BAB 17 Sang Penyemangat Hawa dingin masih menyelimuti pagi. Kokok ayam yang bersahutan terdengar hingga menusuk gendang telinga. Sinar matahari yang menerobos melalui celah ventilasi, membuat Naya tersadar. Hari mulai terang. Nyeri pada tulang kering terasa ketika Naya menggerakkan kaki kanannya. Seluruh badan pun terasa ngilu karena tidak sengaja tertidur di lantai. Naya mengerjapkan mata. Mengumpulkan tenaga untuk beranjak dari lantai keramik yang dingin. Tak lama, ia bangkit. Kepalanya terasa berat sebelah. Tangannya yang lemah menggelung rambut panjangnya dengan asal. Sesekali Naya memijat pelipisnya. Peristiwa semalam membuat Naya sedikit kalut. Dengan susah payah ia melupakan kekecewaannya terhadap Gasta, tapi tiba-tiba Sarah datang membawa luka baru untuknya. Naya berdiri sambi

