Bab 2 - Pembullyan

1538 Kata
Irenee povv... Namaku Irenee Calandre Aldebaran. Di panggil Irenee. Bacanya Airin ya. Jangan Irenee. Hari sekolah pertama sukses membuatku mendapat perhatian dari seluruh sekokolahan. Selain perhatian karna aku cantik dan memukau aku mendapat perhatian karena Darrell lebih memilihku di banding Mira pacarnya yang queen bee. Seperti itulah yang di katakan Gisell. Huft.. Rasanya pingin tertawa kalau mendengar itu. Darrell kembaranku bukan pacarku. Yah, sepertinya kebiasaan Darrell tetap tidak berubah. Dia selalu nerima perempuan yang mengajaknya berkencan. Tapi jika dia melakukan kesalahan yang tidak di sukai Darrell, Darrell akan memutuskannya. Contohnya Mira. "Ciee.. Quen bee baru kita." Kata Alice. Oh sebelum kita lanjut kenalin ini Alice. Temannya Gisell. Alice ini salah satu kandidat the next admin lambe turah di sekolahan. Jadi tidak akan ada berita yang luput dari pandangan Alice. Meskipun begitu, Alice ini berjanji tidak akan menyebarkan gosip yang nggak-nggak untuk Gisel nantinya saat dia jadi admin lambe. Sudah dulu tentang Alice. Aku melihatnya penasaran. Queen bee?? Aku?? Sejak kapan?? "Siapa queen bee?" tanyaku "Lau." tunjuknya kepadaku. "Kok bisa?" "Ya bisalah.. Anak-anak yang bilang gitu. " "Karna dasar apa?" "Dari pada lo mikirin karna dasar apa mending lo pikir alasan, kayaknya Mira nggak bakal terima lo rebut posisinya." potong Gisel "Lo terbaik di semua hal Rin di banding Mira." jawab Alice. "Bener sih." kataku membenarkan perkataan Alice. "Darrell lagi main basket, lo nggak mau nonton?" tanya Alice. Mendengar nama kembaranku aku mengingat Reyhan. Orang itu pasti lagi main basket juga. Aku langsung mengiyakan ajakan Alice. Tapi di tengah jalan aku melihat seorang murid sedang mengepel lantai. "Ck ck... Gue sih ga bakal mau di hukum kayak gitu." Alice dan Gisel melihat ke arah orang yang aku maksud. "Di hukum?? Babu?? Dia kerja keless." Ucap Alice. "Kerja?? Bukannya dia murid?" "Iya... Tapi si babu itu sering bantuin di sekolahan terus di kasih upah." jawab Alice lagi. " Oh.. Namanya lucu juga, Babu." Gumanku. Gisel dan Alice langsung menatapku. Aku balas menatap mereka dengan tatapan emang ada yang salah? Mereka berdua tertawa kemudian. "Anjirr... Babu itu julukan. Like pembantu gitu loh." jawab Alice merendahkannya. "Nama aslinya siapa Sel?" tanya Alice kali ini. "Entah " jawab Gisel. "Yaudah ngapain bahas dia langsung nonton yuk." ajakku. Sampai di lapangan basket tempat itu sudah full dengan kaum perempuan yang berteriak memanggil nama Darrell, Sean, Reyhan, dan Aril. Aku menutup kupingku. Sial aku ingin lihat Reyhan. Aku langsung menerobos masuk agar bisa sampai di bangku penonton. Sebenarnya bukan mau duduk di bangku penonton tapi di tempat para pemain yang beristirahat. Aku menonton permainan dengan tenang. Tidak mungkin dong dengan teriak alay begitu. Not me banget gitu. Aku menghampiri Reyhan yang selesai main basket dengan berdalih menemui Darrell. Tapi disana aku melihat Mira dan teman-temannya. Aku melihat salah satu teman Mira memberikan minum kepada Reyhan. Dan Reyhan menerimanya. Apa?? Nerima?? Diterima?? Hah... "b***h, kalo gua jadi lo udah malu kali di tolak masih aja ngejar-ngejar." kataku sinis. Sebenarnya aku mengatakannya untuk orang yang memberikan minum kepada Reyhan. Bukan Mira. "Yang penting gua bukan pelakor, PHO." saut Mira tak kalah sinis. Aku tidak peduli dengan perkataannya. Yang kupeduliin hanya Reyhan. Reyhan sendiri tidak menatapku sama sekali. Dia mengambil handuknya dan melangkah