BAB 18 Trauma Masa Lalu

1638 Kata

BAB 18 Trauma Masa Lalu Selepas salat asar, Fatih menunggu Naya di tempat parkir. Ia berniat mengajak Naya ke sebuah taman yang terletak di Semarang atas. Sesaat kemudian, Fatih melihat Naya menghampirinya. “Eng ... Mas Fatih, gimana kalau kita sebaiknya pulang dulu?” usul Naya. “Rasanya nggak enak banget, belum mandi.” Fatih tertawa mendengar ucapan Naya yang bernada sedikit manja. “Kenapa? Ada yang salah?” Naya mengerucutkan bibirnya. “Nggak,” jawab Fatih seraya mendekati Naya dan mengacak-acak rambutnya. Naya hanya diam mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu. “Ck! Seneng ya, lihat aku berantakan?” celotehnya. Sisi childish yang lama disembunyikan, muncul tiba-tiba. Fatih membukakan pintu mobilnya untuk Naya. “Seneng aja lihat kamu apa adanya. Biasanya jaim banget,” celetuknya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN