. Janaka berjalan perlahan begitu sampai di depan rumahnya. Sederhana. Dia lebih senang tinggal di komplek perumahan daripada di apartemen. Dia suka kalau ada 'tamu' tak diundang datang ke taman kecilnya. Lahannya memang kecil, sengaja memang. Dia juga bukan orang yang rajin beres-beres. Toh dia hidup sendiri, tak perlu repot beres-beres lama. Namun, kini seseorang di depan rumahnya, tepatnya duduk di teras rumah mungilnya. Janaka mengembuskan napas, tahu bahwa hal ini akan terjadi. "Kan udah dibilangin Ta, mending udah kelarin semua. Berasa gigolo, tahu nggak Ta?" pendar kesal terbaca di matanya. "Kamu datang pas butuh aku cuma buat jadi sandaran dari rasa lelahmu ngejar dia," imbuhnya masih menderu. "Jak!" Perempuan yang ia panggil Tita itu menubruknya, menyusup dalam peluknya.