pergi. "Gua nggak ada urusan sama lo bicth." Setelah mengucapkan itu aku langsung pergi mengejar Reyhan. Aku mengikutinya tapi kulihat dia menemui seorang perempuan culun dan tertawa bersama. Reyhan sendiri menggenggam tangannya. Aku segera pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi, tiba-tiba sudah ada yang menarikku dan membawaku ke toilet. Aku menatap mereka berlima dengan sinis. "Jadi beraninya keroyokan?" "Kenapa?? Lo takut?? Emang lo pikir gue nggak bisa bales lo." Kata Mira yang sudah menarik rambutku. Dan kedua anteknya yang memegangi badanku. "Lo salah cari masalah sama gue." Ucapku "Oh ya?? Kita buktiin aja kalau gitu." Setelah itu dia langsung memasukan wajahku di wastafel yang sudah penuh air. Aku Irenee Calandre Aldebaran. Sejak kecil nggak pernah ada yang melakukan hal seperti ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku akan membalas kalian sejuta kali lebih jahat dari ini nanti. "Ini buat lo yang udah berani ngerebut Darrell dari gue!" setelah itu dia memasukan wajahku lagi. "Uhk...uhuk... Gue nggak pernah rebut Darrell dari lo!" kataku. "Nggak rebut Darrell?? Masih berani lo ngomong kayak gitu. Ambil airnya" Dia langsung menyiramku dengan air bekas cucian lantai. Setelah itu dia memasukan wajahku lagi. ****❤**** "Eh babu, mana airnya buat gue aja." Rebut Cecil "Mau buat apa?" "Nggak usah banyak tanya!! Minggir sana miskin!!" dorong Mira. Mereka berlima langsung pergi meninggalkan Azam. Azam mengikuti mereka diam-diam. Tiba-tiba dia melihat Perempuan bermata biru itu ditarik paksa oleh Mira cs dan di bawa masuk ke toilet. Azam ingin menolongnya tapi dia sadar dia tidak akan bisa menolong perempuan bermata biru itu. Dia teringat Sean dan Darrell. Gadis itu memiliki hubungan dengan kedua orang itu. Azam berlari mencari mereka berdua di lapangan basket. Sedangkan Darrell sendiri merasa perasaannya tidak enak. Mungkin adiknya itu sedang patah hati. "Darrell." Panggil seseorang. Darrell menoleh. "Ngapain babu kesini? " tanya Sean mengejek. "Irenee, tadi aku lihat dia di bawa masuk toilet sama Mira." Darrell melotot kaget. Dia menggenggam tangannya kuat. Rahangnya sendiri terkatup rapat. Anak-anak yang belum kembali terpengarah melihat ekspresi marah Darrell. "Kamar mandi yang mana?" Darrell segera berlari mengikuti laki-laki di depannya itu. Banyak anak-anak kaget melihat wajah marah milik Darrell dan Sean. Tepat di depan kamar mandi, Darrell langsung menendang pintu kamar mandi itu. Dia melihat adiknya dengan pakaian yang sudah robek dan tubuh basah. Mira kaget melihat Darrell dan Sean di depannya. Mereka melepaskan Irenee. Irenee sendiri sudah roboh ke lantai kehilangan kesadarannya. "Mira!! " bentak Darrell. Mira ketakutan. Dia tidak pernah melihat Darrell semarah ini. Darrell menampar Mira keras. Dia lupa dengan ajaran mèrenya untuk tidak memukul perempuan sesalah apapun itu. Semua orang disana terpengarah kaget melihat Darrell menampar Mira. "Lo tau dia siapa??" bentak Darrell. Mira menangis ketakutan. Dia tidak pernah di tampar sama seseorang sebelumnya. "Dia kembaran gue!! Adik gue!" Kata Darrell. Setelah itu dia langsung membuka seragamnya menutupi badan adiknya dan menggendongnya. "Gue jamin gue bakal bikin perhitungan. " Ancam Sean setelah itu. Sedangkan Mira sudah luruh ke lantai. Dia tidak tau kalau Irenee adalah kembarannya Darrell. Pantas Darrell begitu marah saat lihat Mira kasar dengan kembarannya. Terlebih peringatan yang di berikan Sean. Dia tahu Sean dan Darrell saudara sepupu. Dia tidak mau memikirkan