Akram tersulut emosinya begitu mendengar obrolan ayah mertuanya. Ia yang baru tahu tentang kenyataan pahit itu nyaris saja membabi buta andai seorang pelayan tidak menegurnya. “Ini minumannya, Pak. Oh ya, untuk pesanan sudah jadi.” “Makasih, Mas.” Pelayan tersebut berlalu setelah mengucapkan terima kasih pada Akram. Segera Akram menenggak segelas es teh guna mendinginkan hatinya. Seandainya tidak ingat Delia yang sedang menunggu, ia akan tetap di sana sampai tiga orang tersebut selesai menyantap hidangannya. Ia ingin tahu lebih banyak, namun menuruti nafsu diri saat sedang emosi bukanlah hal bijak. “Ini totalnya, Mbak.” “Baik, saya hitung dulu.” Kasir rumah makan itu menerima lembaran uang ratusan ribu dari Akram. “Sudah sesuai. Terima kasih sudah memesan di tempat kami.” Akram hanya

