Fakta baru tentang kehidupan Nasha yang sekarang membuat Akram tercengang. Mereka tidak bisa menjenguk sang ibu karena memang belum jamnya. Namun, melihat suasana rumah sakit, Akram menjadi semakin paham. Keduanya berjalan bersisihan melewati lorong-lorong putih untuk sampai di tempat parkir. “Kamu lagi di jogja, Kram? Nggak di Mas Danang lagi?” Akram menggangguk. Mungkin, sudah waktunya membuka kran komunikasi dengan Nasha. Tidak untuk mengulang kisah, melainkan sekadar saling meringankan beban. Awalnya mereka juga teman baik sejak berada di bangku SMP. “Aku ikut Kak Delia. Mas Danang lagi ada urusan.” Nasha mengangguk-angguk. Setidaknya Akram masih beruntung karena memiliki saudara. Tidak sepertinya yang hanya semata wayang. “Kamu nggak kuliah, Sha?” pertanyaan sensitif sebenarnya.