apa yang terjadi. Sedangkan semua orang heboh melihat Darrell yang tidak memakai baju dengan mengendong seorang perempuan pingsan. "Shit... Badannya di kondisikan.." "Astagfirullah.. Nikmat mana lagi yang kau dustakan." "Anjirr itu badan atau tatanan batu bata?? " "s**t!! Gue baru tau Darrell punya tato di punggungnya." "Damn!! Gue rela dah jadi selingkuhannya. " "Aduhh abang Darrell, itu roti sobeknya kemana-mana." "Ya allah... Bergetar jiwa jombloku ini lihat pemandangan di depan." Darrell tidak peduli dengan jerit-jerit orang orang di sekitar. Dia sangat khawatir dengan keadaan adiknya. Darrell bernafas lega adiknya tida apa-apa. Dia segera membawanya pulang. Reyhan sendiri yang melihat sebuah kerumunan langsung mendekat. "Itu ada apa ya?" tanya Reyhan ke seorang cewek. "Oh itu.. Mira bully Irenee." jawabnya dengan penuh senyumnya. Menurutnya nggak dapat king Darrell gapapa yang penting dapat prince Reyhan. Kali tergoda dengan senyum manisnya. "Terus keadaan Irenee gimana?" tanya Reyhan khawatir. "Pingsan. Parah.. Darrell sampe marah besar. Katanya tadi juga bajunya udah robek-robek terus dia badannya basah di siram air pell." "Thankss.." Ucap Reyhan. Dia langsung berlari mencari Darrell. Tapi tidak menemukan Darrell dimana pun. Akhirnya Reyhan pun menelfon Sean. Bertanya dimana dia saat ini. Mendengar bahwa Sean berada di rumah sakit. Ia sedikit tenang. Reyhan mencari Mira, Dia menemukannya terduduk ketakutan di kamar mandi dengan teman-temannya. Reyhan menatap mereka berlima tajam terutama Mira dan Cecil. "Lo jauhin cewek gue Mir mulai sekarang, kalau nggak gue bakal lakuin hal yang nggak pernah terlintas di otak busuk lo itu." ancam Reyhan. Mereka berlima menganguk dan meminta maaf. Reyhan langsung pergi menemui Irenee. Dia tidak ingin Irenee mengalami hal buruk. "Keadaan dia gimana??" tanya Reyhan ke Sean. "Khawatir kan lo, mangkanya nggak usah sok cuek. Sok nggak peduli." Ucap Sean sembari masuk menemui Irenee. Irenee sendiri sudah sadar. Wajah khawatir Reyhan tadi langsung di sembunyikannya dan berubah menjadi wajah datar. Sean melihatnya muak. Tetapi tidak ingin menegurnya. Seperti kata Darrell. Biar mereka berdua yang menyelesaikan masalahnya. "Udah baikan?" tanya Sean. "ANggak pernah sebaik ini." jawab Irenee dengan tersenyum. Irenee melihat Reyhan. Tapi Reyhan memalingkan wajahnya. Hatinya sakit. Dia mengingat perempuan yang di genggam tangannya tadi. Irenee ingin bertanya tapi menahannya. Jika Reyhan bisa tidak peduli maka dirinya juga harus. "Gue bakal suruh kepala sekolah buat ngeluarin mereka dari sekolah." kata Sean. "Nggak perlu." kata Irenee. "Kenapa?" tanya Sean penasaran. "Dia udah bikin perusahaan Mira dan Rasya bangkrut. Terus auah yang lainnya di pecat dari perusahaannya." jelas Darrell. "Bukannya itu terlalu keterlaluan Rell." tegur Reyhan. Irenee menatapnya kesal. Darrell juga sebenarnya berfikir itu keterlaluan. Tapi itu permintaan Irenee yang sudah tidak bisa di ganggu gugat. Permintaan itu harus di turuti dan bersifat mutlak. Irenee selalu mendapat apa yang di mau. Itu yang selalu di lakukan kedua orang tuanya. Disisi lain Azam terdiam di kelas. Dia khawatir terhadap keadaan gadis bermata biru itu. Iqbal temen sejak TK Azam memperhatikan temannya yang sedari tadi tidak memperhatikan pelajaran. "Lo kenapa?" tanya Iqbal penasaran. Pasalnya sahabatnya itu akhir-akhir ini menjadi pendiam. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Azam terkadang tersenyum sendiri. "Gapapa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN