau Kamu tenang-“ Valdin tidak mengubris, “Kamu bisa menghajarku dengan kungfumu!”
Chiara terhenyak, merasa dibuka kedua mata hatinya dengan gamblang sama Valdin. Malam itu, dia tidak tenang sama sekali, sehingga tidak menolak dimesrain sang pria. Sentuhan pria itu dirasa memberinya kenyamanan dan kenikmatan yang bisa menenangkan semberaut pikiran.
“Sudahlah-“ Valdin menghela napas, “Sekarang baiknya kita lunch ya.” Diakhiri perdebatan mereka sambil mengambil piring dari meja, hendak disodorkan ke Chiara, tapi sang gadis cepat memakai jaket, “Kamu mau kemana?” tanyanya.
“Pulang!” Chiara menyahut, “Cukup sampai di sini miting kita.”
“Apa Kamu sudah tahu berapa biaya perbaikan mobilku?”
Chiara terkaget, diputar badan ke arah Valdin dan menatap sang presdir.
Valdin menghela napas, tadi sengaja melontarkan pertanyaan tersebut untuk menahan Chiara di sini. Dia baru menemplak si nona sehingga perasaan gadis ini menjadi emosi. Jika dibiarkan pergi tanpa makan pula, bisa celaka dalam perjalanan.
“Marko!” Valdin segera memanggil Marko.
“Saya, Tuan!” Marko menyahut sambil membalikan badan mengarahkan pandangan ke si bos, “Tuan butuh sesuatu kah?”
Valdin memainkan jari telunjuknya minta asisten ini ke dalam saung dan duduk di antaranya dan Chiara.
“Coba-“ sang presdir bicara ke asistennya, “Kamu beritahu ke Chiara,” ditunjuk Chiara, “Bagian apa saja yang rusak karena ditabrak motornya.” Diminta agar pria itu memberitahu hasil pengecekan bengkel, “Beritahu pula berapa biaya perbaikan sesuai dengan kerusakan yang ada.”
Marko menjadi serba salah, hendak bersuara, tapi cepat disalip Chiara.
“Katakan saja, Marko!”
Si asisten menghela napas, lantas memberitahu hasil pengecekan bengkel mengenai kerusakan mobil Valdin akibat ditabrak motor Chiara, berikut dengan rincian biaya perbaikan.
Chiara terhenyak, tidak menyangka jumlahnya besar banget, membuat kepala dia pening. Hutang Doel bernilai 100 juta, lantas biaya perbaikan mobil Valdin mencapai 100 juta, ditambah mengganti motor dan isi container yang diperkirakan berjumlah lebih dari 100 juta. Dari mana dia mendapatkan semua uang tersebut, sedangkan dia tetap tidak mau menghubungi Brylee seperti saran Bram.
Valdin menghela napas melihat reaksi Chiara. Dituang air putih ke dalam gelas kosong, lantas dengan lembut menyodorkan gelas tersebut ke sang nona.
“Minum dulu, Sayang.”
Chiara memandang sang presdir, kemudian mengambil gelas itu, diteguk airnya setengah bagian saja, lantas dikembalikan gelas ke tangan tuan muda.
“Kita makan dulu ya.” Valdin memberikan gelas ke Marko, kembali membujuk sang nona agar mau lunch, “Aku tahu perutmu pasti tidak diisi dari Kamu meninggalkanku di hotel.”
“Sok tahu!” Chiara memandang jutek pangeran ini.
“Tahu karena saat kukecup lehermu, memeriksa denyut nadi pergelangan tangan kananmu.”
Chiara tersentak kaget, “Anda melakukan itu?”
“Iya,” Valdin menganggukan kepala, “Karena kulihat rona wajahmu sedikit pucat, meski kamu dandani make up.”
“Hais!” Chiara mendengus kesal, “Anda ini detektif kah, seringkali menyelidikiku diam-diam?” dipandang sang dokter dengan kesal.
“Karena Kamu milikku.” Valdin tersenyum, “Mau ya Kamu makan dulu?”
“Ngga mau!” Chiara tetap menolak, diputar badannya ke arah ransel, diraih tas tersebut dan dipanggul ke punggung, “Terima kasih, Tuan Valdin.” Kembali memandang sang presdir yang menghela napas menahan kesal dengan sikap keras kepalanya, “Besok, Saya pasti membawa uang itu ke Anda. Jadi harap ponsel tetap aktif ya.”
“Kamu mau pergi dengan perut kosong dan pikiranmu kacau, hmm?”