. "Pikirkan lagi, Agnes." Ardan lalu keluar dari kamar si gadis. Agnes mengembuskan napasnya lelah setelah tadi berjibaku dengan perasaannya sendiri. Perasaan takut, cemas sekaligus merasa tertantang! Bagaimana tidak, papinya seolah meremehkan lamaran Janaka. Padahal Janaka tengah membuktikan pertanggung-jawabannya. "Lalu Papi lebih memilih aku lanjut sama Tius, gitu?" ada nada putus asa di suaranya yang parau. "Apa karena Janaka asing? Tapi dia nggak asing buat aku, Pi! Kriteria Papi adalah yang suka selingkuh? Papi pengen aku mati sengsara karena sakit hati?" kejar Agnes. "Oke, kalo kamu nggak lanjut sama Tius, oke! Tapi nggak sama dia, masih banyak hal yang ganjil, banyak yang nggak Papi tahu soal dia." Agnes tersenyum miring,"Jadi Papi lebih tahu Tius ya? Kalo Papi tahu, nggak

